Sanubari Teduh-350-Lima Metode Menenangkan Pikiran
Saudara se-Dharma sekalian, kita telah membahas empat jenis pengamatan, yaitu pengamatan terhadap sebab dan kondisi, pengamatan terhadap buah dan akibat, pengamatan terhadap diri sendiri, dan pengamatan terhadap tubuh Dharma. Jadi, pengamatan tak lepas dari keseharian. Pengamatan berarti pikiran tak lepas dari tindakan. Batin tidak lepas dari Buddha, tindakan tak lepas dari Dharma. Dengan begitu, kita akan menyadari bahwa keseharian kita tak lepas dari sebab akibat, tak lepas dari perbuatan diri sendiri, dan tak lepas dari pelatihan ajaran Buddha. Inilah yang harus ada dalam keseharian sehingga batin kita dapat berada dalam keheningan. Sesungguhnya, mengenai meditasi, memikul kayu dan mengangkut air pun termasuk meditasi. Kapan pikiran ini lepas dari meditasi? Kapan pikiran ini boleh mengembara? Tidak boleh. Kita harus selalu berada dalam Samadhi. Perhatian benar sangatlah penting. Jika pikiran kita memiliki perhatian benar, maka kita dapat hidup tenteram bersahaja. Hidup sederhana adalah keindahan. Kesederhanaan adalah kehidupan yang paling beruntung. Apa lagi yang perlu dikejar? Yang ingin kita kejar hanyalah hakikat sejati yang murni. Kita juga telah membahas bahwa setiap orang memiliki hakikat yang luhur dan kekuatan batin yang luas.
Kita pada dasarnya dapat berkelana ke tanah suci para Buddha dan mendengarkan Dharma, tetapi hakikat kita yang murni ini tertutup oleh berbagai nafsu, ketamakan, dan segala hal duniawi. dan segala hal duniawi. Kita seharusnya tak terpengaruh segala kondisi. Kita harus sangat murni. Sesuai hukum alam, kita harus sangat murni. Begitu pula hakikat sejati kita. Dengan begitu, tidak ada lagi kekeliruan. Kekeliruan tak akan merasuki pikiran kita. Inilah yang selalu harus kita latih. Jika tidak, seperti yang telah kita bahas, kita akan memiliki banyak rintangan. Jadi, kita harus kembali pada keluhuran hakiki kita. Batin yang hening dan jernih serta tekad yang luas dan luhur haruslah dipegang teguh tanpa tergoyahkan. Jika tidak, kita akan merintangi diri sendiri dalam banyak hal. Kita sudah membahas hal ini. Penggalan berikutnya juga membahas rintangan. “Merintangi pelatihan Anapanasmrti, pengamatan pada kekotoran, sebab dan kondisi, dan lainnya.” Kita pada dasarnya memiliki keluhuran hakiki. Pelatihan Anapana bertujuan untuk kembali pada keluhuran hakiki ini. kembali pada keluhuran hakiki ini. Kita tentu harus belajar. Kita harus mengerahkan keterampilan agar bisa kembali pada keluhuran hakiki, mengamati sebab dan kondisi, mengamati sebab akibat, mengamati diri sendiri, dan mengamati berbagai kekotoran. Di dunia ini, selain tubuh yang tidak bersih, masih banyak hal yang juga tidak bersih.
Tidak perlu sampai membahas tubuh. Kita lihat saja bunga yang mekar, lalu layu. Saat bunga layu dan mengering, bukankah ia juga membusuk? Bukankah begitu pula pada buah dan sayuran? Berbagai benda yang ada di hadapan kita, betapa banyak yang memiliki sifat demikian. Pada mulanya, orang-orang ingin melihat bunga mekar. orang-orang ingin melihat bunga mekar. Saat melihat bunga mekar, kita gembira. Namun, kita juga harus tahu bahwa ada saatnya bunga itu layu. Sama halnya, manusia gembira menyambut kelahiran bayi, terutama orang tua. Saat melihat anak yang mungil lahir, orang-orang sangat gembira. Saat merawat mereka waktu kecil, karena dipenuhi rasa gembira, saat anak-anak buang air besar atau kecil, orang tua membersihkannya tanpa takut. Begitulah prosesnya berjalan tanpa disadari. Tubuh kita sendiri pun demikian. Saat sehat, jika tidak mandi tubuh pun menjadi tidak bersih, terlebih saat sakit. Saat tubuh memiliki luka, jika luka itu tidak diobati, juga bisa membusuk. Saat kita hidup, tubuh ini sudah begitu menjijikkan, bisa berbau dan tidak bersih. Para relawan Tzu Chi sering menjadi relawan di rumah sakit. Ada pula lansia yang hidup sebatang kara dalam kondisi sulit tanpa ada yang merawat. Saat mereka sakit, tiada yang membersihkan tubuh mereka. Begitu pula dengan rumah mereka. Aromanya begitu tidak sedap, kondisinya pun kotor.
Insan Tzu Chi sering bertemu kondisi demikian. Insan Tzu Chi sering bertemu kondisi demikian. Dari sini, dapatkah kita bayangkan kotornya dunia ini dan apakah penyebab kekotoran ini? Mungkin kalian pernah mendambakan sesuatu. Dalam prosesnya, kita menyadari bahwa di dunia ini, tak ada sesuatu pun yang selamanya indah dan patut didambakan. Rumah bisa penuh dengan sampah dan kotor. Bukankah ini berawal dari berbagai barang yang mulanya dibeli dan dikumpulkan? Lama-kelamaan, barang-barang tersebut rusak dan menjadi sampah. Adakah yang pernah berpikir demikian? Orang bijaksana dapat selalu memikirkan akar masalah. Setelah memahaminya, dia tak lagi mengejar. Hidupnya sederhana. Kesederhanaan adalah yang terbaik. Jadi, orang banyak menimbun barang yang akhirnya menambah kerisauan. Inilah yang berkondisi dan tak berkondisi. Berbagai hal yang berkondisi di dunia selalu dikejar dan didambakan manusia. Namun, yang harus kita dambakan adalah yang tak berkondisi, yaitu hakikat sejati yang murni. Bagaimana kita menemukannya kembali? Hakikat ini pada dasarnya sudah ada. Untuk apa kita mencarinya di luar? Namun, meski hakikat ini sudah ada, tetapi kita telah kehilangan kemampuan.
Kini kita harus memulihkan kemampuan untuk menemukan kembali potensi hakiki di dalam diri setiap orang ini. Jadi, kita harus mengerahkan keterampilan. Jangan lagi merintangi diri sendiri. Jika kita memiliki rintangan, maka potensi hakiki ini akan tertutupi. Inilah yang disebut noda batin. Apa yang disebut Anapana? Itu adalah metode meditasi dengan memperhatikan napas. Tujuannya adalah menenangkan pikiran kita. Saya sering mengatakan kepada kalian bahwa saat kita duduk bermeditasi, kita harus menenangkan pikiran kita. Kita harus sungguh-sungguh mengendalikan pikiran. Untuk itu, ada banyak cara. Namun, yang lebih aman untuk pemula adalah menghitung napas. adalah menghitung napas. Setelah duduk dengan tegap dan benar, Setelah duduk dengan tegap dan benar, kita mulai memperhatikan dan menghitung kita mulai memperhatikan dan menghitung keluar masuknya napas. keluar masuknya napas. Bagaimana kita mengatur napas kita? Embuskan napas dengan perlahan, kira-kira sampai di bawah pusar. Perlahan embuskan napas, lalu perlahan tariklah napas. Tariklah napas, juga visualisasikan kira-kira sampai bagian pusar. Sekali embusan dan tarikan dihitung sebagai satu hitungan. sebagai satu hitungan. Jika kita dapat melakukannya dengan penuh perhatian dan menghitung dari satu hingga sepuluh, maka pikiran kita tak akan kacau. Setelah itu, kita kembali memulai dari satu. Pikiran kita terpusat pada hitungan ini serta pada keluar masuknya napas.
Seberapa panjang embusan napas kita, seberapa panjang tarikan napas kita, jika kita dapat menyesuaikannya hingga sangat teratur, maka kita dapat melatih kekuatan perut kita, juga dapat melatih konsentrasi pikiran kita. Ini baik bagi tubuh dan peredaran darah kita. Mula-mula, kita harus berusaha untuk melatih konsentrasi pikiran kita. Kita memusatkan pikiran kita pada napas kita. Lewat napas, kita melatih pikiran kita. Lewat napas, kita melatih pikiran kita. Inilah Anapanasmrti. Dalam memperhatikan napas, kita menghentikan pengembaraan pikiran. Ini berarti menghentikan kekacauan pikiran kita. Jika kita tidak dapat memusatkan pikiran pada bagaimana kita mengembuskan napas dan bagaimana kita menarik napas, maka saat duduk pun pikiran kita akan mengembara. Kita memikirkan berbagai hal dan permasalahan di masa lalu. dan permasalahan di masa lalu. Kita juga memikirkan berbagai hal di masa depan. Kita juga memikirkan berbagai hal di masa depan. Pikiran kita mengembara ke masa depan dan masa lalu. Pikiran kita kebanyakan berkeliaran di luar. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus mengamati hati Buddha. Ini sebelumnya sudah kita bahas. Setiap orang pada dasarnya memiliki hati Buddha. Setiap orang memiliki keluhuran hakiki yang sama dengan Buddha. Kita memiliki keluhuran dan hakikat yang sama dengan Buddha.
Pada hakikatnya sama, tetapi akibat pikiran kita yang kacau, maka kegelapan batin membangkitkan tiga aspek halus. Kondisi luar menjadi pendorong timbulnya enam aspek kasar. Pikiran kita terus berkeliaran mengikuti kondisi luar. Pikiran kita terus berkeliaran mengikuti kondisi luar. Jadi, kini kita ingin mengembalikan pikiran yang mengembara. Jadi, kita menggunakan Anapana dan juga lima objek meditasi. Mari kita melihat lebih jauh apa yang dimaksud lima objek meditasi. Yang pertama adalah “mengamati kekotoran bagi yang tamak”. Jika kita dapat memusatkan pikiran, maka kebijaksanaan kita akan terbuka. Pikiran kita juga tak akan mengembara di luar. Mengembaranya pikiran tak lepas dari lima hal, di antaranya adalah ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Pikiran yang mengembara atau kacau membawa banyak rintangan bagi kita. membawa banyak rintangan bagi kita. Jadi, jika dalam pikiran kita terdapat ketamakan yang bangkit, maka kita harus segera mengatasinya dengan pengamatan terhadap kekotoran. Sesungguhnya, kita ingin tamak akan apa? Tadi kita telah membahas bahwa banyak hal yang diingini manusia di dunia. Manusia tamak akan barang-barang bagus. Mereka senang saat membeli barang baru. Setelah lama digunakan, barang itu rusak.
Setelah rusak, ia akan menjadi sampah. Sampah yang tidak dibersihkan menjadi kotoran. Ini diawali dari ketamakan. Manusia juga ingin beranak dan bercucu banyak. Manusia juga ingin beranak dan bercucu banyak. Saat anak baru lahir, mereka sangat bahagia. Meskipun anak-anak tumbuh sehat di bawah asuhan kita, tetapi sejak mereka kecil, kita dapat melihat anak-anak juga perlu makan dan buang air. Apakah semua itu bersih? Hanya saja, orang tua yang ingin memiliki anak dan cucu tidak merasakan sulitnya membesarkan anak dan cucu. Waktu kecil, anak-anak memang menggemaskan, tetapi mereka juga memiliki dahak serta air besar dan kecil yang juga sangat kotor dan harus dibersihkan. Bayangkan tubuh kita sendiri. Setelah bekerja seharian, kita merasa tak nyaman akibat berkeringat dan sebagainya. Jika tidak dibersihkan, bagaimana jadinya? Sesungguhnya, dimulai dari benda materi, kemudian anak cucu, hingga diri sendiri, manakah yang patut membuat kita tamak? Segala sesuatu di dunia tidaklah bersih. Jadi, berhubung kita hidup di dunia ini, yang penting kita bisa hidup dengan damai dan sederhana. Untuk apa kita bersusah payah mengejar materi? Yang penting kita bisa makan tiga kali sehari. Haruskah kita makan makanan mewah? Tidak perlu. Yang penting higienis dan bergizi. Dengan demikian, kita tidak akan terlalu menderita. Jadi, dalam kehidupan sehari-hari, pelatihan diri kita menjadi lebih sederhana.
Apakah menjadi bhiksu baru disebut melatih diri? Bukan. Membina hati dan mengembangkan watak dengan baik. Selain membina hati dan watak, tindakan kita juga harus lurus. Inilah yang disebut melatih diri. Jadi, melatih diri bukan berarti harus tinggal di vihara. Yang dilatih adalah pikiran dan sifat serta perilaku kita. Dalam kehidupan sehari-hari, jika kita dapat berlatih dengan sungguh-sungguh, maka pikiran tamak tak akan banyak muncul sehingga berbagai kerumitan dapat dihindari, permasalahan juga tidak akan begitu banyak. Jadi, kehidupan yang bersahaja dimulai dari pengamatan terhadap kekotoran. Beberapa waktu yang lalu, di Jepang pola hidup sederhana sangat populer. Kita hendaknya hidup lebih sederhana dan tidak rumit. Inilah seharusnya kebenaran di balik pengamatan terhadap kekotoran. Yang kedua adalah “meditasi welas asih bagi yang penuh kebencian”. Mengapa kita sering marah? Karena kurangnya welas asih. Saat kita sedang marah, kadang orang berkata, “Berwelasasihlah sedikit.” Di manakah praktik dari welas asih? Saya sudah pernah mengatakannya. Kita harus penuh pengertian dan berlapang dada. Kita harus penuh pengertian dan berlapang dada. Ini juga merupakan wujud dari welas asih. Kita harus tahu berpuas diri dan bersyukur. Jika kita dapat berpuas diri, bersyukur, penuh pengertian, dan berlapang dada, bukankah ini merupakan wujud dari welas asih? Dengan begitu, kita dapat melenyapkan banyak kebencian karena kita memiliki cara untuk menanganinya. Ketiga adalah meditasi napas bagi yang kacau pikirannya.
Orang yang pikirannya sering kacau boleh berlatih dengan meditasi napas. Dahulu, saat orang sulit tidur, dokter menyarankan untuk menghitung domba. Apakah dengan menghitung domba bisa tidur? Mungkin setelah setelah menghitung satu dua ekor, otaknya malah dipenuhi gambaran domba dan akhirnya perhitungannya juga tidak jelas. Ini juga bukan cara yang baik. Cara terbaik adalah cara dalam ajaran Buddha, yaitu mengamati napas dan melatih otot perut sehingga pikiran kita tidak berkeliaran. Orang yang pikirannya kacau harus berlatih dengan mengamati napas. Bagaimana dengan orang yang bodoh? “Pengamatan terhadap sebab dan kondisi bagi yang bodoh”. Dalam empat jenis pengamatan, pengamatan terhadap sebab dan kondisi juga ada. Segala sesuatu terjadi karena adanya sebab dan kondisi. Untuk apa kita bersikap perhitungan? Ketamakan dan kebencian berawal dari kebodohan. Bodoh berarti tak bisa memahami kebenaran. Jika kita dapat memahami sebab dan kondisi, maka kita akan memahami berbagai kebenaran. Apa lagi yang membuat kita tak bisa berpikir terbuka? Jadi, bodoh berarti tidak memahami kebenaran. Orang yang tak memahami kebenaran atau bodoh hendaknya berlatih pengamatan terhadap sebab dan kondisi. “Perenungan pada Buddha bagi yang banyak rintangan.” Ada orang yang memiliki banyak rintangan.
Mengapa kita memiliki banyak rintangan? Di awal kita sudah membahasnya. Di dalam Syair Pertobatan Air Samadhi, bukankah ada banyak ajaran yang menunjukkan mengapa kita bisa memiliki banyak noda batin? Ini harus kita pahami. Jika kita dapat kembali pada hakikat kebuddhaan, maka rintangan apa lagi yang tersisa? Mengapa terdapat begitu banyak noda batin? Ini karena dunia yang seharusnya sederhana telah dibuat rumit oleh pikiran kita yang tak murni. Dunia yang rumit ini berawal dari kebodohan, ketamakan, dan kebencian. Akibatnya, pikiran kita menjadi kacau. Pikiran yang kacau tentu akan mendatangkan banyak rintangan. Jadi, kita harus kembali pada hakikat sejati. Bagaimana kita mengatasi kerumitan dan kekacauan ini? Kita harus mengamati hati Buddha. Artinya, kita kembali pada hakikat kebuddhaan yang pada dasarnya kita miliki. Jadi, di dalam hati kita harus ada Buddha, dan di dalam perbuatan kita ada Dharma. Dengan demikian, kita akan dapat kembali pada hakikat kebuddhaan. Jika kita dapat melatih lima metode ini, inilah yang disebut lima metode meditasi. Jika kita dapat menenangkan pikiran, itulah praktik Anapana.
Tujuan dari praktik ini adalah menghentikan pikiran yang penuh noda batin. Jika kita dapat menghentikan noda batin, maka kita akan dapat memahami kebenaran. Jika tidak, kita akan penuh rintangan. Rintangan akan menghalangi Dharma yang setiap hari kita bahas. Semua ini berasal dari diri sendiri. Semua ini berasal dari diri sendiri. Kita ingin belajar. Namun, pikiran kita juga bisa bergejolak. Setelah belajar, kita memang sudah mendengar, tetapi tidak bisa menyerapnya ke dalam hati. Lalu, bagaimana kita bisa mempraktikkannya? Jadi, Anapana adalah meditasi napas. Bersama dengan pengamatan terhadap kekotoran serta sebab dan kondisi, semua adalah Dharma. Namun, kita telah merintangi diri sendiri. Dengan begitu, muncullah berbagai noda batin. Jadi, untuk melenyapkan noda batin, satu-satunya cara adalah melatih diri untuk menghentikan segala delusi dan pikiran pengganggu. Dengan begitu, barulah kita bisa memahami segala kebenaran. Intinya, Buddha harus ada di dalam hati, Dharma harus ada dalam perbuatan. Harap semua lebih bersungguh hati.