Sanubari Teduh-357-Bersikap Pengertian Menghadapi Segala Kondisi
Saudara se-Dharma sekalian, apakah kita senantiasa berintrospeksi tentang tabiat buruk kita? Saya sering berkata bahwa kita harus menjaga pikiran kita dengan baik. Selain menjaga pikiran dengan baik, apakah masih ada cara lain bagi kita untuk melatih diri? Pelatihan diri tak terlepas dari tabiat kita. Jadi, bagaimana cara kita mengubah tabiat buruk dan membina tabiat baik? Untuk itu, kita harus senantiasa mengintrospeksi diri dan mengamati tabiat sendiri. Jika dapat demikian, maka Bertambah dan berkurangnya benih serta kondisi baik dan buruk, secara jelas terpilah dan masuk ke dalam kesadaran gudang; baik ataupun buruk, diri sendiri yang berbuat dan menerima akibatnya. Artinya, kita harus senantiasa mengintrospeksi diri dan membina tabiat baik. Kita hendaknya tahu bahwa setiap tindakan dan niat yang timbul mengandung benih baik dan buruk. Segala sesuatu terjadi karena perpaduan sebab dan kondisi. Sebab dan kondisi timbul dari pikiran kita yang bergejolak. Pikiran yang bergejolak bersumber dari tabiat kita. bersumber dari tabiat kita. Saat bertemu dengan jalinan jodoh buruk, jika kita tidak mengendalikan tabiat dengan baik, maka tindakan yang kita lakukan akan sangat cepat membentuk jalinan jodoh buruk dengan orang lain. Ini akan menghasilkan rasa dendam dan benci di dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, benih serta kondisi baik dan buruk terus bertambah sekaligus berkurang. terus bertambah sekaligus berkurang. Berkurang bukan berarti lenyap. Ia masih tetap ada. Hanya saja, saat kejahatan bertambah, maka kebajikan akan lebih sedikit.
Sedikit juga bukan berarti lenyap, tetapi karena kejahatan telah bertambah. Saat kebajikan bertambah, tetapi kejahatan akan lebih sedikit. Artinya, jika kita terus membina kebajikan, maka tidak akan ada kejahatan; jika ada kejahatan, maka tidak akan ada kebajikan. Kita sering mendengar orang berkata, “Saya hanya bertemperamen buruk, sesungguhnya hati saya sangat baik.” Dapat kita bayangkan, bagaimana kesan yang ditinggalkan oleh orang yang bertemperamen buruk saat berinteraksi dengan orang lain. Meski berhati baik, tetapi Anda telah menambah kesan buruk di dalam hati orang, Inilah jalinan jodoh buruk. Meski hati kita tidak jahat, tetapi kita tidak mengungkapkannya. Meski berhati baik dan selalu berpikir dari posisi orang lain, tetapi kita tidak pandai mengungkapkannya. tetapi kita tidak pandai mengungkapkannya. Segala yang kita ungkapkan meninggalkan kesan tidak baik bagi orang lain. Selain tidak mengungkapkan sisi bajik dari diri kita, kita juga terus menambah jalinan jodoh buruk dengan orang lain. Jadi, bertambah dan berkurangnya benih serta kondisi baik dan buruk, secara jelas terpilah dan masuk ke dalam kesadaran gudang. Kebajikan akan disimpan di sisi yang baik, sedangkan jalinan jodoh buruk dan benih buruk akan disimpan di sisi yang buruk. Kebajikan dan kejahatan terpilah dengan jelas dan tersimpan di dalam gudang.
Setiap orang memiliki sebuah gudang yang sangat besar. Gudang itu adalah gudang kesadaran kedelapan. Gudang itu adalah gudang kesadaran kedelapan. Gudang kesadaran itu bagaikan gudang tempat kita menyimpan segala hasil panen kita. Ada gudang padi, ada pula gudang gandum. Saat memanen gandum, kita akan menyimpannya di dalam gudang gandum. Saat memanen padi, kita menyimpannya di dalam lumbung padi. Gudang kesadaran kita Gudang kesadaran kita juga menyimpan segala sesuatu dengan jelas sesuai dengan jenisnya. Apa pun yang kita lakukan, semuanya akan tersimpan ke dalam gudang kesadaran. Karena itu disebut, “Kondisi baik dan buruk terpilah dengan jelas; diri sendiri yang berbuat dan menerima akibatnya.” Bukankah ini diajarkan di dalam Sutra? Jadi, tak peduli baik maupun buruk, kita menerima konsekuensi dari perbuatan sendiri. Saudara sekalian, melatih diri sesungguhnya sangat sederhana. Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus senantiasa menjaga pikiran dan merenungkan tabiat kita. Saat melihat orang lain bersikap tidak baik, kita menilik kembali diri sendiri. Bagaimana dengan tabiat kita? Kita hendaknya senantiasa bercermin. Zengzi pernah berkata, “Setiap hari saya harus berintrospeksi tiga kali.” “Setiap hari saya harus berintrospeksi tiga kali.” Semua murid Konfusius melakukan hal yang sama.
Terlebih lagi, Buddha mengajarkan kepada kita bahwa niat dapat timbul dalam sekejap. Apa pun niat yang timbul, kita harus berintrospeksi. Jika dalam keseharian, kita dapat senantiasa mengingatkan diri dan menginstrospeksi diri, maka tidak akan ada begitu banyak hal yang merintangi pelatihan diri kita. Kita sudah pernah mengulas tentang rintangan. Sejak dahulu, kita sudah bertekad untuk melatih diri. kita sudah bertekad untuk melatih diri. Namun, sejak dahulu, noda batin terus mengikuti untuk merintangi kita. Karena sejak masa tanpa awal kita sudah terus memupuk kegelapan batin, kita sudah terus memupuk kegelapan batin, Buddha pun mengajarkan metode kepada kita untuk mengikis kegelapan batin. Buddha menerapkan berbagai metode terampil untuk membantu kita kembali pada hakikat kebuddhaan. Berapakah semuanya? Satu juta Asamkhyeya. Ia sangat banyak dan membutuhkan waktu yang sangat panjang. Buddha mengajarkan banyak metode kepada kita untuk dapat kembali pada hakikat kebuddhaan. Akan tetapi, di dalam setiap metode terdapat noda batin yang merintangi segala praktik pelatihan kita. Meski ingin berjalan sesuai ajaran Buddha, tetapi kita terus terintangi. Akibatnya banyaknya rintangan,
Akibatnya banyaknya rintangan, noda batin yang terpupuk semakin lama semakin tebal dan tabiat kita juga semakin lama semakin buruk. Jadi, tujuan kita melatih diri adalah untuk menaklukkan tabiat buruk. Kita harus segera menaklukkan tabiat buruk dan membangkitkan hakikat kita yang murni dan jernih. Karena itu, kita harus merenungkan tabiat kita, senantiasa ingat bahwa benih serta kondisi baik dan buruk terus bertambah dan berkurang di dalam keseharian kita, serta jelas terpilah dan masuk ke dalam kesadaran gudang. Baik ataupun buruk, diri sendiri yang berbuat dan menerima akibatnya. Kita harus sangat bersungguh hati. Setelah mengetahui bahwa sejak dahulu, kita sudah terus memupuk kegelapan batin yang merintangi pelatihan buah kebuddhaan kita, yang merintangi pelatihan buah kebuddhaan kita, maka mulai hari ini kita harus berdoa dan bersujud dengan tulus. Kita harus bersungguh hati dan berdoa dengan tulus. Ketulusan harus diungkapkan. Kita bersujud menyatakan rasa hormat. Kita bersujud menyatakan rasa hormat. Jadi, “bersujud” berarti sangat tulus dan sungguh-sungguh menghormat kepada para Buddha di 10 penjuru, Dharma, dan Sangha. Kita bersujud pada para Buddha di 10 penjuru, Kita bersujud pada para Buddha di 10 penjuru, bukan hanya Buddha Sakyamuni, bukan hanya Buddha
Sakyamuni, melainkan termasuk para Buddha di arah barat, timur, selatan, utara, atas, bawah, dll. Para Buddha ada di berbagai dunia yang tak terhitung. Kita dengan hati paling tulus bersujud kepada para Buddha, Dharma, dan Sangha Bodhisattva di 10 penjuru. Bukankah saya pernah berkata bahwa sebersit niat kita dapat menjangkau Tanah Buddha di sepuluh penjuru untuk mendengar ajaran kebenaran. Ini bergantung pada pikiran kita. Akan tetapi, pikiran manusia awam sangat liar. Kita tidak menjangkau tanah para Buddha untuk mendengar Dharma. Pikiran kita selalu bergelut pada perasaan cinta, benci, dan dendam. Ia terus berkeliaran pada pikiran yang bukan-bukan tanpa bisa kita tarik kembali. Inilah pikiran manusia awam. Jika dapat menyatukan pikiran manusia awam dengan hati yang paling tulus, maka kita dapat melenyapkan pikiran yang bukan-bukan. Kita jangan terus berpikir tentang masa lalu dan bagaimana perlakuan orang kepada kita. Kita harus melenyapkan pikiran itu dan menarik kembali pikiran kita. Ada orang yang mungkin terus berpikir tentang masa depan. Kita juga jangan terus berpikir tentang masa depan. Kita harus segera menarik kembali pikiran yang keliru. Kita harus berfokus pada niat di momen sekarang. Kita harus berfokus dan tulus pada niat di momen sekarang. Terhadap para Buddha, Dharma, dan Sangha, kita harus membangkitkan ketulusan. Kita harus menyatakan rasa malu dan pertobatan kepada Buddha di seluruh penjuru, Dharma, dan Sangha.
Jika orang lain dapat berfokus mendalami Dharma, mengapa kita tidak dapat melakukan hal yang sama? Kita harus merasa malu. Kita harus merasa malu. Mungkin rintangan karma diciptakan Mungkin rintangan karma diciptakan membuat kita tidak merasa malu dan mendorong kita terus menciptakan rintangan lain. Karena itu, kita harus segera membersihkan noda batin. Perbuatan kita menciptakan noda batin dan menyebabkan kegelapan batin terus terpupuk. Karena itu, kita harus segera membersihkan batin kita. Jika kekotoran batin tak dibersihkan, maka ia akan semakin lama semakin banyak dan tebal. Kita sering melihat insan Tzu Chi membantu orang membersihkan rumah. Melihat rumah warga yang kotor, mereka bukan hanya membersihkannya dengan air. Mereka bahkan membawa peralatan untuk membersihkan kotoran yang tebal. Setelah itu, mereka membersihkannya dan menyikatnya dengan air sehingga tempat itu dapat kembali bersih. Terlebih lagi hati manusia. Satu juta Asamkhyeya kalpa sangatlah panjang. Noda batin yang terpupuk sangat banyak. Bolehkah kita tidak bertobat? Setelah bertobat, kita harus bertekad untuk mengikis karma buruk masa lalu. Lingkaran keburukan antarmanusia di dunia tidak ada habisnya. Bagaimana cara kita memgurai lingkaran keburukan ini? Ada caranya. Ada caranya. Ada sebuah kisah yang mengajarkan kita untuk lebih berlapang dada. Dengan hati yang lapang, kita dapat merangkul segala sesuatu di alam semesta sehingga tidak ada lagi rasa dendam dan benci. Jika dapat terbebas dari rasa dendam dan benci, maka kita dapat mendukung pencapaian orang lain.
Saat melihat kelebihan orang lain, janganlah timbul rasa iri di dalam hati kita. Saat merasa iri atas kelebihan orang lain, maka akan sangat mudah timbul noda batin di dalam hati kita. Rasa iri mudah membuat kita menciptakan karma buruk. Inilah yang disebut rasa iri. Dengan menyadarkan diri sendiri sekaligus orang lain, maka kita dapat mencapai kesempurnaan dalam kesadaran dan praktik. Selain harus melatih diri sendiri, kita juga harus mendukung pelatihan diri orang lain. Saat pelatihan diri orang lain lebih baik dari kita, maka kita harus memberi pujian. Jangan saat melihat pelatihan diri orang lain yang baik, lantas kita merasa iri. Sama halnya dengan saat ada orang merasa iri pada kita, apakah kita harus membalasnya? Apakah kita akan melakukan tindakan licik untuk merugikan orang lain? Saat ada orang melukai diri kita, apakah kita harus membalasnya? Jika kita membalas perbuatan buruk orang lain, maka kapankah lingkaran buruk ini akan berakhir? Di zaman Negeri Liang, Di zaman Negeri Liang, ada seorang Tuan Song Jiu yang menjabat sebagai bupati yang menjabat sebagai bupati di perbatasan Negeri Liang dan Negeri Chu. Tuan Song Jiu sangat bijaksana. Dia juga berharap rakyat di kedua negeri itu dapat hidup harmonis, saling menunaikan kewajiban masing-masing, saling menunaikan kewajiban masing-masing, dan sama-sama bekerja keras untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Namun, ada orang yang tidak dapat melakukannya.
Saat tiba musim tanam, Saat tiba musim tanam, rakyat di kedua negeri itu sama-sama menanam semangka karena mereka memiliki lahan yang luas. Kualitas tanah di kedua negeri itu sama Kualitas tanah di kedua negeri itu sama dan cuacanya juga sama. Jadi, rakyat di kedua negeri itu sama-sama menanam semangka. Untuk bercocok tanam, dibutuhkan kesungguhan hati petani. Rakyat di Negeri Liang dan Negeri Chu sama-sama bercocok tanam. Rakyat di Negeri Liang sangat rajin dan bersungguh hati. Mereka menabur benih pada saat musim tanam tiba. Selain itu, mereka memberi pupuk dan menyirami tanaman secara rutin. Mereka melakukannya sesuai prosedur. Mereka menanam semangka dengan bersungguh hati. Karena itu, semangka mereka tumbuh sangat cantik. Bagaimana dengan rakyat di Negeri Chu? Rakyat di Negeri Chu juga menanam semangka. Akan tetapi, mereka lebih malas. Mereka hanya menabur benih tanpa memberi pupuk dan menyirami tanaman secara rutin. Karena itu, tanaman semangka mereka Karena itu, tanaman semangka mereka tidak besar, tidak cantik, dan jumlahnya tidak banyak. Mereka lalu melihat semangka di Negeri Liang yang sangat besar, cantik, dan jumlahnya sangat banyak. “Meski bercocok tanam di lahan yang sama, mengapa hasil panen mereka lebih bagus?” Melihat hasil panen mereka yang sedikit dan tidak besar, rakyat di Negeri Chu sangat marah. Kemarahan menimbukan rasa iri di dalam diri mereka.
Mereka iri melihat hasil panen orang lain lebih baik dari mereka. Karena timbulnya rasa iri, mereka lalu berpikir untuk merusak semangka di negeri tetangga. Pada malam harinya, mereka pergi merusak tanaman semangka di Negeri Liang. Keesokan paginya, rakyat Negeri Liang mendapati bahwa rakyat Negeri Liang mendapati bahwa batang dan daun semangka mereka, semuanya patah dan rusak. Mereka tidak tahu apa yang terjadi. Pada malam harinya, mereka pun menjaga kebun mereka dan mendapati bahwa ternyata rakyat Negeri Chu yang merusak tanaman semangka mereka di tengah malam. Meski merasa sangat marah, tetapi mereka tidak bertindak gegabah. Mereka melaporkan hal ini Mereka melaporkan hal ini kepada tentara di negeri mereka dan bertanya bagaimana menangani hal ini. Tentara itu tidak tahu apa yang harus diperbuat. Karena itu, mereka menemui Tuan Song Jiu yang menjabat sebagai bupati. Mereka memberi tahu hal ini kepada beliau. Bapak Song Jiu tetap sangat tenang menganalisis hal ini dengan bijaksana. Beliau berkata, “Kejahatan adalah akar dari rasa dendam dan bencana.” “Jika ada orang bersikap tidak baik pada kita dan kita juga membalasnya dengan pikiran buruk dan rasa dendam, maka sikap saling membalas ini hanya akan menambah rasa dendam dan benci.” “Ini tidak baik.” “Saya akan memberi tahu kalian cara untuk menyelesaikan hal ini.” Apa cara yang dilakukan? Bapak Song Jiu mulai mengajari mereka, Bapak Song Jiu mulai mengajari mereka, “Rakyat Negeri Chu merasa marah karena tanaman semangka mereka tak bertumbuh baik.” “Bisakah kalian memanfaatkan waktu di malam hari untuk membantu mereka memberi pupuk dan menyirami tanaman agar tanaman semangka mereka dapat bertumbuh baik seperti punya kita?”
“Jika demikian, maka hubungan kita dengan mereka akan harmonis.” “Namun, kita jangan memberi tahu mereka tentang hal ini.” “Kita cukup melakukannya diam-diam.” Rakyat menjawab, “Haruskah demikian?” “Mereka merusak kebun semangka kita, mengapa kita harus membantu mereka menyirami tanaman?” Namun, karena Tuan Song Jiu sudah berkata demikian, mereka pun menurutinya. Pada malam harinya, rakyat dari Negeri Liang diam-diam membantu rakyat Chu menyirami dan memberi pupuk pada tanaman. Setelah beberapa waktu berlalu, semangka di Negeri Chu bertumbuh baik. semangka di Negeri Chu bertumbuh baik. semangka di Negeri Chu bertumbuh baik. Tanaman mereka berbunga dan berbuah serta bertumbuh besar. Rakyat Negeri Chu berpikir, Rakyat Negeri Chu berpikir, “Aneh sekali.” “Mengapa semangka kita semakin hari semakin bertumbuh baik?” “Kita tidak merawatnya secara khusus, mengapa bisa menjadi begitu baik?” Melihat tanamannya bertumbuh baik, mereka merasa aneh. Lalu, rakyat Negeri Chu mulai mengamati rakyat Negeri Liang. Mereka melihat rakyat Negeri Liang membantu mereka menyirami tanaman di malam hari. Mereka sangat berterima kasih. Kisah ini dimulai dari rasa dendam dan iri hati. Rasa dendam dapat mendorong kita melakukan hal yang merugikan orang lain.
Jika pihak yang dirugikan Jika pihak yang dirugikan dapat membalas kejahatan dengan kebaikan dan diam-diam membantu orang yang merugikan mereka, secara alami akan timbul rasa syukur di dalam hati mereka. Jadi, dengan saling menghormati dan saling bersyukur, maka kita dapat mengurai rasa dendam dan benci. Inilah tujuan kita dalam mempelajari ajaran Buddha. Apa yang disebut melatih diri? Apa yang disebut melatih diri? Kita harus menunaikan kewajiban sendiri dan melakukan hal yang harus dilakukan. Saat diperlakukan tidak baik oleh orang, Saat diperlakukan tidak baik oleh orang, kita hendaknya membuka hati. Kita harus membuka hati untuk merangkul sesama. Tak peduli bagaimana perlakuan orang kepada kita, kita harus bersikap penuh pengertian. Jika dapat menempatkan diri pada posisi orang lain dan bersikap penuh pengertian, bagaimana mungkin kita membangkitkan keluh kesah, rasa benci, rasa iri, dan dendam pada saat berinteraksi dengan orang lain? Pasti tidak. Karena itu, kita harus membangkitkan ketulusan terhadap Buddha dan Bodhisattva serta bertobat atas kesalahan di masa lalu.
Mulai sekarang, kita harus bertekad untuk melenyapkan segala rintangan yang menghalangi kita untuk melatih diri dan menyelami Dharma. Kita harus mempraktikkan ajaran baik Kita harus mempraktikkan ajaran baik untuk melenyapkan segala rintangan batin. Kita sudah mengulas tentang banyak rintangan batin. Mulai hari ini, kita harus bertekad untuk melenyapkan rintangan batin. Saudara sekalian, kita harus senantiasa bersungguh hati, senantiasa mengintrospeksi diri, dan merenungkan tabiat kita. Baik atau buruknya perbuatan kita, semuanya akan menjadi benih yang tersimpan di dalam kesadaran kita dan akan kita tuai buahnya sendiri. Bersikap baik terhadap orang lain dapat mendukung pelatihan diri kita. Harap setiap orang senantiasa bersungguh hati.