Sanubari Teduh-358-Membersihkan Cermin Batin dari Rintangan
Saudara se-Dharma sekalian, di dalam hati kita semua ada sebuah mata air yang jernih. Ini dimiliki oleh setiap orang, tetapi sepertinya sering kali batin kita terasa kering. Kita merasa batin kita kurang diairi. Saya sering berkata bahwa Dharma bagaikan air. Air Dharma dapat membasahi batin kita, bahkan dapat mengairi benih kebaikan di hati kita. Namun, entah mengapa kita tak bisa menemukan sumber mata air ini. Sesungguhnya, di dalam batin setiap orang terdapat sumber mata air ini, tetapi kini kita harus mencarinya. Saat kita menemukannya dan mengetahui letaknya, maka kita harus sungguh-sungguh menggalinya. Jelas-jelas kita hampir menemukan mata air itu, Jelas-jelas kita hampir menemukan mata air itu, tetapi jika kita menyerah begitu saja, air itu tetap tidak akan mengalir keluar. Kita harus mengeluarkan usaha. Mungkin saja yang menutupi sumber air ini hanyalah sebongkah batu kecil. Jika Anda dapat memindahkan batu tersebut, maka mungkin air itu akan segera memancar dan dapat membersihkan kekeruhan batin kita. Saya teringat dahulu pernah menceritakan sebuah kisah tentang sebuah desa yang kekurangan air. Para warga di sana hampir tak mampu bertahan. Di sana ada seorang anak kecil. Saat melihat orang dewasa berusaha menggali untuk mencari mata air hingga dalam, anak kecil tadi juga sepenuh hati membantu memindahkan batu. Tak lama kemudian, para orang dewasa mulai putus asa.
Mereka merasa tak ada gunanya terus menggali. Namun, anak ini merasa berhubung banyak orang sudah mengeluarkan usaha berhari-hari, maka pantaskah berhenti begitu saja? Ya, para orang dewasa itu sudah tidak punya tenaga lagi. Mereka juga sudah kehilangan kepercayaan diri. Mereka semua akhirnya pergi. Anak ini lalu turun ke lubang bekas galian. Dia tetap terus menggali Dia tetap terus menggali hingga menemukan sebongkah batu besar. Batu tersebut sangat berat. Namun, semua orang sudah pergi. Dia sendirian tidak mampu memindahkan batu itu. Dia lalu bertiarap di atas tanah karena kelelahan. Saat bertiarap dan hampir tertidur, dia seakan mendengar suara. Ketika didengar dengan lebih saksama, sepertinya itu adalah suara aliran air. Dari manakah asalnya? Dia segera menggali dengan kedua tangannya. Dia tidak beranjak selama enam hari enam malam. Pada saat itu, dia terus menggali di sekitar batu tadi. Setelah tanah di sekitar batu itu longgar, Setelah tanah di sekitar batu itu longgar, dia lalu mendorong batu itu dengan sekuat tenaga. Berhubung tanah di sekitar batu itu sudah longgar akibat terus digali, maka saat dia mendorong batu itu, maka saat dia mendorong batu itu, air pun mengalir keluar. Anak ini pun kehabisan tenaga dan pingsan. Air pun terus memancar dan mengalir keluar Air pun terus memancar dan mengalir keluar hingga membasahi tubuh anak ini. Saat dia sadar, air sudah merendam sebagian tubuhnya.
Orang-orang terus mencari anak itu, tetapi tidak tahu bahwa anak itu berada di lubang bekas galian. Namun, setelah anak itu sadar, dia mulai berteriak sekuat tenaga, “Ada air, ada air!” Lalu, ada orang yang yang mendengar teriakannya Lalu, ada orang yang yang mendengar teriakannya dan memeriksa ke dalam sumur. Ternyata, di sana benar ada air. Anak itu pun kembali pingsan. Orang-orang segera menolong anak itu. Orang-orang telah melihat bahwa anak itu telah berada di dalam sumur selama enam hari untuk memindahkan batu agar mata air dapat memancar sehingga menolong seluruh warga desa. Ini adalah sebuah kisah. Bayangkan, sebagai manusia, jika kita giat dan tekun, maka percayalah ada potensi bagai mata air yang dapat kita gali. Kita ingin menggali sumber mata air ini. Namun, jika setelah beberapa waktu kita kehilangan kepercayaan diri, lalu menyerah, maka mata air yang jelas-jelas ada ini tak akan tergali. Kita harus yakin seperti anak tadi. Saat para orang dewasa sudah menyerah, dia tetap tidak menyerah. Lihatlah, dia tetap dapat menemukan mata air.
Sebagai praktisi Buddhis, kita harus memiliki semangat seperti anak tadi. Kita harus bersungguh hati. Dengan demikian, kita akan dapat mendengar suara mata air di dalam hati kita. Setiap hari kita mendengarnya. Lama-kelamaan, akankah keyakinan timbul ataukah kita malah kehilangan keyakinan? Hilangnya keyakinan disebabkan karena kita tidak menggunakan Dharma. Jika kita dapat menggunakan Dharma, kita akan memiliki keyakinan. Ditambah dengan usaha yang tekun, kita pasti bisa mendengar suara mata air batin kita. Jika kita terus berusaha, mata air ini pasti akan memancar keluar. Cermin kebijaksanaan kita tak lagi terintangi karena dengan adanya mata air ini, karena dengan adanya mata air ini, segela kekeruhan akan dapat dibersihkan. Jika kekeruhan dalam batin kita dapat dibersihkan, maka cermin batin kita akan jernih dan bebas dari rintangan. Batin kita bagaikan sebidang cermin. Cermin ini perlu dicuci dan dibersihkan. Jika kita dapat membersihkannya hingga cemerlang, maka cermin ini akan dapat merefleksikan segala Dharma di alam semesta. Jadi, kita harus berusaha bagaikan sedang menggali sumur atau membersihkan cermin.
Kita harus tekun agar cermin ini dapat benar-benar bersih. Jika tidak, kita tidak tahu dari mana noda batin kita berasal. Sesungguhnya, orang dengan mental yang sehat tidak akan terjerat kerisauan. Kerisauan disebabkan oleh diri sendiri. Jadi, diri sendiri merintangi kehidupan diri sendiri. Diri sendiri merintangi hubungan dengan orang lain. Diri sendiri merintangi kemajuan batin sendiri. Sejak awal kita terus membahas tentang rintangan. Semua rintangan berasal dari diri sendiri. Kita merintangi kebajikan diri sendiri sehingga tanpa disadari memupuk kerisauan. Kita harus mengetahui semua ini. Jadi, berikutnya dikatakan bahwa kita harus berikrar. Kita tahu bahwa di dalam batin kita terdapat banyak kebajikan yang dapat mendukung pencapaian kita untuk meninggalkan tataran awam menuju kebuddhaan. Jika kita tidak memiliki ikrar, maka tidak akan ada pencapaian. Kekuatan kita tak akan berkembang. Ikrar kita sangatlah penting. Ada ikrar, maka akan ada kekuatan. Dengan kekuatan ikrar ini, kita berharap dapat menyatakan pertobatan. Pertobatan adalah pemurnian. Jika di dalam batin ada kegelapan dan noda batin, maka kita harus membersihkannya dengan pertobatan agar tiada lagi rintangan. Cermin batin kita ini, jika dapat terus dibersihkan, maka akan dapat merefleksikan segala kondisi. Cermin batin ini sudah kita miliki sejak awal.
Kita sudah mendengar banyak Dharma, tetapi di dalam batin kita masih ada rintangan. Dari begitu banyak Dharma yang kita praktikkan, kadang kita mengalami rintangan di tengah jalan. Inilah noda batin. Semua noda batin ini merintangi kita. Kita harus menggunakan hati yang bertobat untuk melenyapkannya, seperti kisah yang kita bahas tadi, yaitu memindahkan batu yang menyumbat mata air. Setelah kita memindahkannya dengan sekuat tenaga, maka mata air jernih itu akan memancar dan dapat membersihkan kekeruhan batin. Penggalan berikutnya pun sama. Dari sini kita akan menumbuhkan pahala. Apa yang disebut pahala? Ketika kita mendengar ajaran baik, dalam kehidupan sehari-hari kita memupuk kebajikan lewat praktik nyata dengan sepenuh hati dan tekad. Di dalam, kita rendah hati; di luar, kita bertata krama. Di dalam, batin kita sangat lapang. Segala kondisi luar pun akan terlihat sederhana. Dengan demikian, kita akan terus memupuk pahala. Dengan begitu, hati kita akan damai di mana pun kita berada. Segala yang kita lakukan bukan demi apa-apa, hanya demi mencapai batin yang jernih dan cemerlang. Di mana pun kita berada, kita dapat merasa damai. Untuk itu, kita harus mengandalkan kekuatan pertobatan. Kekuatan pertobatan dapat melenyapkan rintangan noda batin. Dengan begitu, dari kehidupan ke kehidupan, di mana pun kita berada, batin kita akan bisa lapang dan murni.
Kita tidak lagi tercemar atau terganggu oleh masalah antarmanusia. Ini sama seperti anak yang memindahkan batu tadi, sangat polos dan sederhana. Asalkan kita dapat meneguhkan keyakinan dan ikrar, maka dari kehidupan ke kehidupan, kita akan berada dalam kedamaian dan tidak lagi memupuk dan terjebak karma buruk. Sesungguhnya, setiap orang pada hakikatnya baik. Setiap orang pada dasarnya juga amat polos, hanya saja akibat berbagai hal yang kompleks di luar, batin kita pun terpengaruh. batin kita pun terpengaruh. Kita akan terpengaruh. Pada dasarnya kita memiliki hakikat yang murni. Karena itu, kita sering berkata, “Bersumbangsih dengan sukarela.” “Ini adalah kewajiban kita.” Benar, ini adalah kewajiban kita. Jika kita dapat sangat berpegang teguh terhadap kewajiban ini, maka godaan apa pun di luar tidak akan membuat kita goyah. Kita sering kali merasa, “Aneh, orang ini mulanya amat tulus, ucapannya masuk akal dan mengena, juga sangat mendalami Dharma, tetapi mengapa akhir-akhir ini cara bicaranya berbeda dan sikapnya menjadi lain?” “Sesungguhnya, apa penyebabnya?” Bukan hanya cara bicaranya yang berbeda, sikapnya pun demikian. Dia bahkan bisa mengompori orang. Apa yang sebenarnya terjadi? Pasti ada noda batin yang mengganggu sehingga mengubah pemikirannya. Dari mana asal noda batin ini? Dari kekuatan karmanya sendiri? Apa yang dimaksud kekuatan karma?
Saya sering berkata bahwa ia berasal dari tabiat buruk yang belum dilenyapkan. Jadi, kita sering berkata bahwa melatih diri, sesungguhnya adala mengubah tabiat buruk. Tabiat buruk kita mungkin telah terpupuk seiring pengaruh dari lingkungan sekitar. Saat kondisi lingkungan berubah, orang mungkin merasa, “Benar, inilah yang selama ini saya cari.” Dia lalu mulai bertekad dengan penuh sukacita. Jadi, dia menyerap segala ajaran yang didengar. Dia juga mampu menjelaskannya kembali. Namun, tabiat lamanya mungkin belum hilang. Saat lingkungan luar kembali menariknya, pikirannya pun langsung berubah dan kembali pada tabiat lamanya. Karena itu, kita yang ada di sisinya merasa, “Eh, mengapa dia yang sudah menjadi baik, tiba-tiba kembali berubah?” Ini karena keteguhan hatinya belum cukup. Ini karena keteguhan hatinya belum cukup. Akibatnya, potensi noda batin dapat kembali muncul kapan saja. Jadi, kita harus memiliki kekuatan ikrar yang teguh, barulah tidak akan terpengaruh kembali oleh tabiat buruk akibat lingkungan ataupun hubungan antarmanusia. Jadi, kita harus memperhatikan hal ini. Berikutnya dikatakan, “Dengan kekuatan batin, dalam sekejap menjelajahi sepuluh penjuru, menyucikan tanah para Buddha dan membimbing semua makhluk.” Penggalan ini berarti selama pikiran kita dapat memancarkan kejernihan, membangun ikrar serta keyakinan, dan tidak terpengaruh oleh kondisi sekitar, maka cermin batin kita akan cemerlang dan kita akan mampu memahami segala kebenaran.
Sebelumnya kita sudah membahas kekuatan batin. Berhubung kita memiliki rintangan, maka berbagai hal tidak berjalan sesuai harapan. Kita sering mendengar orang-orang berkata, “Dari 10 hal, ada 8 sampai 9 tak sesuai harapan.” Dari 10 hal, ada 8 sampai 9 yang tak sesuai harapan. Ini menunjukkan bahwa noda batin kita begitu banyak. Apa yang membuat harapan diri sendiri tak tercapai? Diri sendiri. Jika tidak, mana mungkin di dunia ini banyak hal tak sesuai harapan? Semuanya bergantung pada pikiran. Kita merasa tidak senang, merasa segalanya tidak sesuai harapan. Meski dikatakan bahwa dunia penuh penderitaan, justru karena kita tidak memahami kebenaran, maka segala sesuatu terasa sebagai derita. Jika kita dapat berpikiran terbuka dan menyadari bahwa segalanya tidaklah kekal dan tidak lepas dari hukum alam, maka apa gunanya kita terus-menerus risau? maka apa gunanya kita terus-menerus risau? Kita hendaknya segera memanfaatkan waktu dan tidak membiarkan kondisi luar memengaruhi batin kita. Bagi orang yang bisa berpikiran terbuka, dunia akan terasa luas. Orang yang berpikiran sempit selalu khawatir bahwa langit akan runtuh. Bagaimana mungkin mereka bebas dari kerisauan? Berhubung kehidupan ini benar-benar tidak kekal, maka apa yang perlu kita perhitungkan? Tidak ada yang perlu kita perhitungkan. Dengan begitu, kita juga tidak risau. Tentu, yang dimaksud “kekuatan batin” di sini adalah empat landasan kekuatan batin. Jika kita dapat mengurai segala noda batin dan tidak dilanda kerisauan, maka pikiran kita dapat meliputi sepuluh penjuru.
Pikiran kita bisa menjelajahi sepuluh penjuru. Pikiran siapa yang tak pernah menjelajahi 10 penjuru? Jika saya mengatakan arah timur, pikiran kalian akan memikirkan arah timur. pikiran kalian akan memikirkan arah timur. Di manakah arah timur? Arah di depan saya adalah timur, berarti arah timur ada di belakang kalian. Ketika kalian menoleh, di sanalah arah timur. Bagaimana membuktikannya? Matahari terbit dari arah sana. Jika kalian memberi tahu saya, “Master, coba lihat ke arah barat,” maka saya akan segera menoleh. Saya tahu bahwa arah barat ada di belakang saya karena arah barat berlawanan dengan arah timur. Benarkah timur dan barat saling berlawanan? Ini juga hanya istilah, juga merupakan sebutan yang dibuat oleh manusia. Sesungguhnya, jika kita dapat memahami bagaimana hubungan istilah-istilah itu dengan kebenaran, maka itu sudah benar. Ini bergantung pada pikiran. Jika kita ingin menyebut timur sebagai barat dan barat sebagai timur, sebenarnya juga bisa karena istilah hanya cukup diganti saja. Namun, arah yang sebenarnya tidak bisa diganti. Matahari terbit akan tetap dari arah yang sama, tak peduli kita menyebutnya dengan istilah apa. tak peduli kita menyebutnya dengan istilah apa.
Sesungguhnya, bagaimana pun kita mengganti istilah, matahari tetap terbit dari arah yang sama. Kebenaran bersifat tetap. Sebaliknya, pikiran kita dikacaukan oleh berbagai label atau istilah sehingga memiliki kerisauan. Pada hakikatnya hati kita begitu murni, jernih bagai cermin. Cermin kebijaksanaan ada di dalam hati kita, tetapi ia malah tertutup kabut. Jadi, Saudara sekalian, Kita sering berkata bahwa kita ingin menyucikan hati manusia. Menyucikan hati manusia berarti haruslah menggunakan mata air murni dalam hati kita untuk membersihkan kekeruhan di dalam batin. Dengan begitu, cermin batin akan jernih tanpa rintangan. Ini semua hanya bergantung pada pikiran. Jadi, sumber mata air batin kita selalu ada. Kita tinggal memindahkan batu di dalam batin agar mata air ini bisa mengalir keluar dan membersihkan kotoran sehingga cermin batin kita menjadi jernih tanpa rintangan. Saudara sekalian, kita harus selalu bersungguh hati.