Sanubari Teduh-359-Segala Sesuatu Bersumber dari Pikiran
Saudara se-Dharma sekalian, kita sering mendengar tentang ketidakselarasan empat unsur alam. Ini sangat membuat kita khawatir. Semua makhluk bergantung hidup pada alam. Berbicara mengenai kekeringan, kini kita dapat melihatnya dalam berbagai laporan berita. “Kekeringan dan arus panas bagai memanggang pasir; mengharapkan hujan turun tepat pada waktunya, atau bahkan hanya setetes embun sekalipun; segala sesuatu timbul dari pikiran; tidak pernah habis ataupun terbatas.” Bukankah kondisi batin kita sama dengan kondisi alam? Segala sesuatu bersumber dari pikiran kita. Di dalam Sutra Makna Tanpa Batas ada sebuah penggalan berbunyi, “Meneteskan embun ajaran, meredam nafsu keinginan duniawi.” Ia menggambarkan bahwa di dalam hati kita harus senantiasa ada embun Dharma. Nafsu keinginan manusia sangat besar bagaikan udara panas yang memanggang pasir. Nafsu keinginan kita bagaikan lahan bumi yang kering, maka begitu angin bertiup, debu dan pasir akan beterbangan. Setiap orang sangat berharap turun hujan. Jika hujan tidak turun pada saat pagi hari yang panas, kita membutuhkan embun di malam hari. Ini adalah sebuah perumpamaan. Setiap orang adalah demikian. Nafsu keinginan bagaikan sebidang lahan kering dan kita membutuhkan embun untuk membasahinya.
Dharma bagaikan air. Bumi juga memerlukan embun di malam hari Saat bangun di pagi hari, kita sering melihat titik embun di atas daun atau embun yang menetes dari ujung rumput. Jika kita perhatikan baik-baik, tanah di dekat rumput sedikit basah. Jadi, meski tidak turun hujan, kita tetap berharap ada embun yang membasahi. Segala sesuatu bersumber dari pikiran kita. Jika di dalam hati setiap orang terdapat sedikit air Dharma, maka berbagai Dharma dapat tumbuh dari di batin kita. Lihatlah kemajuan teknologi zaman sekarang. Mengapa teknologi bisa maju? Ia bersumber dari pikiran manusia. Manusia memikirkan apa yang bisa mereka kembangkan. Ilmu pengobatan sekarang dapat menyelamatkan nyawa manusia. Nyawa adalah yang terpenting bagi manusia. Tanpa nyawa, maka tidak ada hal yang dapat dilakukan. Karena itu, manusia sangat bersungguh hati melakukan penelitian tentang penyakit dan teknologi pengobatan untuk menyembuhkan tubuh manusia. Karena itu, para dokter dapat mengembangkan keterampilan dan potensi mereka untuk menyembuhkan pasien. Saya melihat sebuah laporan berita tentang sebuah rumah sakit di Spanyol. Dokter di rumah sakit itu mengembangkan keterampilan mereka.
Ada seorang pria berusia 60-an tahun. Saat berusia 40-an tahun, dia mengalami kecelakaan hingga kehilangan sebelah tangannya. Tiga tahun lalu, dia menderita stroke hingga tubuhnya lumpuh sebelah. Dokter lalu memutuskan untuk memindahkan lengan kanannya yang menderita stroke ke sebelah kiri. Lengan sebelah kirinya terluka akibat kecelakaan lalu lintas. Karena itu, saraf-sarafnya masih berfungsi, sedangkan saraf sisi sebelah kanannya yang terkena stroke pastilah sudah tak berfungsi. Karena itu, dokter memindahkan tangannya dari sebelah kanan ke sebelah kiri. Setelah menerima pengobatan yang luar biasa ini, Setelah menerima pengobatan yang luar biasa ini, pria itu bagai hidup kembali. Tangannya sungguh dapat bergerak. Saat lengan kanannya dipindahkan ke sebelah kiri, ibu jarinya juga dipindahkan ke samping jari kelingking seperti ini. Demikianlah dia dapat menjalani hidup dengan baik dan jari-jarinya dapat bergerak. Lihatlah, segala sesuatu bersumber dari pikiran kita. Pikiran ini dapat mengembangkan kekuatan batin yang tak terhingga. Saudara sekalian, bumi ini membutuhkan curah hujan yang sesuai bumi ini membutuhkan curah hujan yang sesuai dan turun tepat pada waktunya. Batin manusia juga membutuhkan Dharma yang jumlahnya sesuai. Dharma bagaikan air. Apakah Dharma berharga yang sesungguhnya? Apakah dengan bermeditasi, kita dapat memperoleh Dharma yang baik? Meditasi hanya bertujuan untuk menenangkan hati kita.
Ada banyak penderitaan di dunia ini. Contohnya penyakit. Apakah dengan bermeditasi, kita dapat melenyapkan penderitaan orang lain? Kita ambil contoh diri sendiri. Jika menderita stroke, kita bahkan akan sangat kesulitan untuk melakukan meditasi. Meski biasanya kita sangat ahli dalam melakukan meditasi, tetapi begitu menderita penyakit, kita bahkan kesulitan untuk duduk bersila. Untuk bersikap samadhi saja terasa sulit bagi kita. Benarkah dengan bermeditasi, kita dapat memperoleh kekuatan batin? Ini bergantung pada pikiran kita. Dengan hati yang teguh, kita dapat memahami segala sesuatu. Dengan pikiran yang terfokus, kita dapat mencapai segala sesuatu. Di dalam hati saya, dokter tadi tengah mengembangkan kekuatan batinnya. Dengan keterampilan medis dan kesungguhan hati, dia dapat membuat tangan seseorang yang semula tidak dapat bergerak dapat bergerak kembali. Dia sungguh telah mengembangkan potensinya. Belakangan ini saya terus berkata bahwa pikiran dapat merintangi pelatihan diri kita. Sayang sekali kalian tidak mempelajari ilmu pengobatan. Jika kalian menjadi dokter, mungkin dengan kesungguhan hati yang dimiliki, kalian dapat menyelamatkan orang yang menderita keterbatasan gerak hingga dapat bergerak kembali. Ini dapat dilakukan oleh setiap orang, hanya saja kita tidak mendalami ilmunya. Jika bersungguh hati untuk mendalaminya, maka kita juga dapat menyelamatkan sesama.
Dalam segala bidang, asalkan bersungguh hati, maka kita akan berhasil. Dikatakan, “Dengan segala samadhi yang mendalam serta segala pengetahuan dan pandangan, mampu menembus rintangan.” Jika hati dapat bebas dari rintangan, maka kita akan dapat memahami ajaran baik. Samadhi berarti konsentrasi benar. Samadhi berarti konsentrasi benar. Jika pikiran dapat terfokus, Jika pikiran dapat terfokus, maka kita dapat mencapai kondisi samadhi yang sangat dalam. Apakah dokter tadi memiliki pemahaman tentang ilmu pengobatan yang mendalam? Pasti sangat dalam sehingga dia berani memindahkan sebelah lengan pasien yang menderita stroke ke sisi badan yang mengalami kecelakaan lalu lintas. Dengan sangat bersungguh hati, dia mencari tahu saraf tubuh pasien yang masih bekerja dan mendapati bahwa saraf sebelah kiri tubuh pasien masih berfungsi. Jadi, dia memindahkan lengan pasien itu dari sebelah kanan ke sebelah kiri. Dia melakukan transplantasi anggota gerak pasien. Lihatlah, bukankah semangat ini sama dengan semangat pelestarian lingkungan kita? Kita memindahkan benda yang tidak berguna ke tempat yang berguna sehingga benda tersebut dapat kembali memiliki fungsinya. Inilah penembusan dan kondisi batin yang mendalam. Ini semua membutuhkan pengetahuan dan pandangan. Kondisi yang digambarkan dalam penggalan ini adalah kondisi samadhi yang mendalam dan pengetahuan serta pandangan kita.
Tujuan dari samadhi adalah membuat kita mampu memahami Dharma tanpa rintangan. Kini kita dapat melihat berbagai penderitaan yang ada di sekitar. berbagai penderitaan yang ada di sekitar. Jika pikiran kita mengarah pada kebaikan, maka kita semua bisa bergotong royong. Dokter memiliki keterampilannya sendiri, guru juga memiliki keterampilannya sendiri. Jika setiap orang dapat mengembangkan potensi dan keterampilannya masing-masing, bukankah kita akan mencapai kondisi yang mendalam? Bukankah ini adalah pengetahuan dan pandangan terbaik yang bebas dari rintangan? Jika setiap orang dapat menunaikan tugas masing-masing dan mengembangkan potensi diri yang terbaik, maka masyarakat kita akan menjadi masyarakat yang tersehat di dunia, Jika pikiran dapat mengarah pada ajaran baik, maka kita dapat memahami segala kebenaran. Jika dapat memahami satu kebenaran, maka kita dapat memahami segala kebenaran. Apa pun yang dibutuhkan oleh dunia, kita dapat menjangkau dan memahaminya. Kita dapat memahami segala kebenaran. Ini dapat kita capai. Jadi, tujuan kita mendalami ajaran Buddha adalah untuk mencapai kondisi batin yang dalam dan tanpa rintangan. Kita bukan hanya sekadar belajar melafalkan nama Buddha atau bermeditasi. Bukan hanya demikian. Kita juga bukan hanya sekadar belajar mengkaji penggalan Sutra. Bukan hanya demikian. Kita juga bukan hanya sekadar berteori. Bukan. Sesungguhnya, kita harus belajar menyelamatkan semua makhluk.
Buddha mengajarkan kepada kita tentang kondisi batin Mahayana. Karena itu, saya selalu berkata bahwa kita harus menjadikan hati Buddha sebagai hati sendiri dan memiliki Dharma di dalam hati. Buddha mengajarkan kondisi batin yang dalam ini kepada kita. Karena itu, kita hendaknya terjun ke tengah masyarakat. Meski terjun ke tengah masyarakat, tetapi kita tetap tidak terpengaruh oleh noda batin orang lain. Inilah kondisi batin dalam samadhi. Jadi, di dalam tindakan kita harus ada samadhi. Inilah kondisi batin Mahayana. Jika dapat memahami pengetahuan dan pandangan Buddha, maka kita dapat memahami segala kebenaran tanpa rintangan. Bukankah ini yang diajarkan dalam Sutra Bunga Teratai dan Sutra Makna Tanpa Batas? Di dalam Sutra Bunga Teratai dijelaskan tujuan utama Buddha datang ke dunia ini, yakni membuka hati, membimbing, menyadarkan, dan membuat semua makhluk menyelami ajaran. Buddha berulang kali datang ke dunia Buddha berulang kali datang ke dunia untuk membuka pintu hati semua makhluk dan memberi tahu kita apa ajaran kebenaran di dunia ini. Buddha menunjukkannya kepada kita agar kita tahu ternyata yang dimaksud adalah demikian. Apakah cukup mengetahuinya saja? Kita juga harus menyelaminya dan mempraktikkannya secara langsung. Inilah tujuan utama Buddha datang ke dunia ini. Jadi, kita harus paham bahwa di dalam hati kita terdapat banyak permata Dharma.
Di dalam hati setiap orang terdapat permata Dharma yang tak terbatas dan tidak habis dipakai. Bagaimana Dharma di dalam hati dapat habis terpakai? Yang terpenting adalah hati kita dapat terbuka. Janganlah berpikir bahwa dalam mendalami ajaran Buddha kita harus memiliki kekuatan batin atau dapat bermeditasi hingga mencapai kondisi batin yang tertinggi. Apakah kondisi batin yang tertinggi itu? Apakah tubuh kita ini dapat selalu terbebas dari penyakit? Saat penyakit menyerang, masih dapatkah kita mencapai samadhi? Jadi, kita harus memanfaatkan tubuh kita ini untuk melakukan hal yang bermanfaat bagi umat manusia. Inilah yang harus segera kita lakukan. Inilah praktik Dharma Mahayana. Apa yang dimaksud Dharma? Segala sesuatu yang dapat digunakan dan dipraktikkan oleh kita dan dipraktikkan oleh kita adalah Dharma yang sesungguhnya. Dikatakan, “Membabarkan Dharma dengan sukacita tanpa batas dan tidak tercemar, memperoleh kebebasan batin, kebebasan Dharma, dan kebebasan metode terampil.” Inilah yang terpenting dalam mempelajari ajaran Buddha. Setelah memahami Dharma dan dapat kembali berbagi Dharma, ini disebut membabarkan dengan sukacita tanpa batas.
Setelah menyerap Dharma ke dalam hati, kita akan dapat membabarkannya. Kita dapat membabarkannya dengan tanpa batas. dan penuh sukacita. Kita akan berbagi Dharma dengan penuh sukacita dan tentu dengan benar. Kebenaran ini sangat banyak, dengan siapa kita harus berbagi? Kita harus berbagi dengan semua orang. Di tengah masyarakat, kita tetap tidak tercemar. Kita tidak terbelenggu oleh pandangan kita sendiri, juga tidak terpengaruh oleh masyarakat. Dengan begitu, hati kita akan terasa bebas. Batin kita akan sangat damai dan dapat mempraktikkan Dharma dengan leluasa. Jika dapat mempraktikkan apa yang kita babarkan, maka kondisi batin kita tidak akan terpengaruh sehingga kita dapat menjalankan metode terampil dengan leluasa. Buddha membabarkan Dharma di alam manusia selama 49 tahun. Selama 42 tahun di antaranya, Buddha mengajarkan metode terampil. Buddha berkata bahwa dahulu Beliau selalu mengajarkan metode terampil. Metode terampil bukanlah kebenaran sejati. Namun, tanpa metode terampil itu, bagaimana kita dapat memahami kebenaran? bagaimana kita dapat memahami kebenaran? Contohnya makan. Kita telah makan selama puluhan tahun dan semua makanan itu bagai lenyap.
Kita tidak lebih berat ataupun lebih ringan. Jadi, makan di sini nyata atau tidak? Tidak nyata, karena semua makanan lenyap setelah dimakan. Setelah ditelan, kita bahkan lupa dengan bagaimana rasanya. kita bahkan lupa dengan bagaimana rasanya. Akan tetapi, ia memberi nutrisi kepada kita. Jadi, ia nyata ataukah hanya ilusi? Apakah nutrisi dari makanan itu dapat membuat tubuh kita bertahan selamanya? Tidak. Kita masih tetap harus memberi nutrisi pada tubuh. Apakah dengan terus memberi nutrisi, kita akan selamanya muda? Tidak. Tubuh ini harus terus diasup nutrisi. Tubuh ini terus mengalami metabolisme dan berubah. Saudara sekalian, kebenaran duniawi bersifat ilusif. Meski bersifat ilusif dan hanya berupa metode terampil, tetapi jika kita dapat memengaruhi orang agar berpaling dari keburukan menuju kebajikan, maka ia adalah ajaran yang baik. Buddha juga demikian. Buddha memberi tahu kita bahwa semua orang pada hakikatnya adalah Buddha. Kita harus percaya bahwa kita semua memiliki hakikat kebuddhaan. Inilah yang paling nyata dan benar. Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus berbagi Dharma dengan penuh sukacita dan tidak tercemar. Kita harus memiliki hati yang damai, mendalami Dharma dengan damai, dan mempraktikkan metode terampil dengan hati yang damai agar dapat melenyapkan kegelapan batin dan kemelekatan. Untuk itu, kita harus senantiasa bersungguh hati.