Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-360-Mengubah Pengetahuan Menjadi Kebijaksanaan

Saudara se-Dharma sekalian, saat tidur di malam hari, adakah kita bermimpi? Setiap orang mesti bermimpi di malam hari. Saat bermimpi, kita tidak sadar dan tak dapat menentukan arah, hanya mengikuti kondisi yang ada. Saat terbangun, kita sadar bahwa itu semua hanya ilusi, sedikit pun tidak nyata. Saat sadar, kita tahu semua itu hanyalah ilusi. Orang yang pernah bermimpi tentu akan berkata demikian. Kita semua mengerti. Bukankah kehidupan juga demikian? Kita diliputi ketidaktahuan bagai sedang bermimpi, tidak dapat mengendalikan diri. Setiap orang pada dasarnya memiliki hakikat kesadaran yang murni dan cemerlang. Hanya saja, ia tertutupi oleh kegelapan batin, bagai pemandangan yang tertutup kabut. Bukankah pemandangan yang tertutup kabut ini sama seperti mimpi yang tidak bisa kita lihat atau sadari dengan jelas? Kita tak bisa melihat benda apa yang ada di depan. Saat kita bermimpi, kita juga tidak dapat memilih apa yang akan kita temui di dalam mimpi. Mimpi adalah mimpi. Ada mimpi yang menakutkan, ada juga mimpi yang sangat indah. Kondisi mimpi ini bukan kita pilih sendiri. Kita tidak dapat menentukan sendiri. Sesungguhnya, apa yang memicu mimpi ini? Tidak ada yang menentukan. Ia muncul begitu saja mengikuti kondisi. Setelah terbangun, kita sadar bahwa ternyata semua hanya ilusi.

Sesungguhnya, jika kita ingat-ingat kembali mimpi apa kita kemarin malam, kita belum tentu bisa menggambarkannya. Semua itu sungguh tidak nyata. Apakah kita pernah mengunjungi tempat yang ada di dalam mimpi? Tidak. Bagaimana dengan orang yang kita temui di dalam mimpi? Juga belum tentu kita kenal. Kalaupun ada yang kita kenal, jika kita bertanya kepadanya, “Apakah kemarin malam kamu bertemu saya di mimpi,” Dia pun akan menjawab tidak. Itu hanya mimpi sepihak. Tidak ada hubungan dengannya. Kehidupan ini pun sesungguhnya tidak nyata. Jadi, jika kita bisa tersadarkan, kita akan tahu bahwa semuanya adalah palsu. kita akan tahu bahwa semuanya adalah palsu. Sebelumnya kita pernah membahas pandangan kepalsuan. Segala sesuatu di dunia ini Segala sesuatu di dunia ini disebut palsu karena tiada sesuatu pun yang kekal. Kondisi di hadapan kalian saat ini ataupun di belakang saya saat ini, ataupun di belakang saya saat ini, semuanya juga tidak ada yang kekal. Meski kita sementara waktu tidak menyadarinya, tetapi seiring waktu berjalan, tanpa terasa segalanya berubah. Jadi, apakah yang kekal dan nyata? Intinya, kita harus sadar, yaitu menyadari bahwa segalanya ilusif dan tidak kekal. Lihatlah bunga di hadapan kalian. Bunga itu ada di hadapan kalian, juga di hadapan saya. Ia ada di tengah-tengah kita.

Bunga itu adalah bunga anggrek. Bukankah kita sudah biasa melihat bunga? Sebelum bunga itu tumbuh dan mekar, kita hanya bisa melihat daunnya saja. Saat waktunya tiba, berkat kesungguhan orang yang memeliharanya, bunga ini perlahan-lahan tumbuh, lalu mengeluarkan kuncup, dan mulai mekar. Apakah kuncup dan bunga ini selamanya ada? Tidak. Semua tumbuh sesuai masa. Masa mekar bunga anggrek lebih panjang. Setelah sekitar satu bulan lewat beberapa hari, bunga yang tadinya mekar ini mulai layu. Kemudian, kuncup yang baru kembali tumbuh. Inilah ketidakkekalan. Inilah perubahan yang bersifat ilusi. Perubahan inilah yang disebut palsu, tidak nyata. Namun, di tengah fenomena yang palsu ini, kita juga percaya ada sesuatu yang nyata. Di tengah ilusi, ada sesuatu yang nyata. Contohnya, bunga dan rumput memiliki minyak, tanaman pangan memiliki nutrisi. Bukankah demikian? Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebagai praktisi Buddhis sering berkata bahwa menurut ajaran Buddha, segala sesuatu adalah palsu dan bersifat ilusif. Semuanya adalah palsu. Mari kita ambil contoh di dalam keseharian. Di dalam kehidupan sehari-hari, ada yang disebut minyak wangi. Bagaimana minyak wangi dibuat? Dari sari bunga dan tanaman yang diolah menjadi ekstrak. Jadi, kita juga harus tahu bahwa di tengah kondisi yang disebut palsu itu, seperti bunga yang mekar lalu layu atau rumput yang bisa mengering, tetapi dengan kesungguhan hati manusia, bunga dan rumput tadi bisa diolah dan diambil ekstraknya.

Orang-orang menggunakan pewangi itu untuk menghidupkan suasana. Mereka menggunakan alat aromaterapi atau mengoleskan minyak pada tubuh. Dari mana mereka mendapatkan minyak itu? Dari pengolahan ekstrak bunga dan tanaman. Dari pengolahan ekstrak bunga dan tanaman. Tanaman pangan mengandung nutrisi. Orang yang kesehatan tulangnya kurang baik disarankan mengonsumsi kacang-kacangan. Kacang-kacangan mengandung kalsium. Selain kacang-kacangan, ada pula beras. Beras mengandung kalori. Agar tubuh kita sehat, kita butuh nutrisi yang diasup oleh tanaman pangan. Kita bisa menyebut itu semua palsu, tetapi tanpa itu semua, bagaimana kita dapat bertahan hidup? Begitulah, di dalam kehidupan ini, asalkan kita bersungguh hati, kita dapat membuktikan bahwa ada kesejatian di balik kepalsuan. Ada sesuatu yang nyata di balik ilusi. Meski kita bagai sedang bermimpi, tetapi mimpi juga bisa dipicu oleh hal-hal yang dipikirkan siang harinya. Ada sebagian mimpi yang sangat aneh. Namun, kita harus percaya bahwa kita memiliki potensi kesadaran di dalam batin. Jadi, dengan adanya potensi kesadaran ini, mungkin saja kondisi mimpi Anda saat ini adalah kondisi nyata yang pernah Anda alami entah di kehidupan yang mana. Entah kondisi itu sudah berlalu berapa lama, lalu muncul lagi di dalam mimpi. Ini mungkin saja terjadi. Jadi, kita harus percaya bahwa ada kesejatian di balik kepalsuan. Ada sesuatu yang nyata di balik ilusi, ibarat ada ekstrak minyak pada setiap tanaman dan ada nutrisi dalam tanaman pangan.

Saya sering berkata kepada kalian bahwa kita semua memiliki hakikat kesadaran sejati. Jadi, baik saat kita berusia dini maupun berusia lanjut, hakikat kesadaran ini tidak bertambah atau berkurang. Dalam kehidupan lampau, kehidupan ini, atau kehidupan mendatang, hakikat kesadaran ini juga tetap ada. Untuk menjelaskan prinsip ini, saya menggunakan contoh ekstrak bunga tadi. Sesungguhnya, setelah bunga mekar, ia akan kembali menghasilkan benih. Benih ini akan menjadi bunga generasi selanjutnya. Bunga generasi selanjutnya itu juga bisa diolah kembali menjadi ekstrak. Demikianlah kondisi di alam ini. Empat musim silih berganti. Berbagai bunga dan tanaman di alam pun berganti seiring pergantian musim. berganti seiring pergantian musim. Terlebih lagi, manusia juga demikian. Terlebih lagi, manusia juga demikian. Jadi, kita harus bersungguh hati memahami kehidupan. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus memahami kebenaran di dalamnya. Di dalam diri setiap orang terdapat hakikat sejati. Kita harus bisa menggali dan mengembangkannya, sama seperti mengolah bunga menjadi ekstrak. sama seperti mengolah bunga menjadi ekstrak. Jika kita bisa sadar, maka untuk membabarkan kebenaran tidak akan ada kesulitan, karena setelah menyadari kebenaran ini, kita dapat memahami berbagai kebenaran lainnya. kita dapat memahami berbagai kebenaran lainnya. Jika kita mampu menyadari dan memahami ini, barulah noda batin dapat dilenyapkan. Dengan begitu, barulah kita bisa bebas rintangan. Jadi, setelah rintangan dilenyapkan, maka berikutnya dikatakan, “Sukacita membabarkannya tanpa batas, tidak tercemar dan melekat, memperoleh kebebasan batin, kebebasan Dharma, dan kebebasan metode terampil. Kita tidak tercemar oleh noda batin.

Segala yang kita ucapkan sesuai dengan kebenaran. Apakah kebenaran ini nyata? Asalkan noda batin kita sudah lenyap dan kita dapat melihat kebenaran, maka kita akan sukacita membabarkannya. Kita akan berbicara dengan tenang. Semua yang kita bicarakan adalah kebenaran. Berhubung semua itu adalah kebenaran, maka kita tidak akan kembali tercemar oleh noda batin. Dengan begitu, dalam berbicara kita akan damai. Kita memperoleh kebebasan batin dan Dharma. Dengan batin yang bebas dan damai, kita bisa membabarkan Dharma tanpa rintangan. Jadi, meski Dharma begitu banyak, kita menggunakan perumpamaan sebagai metode terampil. Kita membimbing orang dengan metode terampil, tetapi batin kita tetap bebas dan damai. Jadi, kita harus tahu bahwa rintangan dibuat oleh diri sendiri. Asalkan kita dapat menyadari kebenaran, maka noda batin akan lenyap. Jika noda batin kita sudah lenyap, maka tabiat akibat ketidaktahuan akan berakhir dan tidak akan kembali berlanjut. Kita tahu bahwa kita diliputi ketidaktahuan. Akibatnya, kita dipenuhi noda batin. Akibatnya, kita dipenuhi noda batin. Jadi, semoga orang-orang bisa memiliki pengetahuan. Pengetahuan ini hendaknya diubah menjadi pemahaman.

Pemahaman diubah menjadi kebijaksanaan. Jika kita dapat mengubah pengetahuan menjadi pemahaman, mengubah pengetahuan menjadi pemahaman, bukankah ini sangat baik? Kita tidak semata-mata tahu. Paham berarti mampu membedakan. Kita mampu membedakan yang benar dan salah. Aksara Tionghoa sangatlah indah dan mengandung kebenaran. Kita mengenal aksara “tahu” atau pengetahuan. Dari sini, ada istilah kaum cendekiawan. Kaum cendekiawan memiliki pengetahuan. Namun, saya sering berkata bahwa kita harus menjadi kaum bijaksana karena “tahu” dan “paham” tentu berbeda. “Tahu” hanyalah sekadar tahu. “Saya tahu apa nama rumput ini, saya tahu apa nama bunga itu.” Ada orang yang pernah memberi tahu kita, sehingga kita tahu nama-nama itu. Saat melihat wujudnya, kita tahu nama bendanya. Namun, kebenaran di balik benda itu tidak kita pahami. Contohnya bunga dan rumput. Kita hanya tahu bunga bisa layu dan rumput bisa mengering. Namun, sesungguhnya bunga bisa diambil ekstraknya. Tanaman pangan juga mengandung nutrisi. Sebagai manusia, kita butuh nutrisi. Intinya, banyak hal di balik segala sesuatu di alam ini. banyak hal di balik segala sesuatu di alam ini. Contoh lain adalah lautan. Orang mungkin memberi tahu kita, “Air laut rasanya asin.” “Tahukah kalian dari mana garam berasal?” “Dari air laut yang diolah.” “Air laut diuapkan untuk diambil garamnya.” “Tahukah Anda bahwa tubuh manusia tidak boleh kekurangan kadar garam?” “Ini adalah kata dokter.” Semua ini adalah pengetahuan zaman sekarang. Semua ini ada di dalam keseharian. Karena orang-orang membicarakan semua itu, maka kita pun jadi tahu. Namun, kebenaran di balik semua itu haruslah kita gali dan pahami sendiri. haruslah kita gali dan pahami sendiri. haruslah kita gali dan pahami sendiri. Inilah yang disebut pemahaman.

Prinsip ada yang benar, ada pula yang salah. Kita sering mendengar istilah ajaran sesat dan ajaran benar. Apa itu ajaran sesat? Ajaran sesat adalah sesuatu yang tidak benar. Sesuatu yang benar disebut ajaran benar. Berbakti pada orang tua adalah ajaran benar, merupakan prinsip dalam menjadi manusia. Tidak berbakti adalah ajaran sesat. Ini adalah hal yang tidak benar. Kemampuan membedakan prinsip ini disebut pemahaman. Inilah kemampuan untuk membedakan. Kita tahu bahwa tidak berbakti adalah salah. Kita tahu bahwa berbakti adalah benar. Inilah pemahaman. Inilah kebijaksanaan. Jadi, kita harus melenyapkan ketidaktahuan. Berhubung kita telah membabarkan Dharma dengan sukacita, bebas, dan tidak tercemar, maka jangan biarkan noda batin kembali mencemari. Dengan begitu, kita akan memperoleh kebebasan Dharma dan kebebasan metode terampil. Jadi, noda batin harus dilenyapkan. Bukan hanya itu, kita juga harus melenyapkan tabiat buruk akibat ketidaktahuan agar tidak kembali berlanjut. Untuk itu, kita harus berusaha. Setelah mengetahui kebenaran dan ajaran benar, kita jangan lagi terpengaruh kondisi luar. Jadi, berikutnya dikatakan, “Jalan mulia tanpa celah cemerlang bagai mentari.” “Setelah menyatakan ikrar, aku menyatakan berlindung dan menghormat kepada para Buddha.”

Sesungguhnya, tanpa celah berarti bijaksana. Kebijaksanaan kita tidak tertutup oleh noda batin. Berhubung kegelapan dan noda batin tidak menutupi batin kita, kita mencari jalan mulia. Kita mempelajari ajaran Buddha dengan harapan untuk menuju jalan mulia. Kita berjalan di jalan benar agar bisa mendekat pada kebuddhaan. Jalan ini disebut jalan mulia. Jalan mulia ini bebas dari celah. Artinya, ia bebas dari noda batin. Ia adalah jalan mulia yang penuh kebijaksanaan dan bebas dari noda batin. Kita berjalan menuju jalan mulia yang penuh kebijaksanaan dan bebas noda batin. Dengan begitu, batin kita akan cemerlang bagai mentari. Kita tidak lagi bagai sedang bermimpi. Kita akan sadar dengan jelas. Saya berbicara di sini, kalian di sana mendengarnya dengan jelas. Ini tentu bukan mimpi. Kalian sepenuhnya sadar pada saat ini. Saya berbicara dan kalian mendengarkan. Mengenai kecemerlangan bagai mentari, kalian dapat melihat saya, saya juga dapat melihat kalian. Kalian dapat melihat saya karena ada lampu. Kalian dapat melihat dengan jelas. Posisi duduk saya menghadap arah luar. Saya dapat melihat matahari mulai terbit. Bunga, rumput, dan pepohonan terlihat jelas. Kecemerlangan ini adalah kondisi yang sangat jernih. Kondisi ini sangat nyata.

Mengenai Dharma, kita ingin berjalan di jalan mulia dan tidak ingin diliputi kegelapan batin. Saya pernah membaca sebuah buku yang di dalamnya terdapat sebuah kisah. Di sebuah tempat di Tiongkok ada seorang perempuan yang entah datang dari mana. Perempuan ini muncul di daerah yang paling miskin di sana. yang paling miskin di sana. Perempuan ini mengalami gangguan mental. Dia hanya tertawa saat melihat orang. Tempat asalnya tidak diketahui. Orang-orang tidak peduli padanya. Bahkan perempuan lain yang melihatnya duduk sambil tertawa seorang diri bisa menendangnya. Seisi desa itu menindasnya. Namun, dia tidak bisa membedakan. Meski orang memakinya, memukulinya, atau menendangnya, dia tetap tertawa bodoh. Pada saat itu, ada seorang nenek yang memiliki seorang putra. Putra nenek ini sudah cukup berumur, sekitar tiga hingga empat puluh tahun. Dia tidak kunjung mendapatkan istri. Bagaimana dia dapat meneruskan keturunan? Nenek itu membawa perempuan ini pulang untuk dijadikan istri dari putranya. Meski putranya tidak bersedia, tetapi terpaksa menerima demi meneruskan keturunan. Hampir setahun kemudian, perempuan ini melahirkan anak. Sejak anaknya lahir, sang nenek segera mengambil anak itu, memandikannya, dan menyelimutinya. Dia dianggap sebagai penerus keturunan, sehingga dijaga dengan ketat. Ibunya sendiri tak diperbolehkan mendekat. Meski perempuan ini mengalam gangguan mental, tetapi dia tahu bahwa dia telah melahirkan anak dan terus mengulurkan tangan seraya ingin menggendong anaknya. Namun, si nenek mencegahnya.

Sang ibu terlihat begitu memelas karena sangat berharap dapat menggendong anaknya, tetapi sang nenek tidak mengizinkan. Beberapa bulan kemudian, suatu hari sang nenek memasak nasi. Sejak dahulu, sang nenek tidak pernah memasakkan nasi hangat untuk ibu itu. Pada hari itu, ia khusus memasakkan nasi dan berkata, “Sehabis makan, kamu pergilah.” Perempuan ini tidak mengerti apa-apa, tetapi dia tahu bahwa dia diusir. Dia seakan tahu bahwa dengan begitu, dia tidak bisa lagi melihat anaknya. Dia bukan hanya tak bisa menggendongnya, tetapi juga tak bisa melihatnya. Baru saja dia makan bebrapa suap nasi itu, saat mendengar perkataan sang nenek, dia langsung meletakkan mangkuknya. Sang nenek pun mulai memakinya terus-menerus. Perempuan ini juga tidak bisa menjawab. Dia hanya menangis. Dia lalu mengambil mangkuk nasi tadi dan menyisihkan separuh dari nasinya. Apa maksud dari tindakannya itu? Barangkali dia ingin menyampaikan bahwa dia rela hanya makan setengah porsi saja asalkan diizinkan untuk tetap tinggal. Barangkali ini maksud yang ingin dia sampaikan. Meski hati sang nenek mulai melemah, tetapi dia tetap tidak membiarkannya tinggal. Dia lalu mengambil cangkul untuk memukulnya. Sang nenek sangat marah dan mengusir ibu itu. Sang nenek berkata, “Jangan lagi kamu memasuki pintu rumah ini.” Ibu itu tetap diusir. Ibu ini akhirnya menghilang. Apakah dia benar-benar menghilang? Dia tetap berkeliaran di desa itu. Hingga saat berusia tujuh sampai delapan tahun, anaknya mulai bersekolah.

Orang-orang menertawakannya karena tidak memiliki ibu. Ada orang yang berkata kepadanya, “Ibumu adalah orang gila.” Anak ini tidak peduli dan berharap dapat melihat ibunya. Suatu hari, sekelompok anak berteriak kepadanya, “Ibumu datang.” “Dia ada di sana.” Saat anak ini melihat ke arah ibunya, yang terlihat adalah seorang dengan tubuh kotor. Namun, orang-orang berkata bahwa orang itu adalah ibunya. Dia pun berjalan mendekat. Perempuan ini mengulurkan tangan seakan ingin memeluk anaknya. Naluri keibuannya masih ada. Dalam perjalanan pulang ke rumah, sekelompok anak terus berkata, “Ibumu sudah gila.” Mendengar perkataan itu, dia sangat marah. Dia menoleh ke arah ibunya, lalu mendorongnya. Saat neneknya melihat kejadian itu, dia merasa cucunya harus dididik. Dia berkata, “Bagaimana boleh kamu berbuat begitu?” “Dia adalah ibumu.” “Bagaimana pun, kamu tak boleh tidak berbakti.” Namun, anak ini tak bisa menerima kondisi ibunya. Dia tetap bersekolah setiap hari. Dia tetap bersekolah setiap hari. Beberapa tahun kemudian, neneknya meninggal dunia. Tetangganya memasakkan makanan untuknya dan ibunyalah yang mengantarkannya setiap hari.

Perjalanan dari rumah ke sekolahnya memakan waktu 2 jam. Setiap hari ibunya mengantarkan makanan. Suatu hari, saat ibunya mengantarkan makanan, dia membawakan beberapa buah persik. Saat melihat buah persik, anak itu bertanya dari mana ibunya mendapatkan buah persik. dari mana ibunya mendapatkan buah persik. Ibunya bisa menjawab dengan beberapa kata. Dia menjawab, “Petik.” Saat itu anak ini merasa terharu. Dia tidak pernah memanggilnya “Ibu”, tetapi ibunya tetap mengantarkan makanan hingga dia duduk di bangku SMP. Jadi, melihat buah persik yang dipetik ibunya dan makanan yang setiap hari diantarkan, tiba-tiba dia merasa terharu. Akhirnya dia menatap ibunya dan memanggil,  “Ibu.” Dia memuji buah persik itu enak rasanya. Ibunya pun mulai tersenyum. Ternyata, ibunya itu juga berparas cantik. Pada malam harinya, tetangganya bertanya, “Ke mana ibumu pergi?” Anak ini menjawab, “Sudah pulang.” Tetangga itu berkata, “Belum, ke mana dia pergi?” Tetangga itu berkata, “Belum, ke mana dia pergi?” “Dia belum pulang.” Anak itu pun mulai ketakutan. Dia berkata, Hari ini Ibu mengantarkan buah persik. Tetangganya bertanya, “Lalu apa yang kamu katakan?” Anak itu menjawab, “Saya bilang enak.” Tetangga itu berkata, “Gawat.” Mereka lalu mencari sang ibu. Tetangga ini tahu bahwa di tepi jurang ada sebatang pohon buah persik. Karena anak itu berkata bahwa buahnya enak, maka pastilah sang ibu kembali memetiknya.

Mereka lalu kembali pergi ke arah pohon buah persik di tepi jurang. Mereka terus mencari dan akhirnya menemukan bahwa ada sebatang ranting pohon yang patah, tetapi di bawahnya adalah jurang. Saat mereka melihat ke dalam jurang, ternyata sang ibu sudah jatuh di sana dan meninggal. Tubuhnya berlumuran darah. Tangannya menggenggam ranting pohon persik. Saat itu anaknya sangat menyesal. Saat duduk di sekolah dasar, dia pernah mendorong ibunya. Setiap hari, dia juga memaki ibunya dan menjauh darinya. Ibunya setiap hari mengantarkan makanan. Untuk itu, dia berjalan dua sampai tiga jam. Ibunya ini tidak pernah tersesat. Dia mengantarkan makanan tiga kali sehari. Cinta kasih ibu ini begitu nyata. Jadi, anak ini bertekad untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Kelak, anak ini akhirnya lulus kuliah dan menuliskan kisah hidupnya. Saudara sekalian, inilah naluri keibuan yang begitu nyata. Apa pun yang terjadi pada dirinya, bagaimana pun terganggu mentalnya, tali kasih terhadap anaknya tetap ada. tali kasih terhadap anaknya tetap ada. Intinya, di manakah letak tali kasih ini? Ini juga termasuk sejenis kemelekatan, yaitu kemelekatan cinta seorang ibu. Jadi, apa prinsip kebenaran yang sejati di dalamnya? Saya berharap setiap orang dapat  memahami kebenaran dan berbakti. Tidak berbakti adalah ajaran sesat. Jadi, sebagai manusia, kita harus bertindak sesuai prinsip kebenaran. Inilah yang benar. Jadi, kita harus bersungguh hati dan sepenuh hati berikrar untuk melenyapkan noda batin serta memasuki jalan mulia. Tentu, kita harus meneladani Buddha. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment