Sanubari Teduh-365-Hukum Sebab Akibat
Saudara se-Dharma sekalian, orang zaman dahulu berkata, “Kebaikan berbuah kebaikan; kejahatan berbuah kejahatan; bukan tidak berbuah, hanya saja waktu belum tiba.” Benar. Kita harus meyakininya. Setiap hari kita membahas hukum sebab akibat. Jadi, kita harus meyakini ajaran Buddha. Kita juga sudah pernah membahas bahwa di dalam Sutra Buddha dikatakan bahwa karma ada tiga jenis, yaitu karma yang berbuah pada satu kehidupan selanjutnya, karma yang berbuat pada kehidupan ini juga, dan karma yang berbuah pada kehidupan-kehidupan berikutnya. Seperti sebuah berita yang saya lihat, di wilayah tengah Taiwan ada seorang menantu yang membunuh mertua. Menantu ini baru berumur 28 tahun. Saat berita ini disiarkan, ayah dari perempuan itu berkata, “Bagaimana mungkin?” “Waktu kecil putri saya sangat penurut.” “Bagaimana mungkin?” “Waktu kecil, disuruh membunuh ikan saja dia tidak berani.” “Sekarang dia dikatakan telah membunuh orang?” “Bagaimana mungkin?” Namun, berita itu tertulis jelas di surat kabar. Si menantu ini pun mengakui bahwa dialah yang membunuh mertuanya. Menurut para tetangga dan kerabatnya hubungan menantu dan mertua itu baik-baik saja. Sang mertua juga baik terhadap menantunya. Orang lain bahkan ada yang berkata, Orang lain bahkan ada yang berkata, “Baru-baru ini sang mertua bilang bahwa dia sangat senang menantunya sudah mengandung tiga bulan.” “Dia bilang ingin membeli beberapa barang untuk menambah asupan gizi menantunya.” Setelah menunggu bertahun-tahun, menantunya akhirnya mengandung. Sang mertua sangat gembira.
Dia mengabarkan kepada para tetangga dan kerabatnya. Dari sini terlihat bahwa hubungan menantu dan mertua itu cukup baik. Seorang menantu muda berusia 20-an tahun, bisa punya dendam apa terhadap mertua? Menurut para tetangganya, mertua itu juga cukup baik terhadap menantunya. Namun, ada juga orang yang berkata bahwa sepasang mertua dan menantu itu kadang terlibat adu mulut. Ada pula orang yang berkata begitu. Belum lama ini, si mertua membantu menantunya membayar utang. Ada juga orang yang menebak-nebak apakah sang menantu membunuh karena uang. Apakah pembunuhan ini juga berawal dari utang? Apa karena dia meminta uang kepada mertuanya, lalu membunuhnya karena tidak diberi? Jika dilihat dari penampilannya, si menantu ini terlihat cukup baik. Dia masih muda. Bagaimana hari-hari ke depannya? Mertua dan menantu ini pasti memiliki jalinan jodoh masa lampau yang kurang baik. Jika tidak, maka dalam kehidupan ini, dengan hubungan yang terpupuk dengan baik sesuai penuturan para tetangga dan kerabat, tidak mungkin timbul niat untuk membunuh. Mengapa niat kejam itu bisa muncul? Dia begitu tega membunuh mertuanya. Ini pasti akibat jalinan jodoh buruk yang tertanam pada kehidupan lampau. Pada kehidupan ini jalinan jodoh itu berbuah. Ini dari sisi sang mertua. Sebaliknya, dari sisi sang menantu, membunuh orang bayarannya adalah nyawa. Meski belum tentu dihukum mati, tetapi mungkin dihukum penjara seumur hidup, mungkin juga beberapa puluh tahun. Apakah tidak akan ada rasa penyesalan di dalam hatinya? Dalam kehidupan ini, waktu hidupnya mungkin masih panjang.
Bayangkan, bukankah ini adalah buah pada kehidupan ini juga? Intinya, karma bisa berbuah saat ini ataupun nanti. Mengenai karma yang berbuah nanti, mungkin saja karma buruk lampau sang mertua berbuah pada kehidupan sekarang. Dari sisi sang menantu, dia berbuat karma buruk pada saat ini. Dia mungkin menerima buahnya saat ini juga, tentu juga bisa menerima buahnya kelak. Kelak di sini berarti kehidupan berikutnya. Kelak di sini berarti kehidupan berikutnya. Bukankah kita sering melihat orang yang jahat, tetapi kehidupannya tetap lancar? Dia tidak melakukan kebajikan sedikit pun. Sikapnya pun jahat terhadap orang lain. Namun, berkah kehidupan lampaunya belum habis. Karena itu, dia masih bisa menikmati kesenangan dan hidupnya masih lancar-lancar saja. Ada orang yang berkata, “Orang yang begitu jahat, mengapa hidupnya begitu enak?” “Anak dan menantunya begitu baik kepadanya, hartanya pun banyak.” “Kedudukan dan reputasinya pun tinggi.” “Bagaimana menjelaskan ini?” Jawabannya adalah bukan karma tidak berbuah, hanya saja waktu belum tiba. Mungkin ia akan berbuah//di kehidupan mendatang. Begitulah hukum karma. Di dalam teks dikatakan, “Buah karma diterima dalam kehidupan ini atau nanti; atau pada berbagai kehidupan yang tak terhingga.” Buah karma ini ada yang berbuah pada kehidupan ini juga, ada yang berbuah pada kehidupan mendatang, ada pula yang berbuah pada berbagai kehidupan yang tak terhingga. Ini memang merupakan misteri.
Dalam pertemuan pagi relawan kita juga mendengar dokter RS Tzu Chi Dalin juga mengatakan bahwa kehidupan amat penuh misteri. Jika ingin menggunakan waktu satu kehidupan untuk memahami misteri ini, maka sangatlah sulit. Ada orang yang menderita penyakit terpendam. Benih penyakit sudah tertanam di tubuhnya, tetapi tidak muncul gejala dalam waktu lama. Bukankah prinsip ini sama dengan karma? Penyakit itu sama dengan benih karma buruk yang terpendam. Ia hanya belum muncul ke permukaan. Mengapa? Karena kondisi tubuh yang lain masih cukup baik. Karena itu, penyakit belum kambuh. Ada orang yang kelihatannya sehat, tetapi entah mengapa, tiba-tiba jatuh sakit dan tidak tertolong lagi. Ini karena biasanya ada berbagai kondisi yang terpendam. Jika tiba-tiba kondisi-kondisi ini kehilangan keselarasan, maka penyakit akan muncul. Karena itu, kadang sulit untuk ditolong. Begitulah misteri kehidupan. Bukankah sama dengan misteriusnya hukum karma? Prinsip kebenaran di dunia sungguh misterius. Ia menyimpan makna yang dalam. Jika ingin dijabarkan seluruhnya, sesungguhnya cukup sulit. Bukan hanya cukup sulit, melainkan semakin dalam, kita yang mendengar semakin tidak mengerti. Jadi, kedengarannya memang misterius. Kita harus memiliki hati yang tenang dan pikiran yang murni. Dengan begitu kita akan menemukan arah yang benar.
Dengan hati yang murni, kita meyakini ajaran Buddha tentang hukum karma. Kita harus meyakini bahwa karma baik dan buruk akan terus terpupuk. Jika karma baiknya lebih kuat daripada karma buruk, maka seseorang akan menikmati sisa berkahnya. Karena itu, kita melihat orang itu seakan terus menikmati kesenangan. Ini karena pada kehidupan lampau dia menanan benih berkah yang besar. Karena itu, kekuatan karmanya amat besar dan belum habis. Jika berkah belum habis dinikmati, maka karma buruk belum akan berbuah. Kita sering melantungkan, mendengar, dan membahas Syair Pertobatan Air Samadhi. Penulisnya adalah Mahabhiksu Wu Da. Dalam kehidupan lampaunya yang ke-10, beliau adalah Yuan Ang. Demi menjaga kedaulatan negara, memegang kesetiaan terhadap kaisar, dan menjaga keselamatan rakyat, beliau menjebak Chao Cuo. Dia memenggal Chao Cuo di Kota Timur. Saat itu, Chao Cuo tahu dirinya dijebak. Saat itu, Chao Cuo tahu dirinya dijebak. Hatinya penuh kebencian. Saat dia sedang membuka mulut, seketika itu pedang menebas lehernya. Kepalanya terus menggelinding dan sebuah batu masuk ke dalam mulutnya. Dia menggigit batu itu hingga hancur. Kita bisa melihat betapa kuatnya rasa benci itu. Karena itu, dia berkeras untuk membalas dendam. Karena itu, dia berkeras untuk membalas dendam. Dia terus mengikuti Yuan Ang. Namun, setelah membunuh Chao Cuo, Yuan Ang melepaskan jabatannya dan melatih diri sebagai bhiksu di gunung. dan melatih diri sebagai bhiksu di gunung. Dia mulai merasa takut akan hukum karma. Dia juga tahu bahwa pembunuhan yang dia lakukan pasti mendatangkan akibat.
Namun, dia sungguh-sungguh melatih diri. Dia juga menjaga sila dengan sangat ketat. Selama 10 kehidupan, dia menjadi bhiksu agung. Dari kehidupan ke kehidupan, Chao Cuo terus mengikutinya, tetapi tidak dapat membalas dendam. Benih karma berisi dendam ini tidak memiliki kondisi untuk berbuah. Setelah sepuluh kehidupan, Yuan Ang terlahir sebagai Bhiksu Wu Da. Di masa mudanya, Bhiksu Wu Da juga sangat menjaga sila dan mengembangkan cinta kasih. Jadi, saat suatu kali melakukan perjalanan, beliau bermalam di sebuah vihara. Di sana ada seorang bhiksu yang sakit. Penyakitnya sangat parah. Bhiksu itu juga tinggal di vihara yang sama. Bhiksu muda tadi tidak sampai hati melihat bhiksu yang sakit ini melihat bhiksu yang sakit ini tidak ada yang merawat. Dia lalu merawatnya. Akhirnya, bhiksu ini sembuh. Beliau tetap tinggal di vihara tersebut, sedangkan bhiksu muda tadi lalu pamit. Bhiksu yang sakit ini berpesan kepada bhiksu muda, “Kelak, jika menemui kesulitan yang tidak dapat diselesaikan, datanglah mencariku.” “Aku tinggal di Gunung Jiulong, di tengah-tengah dua batang pohon pinus.” “Engkau dapat mencariku.” Mereka lalu berpisah. Kemudian, bhiksu muda ini berkelana dan menyebarkan Dharma.
Pada saat itu, orang-orang mengenal bhiksu muda itu sebagai Guru Chan Wu Da. Orang-orang sangat menghormatinya. Kaisar Yi Zong saat itu juga sangat berminat terhadap ajaran Buddha. Beliau tahu kebenaran ajaran Buddha amat dalam. Jadi, saat mengetahui ada bhiksu muda yang memahami kebenaran ini, beliau mengundangnya ke istana untuk mengajar. Kaisar merasa ajaran Buddha sangat baik. Beliau sangat menghormati Bhiksu Wu Da sehingga memberinya persembahan, menempatkannya pada posisi yang tinggi, dan sering berada dekat dengannya. Kaisar selalu meminta petunjuk atas hal-hal yang tak dipahaminya. Suatu hari, kaisar membuatkan sebuah kursi singgasana dari kayu cendana dari kayu cendana yang sangat mahal. Kayu cendana sangat berharga bagai emas. Berhubung Kaisar amat menghormati Bhiksu Wu Da, maka beliau memberi persembahan yang paling berharga. Jadi, kaisar tidak merasa sayang untuk membuatkan sebuah kursi yang berharga. Lalu, timbul kegiuran dalam hati Bhiksu Wu Da. Beliau lalu tidak sengaja membentur kursi itu sehingga timbul bengkak di kakinya dan pecah menjadi luka yang membusuk. dan pecah menjadi luka yang membusuk. Berhubung beliau adalah guru kerajaan, maka kaisar mencarikan tabib ternama dari seluruh negeri untuk mengobatinya. Namun, para tabib itu tak berdaya. Mereka tak dapat menyembuhkan beliau. Setiap orang menggelengkan kepala. Luka berbentuk wajah manusia itu amat langka. Luka itu bagai memiliki mulut yang bisa makan.
Bagaimana bisa diolesi obat? Disumbat dengan benda apa pun tiada gunanya. Jadi, Bhiksu Wu Da sendiri pun tahu bahwa itu adalah buah karma. Bagaimana agar karma tersebut lenyap? Beliau teringat pesan dari bhiksu sakit yang beliau temui puluhan tahun lalu saat mereka akan berpisah. Beliau merasa pasti ada petunjuk dari ucapan itu. Jadi, beliau memohon kepada kaisar untuk diizinkan menuju Gunung Jiulong. Kaisar juga tidak berdaya. Beliau hanya mengutus orang untuk mengikuti Bhiksu Wu Da. Dengan bantuan seorang anak kecil, beliau akhirnya bertemu dengan bhiksu itu. Ternyata, bhiksu sakit itu adalah Yang Arya Kanaka. Beliau adalah seorang bhiksu agung. Yang Arya Kanaka berkata, “Jangan khawatir.” “Hari ini engkau bermalamlah di sini.” “Besok sramanera kecil akan membawamu ke sebuah kolam di lereng gunung.” “Cucilah lukamu di sana.” Keesokan paginya, sramanera kecil ini membawa jalan. Di sana ada sebuah kolam air jernih. Bhiksu Wu Da segera membungkuk. Saat beliau hendak mencuci lukanya, seakan ada suara yang berkata padanya. Suara itu terdengar sangat jelas. Suara itu berkata, “Sepuluh kehidupan yang lalu, Yuan Ang mengelabui Chao Cuo di Kota Timur.” “Yuan Ang saat itu adalah dirimu, sedangkan aku adalah Chao Cuo.” “Aku terus berusaha membalas dendam selama sepuluh kehidupan.” “Engkau menjadi bhiksu agung dalam sepuluh kehidupan sehingga aku tidak memiliki kesempatan.” “Kini, engkau menjadi guru kaisar sehingga pintu kesombonganmu terbuka.” “Aku memanfaatkan terbukanya pintu karma ini.” “Kini, Yang Arya Kanaka telah mencuci rasa dendamku.” “Aku sudah ikhlas.” Setelah mendengar suara itu, Bhiksu Wu Da seakan terbangun dari mimpi. Beliau segera mencuci lukanya dengan air di sana.
Beliau segera mencuci lukanya dengan air di sana. Rasa sakitnya menembus hingga ke tulang. Sakit sekali. Begitu beliau sadarkan diri, lukanya sudah sembuh. Saat beliau ingin kembali untuk berterima kasih, bhiksu tadi sudah tidak ada. Vihara itu juga sudah tidak ada. Sejak saat itu, Bhiksu Wu Da melatih diri di sana dan menulis Syair Pertobatan. Jadi, Syair Pertobatan Air Samadhi berasal dari Mahabhiksu Wu Da. Jika kita membahas karma yang berbuah pada kehidupan-kehidupan berikutnya, maka inilah contohnya. Lihatlah, karma itu tak kunjung berbuah selama sepuluh kehidupan. Hingga pada kehidupan yang kesepuluh, barulah karma itu ada kesempatan untuk berbuah. Jadi, meski Bhiksu Wu Da menjadi bhiksu agung selama sepuluh kehidupan, tetapi benih karma tidak lenyap. Jika buah karma belum diterima, maka ia tidak akan lenyap. Kita harus menerima buah karma. Setelah kita menerimanya, ia akan terkikis. Singkat kata, hukum karma adalah sesuatu yang nyata. Kebaikan berbuah kebaikan; kejahatan berbuah kejahatan; hanya saja waktunya belum tiba. Bukan berarti semua ini tidak akan berbuah. Jadi, semua hendaknya lebih bersungguh hati.