Sanubari Teduh-364-Pengetahuan Benar Mengurai Delusi
Saudara se-Dharma sekalian, tekad melatih diri haruslah teguh. Kita harus yakin sepenuh hati tanpa ragu. Dalam mempelajari ajaran Buddha, jika ada keraguan, maka keyakinan kita akan berkurang. Jadi, kita harus memilih dengan baik arah pelatihan diri kita. Kita harus memiliki hati yang teguh, tulus, dan bebas dari keraguan, baru bisa melangkah maju. Kita terlebih harus meyakini hukum sebab akibat. Jadi, sebab dan akibat harus dipahami dan diyakini. Karma baik ataupun karma buruk, yang lebih kuat mungkin berbuah lebih dahulu. Jika kita memiliki karma buruk yang kuat, maka meski dalam hidup ini kita melakukan kebajikan, tetapi kekuatan karma buruk dari kehidupan lampau tetap harus kita terima akibatnya. Meski dalam kehidupan ini kita adalah orang baik, tetapi karma lampau tetap harus kita terima buahnya. Jadi, karena kuatnya karma masa lalu, karma masa kini berbuah belakangan. Jadi, baik ataupun buruk, yang kuat akan berbuah lebih dahulu. Cepat atau lambat, yang kuat pasti akan berbuah lebih dahulu. Kita harus meyakini hukum karma dan mengurai delusi dengan pengetahuan benar. Jika kita dapat meyakini hukum karma, maka pandangan kita akan benar, segala keraguan juga akan lenyap. Jadi, pikiran kita harus sangat teguh. Berikutnya kita melanjutkan pembahasan teks. Berikutnya dikatakan, “Manusia awam banyak yang ragu terhadap hal ini.” “Apakah sebabnya?” “Karena melihat orang yang baik malah bertemu rintangan.” Penggalan ini hendak mengingatkan kita.
Hati Buddha dalam diri kita harus teguh. Kita adalah makhluk awam. Setiap hari kita bertemu berbagai hal, baik yang kita lihat maupun yang kita dengar. Dari banyak orang yang kita temui, kita tahu banyak orang menyimpan keraguan. Keraguan apa? Mereka mungkin berkata, “Mengapa bisa begitu?” “Orang yang kita temui saat ini, meski sudah berbuat baik dan menjadi orang yang baik, mengapa kehidupannya sangat sulit?” mengapa kehidupannya sangat sulit?” Sulit berarti tidak sesuai harapan. “Dalam kehidupan ini, mengapa begitu banyak ketidakberuntungan menimpa orang itu?” “Orang ini biasanya sangat baik, lalu mengapa nasibnya seperti itu?” Jika dijelaskan menurut prinsip dan kebenaran versi makhluk awam, maka orang baik pasti berbuat baik. Berbuat baik pasti menciptakan berkah. Menciptakan berkah pasti mendapat berkah. Apa pun yang dilakukan, seharusnya lancar sesuai harapan. Inilah seharusnya yang diterima orang baik. Kita merasa bahwa jika benar begitu, barulah hukum karma berlaku. Sebaliknya, ada orang baik yang hidupnya tidak lancar, bahkan harus terlibat masalah. Kita sering mendengar kasus orang yang terlibat masalah karena ulah orang lain. Misalnya, dia membantu orang. Orang itu memintanya menjadi perantara. Akhirnya, dia menjadi terlibat masalah, bahkan dirinyalah yang dituntut dan harus berhadapan dengan hukum. Kita bahkan juga sering mendengar ada orang yang membantu teman baiknya menjadi penjamin agar temannya dapat melewati kesulitan. Dia hanya menjadi penjamin, tetapi akhirnya malah dirinya yang bangkrut. Kasus seperti ini sering kita dengar.
Orang-orang juga sering bercerita kepada kita. Banyak orang yang terseret masalah seperti ini. Orang-orang itu berniat untuk berbuat baik dan membantu orang, mengapa mereka malah tertimpa masalah? Kita harus tahu bahwa tak ada akibat jika tak ada sebab. Meski seumur hidup ini dia sangat baik, tetapi dalam kehidupan lampau, dia pernah menanam benih buruk yang sangat kuat. Jadi, di dalam kehidupan ini, meski dia menjadi orang baik, tetapi kekuatan karma lampau yang kuat tetap membuatnya harus menerima akibat. Jadi, yang kuat akan berbuah lebih dahulu. Karma tidak akan bisa dihindari. Ini sangstlah jelas. Intinya, kita tetap harus percaya. Tekad yang teguh harus didasari pada keyakinan terhadap hukum karma. Bertahun-tahun yang lalu, ada seorang yang sungguh jenius. Dia telah berjasa membuat sebuah perusahaan besar memperoleh untung berkat penemuannya. Dia menghela napas dan berkata pada saya, “Master, tahukah Anda?” “Barang yang kini populer di pasaran itu adalah barang yang saya kembangkan dengan mengerahkan seluruh daya dan upaya.” “Saya ingin membuat barang itu beredar luas di pasaran, tetapi saya selalu merugi.” Lalu, dia menghadap sebuah perusahaan besar dan berkata, “Saya tak mampu meneruskan, saya jual saja hak paten ini kepada Anda.” Perusahaan itu berkata kepadanya, “Jika Anda saja tidak berhasil, bagaimana kami bisa berhasil?” “Anda ingin kami membeli hak paten itu, kami juga tidak bisa.” “Begini saja.” “Anda bekerja saja di perusahaan kami.” “Hak paten barang itu menjadi milik kami.” “Kami akan membantu memasarkannya.” Perusahaan itu memproduksi barang tersebut dan membagi sedikit keuntungan untuknya.
Dia berkata, “Jika dihitung, sekarang sudah proyek kelima atau keenam.” “Mengapa mereka bisa untung besar, sedangkan saya hanya bekerja untuk mereka dan hanya mendapat sedikit bagian?” Dia berkeluh kesah. Saya berkata padanya, “Tidak perlu mengeluh.” “Itu memang bukan berkahmu.” “Di kehidupan lampau kamu tidak menanam berkah itu.” “Ibarat kamu melempar uang kertas ke air, uang itu akan tenggelam dan tak akan mengapung.” “Sebaliknya, bagi orang yang menciptakan berkah, bahkan uang logam yang dilemparkan orang lain juga akan mengapung dan bisa diambil.” “Itu karena dia memiliki berkah.” “Kamu kekurangan berkah itu.” “Kamu memiliki kebijaksanaan, tetapi tak memiliki berkah.” “Perusahaan itu memiliki kebijaksanaan, juga memiliki berkah.” “Mereka tahu kamu adalah orang berbakat, maka ingin menarik kamu masuk ke dalam jaringannya.” “Mereka memiliki kebijaksanaan, juga berkah.” “Mereka tidak mau hanya membeli hak paten sesuai keinginanmu.” “Tidak.” “Mereka mau kepandaianmu.” “Jadi, kamu harus menerima nasib.” “Kita harus memahami hukum karma.” “Jika punya benih berkah, kamu akan menuai buah berkah.” “Jika kurang menanam benih berkah, maka buah berkah yang dituai hanya sedikit.” Setelah mendengarnya, dia merasa, “Kalau begitu saya ikhlaskan saja.” Toh dirinya juga masih bisa hidup. Benar, menjadi karyawan tidak perlu risau. Jadi, setelah melihat penggalan tadi, masalah yang dihadapi orang berbakat tadi adalah buah dari karma masa lampau. Ada pula orang yang tak memiliki keturunan. Orang-orang sering berkata, “Ada tiga hal yang dianggap tak berbakti, yang terbesar adalah tak memiliki keturunan.” Begitulah makhluk awam.
Orang awam selalu ingin memiliki anak, bahkan sampai mengeluarkan banyak uang. Bagaimana pun, mereka ingin memiliki anak kandung. Namun, ada juga yang tak kunjung mendapatkannya. Kalaupun dapat, anak itu adakalanya meninggal di usia muda. Ini juga penderitaan menurut makhluk awam. Kisah-kisah yang kita bahas ini, seharusnya kalian juga sudah banyak mendengar. Manusia kerap dirundung masalah. Jadi, penggalan tadi membuat kita lebih memahami bahwa masalah apa pun tidak perlu dikeluhkan. Jika kita mendengar orang yang berkeluh kesah kepada kita, maka setelah memahami kebenaran ini, kita bisa membantunya untuk lebih memahami. Jangan sampai ada keraguan. Berikutnya dikatakan, “Sedangkan orang jahat hidupnya berjalan lancar.” “Mereka beranggapan baik jahat tiada bedanya.” “Orang yang berpikir demikian tidak dapat mendalami kebenaran hukum karma.” Sebagian orang tadi berkata, “Orang-orang yang berbuat baik mengalami kesulitan seumur hidup.” Kini, sebaliknya, kita juga melihat ada orang yang begitu sewenang-wenang, kejam, tamak, sangat kikir, sangat kikir, tidak rela memberi, dan hanya mau terus memperoleh. Orang yang jahat seperti ini malah ada yang kehidupannya lancar. Melihat hal ini, banyak orang berpikir bahwa di dunia ini baik dan jahat tiada bedanya. “Orang baik tidak mendapat balasan yang baik, orang jahat masih dapat menikmati berkah.” Begitulah orang-orang menganggap kebaikan dan kejahatan tidak ada bedanya. Jika ada orang yang berpikir demikian, Jika ada orang yang berpikir demikian, mereka tak dapat mendalami kebenaran hukum karma. Tadi kita sudah membahas bahwa ada benih, maka akan ada buah. Benih yang kuat akan berbuah terlebih dahulu. Benih yang lemah berbuah belakangan.
Di masa lalu kita menciptakan benih buruk yang kuat, maka dalam kehidupan ini kita harus menerima buahnya. Jadi, hukum sebab akibat sangat jelas dan tak akan salah. Namun, kita tak dapat berpatokan hanya pada kehidupan sekarang. “Jelas-jelas orang itu begitu jahat, mengapa hidupnya lancar-lancar saja?” “Orang itu jelas-jelas orang baik, mengapa hidupnya begitu sulit?” Satu kehidupan ini tak dapat dijadikan patokan. Sesungguhnya, sebagai makhluk awam, berapa panjang waktu yang kita miliki untuk mengamati hukum karma? Kehidupan ini begitu singkat, tetapi hukum sebab akibat terus berjalan. Hukum ini tetap ada selamanya. Jadi, kita harus memahami hukum karma. Hukum karma tidak akan salah. Ada orang berkata, “Berbuat jahat tetap dapat hidup nyaman, juga tak mendapat hukuman; maka tidak perlu berbuat baik, toh apa gunanya?” Ada orang yang berkata demikian karena hanya melihat sebagian rangkaian. Jadi, jika pikiran tidak bajik dan tidak memahami hukum karma, maka akan mudah menyimpang. Mereka bisa menganggap orang jahat tetap dapat menikmati hidup. “Memangnya kenapa?” “Yang penting masih bisa menikmati hidup.” Orang-orang seperti ini hanya memikirkan materi. Jika diberi tahu, “Kamu harus berbuat baik,” mereka menjawab, “Alah, berbuat baik apa?” “Tidak perlu berbuat baik.” “Tidak ada gunanya.” Jika ucapan ini sampai keluar dan didengar oleh orang yang kurang bijaksana, maka orang ini akan merasa ucapan itu ada benarnya. “Uang sendiri mengapa tidak boleh dinikmati?” “Ada kesenangan mengapa tidak boleh dicari?” “Mengapa harus susah-susah bersumbangsih untuk membantu orang lain?” “Lebih baik menikmati hidup.” Orang-orang yang tidak paham ini akan mudah memengaruhi orang lain lewat ucapan.
Jadi, kita harus menyelami kebenaran hukum karma. Sebelumnya kita sudah membahas rintangan. Rintangan noda batin ada akibat kita menciptakan karma buruk sehingga timbul kerisauan yang merintangi kita dan membuat kita tak dapat memahami kebenaran. Akibatnya, kita tetap bodoh dan terus menciptakan karma dan menderita di enam alam kelahiran kembali. Jadi, kita harus memahami kebenaran. Jika tidak, kita akan berpikiran pendek. Kita mungkin melihat orang-orang tertentu yang tidak memahami masa lampau dan tidak berpikir secara mendalam. Bagaimana nasib mereka di kehidupan mendatang? Mereka hanya melihat jangka pendeknya saja. Ada pula orangĀ yang saat ini kehidupannya terlihat lancar, tetapi sebagai makhluk awam, kita tak bisa melihat jelas kondisi seperti apa yang menanti. Oleh karena itu, jangan sembarang memengaruhi tekad orang lain. Jika belum memahami kebenaran, jangan kita mengungkapkan pandangan dangkal. Perbuatan jahat pasti ada akibatnya. Karena itu, ada kutipan selanjutnya. Bagaimana bunyinya? Berikutnya dikatakan, “Di dalam Sutra dijabarkan ada tiga jenis karma.” “Apakah ketiganya itu?” “Pertama adalah karma yang berbuah pada kehidupan ini juga; kedua adalah karma yang berbuah pada satu kehidupan selanjutnya; ketiga adalah karma yang berbuah pada kehidupan-kehidupan berikutnya.” Bukan berarti karma baik dan buruk tidak mendatangkan akibat. Akibat pasti ada. Inilah yang dikatakan di dalam Sutra. Sutra tentu berisi ajaran Buddha. Buddha tentu tidak akan berbohong. Yang Beliau katakan pasti benar, pasti tidak ada dusta. Bukankah ini yang dikatakan dalam Sutra Intan? Buddha adalah orang yang berkata benar, berkata sesuai kenyataan, dan tidak pernah berdusta. Jadi, kita harus meyakini ajaran yang dibabarkan Buddha ini.
Dari tiga jenis buah karma ini, yang pertama adalah karma yang berbuah pada kehidupan ini juga. Ia ditanam dan dituai dalam kehidupan yang sama. Lihatlah, ini hanya masalah waktu. Bukan berarti karma baik dan buruk tidak mendatangkan akibat. Lihatlah, betapa banyak orang yang berbuat jahat, baik merampok maupun membunuh, juga harus berhadapan dengan hukum. juga harus berhadapan dengan hukum. Kita juga sering melihat di masyarakat terjadi kasus pembunuhan. Meski kasus tersebut tidak kunjung terungkap dan pembunuhnya tidak ditemukan, tetapi hanya kita saja sebagai makhluk awam yang tidak tahu di mana pembunuh itu. Kita memang tidak bisa menemukannya. Mungkin saja setelah berbuat jahat, merampok, dan membunuh orang, meski lolos dari hukum, tetapi dia sudah menerima akibat dan balasan dari perbuatannya itu dalam bentuk lain. Ini juga mungkin terjadi, hanya saja kita tidak bisa melihatnya. Mungkin berita yang kita dengar terbatas. Kita tak dapat melihat orang itu menerima akibat. Akibat yang nyata yang dapat kita lihat hanyalah dari berita di media massa, seperti berita di surat kabar yang mengatakan bahwa di waktu tertentu ada kasus pembunuhan, pembunuhnya sudah tertangkap, dan apa motif di balik pembunuhan itu.
Pembunuh itu mungkin mengakui perbuatannya, lalu diadili, lalu dijatuhi hukuman seumur hidup. Inilah contoh perbuatan yang langsung berbuah. Namun, ada pula perbuatan yang langsung berbuah, tetapi tidak diketahui orang lain. Tadi kita sudah membahasnya. Sebagai makhluk awam, pendengaran kita terbatas. Kondisi yang mampu kita lihat juga terbatas. Mungkin saja pembunuh itu telah mendapat balasan dalam bentuk lain. Mungkin saja batinnya merasa sangat tersiksa bagai di penjara atau neraka. Ini mungkin saja. Jadi, perbuatan yang langsung berbuah tentu ada dan pasti ada. kedua adalah karma yang berbuah pada satu kehidupan selanjutnya. Meski belum menerima akibat pada kehidupan ini, tetapi di kehidupan berikutnya tetap akan menerimanya. Jadi, tadi kita membahas bahwa kita banyak melihat ada orang yang sangat baik, tetapi seumur hidup dirundung kesulitan. tetapi seumur hidup dirundung kesulitan. Mungkin saja itu adalah buah perbuatannya pada kehidupan lampau. Meski pada kehidupan ini dia menjadi orang baik, tetapi kehidupannya tetap sulit. Begitu pula sebaliknya, ada orang yang jahat, tetapi mengapa kehidupannya lancar-lancar saja? Ini adalah buah karma baik dari kehidupan lampaunya. Berkat karma baik itu, apa pun yang dia lakukan pada kehidupan sekarang, kita melihatnya tetap lancar-lancar saja. Dia seakan tidak menerima akibat dari perbuatan jahatnya. Namun, masih ada kehidupan selanjutnya. Buah karma ini tetap harus diterima.
Berkah yang dia miliki pada kehidupan ini adalah buah dari karma baik masa lampaunya. Dia dahulu pernah menciptakan berkah, maka dia menerima buahnya pada kehidupan ini. Ibarat memiliki banyak tabungan di bank, kini dia dapat menikmati hasilnya. Jadi, kita harus tahu bahwa hukum sebab akibat pasti ada. Ada karma yang berbuah pada kehidupan sekarang, ada yang berbuah pada kehidupan berikutnya, ada yang berbuah pada kehidupan-kehidupan selanjutnya. Mengenai jenis ketiga ini, pada kehidupan berikutnya, karma itu juga belum tentu berbuah. Ini karena karma baik yang ditanam pada kehidupan sebelumnya sangat besar sehingga belum habis dituai pada kehidupan ini dan masih berlanjut hingga kehidupan mendatang. Namun, karma bukan tidak akan berbuah. Hanya saja waktunya belum tiba. Contohnya, rangkaian karma Mahabhiksu Wu Da yang dimulai dari kisah Yuan Ang dan Chao Cuo. Yuan Ang tahu dia telah menjadi pembunuh. Itu adalah karma yang buruk. Jadi, dia segera melatih diri. Selama sepuluh kehidupan dia menjadi bhiksu. Berkahnya sangat besar. Pelatihannya sangat ketat. Chao Cuo pun terus memendam dendamnya. Dia terus melekat dan terbelenggu, tetapi tidak mampu mendekat. Hingga suatu saat, Kaisar Yi Zong memberi sebuah singgasana kayu cendana sebagai penghormatan.
Timbullah kesombongan dalam diri Bhiksu Wu Da. Dia bangga karena menjadi guru kaisar dan dihormati di seluruh negeri. Kaisar memberinya sebuah singgasana yang terbuat dari kayu cendana. Timbul kegiuran dalam dirinya. Di dalam kegiuran ini tersimpan kesombongan. Kesombongan ini membuka pintu karmanya. Akibatnya, dia membentur kursi itu dan terluka. Luka itu menjadi borok berbentuk wajah manusia. Beliau baru menerima buah karmanya setelah sepuluh kehidupan. Inilah karma yang berbuah pada kehidupan-kehidupan berikutnya. Entah pada kehidupan keberapa. Ini juga yang dimaksud yang kuat berbuah lebih dahulu, yang lemah berbuah belakangan”. Saudara sekalian, hukum sebab akibat sungguh tidak boleh diabaikan sedikit pun. Jadi, dalam kehidupan ini, meski banyak hal yang tidak sesuai harapan, kita tetap harus mengakui karma masa lampau dan menerima buahnya dengan sukacita. Jadi, kita harus memupuk dan menghimpun berkah Jadi, kita harus memupuk dan menghimpun berkah untuk mengikis penderitaan kita di kehidupan ini dan menimbun berkah untuk kehidupan mendatang. Harap semua selalu bersungguh hati.