Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-363-Sepuluh Kekuatan Buddha

Saudara se-Dharma sekalian, saya selalu membahas tentang pikiran. Jika pikiran bisa murni tanpa noda, maka kekuatan cinta kasih akan sangat besar dan sulit diukur. Untuk lepas dari belenggu, menyucikan batin adalah cara mujarab. Kita sering berkata bahwa batin telah  tercemar. Batin kita ditutupi kegelapan batin sehingga kita tak memahami kebenaran. Jadi, kini kita harus menjaga kemurnian batin. Bukankah saya selalu berpesan agar kita berhati lapang dan berpikiran murni? Hati harus lapang. Pikiran kita harus murni. Jika kita memiliki cinta kasih yang murni tanpa noda, maka kekuatan yang dihasilkan tidak terukur. maka kekuatan yang dihasilkan tidak terukur. Dengan adanya cinta kasih, barulah kita bisa mengerahkan kekuatan yang sangat besar. Batin kita harus bebas dan lepas dari belenggu. Apa yang membelenggu kita? Pikiran kita yang tercemar. Pikiran semua makhluk telah tercemar. Karena itu, kita terbelenggu oleh kerisauan. Untuk lepas dari belenggu, kita tetap harus menyucikan pikiran. Ini adalah cara terbaik, maka disebut sebagai cara mujarab. Jika kita dapat menyucikan batin, maka kebijaksanaan akan bagai cermin jernih. Cermin batin kita akan sangat jernih. Segala kondisi di luar dapat jelas terefleksi. Gunung adalah gunung. Pepohonan adalah pepohonan. Air adalah air. Semua kondisi dari pemandangan itu dapat terefleksi oleh cermin batin kita. Jadi, pikiran kita harus bebas dari kemelekatan. Inilah yang membuat batin murni. Sebelumnya kita terus membahas tentang karma. Karena karma, kita menjadi semakin diliputi delusi. Dengan adanya karma, maka ada delusi.

Delusi adalah kegelapan batin. Banyak karma yang kita perbuat berkaitan erat dengan kegelapan batin. Sebelumnya kita sudah membahas tiga delusi dan tiga jenis karma. Semua seharusnya masih ingat. Ada karma baik, karma buruk, dan karma netral. Semua ini disebabkan oleh tiga delusi, yaitu delusi pandangan dan pikiran, delusi debu, dan delusi kegelapan batin. Saat pertama kali kita bersentuhan dengan suatu kondisi atau objek, jika di dalam pikiran kita timbul pandangan atau pemikiran menyimpang, maka delusi debu dan kegelapan batin akan terus muncul hingga tak terhitung. Ini disebabkan oleh kegelapan batin. Jadi, delusi kegelapan batin membuat kita terus-menerus memperbanyak delusi bagaikan pasir dari masa lalu, masa kini, hingga masa depan. Intinya, kegelapan batin ada di mana-mana. Jika kita tercemar olehnya, kita harus mengatasinya dengan banyak cara. Berhubung kegelapan batin ini banyak bagai debu, maka dibutuhkan pula banyak metode terampil. Jadi, metode terampil adalah cara mujarab. Sesungguhnya, di baliknya jug ada kebenaran. Jadi, kita harus tahu bahwa semuanya tak lepas dari kerja hukum karma. Baik mengenai karma maupun delusi, kita harus memahaminya. Di dalam teks kita kembali diingatkan tentang kekuatan karma. “Dalam merealisasi sepuluh kekuatan Buddha, kekuatan karma berpengaruh amat dalam.” Buddha memiliki sepuluh kekuatan.

Sesungguhnya, jika kita memiliki 10 kekuatan ini, kebijaksanaan kita dapat memahami kebenaran. Kebijaksanaan kita dapat merefleksikan  banyak prinsip kebenaran. Kebenaran ini menunjukkan sebuah jalan. Dengan begitu, kita dapat terbebas dari noda sehingga enam indra tersucikan dan mencapai pencapaian serupa Buddha. Kini kita membahas sepuluh kekuatan Buddha. Berkenaan dengan ini, kekuatan karma berpengaruh dalam. Jika sudah mencapai tataran kebuddhaan, bagaimana bisa masih ada karma? Pencapaian yang dimaksud baru “menyerupai” Buddha. Artinya, kita sudah berlatih hingga kelihatannya mendekati tataran Buddha. kelihatannya mendekati tataran Buddha. Untuk itu, kita harus mencapai sepuluh kekuatan. Sebelumnya kita sudah membahas karma dan delusi yang harus dilenyapkan dengan berbagai cara. Dengan cara-cara itu, kita perlahan-lahan mendekati kebuddhaan. Berhubung kita sudah memiliki hati yang lapang dan pikiran yang murni, maka kebijaksanaan kita dapat merefleksikan kebenaran. Jika dapat menggunakan kebijaksanaan untuk melihat kebenaran, maka segala noda yang tebal akan lenyap. maka segala noda yang tebal akan lenyap. Kembali ke kehidupan kita, kini kita adalah makhluk awam.

Siapa yang tidak memiliki noda batin tebal yang meski tidak terlihat dan tidak dapat diraba, tetapi membawa kerisauan yang sulit dilepas? Karena itu, banyak orang zaman sekarang yang tertekan. Apakah tekanan itu? Itulah noda batin yang tebal. Noda yang tebal dan berat itu menekan kita. Jadi, jika kita dapat mencari kebenaran berlandaskan kebijaksanaan, maka noda atau kekotoran batin maka noda atau kekotoran batin yang tebal ini akan dapat dilepaskan. Dengan begitu, enam indra kita akan murni. Dengan begitu, enam indra kita akan murni. Saat indra mata, telinga, hidung, lidah, dan tubuh bersentuhan dengan kondisi luar, tidak akan menggoyahkan batin kita. Untuk itu, dibutuhkan sepuluh kekuatan. Sepuluh kekuatan adalah sepuluh jenis kekuatan yang dimiliki dan digunakan oleh Buddha. Meski kini kita masih merupakan makhluk awam, Kita harus memanfaatkan cermin batin kita untuk melihat kebenaran. Kita harus berjalan sesuai dengan kebenaran. Dengan begitu, kita akan selangkah demi selangkah mendekati sepuluh kekuatan ini. Pertama adalah kemampuan mengetahui yang benar dan salah dalam segala kondisi. Apa artinya? Beliau mampu mengetahui yang benar dan salah di balik segala sesuatu. Beliau tahu dan menyadarinya. Kita harus tahu bahwa Kondisi adalah keadaan yang kita alami. Jadi, kita dapat menyadari bahwa apakah kondisi yang kita hadapi adalah benar apakah kondisi yang kita hadapi adalah benar ataukah tidak benar. Ini yang disebut mengetahui kebenaran dalam menangani segala sesuatu.

Dalam menghadapi orang, masalah, dan lingkungan, apakah kita menggunakan prinsip yang benar ataukah tidak benar? Saya sering berkata bahwa yang paling memprihatinkan dalam hidup ini adalah tidak bisa membedakan benar salah. Benar berarti sesuai kebenaran. Salah berarti bertentangan dengan kebenaran. Dengan kesadaran, benar dan salah dapat dibedakan dengan jelas, baik yang berkenaan dengan materi maupun prinsip kebenaran lainnya. Inilah kemampuan yang pertama. Kedua adalah mengetahui buah karma tiga masa. Kita harus tahu bahwa yang ada dalam kehidupan ini bukan datang secara tiba-tiba. Bukan pula segala sesuatu yang dilakukan pada kehidupan ini akan hilang setelah hidup berakhir. Bukan. Kita harus mengetahui ini. Kita harus punya kemampuan untuk mengetahui rangkaian karma di tiga masa. Kita harus tahu bahwa semua makhluk terikat oleh hukum karma. Dengan kebijaksanaan, kita harus memahami ini. Bukankah sebelumnya kita pernah membahas bahwa kita harus mengamati empat hal? bahwa kita harus mengamati empat hal? Mengamati hukum sebab akibat, mengamati tubuh sendiri, mengamati tubuh Buddha. Kita harus memiliki kemampuan ini. Jadi, dengan memahami hukum sebab akibat, barulah kita dapat memahami kondisi saat ini dan arah pelatihan kita di masa depan. dan arah pelatihan kita di masa depan.

Mengenai masa lalu, masa kini, dan masa depan, kita harus mengetahuinya. Ketiga adalah pengetahuan tentang samadhi menuju pembebasan. tentang samadhi menuju pembebasan. Dalam melatih diri, bagaimana kita menenangkan batin? Mengenai samadhi, memikul kayu bakar dan mengangkut air, semua tak lepas dari samadhi. Samadhi bertujuan membawa kita pada perhatian benar. Samadhi adalah pikiran dan perhatian benar. Dengan memiliki pikiran, pengetahuan, pandangan, dan perhatian benar, batin kita akan selalu berada dalam samadhi. Dengan begitu, kita mencapai pembebasan batin. Dengan begitu, kita mencapai pembebasan batin. Sebelumnya kita juga pernah membahas tiga pandangan, yaitu pandangan kepalsuan, kekosongan, dan pandangan jalan tengah. Sesungguhnya, dalam batin kita harus selalu tahu makna dari kepalsuan atau kesemuan. Karena itu, ada istilah eksistensi ajaib di tengah kekosongan dan kekosongan di balik eksistensi ajaib. Jika kita dapat sungguh-sungguh memahaminya, maka inilah yang disebut berada dalam samadhi. Samadhi dapat membuat kita terbebas. Keempat adalah mengetahui kemampuan semua makhluk. Kini kita juga harus mengetahui daya tangkap semua makhluk. Kadang kita berkata, “Jika tak mengenal diri sendiri, bagaimana mengenal orang lain?” Intinya, kita juga termasuk makhluk hidup. Selain mengenal diri sendiri, kita juga harus mengenal orang lain dan sifat serta kemampuannya.

Ada ungkapan berbunyi, “Jika sudah mengenal wataknya, maka boleh tinggal bersamanya.” Saat ada yang berkata, “Ada apa dengannya, “Tiba-tiba saja dia marah,” kita bisa menenangkan dengan berkata, “Kamu sudah tahu wataknya, mengalah saja.” Dalam hubungan antarmanusia, kita harus memahami watak orang lain. Ada orang yang suka mencari keuntungan. Mengetahui wataknya, kita mengalah saja. Jadi, kita harus tahu sifat dan kemampuan semua makhluk. Ada orang yang sekali diajarkan, dia bisa langsung menguasai. Kepada orang yang daya tangkapnya agak lemah, saat mengajarkan hal yang sama, saat mengajarkan hal yang sama, mungkin setelah kita mengulang sepuluh kali, dia juga masih belum paham. Begitulah daya tangkap makhluk hidup. Jika kita dapat mengetahui bahwa daya tangkap semua makhluk begitu beragam, maka kita dapat selalu penuh pengertian. Jangan sampai kita yang mulanya hendak membimbing, malah terpengaruh dan tercemar. Jika kita memahami kemampuan semua makhluk dan memahami hukum karma, maka kita sendiri akan dapat selalu mengingatkan diri sendiri. Dalam menghadapi orang, kita harus sungguh-sungguh menjaga diri. Beragamnya daya tangkap semua makhluk dan karma baik serta karma buruk sangat berkaitan. Karma baik mendatangkan berkah, karma buruk membawa kejatuhan. Kita sangat paham hal ini. Jadi, kita harus memahami tajam tumpulnya kemampuan semua makhluk. Kelima adalah mengetahui berbagai pemahaman. Mengetahui berbagai pemahaman. Bagaimana kita memahaminya? Kita harus mengetahui bagaimana sesungguhnya pemahaman semua makhluk. Bagaimana pemahaman kita? Kita memahami hingga tahap tertentu, lalu kita menjelaskannya pada orang lain.

Mungkin saja setelah kita menjelaskan satu hal, dia bisa langsung memahami yang lain. Sebuah ungkapan berbunyi, “Medapat contoh di satu sudut, untuk diulangi di tiga sudut.” Ini mengibaratkan belajar cara membuat meja, yaitu dengan dicontohkan satu sudut untuk membuat tiga sudut lainnya. Jadi, kita sudah tahu bahwa semua makhluk memiliki beragam pemahaman. Sebuah ungkapan berbunyi, “Mendengar satu kebenaran, mampu memahami sepuluh ribu kebenaran.” Namun, jika satu saja tidak dimengerti, maka berbagai kebenaran lain pun akan kabur. Jadi, yang kelima adalah kemampuan mengetahui berbagai pemahaman, yaitu dapat mengetahui berbagai hal dan sangat memahaminya. Bukan hanya kita sendiri yang memahami, kita juga mengetahui pemahaman makhluk lain. Bukan hanya diri sendiri yang paham, kita juga tahu tingkat pemahaman orang lain. Seperti saat kita berbicara dengan anak kecil, setelah kita tahu usia anak itu, kita tahu bagaimana cara berbicara dengannya. Anak kecil sangat menggemaskan dan polos. Asalkan kita menggunakan bahasa yang tulus untuk berbicara dengannya, anak itu pasti mengerti. Sesuai usia, daya tangkap, dan watak dari makhluk hidup yang bersangkutan, kita harus berusaha memahaminya, barulah kita dapat membimbing mereka. Jadi, adakalanya saat menghadapi orang yang berdaya tangkap tumpul, kita harus melakukan pendekatan dan menempatkan diri pada posisinya, barulah kita dapat perlahan membimbingnya. Inilah cara membimbing semua makhluk. Inilah yang disebut mengetahui berbagai pemahaman semua makhluk.

Keenam adalah mampu mengetahui berbagai kondisi. Artinya, kita mampu mengetahui berbagai kondisi semua makhluk. Sesungguhnya, pengetahuan ini merujuk pada diri sendiri. Kita harus menyempurnakan kekuatan ini. Kita harus memahami kondisi semua makhluk. Kondisi setiap orang berbeda-beda. Jangan kita berpikir, “Dengan kondisi saya ini, saya bisa mencapai tahapan ini, sedangkan kondisi lingkunganmu begitu baik, mengapa kamu tidak bisa?” Sesungguhnya, di dunia ini, makhluk hidup ada berbagai jenis. Kondisinya tentu berbeda-beda. Baik dalam dunia materi maupun dunia batin, kondisinya berbeda-beda. Semoga kita juga memiliki kemampuan untuk memahami kondisi semua makhluk. Ini sungguh tidak mudah. Antarsesama manusia saja, sulit untuk memahami pikiran orang lain, terlebih lagi memahami semua makhluk. Baik dalam dunia materi maupun dunia batin, kita sungguh sulit memahaminya. Namun, Buddha mampu. Kekuatan ini termasuk dalam sepuluh kekuatan. Karena itu, Buddha disebut guru Dunia Saha. Kita harus meneladani Buddha dan berusaha mencapai kemampuan seperti-Nya. Kita harus memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan ini. Ketujuh adalah mampu mengetahui segala jalan. Berhubung dunia kondisi fisik dan batin semua makhluk amat beragam, bagaimana kita dapat membimbing agar mereka tidak terpengaruh kondisi luar? Kita harus memahami prinsip kebenaran. Kita harus mengetahui segala jalan. Kita harus mengetahui jalan yang ditempuh dan sebab akibat yang dialami semua makhluk. Apa akibatnya jika mereka menempuh jalan ini? Ini harus kita pahami karena setiap perbuatan adalah karma. Segala ucapan juga menciptakan karma.

Segala tindakan yang dilakukan pasti menciptakan karma. Apakah perbuatan itu benar atau salah? Jika salah, bagaimana kita meluruskannya agar mereka menanam benih yang benar? Jika menanam benih yang salah, maka buahnya juga akan salah. Jadi, kita harus memahami jalan yang diambil semua makhluk, apakah itu benar atau tidak. Jika tidak benar, kita harus meluruskannya. Kedelapan adalah kemampuan mata dewa yang tak terintangi. Mata dewa adalah kemampuan batin, yaitu mampu melihat jalinan karma semua makhluk tanpa terintangi. Tidak mudah untuk mencapai kemampuan ini. Kita harus memiliki kemampuan mata dewa. Mata dewa, kemampuan melihat kehidupan lampau, atau enam kekuatan batin harus lengkap. Untuk mendengar suara hati semua makhluk dan mengamati perbuatan semua makhluk, sama dengan memiliki kemampuan mata dewa. Mata dewa ini harus bebas rintangan. Jika pandangan dan pemahaman menyimpang, maka saat mendengar suara hati atau mengamati perbuatan semua makhluk, kita akan bingung. Jadi, mata hati kita harus bebas rintangan. Jadi, mata dewa bagaikan mata hati kita. Kita melihat jalinan karma semua makhluk, yaitu melihat apakah dia berbuat baik? Jodoh seperti apakah yang dia jalin? Karma baik ataupun karma buruk, harus kita pahami dengan jelas tanpa rintangan. Sesungguhnya, saat membahas semua makhluk, kita harus ingat bahwa kita adalah bagian dari mereka. Kita harus mengamati hakikat diri sendiri. Karma baik dan buruk diri sendiri juga harus kita pahami tanpa rintangan, baru kita bisa mengamati karma makhluk lain.

Kesembilan adalah kemampuan tanpa cela mengetahui kehidupan lampau. Kita harus mengetahui kehidupan lampau. Saya sering mengatakan bahwa banyak hal terjadi akibat siklus dari masa lampau yang terus terbawa hingga kini. Tanpa cela berarti bijaksana. Jika kita bisa memiliki kekuatan ini, baru kita dapat mengetahui kehidupan lampau semua makhluk. Setelah mengetahui diri sendiri, kita dapat mengetahui kehidupan lampau semua makhluk. Kebijaksanaan tanpa cela sangat penting. Kebijaksanaan tanpa cela berarti mencapai kebijaksanaan bagai cermin yang jernih dan tidak tercemar. Kesepuluh adalah kemampuan memutus tabiat. Saya sering mengatakan, apakah inti dari pelatihan diri? Tabiat. Di sini dikatakan bahwa tabiat buruk harus kita putus selamanya karena tabiat ini membawa kerisauan bagi kita. Akibatnya, kita kembali menciptakan karma buruk. Jadi, kekuatan kesepuluh adalah kemampuan memutus tabiat selamanya. “Segala delusi dan tabiat sisa dipatahkan selamanya hingga tak lagi bangkit dan mengetahui segala hal sebagaimana adanya.” Saya selalu mengatakan bahwa melatih diri berarti memperbaiki tabiat.

Tabiat buruk harus segera kita perbaiki. Dengan terus memperbaiki tabiat, noda batin akan terus terkikis. Jika tabiat kita perbaiki, noda batin kita akan terkikis. Cermin batin kita pun akan semakin jernih. Jadi, sepuluh kekuatan Buddha adalah sepuluh jenis kekuatan yang kita bahas ini. Kini kita sedang meneladani Buddha dengan harapan dapat terus semakin dekat dengan kekuatan ini. semakin dekat dengan kekuatan ini. Kekuatan pengetahuan ini harus dibangkitkan. Seperti yang saya katakan tadi, kita merefleksikan kebenaran dengan kebijaksanaan. Jika kita dapat menggunakan kebijaksanaan untuk melihat kebijaksanaan, maka jalan akan terbuka lebar dan bebas halangan. dan bebas halangan. Dengan begitu, 10 kekuatan ini menjadi nyata. Kini,  kita mempelajari ajaran Buddha dan mengetahui berbagai prinsip ini. Kita seakan memahami berbagai istilah ini. Kelihatannya demikian. Kita sepertinya sudah mengerti. Kita sudah memahami sepuluh kekuatan Buddha, tetapi apakah batin kita benar-benar memahaminya? Apakah kita memahami “kebijaksanaan cermin”?

Saudara sekalian, ada banyak istilah yang bisa dijabarkan, tetapi kuncinya hanya satu, yaitu membersihkan cermin batin kita. Jika cermin batin kita sudah bersih dan jernih, maka segala sesuatu akan terefleksi dengan jelas. Jadi, kita harus selalu berhati lapang dan berpikiran murni tanpa noda. Cinta kasih yang murni memiliki kekuatan yang paling besar dan sulit diukur. Dengan kekuatan ini, kita dapat terbebas dari belenggu. Banyak noda batin yang membelenggu kita, tetapi kita dapat terbebas darinya. Kita harus menggunakan hati yang murni sebagai cara mujarab. Murni berarti bersih dan mampu merefleksikan kebenaran bagaikan cermin. Cermin yang jernih dapat merfleksikan segalanya. Demikian sederhana. Kekuatan ini sangat besar. Bukan hanya sepuluh kekuatan. Jika kita dapat menjaga kemurnian hati, maka cermin batin kita akan jernih. Kita harus giat membersihkan cermin batin kita ini. Untuk itu, kita harus lebih bersungguh hati.

Leave A Comment