Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-362-Menggarap ladang Berkah dalam Batin

Saudara se-Dharma sekalian, kita harus rajin setiap hari. Kita harus menggarap ladang batin sendiri, giat membina semangat menuju karma tanpa cela dan melampaui keduniawian. Pertobatan menumbuhkan berkah dan kebijaksanaan. Artinya, kita harus rajin dan tidak bermalas-malasan. Pelatihan diri bagaikan petani yang tengah membajak sawah. Bukankah Sangha juga disebut dengan Sangha Ladang Berkah? Artinya, kita harus menggarap ladang batin dengan baik. Jika tumbuh rumput liar di dalam ladang, maka di sana tidak dapat bertumbuh tanaman berkualitas baik. Karena itu, kita harus menjaga ladang ini dengan baik. Jika ada rumput liar, kita harus mencabutinya. Jika ada batu, kita harus memindahkannya. Dengan demikian, tanah di ladang itu akan sangat bersih. Dengan adanya tanah yang subur untuk ditabur benih, baru kita dapat menuai hasil panen yang berlimpah. Karena itu, praktisi yang meninggalkan keduniawian disebut dengan Sangha Ladang Berkah. Sangha Ladang Berkah memiliki satu arti lain. Jika kita dapat menjaga ladang batin dengan baik, maka tak peduli siapa pun yang menabuh benihnya, ia tetap akan menuai hasil yang berlimpah. Artinya, selain menggarap ladang berkah sendiri, kita juga harus mengajarkan orang lain bagaimana menggarap ladang berkah. Jadi, penggarapan ladang berkah dimulai dari hati sendiri. Untuk menggarap ladang berkah, kita harus tekun dan bersemangat.

Tanpa ketekunan dan semangat, di dunia ini ada banyak jebakan yang membuat pikiran kita berjalan menyimpang. Sikap bermalas-malasan membuat kita semakin terjerumus. Sebersit pikiran yang menyimpang dan sedikit perbuatan yang keliru dapat membuat kita berjalan menyimpang dan jauh tersesat. Karena itu, setelah menentukan arah menuju Jalan Mulia, kita harus tekun dan bersemangat serta menjaga pikiran dengan baik. Jika demikian, kita dapat berlatih untuk bebas dari keduniawian dan noda batin. Tujuan kita adalah tekun dan bersemangat untuk melenyapkan noda dan kegelapan batin agar dapat terbebas dari enam alam kehidupan. Jadi, selain memiliki hati yang murni dan tanpa noda, kita juga harus tekun dan bersemangat untuk melampaui enam alam kehidupan. Sebelumnya kita sudah mengulas terkadang kekuatan karma juga dapat menghiasi kesenangan duniawi. Di dunia ini terdapat banyak jebakan. Kesenangan duniawi membuat kita sulit mengendalikan diri. Kesenangan duniawi dapat membuat kita terbuai. Kesenangan duniawi dapat membuat kita terbuai. Jika tidak meningkatkan kewaspadaan, maka karma dapat tercipta kapan pun dan di mana pun.

Tak peduli kalian adalah kaum monastik atau umat perumah tangga, tak peduli apa pun profesi kalian, jebakan ini selalu ada di sekitar kita dan ia sangat cepat membuat kita terbuai. Karena itu, kita harus senantiasa meningkatkan kewaspadaan dan memiliki hati yang bertobat. dan memiliki hati yang bertobat. Dalam menghadapi orang dan masalah, kita jangan selalu berpikir bahwa kita tidak bersalah. Saat ada orang tidak gembira, itu berarti kita sudah melakukan kesalahan. Saat ada hal yang tak berjalan lancar, itu berarti kita tidak cukup bersungguh hati. Karena itu, kita harus senantiasa membangkitkan pertobatan. Dengan adanya hati yang bertobat, maka berkah dan kebijaksanaan akan bertumbuh. Jika fisik dan batin kita dapat senantiasa cemerlang, maka segala yang kita lakukan akan tepat. Hal yang tepat dapat memberi manfaat bagi diri sendiri sekaligus orang lain. Ini adalah berkah. Tahu untuk memberi manfaat bagi diri sendiri sekaligus orang lain karena adanya kebijaksanaan.  Bukankah saya berkata bahwa berkah diperoleh  dari sukacita yang datang saat bersumbangsih? Bagaimana dengan kebijaksanaan? Kebijaksanaan adalah kedamaian batin yang diperoleh dari sikap penuh pengertian. Benar. Kedamaian batin diperoleh jika kita bersikap penuh pengertian dan bersukacita.

Selama dapat bersumbangsih, kita akan merasa gembira. Tanpa sikap penuh pengertian, kita tak dapat bersumbangsih. Di tengah umat manusia, kita harus senantiasa bersikap penuh pengertian dan bersukacita. Dengan demikian, baru kita dapat sangat tenang dan damai serta melampaui enam alam. Penggalan teks di bawah ini berbunyi, “Tidak lagi berpikir; mencari pembebasan dari keduniawian.” “Jadi, buah di enam alam amat beragam dan berlainan jenisnya.” Penggalan ini merupakan kelanjutan dari penggalan sebelumnya yang berbunyi, “Karma dapat menghiasi kesenangan duniawi kapan pun dan di mana pun.” Penggalan ini memberi tahu kita untuk tidak lagi berpikir. Berpikir tentang apa? Pemikiran dapat mendorong kita untuk menciptakan karma. Pemikiran berkaitan dengan pandangan. Pandangan dan pemikiran dapat membuat kita membangkitkan tiga jenis delusi. Delusi adalah kegelapan batin. Tiga jenis delusi menciptakan tiga jenis karma. Tiga jenis karma ini meliputi karma baik, karma buruk, dan karma netral. Inilah tiga jenis karma. Karma baik tercipta saat kita melakukan sesuatu sesuai dengan prinsip kebenaran. Saat melakukan sesuatu sesuai dengan kebenaran, itu disebut menciptakan karma baik. Karma buruk tercipta saat kita melakukan hal yang tak sesuai kebenaran.

Melanggar kebenaran adalah kesalahan. Melakukan hal yang salah dapat menciptakan karma buruk. Yang ketiga adalah karma netral. Karma netral berada di tengah-tengah. Ia tidak baik, juga tidak buruk. Ada orang yang menciptakan karma netral. Mereka tak melakukan kebaikan, juga tidak melakukan kejahatan. Mereka tak melakukan kebaikan ataupun kejahatan. Buddha tidak mengelompokkan orang seperti ini ke dalam kebalikan maupun kejahatan. Mereka tidak tentu. Saat ada orang baik yang memberi bimbingan, mereka mungkin akan melakukan kebaikan. Saat ada orang jahat yang memengaruhi, mereka mungkin akan melakukan kejahatan. Mungkin mereka tidak melakukan kebaikan, juga tidak melakukan kejahatan. Mereka melewati hidup tanpa melakukan apa pun. Ini yang disebut tidak tentu. Tiga jenis karma ini timbul dari pikiran. Saat pikiran menyimpang sedikit saja, maka akan timbul tiga jenis delusi. Tiga jenis kegelapan batin akan menciptakan tiga jenis karma. Tiga jenis karma ini akan mendorong kita mengalami kelahiran kembali di enam alam. Artinya, karma bagaikan seutas tali yang mengikat kita. Ia terus mengikuti kita. Karma baik yang diciptakan terkadang membuat kita terlahir di alam dewa. terkadang membuat kita terlahir di alam dewa. Setelah berkah habis dinikmati, kita kembali tertarik oleh karma buruk. Jika melakukan banyak karma buruk, kita akan terlahir di tiga alam rendah.

Di enam alam kehidupan ini terdapat tiga alam baik dan tiga alam rendah. Apa yang dimaksud tiga alam baik? Alam dewa adalah buah karma baik yang tertinggi. Alam manusia adalah buah karma baik menengah. Alam asura adalah buah karma baik yang rendah. Asura tersebar di alam dewa dan alam manusia. Meski tetap menikmati berkah, tetapi mereka tidak melatih diri. Mereka bertemperamen buruk, dipenuhi kebodohan dan ketidaktahuan. Meski memiliki berkah, tetapi mereka tidak memiliki kebijaksanaan. Meski menikmati karma baik, tetapi mereka tidak memiliki kebijaksanaan. Inilah tiga alam yang baik. Bagaimana dengan alam manusia? Di alam manusia, kita dapat membina berkah dan kebijaksanaan secara bersamaan. Kita dapat menyadarkan diri sendiri sekaligus memberi manfaat bagi orang lain. Jika dipikir, alam manusia lebih baik dari alam dewa. Akan tetapi, kelemahan alam manusia adalah ketidakkekalan. Kelemahan alam manusia adalah usia kehidupan yang pendek. Namun, justru ketidakkekalan dan pendeknya usia manusia memicu kita untuk tekun dan bersemangat mempelajari ajaran Buddha. Ia membuat kita tahu untuk menggenggam jalinan jodoh dan kesempatan Dengan begitu, baru kita dapat terlepas dari enam alam kehidupan dan tidak terpengaruh oleh kesenangan duniawi. dan tidak terpengaruh oleh kesenangan duniawi. Inilah kelebihan di alam manusia. Jika terlahir di alam dewa, meski memiliki usia kehidupan yang panjang dan hidup penuh kenikmatan, kita tidak memiliki kesempatan untuk melatih diri karena tidak bertemu lingkungan yang mendukung.

Kita memanfaatkan lingkungan untuk melatih diri. Tanpa lingkungan yang sesuai, kita tidak tahu penderitaan di dunia ini. Kita hanya tahu menikmati hidup. Setelah berkah habis dinikmati, kita kembali terlahir di alam rendah. Jadi, tidak ada kesempatan untuk melatih diri di alam dewa. Di antara tiga alam ini, alam manusia adalah tempat terbaik untuk melatih diri. Ia juga merupakan awal mula yang baik. Hanya di alam manusia kita dapat mencapai kebuddhaan. Jika meninggalkan alam manusia, maka kita tak dapat mencapai kebuddhaan. Jadi, di antara tiga alam ini, lebih baik kita memilih alam manusia. Ada orang berkata, “Setelah seseorang meninggal, kita harus segera memberitahunya untuk mengikuti Buddha ke Tanah Suci Sukhavati di barat.” Ada juga yang berkata, “Semoga Tuhan menjemputnya ke surga.” Menurut saya tidak demikian. Kita hendaknya mengingatkannya untuk segera kembali ke alam manusia agar dapat terus melatih diri dan menuai buah karma yang belum habis dituai. Di tengah kehidupan manusia yang penuh penderitaan dan kebahagiaan, baru kita berkesempatan untuk melatih diri. Jadi, jalinan jodoh ini tidak boleh terputus. Kita harus terus menapaki Jalan Bodhisattva di dunia ini. Karena itu, saya sering berkata bahwa kita harus membangun tekad teguh untuk menapaki Jalan Bodhisattva. Setelah meninggal, cepatlah kembali lagi ke alam manusia. Benar, hanya di alam manusialah kita dapat melatih diri, dapat menapaki Jalan Bodhisattva, dan dapat mencapai kebuddhaan. Demikianlah kita terombang-ambing di tiga alam baik dan tiga alam rendah. Tiga alam rendah meliputi alam neraka, alam setan kelaparan, dan alam binatang.

Alam neraka, setan kelaparan, dan binatang penuh penderitaan. Sesungguhnya, asura juga tersebar di alam neraka, setan kelaparan, dan binatang. Saya sering mengatakan hal ini. Kita terombang-ambing di enam alam akibat jeratan kekuatan karma yang disebabkan oleh tiga jenis delusi. Penderitaannya sungguh tak terkira. Jadi, kita harus memahami karma tercela. Karma tercela adalah karma yang didasari noda batin. Karma ini membuat kesenangan duniawi terlihat indah sehingga kita terbuai dan menderita di enam alam. Ini adalah karma tercela yang didasari noda batin. Ia bagai menghiasi enam alam sehingga membuai manusia. “Apanya yang tidak baik?” “Apa jeleknya menjadi manusia?” “Menjadi manusia nikmat-nikmat saja.” Kita telah membahas hal ini. Ketamakan dan kemelekatan di enam alam sungguh membawa penderitaan. Teringat di masa awal saya menjadi bhiksuni, di sebelah Perkumpulan Buddhis Teratai Taitung ada seorang ibu yang kelihatannya sangat baik. Ibu ini sangat menyukai kucing. Ia lebih sayang kucingnya daripada anaknya. Suatu hari, dia berkata, “Saya sangat suka kucing.” “Saya berharap di kehidupan mendatang bisa menjadi kucing.” Orang lain memberitahunya, “Jangan begitu, Anda harus bertekad untuk menjadi manusia.” Dia berkata, “Saya merasa menjadi manusia tidak menarik.” “Saya sangat suka kucing.” “Saya merasa menjadi kucing lebih baik.” “Dia bertekad ingin menjadi kucing pada kehidupan mendatang.” Ada orang seperti ini. Dia sangat menyukai kucing. Ini adalah karma dari pikirannya. Karma pikirannya telah menghiasi alam binatang sehingga dia sangat menyukai binatang. Bukan hanya itu, dia bahkan bertekad ingin menjadi binatang. Saya merasa dirinya sudah diliputi kekeliruan. Dia bahkan rela untuk lahir di alam binatang.

Saat melihat penggalan tadi, saya teringat kisah ini. Dia sungguh menyukai alam binatang. Dia tidak ingin bebas dari alam kelahiran. Di sinilah arti dari “menghiasi”. Kekuatan karma menghiasi enam alam kapan pun dan di mana pun. Kini kita harus senantiasa waspada. Pemikiran kita dapat memicu tiga jenis noda batin. Akibatnya, kita tidak berpikir bagaimana memutus noda batin dan melenyapkan ketidaktahuan. Kita hendaknya segera memutus noda batin dan mencari pembebasan dari keduniawian. Kita harus bersungguh hati. Jadi, buah karma di enam alam sangat beragam dan berlainan jenis. Enam alam memang berbeda-beda. Tadi kita sudah membahas bahwa asura tergolong berkarma baik karena ia memiliki kekayaan, kekuasaan, dan nama, hanya saja ia bodoh dan tidak bijaksana. Jika dilihat dari berkahnya, ia termasuk memiliki berkah yang tentunya ia peroleh dari karma baik. Makhluk di alam dewa memiliki kenikmatan yang besar. Usia mereka sangat panjang, kekayaan pun berlimpah. Semua kondisi ini berlainan. Di alam manusia, kita dapat melihat kondisinya sekarang. Suka dan duka silih berganti. Jadi, jenis kondisinya amat beragam. Alam binatang juga bisa kita saksikan. Jenis-jenis binatang saja sudah begitu banyak. Dari wujud yang kita lihat saja, kita sudah bisa melihat jenis yang beragam, terlebih lagi yang lain.

Semua ini berkaitan dengan delusi pandangan dan pikiran. Mengenai hal ini, pandangan adalah kemampuan memilah. Dengan pandangan dan pemahaman, kita memilah. Ada berbagai pandangan sesat yang berkaitan dengan lima indra dan objek. Ini disebut delusi pandangan. Kita semua tahu lima indra, yaitu mata, telinga, hidung, lidah, dan tubuh. Indra mata termasuk lima indra. Rupa, suara, aroma, rasa, dan sentuhan, inilah lima objek. Jadi, saat lima indra bersentuhan dengan objek, dapat membuat pandangan dan pikiran kita tersesat. Pikiran berarti kemampuan berpikir. Saat mata melihat rupa, timbul ketamakan. Saat hidung mencium aroma, timbul ketamakan. Setelah indra ini bersentuhan dengan objek, kita berpikir dan menciptakan karma. Kita membangkitkan pikiran yang tamak. Kita tamak terhadap lima objek dan membangkitkan kemelekatan dalam pikiran. Ada seorang pengusaha yang baik. Istrinya sangat tulus menjadi umat di salah satu vihara. Dia berkata bahwa kerisauannya hanya satu, yaitu suaminya tidak mau bervegetaris. Dia lalu mengajak suaminya ini bertemu saya. Saya lalu berkata padanya, “Bervegetaris sangat baik dan bermanfaat bagi kesehatan.” “Makanan vegetaris masa kini jauh lebih baik dari zaman dahulu.” “Makanan vegetaris bukan hanya sayuran diberi kecap.” Siang harinya, mereka makan di tempat kita. Saya lalu bertanya padanya, “Bagaimana rasanya makanan vegetaris?” Dia menjawab, “Wah, ternyata enak.” Mengapa saat istrinya memintanya bervegetaris, dia merasa tidak bisa? Karena dia memiliki kemelekatan terhadap rasa. Dia melekat terhadap objek rasa, maka tak bisa menyetujui permintaan istrinya. Setelah mengetahui bahwa makanan vegetaris juga lezat, dia berkata dia akan belajar bervegetaris sepulangnya dari sini. Apakah dia akan berhasil? Ini bergantung pada apakah dia bisa menghilangkan kemelekatan pada daging.

Kita belum tahu apakah dia mampu. Kemelekatan ini berkaitan dengan pandangan. Sesungguhnya, kemelekatan itu mudah dihilangkan. Bervegetaris juga baik bagi kesehatan, merupakan sarana pengembangan welas asih, juga dapat menyenangkan istrinya. Mengapa dia tidak bisa? Seharusnya ini mudah baginya. Namun, ada kemelekatan dalam pikirannya. Inilah delusi pikiran. Jenis delusi kedua adalah delusi debu. Debu di sini berarti berbagai pemahaman dan pemikiran atas banyak hal yang tak dapat dipilah karena banyaknya tak dapat dihitung. Ini disebut delusi debu. Ini bukan hanya masalah bervegetaris atau tidak, melainkan berbagai hal yang tak dapat dipilah. Ini disebut delusi debu. Setelah delusi pandangan dan delusi debu, selanjutnya adalah delusi kegelapan batin. Delusi kegelapan batin ini amat merepotkan. Ia bukan hanya merupakan tabiat pada kehidupan ini, melainkan terpupuk dari berbagai kehidupan. Akibat kegelapan batin ini, kita memupuk banyak kekuatan karma. Benih karma ini telah tertanam di dalam kesadaran kedelapan kita. Inilah delusi kegelapan batin. Di dalam kesadaran kedelapan, setiap orang memupuk tabiat yang berbeda-beda. Jadi, yang terpenting dalam pelatihan diri adalah melenyapkan tabiat buruk. Saudara sekalian, berlatih ajaran Buddha kedengarannya mudah. Di dalam pandangan dan pikiran kita, jika arah kita benar, maka kesalahan apa lagi yang bisa timbul? Jadi, kita harus menggarap ladang batin sendiri, giat membina semangat untuk menuju karma tanpa cela dan melampaui keduniawian. Pertobatan menumbuhkan berkah dan kebijaksanaan. Terhadap segala hal, kita harus berintrospeksi dan bertobat. Dengan begitu, noda dan kegelapan batin kita akan perlahan-lahan terkikis. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati. 

Leave A Comment