Sanubari Teduh-384-Pembebasan Lewat Pengetahuan Benar
Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari kita harus menjaga sila yang murni, tidak lengah, berdiam dalam Dharma tanpa cela, hingga mencapai pembebasan lewat pengetahuan benar. Ini sangat sederhana. Ini adalah kewajiban kita sebagai pembina diri. Terutama sebagai manusia, di dalam batin kita harus ada pengukur yang menjaga kadar moralitas kita. Kita tidak boleh lengah. Jika kita lengah terhadap peraturan dan pedoman dalam hidup, maka hakikat sejati kita yang mulanya bajik akan mudah terselewengkan. Jadi, jangan biarkan hakikat sejati kita terpengaruh oleh kondisi luar. Kita tidak boleh lengah atau sembrono. Kita harus berada dalam Dharma tanpa cela. Tanpa cela berarti bebas dari noda batin. Setiap hari kita dapat merasa tenang dan damai tanpa kerisauan. Selama ini, bukankah saya terus mengatakan bahwa jika tiada ketamakan dan nafsu, maka kebenjian dan kebodohan tidak akan timbul? Jika kita tidak memiliki ketamakan, kebencian, dan kebodohan, maka kerisauan tak akan merasuk. Kita harus berada pada kondisi bebas noda dan batin yang murni. Kita harus menumbuhkan kebijaksanaan kita agar tubuh dan batin memperoleh pembebasan, ketenangan, dan kedamaian. Inilah yang kita cari. Asalkan kita dapat sungguh-sungguh menjaga sila yang murni, maka pikiran kita tak akan lengah dan berdiam dalam kondisi tanpa noda. Dengan begitu, kebijaksanaan akan berkembang dan batin kita akan memperoleh pembebasan. Inilah yang harus kita pelajari setiap hari. Berikutnya dikatakan, “Selalu mempraktikkan Dharma murni yang melampaui Samsara, tekun menjalankan vinaya, menjaga tata krama bagai pengarung samudra yang menjaga pelampungnya.” Penggalan ini sangat sederhana.
Dalam melatih diri, kita selalu berharap terbebas dari Samsara yang tidak lagi terjerumus ke dalam enam atau lima alam kelahiran. Kita harus mencari kemurnian yang bebas dari Samsara. Jadi, Dharma yang murni dan bebas dari Samsara ini sangatlah jernih tanpa noda. Kita harus memegang teguh hal ini tanpa lengah. Kita harus bersemangat memegang teguh ini tanpa lengah dan mendisiplinkan diri sendiri. Untuk mendisiplinkan diri sendiri, di dalam batin kita harus ada pengingat moralitas. Kita semua harus menjaga moralitas. Ini yang disebut mengendalikan perilaku diri, jangan sampai semakin menyimpang. Karena itu, sering dikatakan bahwa moralitas hanyalah sebuah garis pembatas. Jalan Bodhisattva adalah jalan yang lapang. Jalan Agung ini jika tidak ditapaki dengan baik, maka begitu kita berjalan di “tepi jalan” itu dan melewati garis batas tadi, pikiran kita akan mulai lengah. Jadi, kita harus sungguh-sungguh mengendalikan perilaku murni dan jernih bagaikan salju yang putih. Kita harus menjaga kemurnian. Es dan salju terlihat sangat bersih. Pada musim dingin, salju dan es terbentuk dari uap air bersih yang membeku. dari uap air bersih yang membeku. Uap air itu terlihat tak bernoda dan sangat bersih. Jadi, batin kita harus bagaikan es dan salju yang jernih dan bersih. Kita harus menjaga tata krama. Kita harus sungguh-sungguh menjaga tata krama, bagai menjaga pelampung saat berlayar di lautan. Di tengah lautan, meski kita berlayar di atas kapal besar, tetapi kita juga harus waspada. Jika terjadi sesuatu pada kapal itu, penyelamat satu-satunya adalah pelampung. Alat itu dibuat menyerupai kulit dengan udara di dalamnya.
Saat terjadi sesuatu, alat ini dapat membantu kita mengapung dan menghadapi ombak. Saya teringat dahulu di Tiongkok, saat para warga ingin menyeberangi Sungai Yangtze, mereka tidak memiliki perahu. Mereka akan membuat pelampung dari kulit sapi dan diisi angin. Pelampung itu sangat ringan. Saat tiba di tepi sungai, mereka melemparkan pelampung itu dan duduk di atasnya. Meski arus sungai sangat deras, tetapi pelampung itu tetap mengapung dan dapat menyeberangi sungai. Kita harus menghargai Dharma bagai menghargai pelampung saat berlayar di laut. Dharma yang murni dan melampaui Samsara ini harus kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari bagaikan menggunakan pelampung di tengah lautan luas. Dahulu saya sering berkata, “Riak sungai keinginan cinta membangkitkan gelombang ombak lautan penderitaan.” Sungai keinginan cinta ini disebut nafsu. Ketamakan dan nafsu bagai api yang menjalar. Berhubung sudah bertekad untuk melatih diri, maka kita ingin dengan selamat melintasi gelombang sungai keinginan ini. Alatnya adalah Dharma yang murni. Jadi, sebagai praktisi Buddhis, kita harus menjaga kemurnian tubuh dan batin. Jadi, Buddha menetapkan sila untuk kita agar kita dapat menjaga kemurnian tubuh dan batin. Inilah fungsi dari aturan atau vinaya. Asalkan kita menjalankan aturan ini dengan baik, maka tak akan membangkitkan 3.000 noda batin dan 80.000 pelanggaran. Kita tak akan membangkitkan semua itu. Jadi, kita harus benar-benar bersemangat dan tekun menjaga sila.
Pengukur moralitas dalam batin kita harus dipasang. Dengan begitu, dalam keseharian kita tak akan melakukan pelanggaran. Jadi, kita harus menjaga tata krama. Jika dalam kehidupan kita kehilangan tata krama, di mana lagi bedanya antara melatih diri dan tidak melatih diri? Garis batas ini harus jelas. Sebagai praktisi, kita harus menjaga tata krama dan memegang teguh vinaya atau peraturan. Inilah yang membedakan dalam pelatihan diri. Jadi, kita semua harus bersungguh hati. Peraturan harus dipegang teguh. Batasan moralitas harus sungguh-sungguh dijaga. Berikutnya dikatakan, “Enam Paramita dan Empat Kesetaraan senantiasa diutamakan.” “Sila, samadhi, dan kebijaksanaan menambah kecemerlangan sehingga dapat segera mencapai tingkatan Tathagata.” Dalam melatih diri, apakah yang utama? Ada urutannya. Baik perumah tangga maupun kaum monastik, Enam Paramita dan Empat Kesetaraan harus diutamakan. Umat perumah tangga sekalipun harus menjalankan semua ini. Enam Paramita kita semua sudah tahu, yaitu dana, sila, kesabaran, semangat, konsentrasi, dan kebijaksanaan. Empat Kesetaraan juga sudah pernah dibahas, yaitu cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Semua ini disebut Sepuluh Paramita. Sepuluh Paramita adalah sepuluh metode Sepuluh Paramita adalah sepuluh metode yang kita gunakan untuk menyeberangi gelombang kelahiran kembali. Ini adalah alat untuk menuju Pantai Seberang. Menggunakan sepuluh metode ini bagaikan menggunakan pelampung. Berangkat dari tataran makhluk awam, kita harus melewati Jalan Bodhisattva untuk dapat mencapai tataran Tathagata.
Cinta kasih agung tanpa penyesalan. Saat terjun ke masyarakat, di dalam hati kita ada Buddha dan di dalam tindakan ada Dharma. Berjalan di Jalan Bodhisattva, kita harus mempraktikkan Enam Paramita. Untuk itu, kita harus memiliki cinta kasih agung tanpa penyesalan. Dengan adanya cinta kasih dan welas asih agung, kita harus terjun ke masyarakat untuk berdana, baik dalam bentuk materi, Dharma, maupun ketenteraman. Di tengah masyarakat, sesungguhnya banyak orang sangat keras kepala dan sulit untuk dibimbing. Sebaik apa pun sikap kita kepada mereka, belum tentu mereka akan mendengar kita. Sebaik apa pun sikap kita kepada mereka, mereka juga belum tentu berterima kasih. Dalam siaran berita ada sebuah cerita. Ada seseorang yang baru bebas dari penjara karena pengurangan masa hukuman. Di masa lalu dia juga sangat sukses. Hanya saja karena kurang pengendalian diri, maka menjalani hidup dengan sia-sia, gemar bersenang-senang dan menghamburkan uang. Dia akhirnya harus memikul beban utang dan melanggar hukum. Dia akhirnya harus dijebloskan ke penjara. Setelah keluar dari penjara, hidupnya luntang lantung. Ada temannya yang merasa kasihan melihatnya. Dahulu, orang itu juga merupakan tetangga yang satu kampung dengannya. Jadi, orang ini menolongnya. Namun, dia kembali mengonsumsi narkoba dan minuman keras. Suatu hari dia kembali meminta uang dan kecanduannya kambuh. Dia lalu mencelakai seorang cucu dari kerabat orang yang membantunya itu. Sang cucu baru berusia lima atau enam tahun dan sedang duduk di depan toko. Dia lalu mengambil pisau dan menebas tubuh anak itu. Kepala anak itu terluka parah. Kepala anak itu terluka parah. Selain bagian kepala, tangannya juga ditebas oleh orang itu. Anak berusia lima atau enam tahun punya kesalahan apa terhadapnya? Tidak ada.
Apa salah anak itu terhadap kampung atau keluarga orang itu? Tidak ada sama sekali. Sebaliknya, kerabat dari anak ini pernah menolong mantan napi tersebut. Ada kesalahan atau dendam apa di antara mereka? Tidak ada, yang ada hanya budi, tetapi air susu dibalas air tuba. Setelah mengonsumsi narkoba dan alkohol, pikirannya tentu kacau dan tidak sadar. Jadi, banyak makhluk di dunia ini kurang pengendalian diri dan moralitas sehingga pikirannya kacau. Bayangkan, akibat pikiran si mantan napi yang kacau, akibat pikiran si mantan napi yang kacau, akankah kerabat anak ini akan merasa menyesal? Akankah orang-orang menyalahkannya karena telah membantu si mantan napi? Inilah karma. Jika dia menyesal telah membantu orang, maka akar kebajikannya akan putus. Tidak semua orang seperti itu. Namun, banyak makhluk hidup memiliki tabiat yang sulit untuk diubah. Mereka sungguh sulit dibimbing. Jadi, Paramita dana pun sulit dipertahankan jika kita tak memiliki cinta kasih agung tanpa penyesalan. Tabiat orang itu adalah hal lain. Tidak semua orang seperti itu. Jika ada orang yang menderita, kita tetap harus terus membantu. Sikap tanpa penyesalan inilah cinta kasih agung. Sikap tanpa penyesalan inilah cinta kasih agung. Welas asih agung tanpa keluh kesah. Terjun ke masyarakat, kita ingin melenyapkan penderitaan dengan welas asih. Semua makhluk memiliki banyak penderitaan. Kita terjun ke tengah masyarakat untuk melenyapkan penderitaan mereka. Ini perlu kerja keras. Seperti suatu kejadian yang menggemparkan Korea Selatan. Ini terjadi di Afganistan. Taliban mengundang sekelompok pemuda Kristen dari Korea Selatan ke Afganistan dari Korea Selatan ke Afganistan untuk memberi bantuan. Namun, sesampainya di sana, 20 orang pemuda ini malah disandera. Pada saat itu, Taliban melakukan tawar-menawar dengan pemerintah setempat. Berhubung PBB tengah memerangi tindak terorisme, maka telah menahan banyak teroris.
Taliban menuntut pemerintah untuk membebaskan orang-orang itu dan ditukar dengan 20 orang sandera tadi. Jika tidak dipenuhi sampai batas waktu, para sandera itu akan dihukum mati. Apa salah para sandera itu? Tidak ada. Saat mengalami kejadian itu, apakah mereka perlu berkeluh kesah? Apakah ini ada urusannya dengan negara? Tidak. Ini adalah masalah batin manusia. Apakah ini adalah masalah agama? Bukan. Ini adalah masalah moralitas manusia. Umat muslim juga sangat baik. juga sangat baik. Umat Kristen juga memiliki cinta kasih. Selama mereka memiliki keyakinan yang benar, maka mereka akan memiliki moralitas. Hanya saja, sebagian kecil orang memiliki pandangan menyimpang memiliki pandangan menyimpang sehingga melakukan hal yang ekstrem sehingga melakukan hal yang ekstrem dan mencelakai orang lain. Akibat kekacauan pikiran, masyarakat pun menjadi kacau. Demikian pula dengan hubungan antarnegara. Yang paling tak berdosa adalah rakyat sipil. Jadi, dengan welas asih, kita melenyapkan penderitaan semua makhluk. Ini demi orang-orang yang tak berdosa tadi, orang-orang yang terkena bencana alam, orang-orang yang terkena bencana ulah manusia, atau mereka yang menderita kekurangan. Kita bertekad untuk membantu mereka dan melenyapkan penderitaan mereka. Untuk itu, kita harus terjun langsung. Saat bertemu orang yang pikirannya menyimpang, Bayangkan, akankah kita berkeluh kesah? Sebagai Bodhisattva yang mempraktikkan Enam Paramita, tentu tak akan berkeluh kesah. Memaafkan orang lain berarti berlaku baik pada diri sendiri. Bukankah kita juga pernah mendengar kisah seorang anak yang dirawat di RS karena ditabrak mobil? Dia dilarikan ke unit gawat darurat. Saat diberikan pertolongan darurat, anak ini menyatakan bahwa dia ingin memaafkan orang yang menabraknya karena dia pernah menyaksikan kisah Guru Zhang yang disiarkan di Da Ai TV. Memaafkan orang lain berarti berlaku baik pada diri sendiri. Lihatlah, hatinya dapat bebas dari keluh kesah dan tetap memaafkan dengan lapang dada. Dengan demikian, barulah niat baik dapat dipertahankan.
Jadi, welas asih agung bebas dari keluh kesah, sukacita agung bebas dari kerisauan. Kita bersumbangsih dengan sukacita. Kita harus bersumbangsih dengan hati damai dan membangun kualitas diri kita. Kita harus membangun keteladanan kualitas diri agar bisa diteladani orang lain. Dengan hati penuh sukacita, kita mengembangkan keseimbangan batin tanpa pamrih. Berhubung sudah bertekad untuk bersumbangsih, maka balasan apa lagi yang kita kejar? Kita tidak mengharapkan apa-apa. Jadi, inilah Enam Paramita dan Empat Kesetaraan. Semua ini harus selalu diutamakan. Kita tengah melatih diri. Enam Paramita dan Empat Kesetaraan adalah awal dari pelatihan diri kita. Jadi, baik berlatih di vihara maupun sebagai perumah tangga, Enam Paramita dan Empat Kesetaraan harus diutamakan. Ini adalah langkah pertama dalam melatih diri. Berikutnya adalah sila, samadhi, kebijaksanaan. Kita harus memegang teguh sila. Kita harus mempertahankan samadhi. Kita harus menggunakan kebijaksanaan. Jika semua ini sudah terpenuhi, maka kecemerlangan akan bertambah. Kita dapat beranjak dari kegelapan batin awam menuju kecemerlangan dari kebijaksanaan. Kita bisa membuka tabir kegelapan batin dan melihat kecemerlangan murni tanpa noda. Dengan demikian, kita akan segera mencapai tingkatan Tathagata. Pada dasarnya kita memiliki hakikat Tathagata dalam batin kita. Hanya saja, sebagai makhluk awam, kita menutupinya dengan kegelapan batin. Ini yang disebut “Tathagata yang terbelenggu”. Jadi, jika kita dapat mengembangkan Enam Paramita dan Empat Kesetaraan serta sila, samadhi, dan kebijaksanaan, maka kita akan dapat membuka tabir kegelapan batin. Dengan begitu, cahaya hakikat kebuddhaan kita akan terpancar dan dapat menunjukkan potensinya. Jadi, semua harus bersungguh hati. Setiap saat pikiran kita harus mengarah pada sila, samadhi, dan kebijaksanaan. Dengan begitu, hakikat kebuddhaan kita akan segera tampak. Hanya inilah tujuan mempelajari ajaran Buddha. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.