Sanubari Teduh-385-Tiga Perenungan Welas Asih Agung
Saudara se-Dharma sekalian, sering dikatakan bahwa segala yang berwujud bermula dari pikiran. Kita membina tindak tanduk tubuh dengan cinta kasih agar menampilkan kualitas luhur dan menginspirasi semua makhluk. Jadi, citra diri sangat penting. Para Buddha dan Bodhisattva memiliki citra yang membuat orang merasa sukacita saat melihat dan mendengar Mereka. Ini juga didapat dari pelatihan diri. Mengenai citra, banyak orang hanya melekat pada tampilan luar, tetapi tidak memupuk kualitas luhur. Jika begitu, sebaik apa pun penampilan, tidak akan membuat orang sukacita dan merasa hormat saat melihatnya. Jadi, kita harus membuat orang membangkitkan rasa sukacita dan rasa hormat. Satu-satunya cara adalah mengasah diri dan berlatih untuk menampilkan kualitas luhur. Kita semua tahu cara berpakaian perempuan Timur Tengah sangat tertutup dengan tujuan menjaga kehormatan dan keluhuran perempuan. Inilah tujuan cara berpakaian tersebut. Perlahan-lahan, negara-negara Timur Tengah mulai membangun dan mulai membuka diri. Mengikuti perkembangan ini, rakyatnya juga mulai mengejar tren. Cara berpakaian anak-anak muda pun tidak lagi terlalu tertutup. Perlahan-lahan, mereka lebih suka mengikuti tren. Seperti apa cara berpakaian yang mereka suka, seperti itulah mereka berpakaian dan berpenampilan. Jadi, anak-anak muda di perkotaan, terutama perempuan mulai berbeda dalam berpakaian. Agama Islam di Timur Tengah menganggap perempuan yang tak menutup aurat sudah melakukan pelanggaran moral dan telah melanggar perintah agama. Akhirnya, dibentuklah polisi syariat. Saat ada orang berpakaian tidak sesuai norma, polisi ini akan mulai memberi bimbingan. Jadi, berpakaian tak sesuai norma agama dilarang.
Sesungguhnya, soal cara berpakaian ini bukan semata-mata ada di Timur Tengah. Pengaruh budaya Barat juga sudah menyebar ke Taiwan sejak puluhan tahun lalu. Cara berpakaian pun sudah mulai berubah. Cara berpakaian perempuan sudah mulai berbeda dan aneh. Penampilan perempuan pun berubah. Kita pun mulai khawatir. Kita khawatir moralitas masyarakat merosot seiring perubahan cara berpakaian ini. Bukan hanya cara berpakaian yang aneh, bahkan model rambut pun menjadi aneh. Anak laki-laki ada yang memakai gel rambut sehingga seluruh rambutnya berdiri kaku. Mereka berkeliaran di jalan dan membuat orang yang melihat merasa ngeri. Dahulu ada ungkapan, Marah sampai seluruh rambut berdiri. Ini menggambarkan orang yang sangat marah hingga seluruh rambutnya berdiri. Sesungguhnya, ini menggambarkan perilaku hewan. Saat bertemu musuh, hewan akan waspada dan seluruh rambut serta bulunya berdiri. dan seluruh rambut serta bulunya berdiri. Jika perkataan ini merujuk pada manusia, berarti menggambarkan manusia yang tak bermoral dan bertemperamen buruk. Jadi, “marah hingga rambut berdiri” ini menggambarkan citra yang sangat buruk. Namun, anak muda zaman sekarang mulai berbeda dalam standar penampilan. Jadi, jika Anda melihat sebagian anak muda kini, rambut mereka begitu kasar dan keras. Jika diraba, rasanya bagaikan duri yang bisa menusuk. Ini karena rambut mereka diberi gel. Begitu juga dengan perempuan. Rambut yang mulanya baik-baik saja Rambut yang mulanya baik-baik saja dan sangat alami, malah dirusak. Mereka terus memotong rambut hingga sangat pendek dan tidak rapi, lalu juga diberi gel sehingga berdiri di bagian tengah kepala dan tidak rapi di bagian samping. Apakah ini layaknya penampilan perempuan? Jadi, kini bagaimana kita mengembalikan etika dan keharmonisan di masyarakat? Ini bergantung pada hati manusia– moralitas di dalam batin semua orang.
Sesungguhnya, moralitas dalam batin ini bersumber dari agama. Agama adalah polisi moral bagi setiap orang. Hanya diri sendiri yang bisa mengendalikan diri sendiri. Jika diri sendiri tak mau mengendalikan diri sendiri, maka seperti para perempuan di Timur Tengah yang kini citranya telah mulai berubah dan menunggu untuk ditangkap oleh polisi syariat. Jika tidak kunjung tertangkap, lama-lama polisi juga bisa lelah. Yang terpenting adalah mengandalkan rasa malu dan moralitas diri sendiri. Setiap orang harus sadar. Jika tidak, maka citra diri akan semakin kacau. Jika citra manusia kacau, maka etika juga akan kacau. Masyarakat pun ikut kacau. Jadi, kita harus sungguh-sungguh menjaga citra dan etika. Kita tidak boleh tidak berkesadaran. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, satu hal yang sangat penting adalah memperhatikan citra dan tindak-tanduk diri. Bukankah kita sering mendengar orang berkata, “Mengapa sekarang kamu terlihat berbeda?” “Di mana bedanya?” Orang tidak dapat menjawabnya, hanya saja merasa saat melihat kita, orang lain merasa lebih senang. Diri kita terlihat lebih enak dipandang. Di mana letak keindahannya? Tidak tahu. “Dahulu kamu gemar bersolek, tetapi terlihat sangat glamor.” “Kini kamu terlihat sederhana.” “Pakaian kamu juga tidak begitu mewah.” “Baju yang kamu kenakan juga sering sama.” “Namun, entah mengapa, penampilanmu membuat orang merasa sangat hormat.” Benar. Ini sudah benar. Kita memang tidak perlu bersolek, juga tidak perlu mengenakan sesuatu yang aneh. Dari dalam hati kita, kita harus membangkitkan batasan moralitas kita. Jika kita bisa meningkatkan moralitas, maka kita akan memiliki citra Buddha. Ini karena kita melatih diri sesuai Dharma, Ini karena kita melatih diri sesuai Dharma, Buddha memberi kita ajaran. Kita berlatih sesuai ajaran Buddha. Jadi, di dalam perilaku kita ada Buddha.
Asalkan di dalam hati kita ada Buddha dan kita hidup sesuai dengan ajaran Buddha, maka di dalam perilaku kita akan ada Buddha. Jadi, citra bermula pada pikiran. Bagaimana citra diri manusia dapat membuat orang yang melihat merasa hormat? Kita harus membina tubuh dengan cinta kasih. Kita harus berlatih dengan cinta dan welas asih. Kita harus melatih perilaku kita. Dengan demikian, tubuh akan menampilkan kualitas luhur. Tubuh kita tidak perlu kita hias atau dandani secara khusus. Secara alami, ia akan menampilkan keluhuran. Dengan tindak tanduk dan perbuatan kita, kita dapat menginspirasi semua makhluk. Begitu mendengar nama kita dan melihat citra kita, mereka langsung merasa gembira dan dengan sendirinya mendekat. Jadi, kita menginspirasi semua makhluk dengan kualitas luhur kita. Untuk dapat membimbing semua makhluk, kita harus membenahi citra diri kita. Berikutnya dibahas tentang 32 ciri manusia agung dan 80 ciri sekunder. Kita ingin mencapai kebuddhaan. Bagaimana kebuddhaan seseorang dibuktikan? Kita harus memiliki 32 ciri manusia agung dan 80 ciri sekunder. Begitulah citra seorang buddha. Saat suatu Sutra dibabarkan, ia diawali dengan perkataan Ananda. Saat mengumpulkan Sutra, berhubung Ananda di dalam hatinya ada Buddha dan di dalam tindak tandukya pun demikian, maka setiap kali beliau berkata, “Demikianlah yang telah kudengar,” orang-orang pun bertanya-tanya apakah Ananda telah mencapai kebuddhaan. “Mungkinkah Buddha merasuki tubuh Ananda?” “Mungkinkah Buddha merasuki tubuh Ananda?” Ananda sejak awal memang sudah memiliki 30 ciri manusia agung. Ditambah ketulusannya, ditambah di dalam hati dan tindak tanduknya ada Buddha, maka saat Ananda mengulang isi Sutra, 32 ciri manusia agung seakan lengkap. Inilah tubuh yang kita bahas. Jadi, penjelasan di dalam teks hendak memberi tahu kita tentang tubuh manifestasi Buddha. Demi membimbing manusia, Buddha bermanifestasi di Dunia Saha ini. Melewati proses pelatihan, beliau merampungkan segala jenis praktik.
Karena itu, 32 ciri manusia agung tampak pada diri-Nya. tampak pada diri-Nya. Ini menunjukkan kualitas pelatihan diri-Nya. Tentu, 32 ciri ini banyak yang sangat halus. Ini berkaitan dengan penampilan manusia mulai dari rambut, kening, telinga, hidung, lidah, kuku, pori-pori, kaki, tangan, dan masih banyak lagi. Segala aktivitas yang dilakukannya-Nya dan segala yang dapat dilihat manusia dari luar, tidak ada satu pun yang tidak membahagiakan. Tiga puluh dua ciri ini dimiliki secara lengkap. Ini disebut 32 ciri manusia agung. Meski Ananda juga terlihat sangat agung, tetapi dia belum mencapai kebuddhaan dan masih kurang dua ciri. Jadi, kualitas luhur Buddha sudah sempurna, Jadi, kualitas luhur Buddha sudah sempurna, bagaikan bulan purnama pada tanggal 15 atau 16 penanggalan bulan. Sesungguhnya, bulan pada tanggal 16 lebih bulat dibanding bulan pada tanggal 15. Jadi, bulan yang bulat sempurna itu menggambarkan kualitas luhur yang sempurna. Ditilik dari ajaran Buddha, ini adalah kondisi batin yang penuh, sehingga menampilkan kualitas luhur yang sempurna dan dihormati oleh para dewa dan manusia. Baik para dewa dan manusia, Buddha adalah guru pembimbing Tiga Alam dan ayah makhluk hidup dari empat jenis kelahiran. Karena itu, Beliau dihormati para dewa dan manusia. Beliau adalah raja di antara para makhluk suci. Semua makhluk suci menghormati Buddha.
Jika 32 ciri manusia agung sempurna, maka akan dilengkapi oleh 80 ciri sekunder. 80 ciri sekunder akan secara alami mengikuti. Bagaimana cara menggambarkan ini? Ini sulit untuk digambarkan. Intinya, semua itu terlihat amat agung. Selain 32 ciri, 80 ciri sekunder juga terbentuk. Tentu, ini adalah kualitas luhur yang sempurna sehingga tampak di luar. Dahulu kita juga pernah membahas tentang harumnya pelatihan diri dan moralitas. Jika moralitas benar-benar sempurna, harumnya keluhuran akan terasa oleh orang lain. Tak peduli dari arah mana angin bertiup, harumnya keluhuran tetap bisa tercium. Lain halnya dengan aroma-aroma yang lain yang harus mengikuti arah angin bertiup. yang harus mengikuti arah angin bertiup. Sesungguhnya, keharuman keluhuran ini tetap bisa menyebar ke sepuluh penjuru meski angin tak bertiup. Ke mana pun angin bertiup, harumnya keluhuran tetap akan menyebar. Ini adalah sebuah gambaran. Ia tidak seperti minyak wangi. Tidak. Ia berasal dari sifat luhur di dalam batin, membuat orang yang melihat merasa sukacita, begitu harum, begitu manis. Perasaan itu sulit digambarkan. Berikutnya dibahas 10 kekuatan, ketidakgentaran, tiga perenungan welas asih agung, sukacita abadi, pengetahuan menakjubkan, dan 8 keleluasaan. Demikianlah keluhuran Buddha. Kita harus berlatih untuk mengikis noda batin dari yang terdalam hingga yang terluar sehingga citra kita menampakkan kegigihan. Kita harus memutus segala noda batin dan tidak terjerumus ke dalam nafsu keinginan. Jadi, di sini dibahas tentang sepuluh kekuatan. Ini juga merupakan kualitas yang harus dibina agar batin kita dapat senantiasa damai dan tidak terjebak oleh nafsu keinginan. dan tidak terjebak oleh nafsu keinginan. Jika kita dapat mencapai tataran kebuddhaan, berarti mencapai sepuluh kekuatan tanpa gentar dan tiga perenungan welas asih agung. Apa yang disebut tiga perenungan welas asih agung? Pertama adalah merenungkan Buddha sebagai tabib agung.
Semua makhluk bagai didera penyakit, terlebih lagi kini Bumi juga sedang sakit. Jadi, kita harus selalu ingat dan meyakini Buddha sebagai tabib agung. Hanya ajaran Buddha-lah yang dapat menolong semua makhluk di dunia. Kita harus selalu mengingat dan merenungkan kualitas Buddha. Buddha dapat mengobati penyakit fisik dan batin semua makhluk. Segala penyakit di dunia ini, dapat disembuhkan oleh Buddha sang tabib agung. Kedua adalah merenungkan Dharma sebagai obat penyembuh penyakit. Kini, jika kita dapat menerima ajaran Buddha dan menjalankannya, barulah kita dapat tertolong. Jika kita hanya mendengar, tetapi tidak menerapkannya, maka bagaikan berobat ke dokter, tetapi tidak mau minum obat. Bukankah Sutra Bunga Teratai berkata demikian? Sang ayah adalah tabib terbaik, Sang ayah adalah tabib terbaik, tetapi saat anaknya sakit, anak ini malah tidak memercayai ayahnya sendiri. Dia tidak mau meminum obat yang diberikan. Jadi, ayahnya pergi jauh dari anaknya, lalu mengutus orang lain untuk mengabarkan, “Ayahmu telah meninggal.” Saat itu, anaknya baru menyadari, “Bagaimana dengan penyakit saya?” Saat itu barulah dia bersedia minum obat. Kini Buddha sudah tiada, tetapi Dharma masih ada di dunia ini. Jika kita masih tidak bersedia menjalankannya, maka penyakit kita akan semakin berat. Segala sesuatu di dunia memiliki penyakit. Jadi, kita harus merenungkan Dharma sebagai obat. Ketiga adalah merenungkan Sangha sebagai perawat.
Sangha adalah mereka yang mewariskan Dharma. Jadi, mengenai Sangha, dikatakan bahwa pembina diri harus memiliki semangat misi. Misi ini sangat berat dan panjang. Kita harus mewariskan ajaran Buddha, bagaikan dokter yang membutuhkan perawat untuk menjaga pasien. Dokter juga membutuhkan dokter jaga. Jadi, baik dokter jaga maupun perawat, semuanya berfungsi menjaga pasien. Jika dokter jaga tidak bersungguh hati dalam mendiagnosis dan menentukan obat, salah dalam mengambil obat, atau tidak menjaga pasien dengan baik setelah diberi obat, maka pasien juga akan sulit untuk sembuh. Jadi, kita harus merenungkan Sangha sebagai perawat atau ibu. Kita sendiri juga harus semakin membangkitkan cinta kasih bagai seorang ibu yang merawat anak. Jadi, kita harus membina tubuh dengan cinta kasih. Kita harus menjaga semua makhluk di dunia dengan cinta kasih dan welas asih. Semua makhluk kini bagai menderita menyakit. Jadi, kita harus mengembangkan empat kualitas Nirvana. Empat kualitas nirvana adalah kekal, sukacita, Aku, dan suci. Dengan begitu, baru kita bisa menyempurnakan delapan keleluasaan. Inilah yang kini harus kita latih. Saudara sekalian, citra atau rupa bermula dari pikiran. Jadi, kita harus membina tubuh dengan cinta kasih agar dapat menampilkan kualitas luhur dan menginspirasi semua makhluk. Ini adalah tanggung jawab kita saat ini. Kita belum bisa mencapai kebuddhaan, tetapi paling tidak kita dapat menjadi Sangha perawat orang sakit. Tanggung jawab ini sangat berat dan panjang. Kita semua harus lebih bersungguh hati.