Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-386-Delapan Keleluasaan

Saudara se-Dharma sekalian, kehidupan penuh penderitaan. Seiring proses alam ini, dalam kehidupan sehari-hari, apakah yang terbaik? Yang terbaik adalah saat iklim bersahabat. Namun, jika iklim tidak selaras dan menjadi ekstrem, manusia juga akan merasa khawatir. Saat tidak memiliki apa-apa, manusia semakin khawatir. Jadi, tiada yang tak membawa kerisauan di dunia. Namun, jika kita dapat bersikap pengertian dan berusaha keluar dari kerisauan ini, kita akan memperoleh kebahagiaan. Jadi, Buddha mengajarkan kita cara untuk terbebas dari penderitaan dan mampu bersikap pengertian berlandaskan kebijaksanaan dalam batin. Ini jugalah yang harus kita pelajari. Jadi, Buddha memiliki Sepuluh kekuatan, ketidakgentaran, tiga perenungan welas asih agung, sukacita abadi, kebijaksanaan menakjubkan, dan delapan keleluasaan. Inilah yang harus kita pelajari. Saya pernah mengulas tentang tiga perenungan welas asih agung. Setelah mengulas itu, saya terus berpikir kita sungguh harus selalu ingat pada Buddha. Buddha sungguh merupakan tabib agung dunia. Kondisi batin manusia berbeda-beda. Saat dihadapkan dengan satu kondisi yang sama, sudut pandangnya bisa berbeda-beda. Saat mendengar satu ucapan yang sama, perasaannya juga bisa berbeda-beda. Kita sering mendengar ada orang berkata, “Perkataan Master bagai sedang memarahi saya.” “Saya harus segera memperbaiki diri.” “Saya sadar saya memiliki penyakit ini.” “Jadi, saya harus segera berubah.” ada orang berkata, “Saya sudah berusaha hingga seperti ini, Master sepertinya tidak kunjung puas.” “Kata-kata Master ditujukan kepada saya.” Jadi, orang ini merasa tidak senang. Jadi, penyakit batin makhluk awam, jika ditangani dengan metode yang tepat sesuai sifat dan daya tangkap masing-masing, maka akan sangat bermanfaat.

Jika orang yang pikirannya agak sensitif menerima teguran seperti itu, dia mungkin akan langsung menolak. Bukan hanya tidak menerimanya, bahkan bisa timbul efek berlawanan. Ini bergantung pada sifat dan daya tangkap. Batin manusia memiliki penyakit karena kita sebagai makhluk awam yang sudah mengetahui ajaran Buddha tidak terampil dalam menyampaikan. Jika kita menyampaikannya dengan baik, maka orang lain tak akan menolak. Mereka akan dapat menerapkan ajaran ini. Jadi, kita masih harus berlatih. Kadang saya mendengar ada yang berkata, “Master waktu itu pernah mengatakan ini, sangat bermanfaat bagi saya.” “Bagi saya kata-kata itu tengah menasihati saya.” Ada pula orang yang mengabarkan, “Orang itu bilang bahwa Master pernah mengatakan ini sehingga membuatnya merasa tidak senang.” “Karena itu, dia tidak mau lagi datang ke Tzu Chi.” Dari sini, saya sendiri juga berpikir bahwa mungkin kualitas luhur saya belum cukup. Jika kualitas luhur kita cukup, maka apa pun yang saya katakan akan mengakomodasi semuanya. Jadi, diri sendiri harus berintrospeksi. Lihatlah, Buddha bagai seorang tabib agung yang dapat mengobati segala penyakit semua makhluk. Begitu Beliau membuka resep obat, obat itu dapat digunakan oleh beragam orang. Tentu, obat ini adalah obat universal. Buddha dapat memberikan obat yang kita tidak akan menolaknya, bahkan malah menambah vitalitas. Beliau sungguh memiliki kebijaksanaan agung. Ini tak bisa dilakukan jika Beliau bukan tabib agung. Jadi, kita harus selalu mengingat dan merenungkan Buddha sebagai tabib agung. Kita harus lebih tekun dan bersemangat. Saat menghadapi penyakit batin semua makhluk, kita belum bisa menangani semuanya. Jadi, kita hanya bagaikan dokter jaga. Kita masih harus mengingat dan merenungkan Dharma sebagai obat. Buddha memberi obat atau ajaran sesuai penyakit masing-masing makhluk.

Setiap obat dapat sangat mengena dan tepat bagi batin setiap makhluk. Dharma ini sungguh sangat baik. Namun, metode Dharma ini juga sangat banyak. 84.000 metode Dharma harus kita pelajari. Selain waktu dan ruang, kita harus memperhatikan hubungan antarmanusia. Jadi, ajaran Buddha tak akan kedaluwarsa. Dari segi waktu, obat ini tak akan kedaluwarsa. Sutra tetap tidak berubah sejak dahulu kala. Kebenaran di dalamnya bersifat abadi. Jadi, selama apa pun ajaran itu diwariskan, kebenarannya tetap sama. Ini selamanya tidak pernah berubah. Kita lihat obat-obatan di dunia saat ini, semuanya memiliki tanggal kedaluwarsa, paling tidak hanya bertahan setahun atau dua tahun. Setelah kedaluwarsa, obat itu tak boleh digunakan lagi. Namun, obat ajaran Buddha tidak lapuk oleh waktu. Semua kembali pada diri kita apakah dapat memilih obat yang tepat. Jumlah obat itu mencapai 84.000. Ini karena harus mengobati 84.000 jenis noda batin semua makhluk. Jadi, ketika kita mengingat bahwa Dharma adalah obat untuk mengobati penyakit, maka kita akan merasa bahwa waktu tidak pernah cukup. Berbagai obat ini belum kita kuasai seluruhnya. Jadi, kita masih harus lebih mendalaminya. Buddha memberikan berbagai macam resep obat atau metode terampil untuk untuk mengakomodasi berbagai sifat dan daya tangkap semua makhluk. Jadi, kita harus selalu merenungkan Dharma.

Dharma adalah obat penyembuh penyakit semua makhluk, termasuk Bumi tempat kita tinggal ini. termasuk Bumi tempat kita tinggal ini. Kita juga harus selalu mengingat Sangha. Sangha bagai ibu atau perawat orang yang sakit. Ibu ini memiliki cinta kasih yang penuh. Dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus meneladani cinta dan welas asih Buddha. Jika cinta kasih kita belum sempurna dan diri sendiri masih memiliki penyakit batin, maka jika penyakit ini tidak kita obati, cinta kasih tidak akan sempurna. Lihatlah berita di masyarakat. Kadang kita mendengar suatu daerah dilanda bencana, seperti kebakaran. Kadang seorang ibu yang sudah berhasil selamat dari kebakaran itu, kembali berlari melawan kobaran api karena teringat anaknya. Dia memeluk erat anaknya dan membiarkan tubuhnya menjadi pelindung sehingga menderita luka bakar serius. sehingga menderita luka bakar serius. Ibu ini tentu meninggal dunia. Setelah api berhasil dipadamkan, pemadam kebakaran menemukan jenazahnya sudah terbakar habis. Ibu itu sudah meninggal, tetapi saat diamati lebih dekat, tetapi saat diamati lebih dekat, tangannya masih memeluk anaknya. Dia tetap melindungi anaknya. Dia tetap melindungi anaknya. Namun, waktunya terlalu lama. Anaknya masih bernapas. Saat regu pemadam kebakaran mengeluarkan anak itu, terasa bahwa sang ibu memeluk anak itu dengan erat. Anak itu kemudian dilarikan ke rumah sakit dan bisa tertolong. Dari sini kita bisa tahu isi hati seorang ibu. Cinta kasih ibu untuk melindungi anaknya sungguh tak terungkapkan dengan kata-kata. Jadi, di dunia ini, untuk menggambarkan cinta kasih, sering digunakan perumpamaan tentang seorang ibu. Itulah cinta kasih yang tertulus, terbaik, dan terindah. Jadi, cinta kasih ibu dianggap paling sempurna.

Dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus meneladani cinta kasih yang sempurna tanpa cela seperti ini. Saya juga pernah mendengar para dokter bercerita. Di RS Tzu Chi Dalin ada seorang dokter jaga yang memeriksa kamar pasien sekitar pukul dua tengah malam. Dia memeriksa apakah napas pasien lancar dan pasien baik-baik saja. Dia tidak berani membangunkan seorang ibu yang menemani pasien itu dengan harapan agar ibu itu bisa tetap sehat dan dapat menjaga anaknya. Lihatlah, dokter muda ini. Lihatlah, dokter muda ini. Dia menjaga keseluruhan cinta kasih itu. Dia juga merupakan dokter yang bajik. Dia memiliki hati seorang ibu. Dia sendiri berkata bahwa ibu itu sedang menjaga anaknya, tetapi sesungguhnya dirinya sendiri adalah dokter yang juga sedang menjaga kesehatan pasien dan melindungi cinta kasih. Sikap batin ini juga sama dengan pembina diri. Rumah sakit bagai ladang pelatihan. Baik dokter, perawat, maupun tenaga medis lain di dalamnya bagai berada di ladang pelatihan yang sama. Mereka terus menyelamatkan nyawa manusia dan terus menumbuhkan jiwa kebijaksanaan karena mereka terus melakukan penelitian, terus belajar, dan menolong orang. Mereka terus mendalami ilmu pengobatan, juga sangat bersungguh hati  dalam merawat pasien. Mereka menerapkan ilmu yang mereka pahami untuk mengobati pasien. Bayangkan, sebuah rumah sakit, bukankah bagaikan sebuah ladang pelatihan? Di sana juga penuh dengan cinta kasih. Di dalamnya ada dokter, ada apoteker, juga ada perawat yang penuh cinta kasih. Jadi, kita harus selalu ingat dan merenungkannya. Di dunia ini, dalam hubungan antarmanusia, kita harus mengingat tiga hal ini di dalam batin kita. Jika sebagai praktisi spiritual kita bisa selalu mengingat tiga perenungan welas asih ini di dalam batin masing-masing, maka kita akan mencapai cinta kasih yang sempurna. Jadi, jika tiga perenungan welas asih agung dapat kita kembangkan dan capai, maka kita akan menyempurnakan empat kualitas Nirvana.

Semua sudah tahu tentang Nirvana, yaitu kemurnian yang tidak lahir dan lenyap serta menyatu dengan semua makhluk. Inilah semangat “Aku universal”. Kekal di sini berarti tidak timbul dan tidak lenyap. Mengenai sukacita, berarti sudah terbebas dari segala noda batin yang membelenggu. Inilah sukacita, tidak lagi terbelenggu oleh noda batin. Meski kita berkata bahwa setiap orang memiliki hakikat kebuddhaan, tetapi kita telah terbelenggu oleh noda batin. Ini yang disebut “Tathagata yang terbelenggu”. Kalian seharusnya masih ingat jelas. Kalian seharusnya masih ingat jelas. Setiap orang memiliki hakikat kebuddhaan, tetapi kita telah terbelenggu oleh noda batin. Saat mencapai Nirvana, kita terbebas dari segala belenggu noda batin. Saat tidak terbelenggu noda batin, itulah sukacita. Sukacita ini tidak timbul dan tidak lenyap. Inilah sukacita abadi. Mengenai “Aku”, ia merujuk pada Aku universal yang bebas dari ego. Sebagai manusia, kita memiliki ego. Dalam bahasa Jepang, sebutan “saya” disebut “ego” atau “diri”. Pikiran manusia penuh ego dan keakuan. “Anakku”, “istriku”, “yang kukasihi”, “ladangku”, “rumahku”, “bisnisku”, dan sebagainya. Banyak sekali. Manusia dipenuhi kemelekatan terhadap “aku”. Inilah noda batin. Sebaliknya, Buddha hanya berfokus pada semua makhluk dan alam semesta sebagai satu kesatuan, sehingga tidak memikirkan diri sendiri. Jadi, Buddha Yang Mahasadar Di Alam Semesta berharap kita dapat merangkul semua makhluk berharap kita dapat merangkul semua makhluk di alam semesta ini. Kita harus mengasihi semuanya tanpa kecuali.

Bumi ini adalah diri kita. Di dalam diri kita tercakup semua kehidupan di duna. Dengan demikian, inilah yang disebut “Aku universal”. Jadi, di sini, selain para bhiksuni yang harus mengembangkan cinta kasih yang sempurna dengan semangat “Aku universal”, kita juga masih punya para Qingxiushi. dengan semangat cinta kasih dan “Aku” universal, mereka meninggalkan keluarga kecil mereka. Tanpa adanya belenggu keluarga kecil, mereka dapat lebih melapangkan hati untuk terjun ke tengah masyarakat untuk mengasihi semua makhluk dengan identitaas umat awam. Mereka memang terlihat sebagai umat awam, tetapi menjalankan Jalan Bodhisattva Agung yang berlandaskan “Aku universal” tanpa ego. dalam hubungan antarmanusia, mereka tidak saling membelenggu. Mereka tetap bebas di dunia yang luas ini. Inilah Aku universal yang murni tanpa noda. Inilah empat kualitas Nirvana, yaitu kekal, sukacita, Aku, dan suci. Selain empat kualitas itu, masih ada delapan keleluasaan. Pertama adalah dapat memanifestasikan diri menjadi banyak tubuh. Kita turut merasakan rasa sakit dan penderitaan orang lain. Inilah memanifestasikan diri menjadi banyak tubuh. Kedua, membuat diri yang kecil bagai pasir memenuhi alam semesta. Artinya, Bumi ini sesungguhnya amat kecil bagai pasir di tengah luasnya alam semesta. Jika dibandingkan dengan berbagai planet lain, Bumi ini sesungguhnya sangat kecil. Arti dari membuat diri yang kecil bagai pasir memenuhi alam semesta adalah memiliki hati yang lapang tanpa batas. Ketiga, meringankan tubuh hingga menjangkau tempat yang jauh.

Meski diri kita berada di sini, tetapi hati kita harus merangkul seluruh alam. Pikiran kita mampu dengan cepat menjangkau berbagai tempat. Inilah kebijaksanaan. Keempat adalah bermanifestasi dalam bentuk tanpa batas di satu tempat yang sama. Demi semua makhluk, Buddha terus-menerus bermanifestasi di Dunia Saha ini. Beliau tidak pernah berhenti bermanifestasi, hanya saja kita makhluk awam tidak mengerti. Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus memandang setiap orang bagai Buddha. Setiap orang adalah Bodhisattva. Wujud semua makhluk memang beragam. Kita harus menghormati semuanya. Kelima adalah penggunaan seluruh indra secara bersilangan. Keenam adalah memperoleh segala Dharma bagai tiada Dharma apa pun. Kita tidak boleh sombong. Apakah kita sudah memahami 84.000 metode Dharma? Belum. Satu Dharma dapat melahirkan makna tanpa batas. Asalkan kita menyelami dengan sepenuh hati satu metode Dharma, maka kita akan memahami seluruh Dharma yang tanpa batas. Yang tanpa batas itu pun berpulang pada satu Dharma. Jadi, menerima Dharma bagai tiada Dharma, itulah Dharma yang agung. Ketujuh adalah membabarkan makna satu Gatha melewati berkalpa-kalpa tak terhingga. Seperti yang tadi kita bahas, Sutra tidak lapuk oleh waktu meski melewati berkalpa-kalpa tak terhingga. Sepatah perkataan yang baik dapat diwariskan hingga waktu yang tak terbatas. Kedelapan adalah menembus berbagai tempat bagaikan ruang angkasa kosong. Di mana pun diri kita berada, hati kita harus lapang tanpa batas. Saudara sekalian, janganlah ada kemelekatan dalam batin. Mempelajari ajaran Buddha berarti berusaha menuju kesucian. Batin kita hendaknya suci dan murni bagaikan ruang angkasa luas. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati. 

Leave A Comment