Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-383-Tujuan Mempelajari Ajaran Buddha

Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari kita harus memiliki hati yang tulus untuk bertobat. Sering kita katakan bahwa Dharma bagaikan air yang dapat menyucikan noda batin. Ini seperti pertobatan. Tiada orang yang berkata, “Setiap hari hati saya sangat murni, perbuatan saya sangat lurus, dan tidak punya kesalahan sedikit pun.” Saya rasa di dunia ini tiada orang seperti ini. Dalam setiap pikiran kita, sulit dihindari adanya noda. Jadi, kita harus senantiasa menjaga pikiran kita dengan sungguh-sungguh. Kita harus senantiasa bertobat dengan hati yang tulus seperti air yang membersihkan kotoran. Sebelumnya kita pernah membahas bahwa berhubung telah menciptakan karma yang berat, maka kita harus sungguh-sungguh bertobat. Berhubung kita tengah melatih diri dan sudah memahami ajaran Buddha, maka jika kita melakukan kesalahan sebagaimana yang tertera di dalam Sutra, kita hendaknya segera memperbaiki diri. Setelah memperbaiki diri, kita bagai memulai hidup baru. Memulai hidup baru berarti meninggalkan kesalahan masa lalu. Berhubung telah memulai hidup baru, maka batin harus semurni anak kecil. Lihatlah bayi yang baru lahir, bukankah sangat murni dan polos? Saat lapar, dia ingin makan. Saat popoknya basah, maka harus diganti. Demikian pula, jika kita memiliki hati sepolos anak kecil, maka kita harus segera menyerap Dharma untuk menumbuhkan jiwa kebijaksanaan. Jika ada sedikit saja noda atau pencemaran, kita harus menyucikan diri dan tidak boleh mengulangi kesalahan.

Setelah bertobat dan memurnikan diri dengan tidak mudah, jika kita kembali tercemar, maka akan sangat disayangkan. Jadi, kita harus memiliki kemurnian hati anak kecil. Jadi, kita harus menjaga pikiran kita untuk senantiasa murni. Kita harus sangat waspada agar tidak kembali tercemar. Karma kita ciptakan sendiri. Behubung diri sendiri yang menciptakan karma, lalu apakah orang lain bisa membantu kita melenyapkannya? Apakah Buddha bisa membantu kita melenyapkannya? Apakah Bodhisattva bisa membantu kita melenyapkannya? Tidak. Buddha dapat memberi tahu kita bahwa kita bersalah dan harus segera memperbaiki diri. Bodhisattva dapat membimbing kita menapaki jalan yang benar dan mendampingi kita. Kita mengikuti jejak langkah Bodhisattva. Kita harus menaati sila dan aturan. Sila bagaikan sebuah jalan. Jangan sampai kita kembali salah jalan. Rintangan karma kita ciptakan sendiri, dimulai dari pengendalian diri sendiri. Kita harus selalu bersungguh hati. Sebelumnya, kita sudah bertobat dengan tulus di hadapan Buddha, Dharma, dan Sangha. Kini berikutnya dikatakan, “Dengan pertobatan ini, semoga kami para murid terbebas dari kesalahan akibat kegelapan batin dan segala karma buruk.” Kita sudah bertobat atas kesalahan masa lalu. Kekuatan pertobatan dapat melenyapkan berbagai karma buruk yang tercipta akibat kegelapan batin. Bukan hanya yang sudah dilakukan, tetapi juga yang belum dilakukan. Kegelapan batin yang tertimbun dalam pikiran kita juga kita hilangkan dengan kekuatan dari pertobatan. juga kita hilangkan dengan kekuatan dari pertobatan. Bukan hanya memperbaiki perbuatan, kita juga harus melenyapkan kegelapan dalam batin secara menyeluruh.

Karena itu, di sini dibahas tentang kegelapan batin. Kegelapan batin ada di dalam pikiran dan terwujud ke dalam perbuatan. Kita harus bertobat atas semuanya agar segala karma buruk dapat dilenyapkan. Dengan demikian, barulah kita tak akan jatuh ke tiga alam rendah. Segala sesuatu dipelopori oleh pikiran. Segala sesuatu dipelopori oleh pikiran. Seluruh karma bersumber dari pikiran. Berhubung karma penyebab kelahiran di tiga alam rendah dapat dilenyapkan, maka secara alami berkah akan tumbuh. “Dengan segala berkah dan kebajikan yang tumbuh, semoga dari kehidupan ke kehidupan melenyapkan lima karma celaka.” Berhubung kita telah mengikis segala karma buruk, maka di saat yang sama kita juga menciptakan berkah. Jadi, segala yang kita lakukan didasarkan pada ikrar. Kita berikrar melenyapkan lima karma celaka dari kehidupan ke kehidupan. Artinya, lima karma celaka yang dapat mencemari batin kita ini tidak akan kita lakukan. Jadi, kita harus bertekad dan berikrar. Dari kehidupan ke kehidupan ,kita memiliki orang tua. Dari kehidupan ke kehidupan ,kita memiliki guru. Dari kehidupan ke kehidupan, kita pasti memiliki kerabat dan saudara. Jadi, kita harus menjaga pikiran kita. Ketamakan, kebencian, dan kebodohan jangan sampai bangkit. Terlebih lagi, sampai timbul niat membunuh orang tua. Ini tidak boleh terjadi. Jadi, kita berikrar setulus hati untuk melenyapkan lima karma celaka dari kehidupan ke kehidupan.

Lima karma celaka adalah sebab kelahiran di neraka. Kita juga harus melenyapkan noda batin “Icchantika”. Icchantika berarti memutus akar kebajikan, juga berarti penyebab untuk terlahir di neraka, juga berarti tidak berkesempatan mencapai kebuddhaan. Inilah Icchantika. Noda batin sama dengan kegelapan batin, Noda batin sama dengan kegelapan batin, dapat menciptakan berbagai benih karma. Putusnya akar kebajikan juga disebabkan oleh hal ini. Putusnya akar kebajikan juga disebabkan oleh hal ini. Baik ringan maupun berat, segala karma buruk ini, sejak saat ini hingga nanti, di ladang pelatihan mana pun, kami berikrar untuk tidak mengulanginya. Noda batin Icchantika, baik berat maupun ringan, dapat membuat kita menciptakan karma buruk, membuat akar kebajikan kita putus, serta merintangi kemajuan pelatihan diri kita. Jadi, baik pelanggaran ringan maupun berat, semuanya termasuk karma buruk. Kini kita sudah bertobat atas semuanya. Kita bertobat atas kesalahan masa lalu. Yang lalu kita anggap berlalu. Kini kita harus memulai lembaran baru hingga masa depan. Di ladang pelatihan, kita bertekad tidak mengulangi kesalahan. Kita sudah bertekad dan berjodoh untuk berlatih di ladang pelatihan ini. Kita harus sungguh-sungguh menjaga pikiran kita. Ada orang yang meski mengaku sedang melatih diri, tetapi pikiran dan tindakannya tidak sesuai Dharma. Jadi, penggalan ini mengingatkan kita bahwa yang lalu sudah berlalu. Mulai hari ini hingga masa depan, di ladang pelatihan, kita harus membangun ikrar untuk tak lagi membuat pelanggaran. Kita harus selalu mengingatkan diri sendiri tentang ini. Mengenai K\keburukan “Icchantika”, baik ringan maupun berat, sama-sama karma buruk. Apa yang disebut “Icchantika”. Di sini saya perjelas sedikit lagi. “Icchantikka” adalah sebuah sebutan. “Icchantikka” adalah sebuah sebutan. Artinya adalah sangat sulit mencapai kebuddhaan. Artinya adalah sangat sulit mencapai kebuddhaan.

Sesungguhnya, untuk mencapai kebuddhaan, yang terpenting adalah hati yang murni; sepenuh hati berlatih untuk menghindari kejahatan dan mengembangkan kebajikan. Dengan begitu, pasti berkesempatan untuk mencapai kebuddhaan. Namun, arti dari “Icchantika” adalah sangat sulit mencapai kebuddhaan. Sesungguhnya, ada dua sebab sulitnya mencapai kebuddhaan. Pertama adalah tidak meyakini hukum sebab akibat, sehingga menciptakan lima karma celaka dan sepuluh kejahatan. Lima karma celaka dan sepuluh kejahatan adalah penyebab putusnya akar kebajikan dan kelahiran di Neraka Avici. Makhluk yang terlahir di Neraka Avici pasti pernah melakukan pelanggaran berat. Sekali terlahir di sana, seperti yang dikatakan dalam Sutra Ksitigarbha, waktu di sana terasa sangat panjang. Sulit untuk terbebas dari sana. Jadi, kaum Icchantika adalah orang yang pernah melakukan lima karma celaka dan sepuluh kejahatan sehingga terjatuh ke neraka dan sulit membebaskan diri. Inilah mengapa mereka sangat sulit mencapai kebuddhaan. Arti lain dari Icchantika adalah memutus kebajikan. Segala karma baik diputus oleh Icchantika ini. Kebanyakan definisi merujuk pada hal ini. Ada satu jenis lagi, yaitu Icchantika Bodhisattva welas asih agung. Mengapa Bodhisattva yang penuh welas asih juga disebut sebagai salah satu jenis Icchantika? Kita lihat, apa ikrar Bodhisattva Ksitigarbha? “Jika neraka tidak kosong, Aku tak akan menjadi Buddha.” Hingga semua makhluk mencapai kebuddhaan, baru Beliau akan mencapai kebuddhaan. Apakah mungkin? Makhluk hidup begitu banyak. Beliau harus membimbing sampai kapan baru bisa membimbing tuntas semua makhluk? Karena itu, Bodhisattva seperti ini juga dikatakan sulit mencapai kebuddhaan. Karena itu, Mereka disebut Icchantika penuh welas asih agung. Ada sebuah kisah.

Ada sebuah kisah. Alkisah ada sepasang sahabat. Mereka berdua berguru kepada seorang guru. Mereka sangat menghormati guru mereka. Jika ada kegundahan di hati, mereka akan bercerita kepada sang guru dan meminta petunjuk. Mereka bekerja di perusahaan yang sama. Di dalam perusahaan ini, baik atasan maupun sesama karyawan, sepertinya tidak rukun. Pekerjaan seperti itu sangat melelahkan. Jadi, dua sahabat ini meminta petunjuk dari gurunya. “Kami bekerja di perusahaan itu dan menghadapi banyak tekanan.” dan menghadapi banyak tekanan.” Sang guru berkata, “Hanya demi semangkuk nasi.” Kata-katanya hanya itu. Kedua orang ini mendengarnya. Sekembalinya dari sana, salah satu dari mereka langsung mengundurkan diri dan kembali ke kampung untuk bercocok tanam. “Hanya demi semangkuk nasi.” “Untuk apa saya harus menderita di sini?” “Lebih baik saya pulang dan bercocok tanam dengan sungguh-sungguh.” Dia benar-benar bersungguh hati untuk memperbaiki lahan pertaniannya. Dia memikirkan cara untuk mengolah lahan itu. Akhirnya, dia sangat berhasil. Sahabat yang satu lagi tetap bekerja keras di perusahaan itu. Dia terus bekerja di sana. Akhirnya, dia diangkat menjadi manajer perusahaan. Saat kedua sahabat itu bertemu kembali, salah satu dari mereka bertanya tentang pekerjaan. “Saya masih sama, hanya demi semangkuk nasi.” “Saya masih bekerja di perusahaan lama.” “Apa yang atasan katakan, saya menurutinya.” “Saya bekerja keras sehingga kini saya naik pangkat.” Temannya bertanya, “Benarkah begitu?” “Benar, ” jawabnya. “Waktu saya mendengar nasihat Guru, Hanya demi semangkuk nasi,’ saya malah berpikir untuk apa saya tertekan dalam pekerjaan, maka saya memilih pulang kampung.” “Sekarang saya memiliki pencapaian.” “Benarkah,” tanyanya. “Saya juga mendengar nasihat guru.” “Hanya demi semangkuk nasi, apa yang perlu saya perhitungkan?” “Jadi, saya memilih bekerja keras.” Dua orang ini mendengar kata-kata yang sama dari sang guru. Mereka berdua jarang bertemu. Mereka akhirnya kembali menghadap sang guru. Sudah bertahun-tahun mereka tidak menghadap.

Sang guru juga sudah lanjut usia. Salah seorang dari mereka bertanya, “Saat itu kami meminta nasihat.” “Guru memberi tahu kami.” “Namun, penafsiran kami berbeda.” “Namun, penafsiran kami berbeda.” “Akan tetapi, kami berdua sama-sama berhasil.” “Sesungguhnya, di antara kami berdua, siapakah yang benar dalam menafsirkan nasihat itu?” Sang guru sudah lanjut usia. Beliau perlahan-lahan berkata, “Semua hanya ada pada sebersit niat.” Hanya begitu saja. Benar, semuanya terletak pada pikiran. Saya mengatakan satu hal yang sama, pikiran kalian menafsirkannya seperti apa? Asalkan pilihan kita benar, maka lakukan saja. Asalkan kita tahu bahwa hal itu salah, maka jangan dilakukan. Hal yang benar harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Ini sudah benar. Saudara sekalian, bukankah kita juga demikian? Banyak hal yang kita ucapkan. Banyak pula niat yang terwujud ke dalam perbuatan yang akhirnya merintangi diri sendiri hingga tak dapat memahami ajaran Buddha dan tak dapat bertekad untuk berlatih menuju kebuddhaan. Kita tak dapat mencapai kebuddhaan dan tidak semakin dekat dengan tataran Buddha. Semua ini bergantung pada pikiran kita. Benar. Jika kita menyadari kesalahan, maka segeralah memperbaiki diri. Setelah itu, jangan mengulangi kesalahan yang sama. Dengan demikian, tidak sulit bagi kita untuk melatih diri, juga tidak sulit untuk mencapai kebuddhaan. Semua ini juga bergantung pada pikiran. Jadi, Icchantika sulit mencapai kebuddhaan. Ini merujuk pada dua hal yang harus kita dengar dengan jelas. Pertama adalah memutus akar kebajikan akibat lima karma celaka dan sepuluh kejahatan. Akibat dari karma ini adalah kelahiran di neraka. Berhubung Icchantika memutus akar kebajikan dengan melakukan 10 kejahatan, maka selamanya dia berada di neraka dan sangat sulit untuk terbebas. Yang lainnya adalah welas asih agung.

Icchantika penuh welas asih agung juga sulit mencapai kebuddhaan. Dia sulit mencapai kebuddhaan karena welas asihnya. Dia ingin membimbing tuntas semua makhluk. Semua makhluk pernah menciptakan karma buruk dan pasti ada saja yang terjerumus ke neraka. Jika para makhluk ini belum mencapai kebuddhaan, dia bertekad untuk juga tidak mencapai kebuddhaan. Jadi, Bodhisattva yang penuh welas asih ini terus mendampingi semua makhluk yang masih terus menciptakan karma buruk. Welas asihnya sangat besar, sehingga tak tega meninggalkan semua makhluk dan mencapai kebuddhaan. Dia selamanya berada di tengah semua makhluk karena tak tega semua makhluk menderita. Dia tidak mencari kesenangan bagi diri sendiri. Seperti inilah ikrar Bodhisattva Ksitigarbha. Bagaimana pun, kita adalah makhluk awam. Kita harus sungguh-sungguh menjaga pikiran kita. Kita bersumbangsih dengan cinta kasih, tetapi juga harus menapaki Jalan Bodhisattva. Mencapai kebuddhaan atau belum, kita tetap tidak meninggalkan semua makhluk. Ini jugalah tujuan kita mempelajari ajaran Buddha. Jadi, kita semua harus bersungguh hati. Semuanya bergantung pada pikiran. Icchantika juga bergantung pada pikiran, apakah kita adalah Icchantika penuh welas asih atau Icchantika yang memutus akar kebajikan. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati. 

Leave A Comment