Sanubari Teduh-382-Bertobat Dengan Hati Yang Tulus Dan Murni
Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari saya berharap semua orang dapat menyelaraskan pikiran. Cinta kasih sungguh harus dibangkitkan. Pintu nafsu keinginan harus ditutup. Sedikit pun jangan mengejar nafsu keinginan. Kita juga sudah membahas bahwa Bodhisattva tidak tega melihat semua makhluk menderita, tidak mencari kesenangan bagi diri sendiri. Sesederhana itu. Dua hal ini seharusnya mudah diingat. Terlebih lagi, saat berbuat baik tidak mengharap balasan. Bodhisattva menganggap semua makhluk bagai keluarga sendiri. Kita tidak mencari kesenangan bagi diri sendiri. Kita harus maju selangkah lagi dalam kebajikan. Bukan hanya menjaga diri sendiri, Bukan hanya menjaga diri sendiri, bukan pula hanya menjaga kedamaian diri sendiri. bukan pula hanya menjaga kedamaian diri sendiri. Kita harus bersumbangsih dan berbuat baik tanpa mengharap imbalan. Inilah insan Tzu Chi. Semua orang memahami prinsip kebenaran ini, bahkan mampu menerapkannya. Inilah mengapa saya selalu berterima kasih. Kita harus menganggap semua makhluk bagai keluarga sendiri atau kerabat yang kita kasihi. Jika dapat memiliki pemikiran seperti ini, maka hati Bodhisattva akan bangkit. Dalam aktivitas sehari-hari, kita mempraktikkan Jalan Bodhisattva. Dengan demikian, maka seperti yang kita bahas, semua makhluk menciptakan karma. Berbagai karma ini bermula dari pikiran dan terwujud ke dalam tindakan. Akibatnya, semua makhluk terjebak dalam kelahiran kembali dan sulit membebaskan diri. Mereka ingin memohon kepada para Buddha dan Bodhisattva. Namun, keburukan yang kita lakukan begitu banyak, siapa yang dapat menolong? Jadi, kita harus menolong diri sendiri. Kita harus terlebih dahulu menenangkan batin sendiri dan mengendalikan nafsu keinginan serta mengembangkan cinta kasih kita yang tanpa noda dan tanpa cela.
Apa yang dimaksud cela? Ada yang disebut bercela dan tanpa cela. Kebajikan kita haruslah tanpa cela. Kebajikan tanpa cela berarti bebas dari noda dan tanpa pamrih. Jika kita tidak mengharap balasan, inilah yang disebut kebajikan yang tanpa noda dan kemelekatan. Ini jugalah yang disebut kebajikan tanpa cela. Apa yang dimaksud cela? Cela adalah noda batin. Jika memiliki pamrih, berarti ada noda batin. Jika tidak memiliki pamrih, berarti bebas noda batin. Jika memiliki pamrih dalam berbuat baik, maka itu disebut kebajikan bercela. Saat menciptakan sedikit berkah, banyak orang berpikir, “Dengan melakukan ini, kehidupan saya harus lancar karena saya sudah berbuat baik dan pasti mendapat berkah.” Jadi, saya pasti menang berjudi.” “Bisnis saya pasti untung.” “Saya sudah berbuat baik.” “Sekeluarga saya pasti selamat dan sejahtera.” “Orang lain sakit karena tidak berbuat baik.” “Saya sudah berbuat baik, maka keluarga saya pasti baik-baik saja dan bebas dari penyakit.” Namun, jika ada anggota keluarga yang sakit Namun, jika ada anggota keluarga yang sakit atau mengalami suatu kejadian, orang seperti ini mulai risau. “Saya jelas-jelas sudah berbuat baik, mengapa anggota keluarga saya bisa terserang flu?” “Mengapa hal ini terjadi di keluarga kami?” “Mengapa hal ini terjadi di keluarga kami?” “Lalu apa gunanya saya berbuat baik?” Kerisauan dan noda batinnya bangkit. Saat noda batin bangkit, niat baik akan mudah lenyap. Jadi, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus belajar untuk bebas dari cela dan pamrih. Ini berarti bebas dari noda batin. Bebas dari cela berarti murni. Batin kita menjadi murni.
Pada dasarnya, kita memiliki hakikat kebuddhaan yang tidak ternoda. Tidak ternoda berarti tanpa cela. Jadi, jika kita memiliki cela, berarti kita telah tercemar oleh noda batin. Pintu cela ini telah terbuka. Saat pintu cela terbuka, maka diri kita bagaikan sebuah wadah yang diisi air, tetapi bocor. yang diisi air, tetapi bocor. Saat air bersih diisikan ke dalam wadah itu, ia tetap akan bocor ke luar. Sama halnya, jika kita memiliki cela, maka sebanyak apa pun kita mendengar Dharma, kita juga akan segera melupakannya. kita juga akan segera melupakannya. Kita sudah seharusnya melakukan perbuatan baik. Kita biasa berkata, “Saya sudah tahu, kita harus tanpa pamrih dalam bersumbangsih.” “Ini masuk akal, saya sudah paham.” Namun, sangat mudah untuk terjebak di dalam niat berbuat baik demi mencari berkah. Kita hanya tahu berbuat baik, tetapi melupakan semangat tanpa pamrih, tanpa noda, dan tanpa kemelekatan. Bagian ini kita lupakan. Ini yang disebut bercela atau bocor. Saat diajarkan tentang berbagai prinsip kebenaran, ajaran ini juga akan kita lupakan. Ini yang disebut bocor atau bercela. Setiap pagi, sesuai kebaktian, kalian pasti melantunkan Gatha Pelimpahan Jasa. “Semoga mengikis habis tiga rintangan.” “Semoga memperoleh kebijaksanaan dan memahami kebenaran.” Setiap orang bertekad seperti ini. Sebagai praktisi Buddhis, kita harus melenyapkan tiga rintangan. Banyak rintangan berasal dari noda batin. Tiga rintangan ini bisa merintangi kita. Tiga rintangan ini bisa merintangi kita. Berikutnya dibahas mengenai tiga alam. Apa yang disebut tiga alam? Dalam segala yang kita lakukan, kita memiliki pamrih atau berbagai harapan duniawi. Tiga alam berada di lingkaran kelahiran kembali. Kita berbuat baik demi mendapat berkah, sehingga memiliki harapan duniawi.
Semua ini tak lepas dari tiga alam. Tiga alam tak lepas dari hukum sebab akibat. Ini yang disebut tiga eksistensi. Yang pertama adalah eksistensi nafsu, yaitu kelahiran kembali di alam nafsu. Tadi kita sudah membahas banyak orang berpikir, “Jika berbuat baik, keluarga saya pasti selamat.” “Saya akan dilindungi dan semua pasti lancar.” Ini yang disebut eksistensi nafsu. Inilah tataran alam nafsu. Jadi, meski kita ada berbuat baik, tetapi kita punya keinginan yang membawa banyak rintangan. Bukankah ini adalah ketamakan? Bukankah ini adalah ketamakan? Kita berharap keluarga kita, orang-orang yang kita kasihi, dan lingkungan hidup kita semakin baik. Ini juga merupakan rintangan ketamakan, tamak akan nafsu keinginan. Ini yang disebut pelimpahan jasa alam nafsu. Yang sedikit lebih tinggi adalah eksistensi atau alam rupa. Mengenai rupa, Meski tahu bahwa sakit flu atau lainnya adalah sesuatu yang alami dan tiada hubungannya dengan berbuat baik atau melakukan karma tertentu. Ini adalah sesuatu yang alami. Dengan pemahaman ini, kita melampaui pemikiran alam nafsu. Namun, kita belum bebas dari alam rupa. Apa yang disebut alam rupa? Dilihat dari sisi waktu dan ruang, kita masih memiliki kemelekatan terhadap segala bentuk materi. Contohnya, topan. Di dunia ini, tiada yang bisa bertahan dari terjangan angin dan air. Kita juga merasa khawatir. Orang-orang yang berada di daerah bencana khawatir apakah tanah di daerah mereka akan rusak atau apa yang akan terjadi pada rumah mereka. Jika rumah mereka rusak, mereka akan menderita. Mereka tidak rela hasil usaha mereka seumur hidup menjadi sia-sia. Mereka berharap bisa terbebas dari bencana. Mereka hanya bisa berdoa.
Saat topan berlalu, yang terlihat adalah kerusakan di mana-mana. Pohon tumbang, rumah rusak, jalan pun hancur. Orang yang melihatnya tentu merasa risau. Saat melihat wujud penderitaan, manusia akan risau. Saat mendengar topan akan datang, manusia berdoa memohon keselamatan. Namun, kita tak pernah berpikir apa yang menyebabkan bencana datang. Ini adalah akibat karma buruk kolektif yang bersumber dari api nafsu keinginan, arus ketamakan, serta angin kebodohan. Saat semua ini bangkit, karma buruk akibat ketamakan, kebencian, dan kebodohan akan tercipta. Bencana alam dan ketidakselarasan iklim terjadi akibat perpaduan energi. Aliran energi terjadi akibat perpaduan berbagai sebab dan kondisi. Dari sana, terjadilah topan dengan berbagai skala kekuatan. Skala dari topan itu bergantung pada kekuatannya. Topan yang kuat akan membawa kerusakan besar. Kuat atau ringannya topan ini ditentukan oleh kekuatan karma semua makhluk. Jika kita memahami ajaran Buddha, maka kita bukan hanya berdoa saat mendengar kabar topan akan datang. saat mendengar kabar topan akan datang. Kita harus menganalisis masalah hingga ke akarnya. Ini adalah akibat karma buruk kolektif semua makhluk. Jadi, mengenai tataran alam rupa, asalkan sesuatu atau materi itu berwujud, ia pasti bisa rusak. Segala sesuatu yang memiliki rupa pasti mengalami fase terbentuk, berlangsung, rusak, dan hancur. Jadi, yang dikejar belum tentu didapatkan. Begitu ketamakan kita bangkit, karma yang tercipta akan berpengaruh bagi dunia. Contohnya pemanasan global atau perubahan iklim, semuanya berpengaruh bagi alam. Selama sesuatu memiliki wujud atau materi, maka ia akan melewati fase kerusakan. Jadi, saat menciptakan berkah, kita bukan mengharapkan sesuatu atau menanti setelah sesuatu terjadi.
Kita sering membahas tentang karma kolektif. Jika setiap orang berbuat baik, maka kekuatan kebaikan akan sangat besar. Topan mungkin tetap datang, tetapi yang tadinya berskala besar mungkin menjadi skala ringan. Mungkin juga pergerakan topan itu berubah arah. Dengan demikian, dampaknya pun berbeda. Kita sering berkata bahwa kebaikan dan kejahatan tengah tarik-menarik. Di sini ada begitu banyak orang. Jika hanya sedikit orang yang berbuat baik, maka tak akan cukup. Kita harus memengaruhi lebih banyak orang. Jika tidak, maka saat ada bencana badai atau banjir, apakah mungkin yang tersapu hanya milik orang lain, sedangkan milik kita tetap selamat? Apakah saat terjadi banjir, seluruh wilayah banjir, rumah orang lain kebnajiran, tetapi karena kita seorang berbuat baik, lalu rumah kita sendiri tidak kebanjiran? Apakah mungkin? Tidak mungkin. Jadi, alam rupa memiliki fase terbentuk, berlangsung, rusak, dan hancur. Saat mengalami kerugian atau kehilangan, janganlah kita berpikir, “Saya sudah banyak berbuat baik, mengapa saat orang lain terkena bencana, saya juga terkena bencana?” Jangan berpikir demikian. Kita harus berpikir bahwa kebajikan kita belum cukup. Tidak cukup jika hanya diri sendiri yang berbuat baik. Kebaikan harus dilakukan bersama-sama. Dengan begitu, saat kejahatan dan kebaikan tarik-menarik, barulah kekuatan kebaikan akan cukup besar. Dengan begitu, barulah kita dapat mencegah arus energi dan meredam bencana. Jadi, janganlah kita melimpahkan jasa berlandaskan eksistensi rupa. Jangan pula melimpahkan jasa berlandaskan eksistensi tanpa rupa. Apa yang disebut tanpa rupa? Tanpa rupa berarti tidak lagi melekat pada keluarga, juga tidak melekat pada materi.
Berhubung tidak lagi melekat pada berbagai hal ini, maka tidak akan lagi terluka. Apa lagi yang dikejar? Eksistensi tanpa rupa. Kemelekatan masih tetap ada. Dalam hal apa? Pemikiran kita. Pikiran kita. Meski dalam berbagai hal kita mengaku tidak lagi melekat, tetapi di dalam batin kita masih ada kemelekatan. Meski kita mengatakan bahwa segala sesuatu di dunia mengalami fase timbul dan tenggelam, terbentuk dan hancur sebagai sesuatu yang alami dan kita mengaku sudah memahaminya, tetapi kemelekatan di dalam batin atau kebocoran kita masih belum habis tuntas. Kita masih memiliki noda di dalam batin, hanya saja benih noda batin ini terpendam, ibarat benih yang terhimpit oleh batu sehingga tidak dapat tumbuh. Namun, benihnya masih terpendam di dalam batin kita. Alam tanpa rupa juga masih berada dalam kelahiran kembali. Sebagai praktisi Buddhis, kita harus belajar untuk tidak melimpahkan jasa bagi kepentingan tiga eksistensi. Artinya, kita tidak mengejar apa pun. Yang penting, lakukan saja yang seharusnya dilakukan. Ini merupakan kewajiban kita. Berhubung sudah terlahir di dunia ini, kita tidak tega melihat semua makhluk menderita. Kita juga tidak mencari kesenangan bagi diri sendiri. Kita juga tidak mengharap balasan saat berbuat baik. Kita juga memandang semua makhluk dengan setara bagaikan keluarga sendiri. Semua ini sudah dilakukan. Pelimpahan jasa apa lagi yang harus dilakukan? Tidak perlu. Kita hanya perlu melimpahkan jasa “Semoga mengikis habis tiga rintangan”. Kita harus benar-benar mengikis habis tiga rintangan. Ketamakan, kebencian, kebodohan, kemelekatan pada eksistensi nafsu, rupa, tanpa rupa, semuanya harus kita lenyapkan. Dengan begitu, baru tiga rintangan dapat dilenyapkan dan noda batin dapat dibuang. Jika kita masih memiliki harapan atas pahala, berarti kita masih memiliki rintangan. Ini akan merintangi pelampauan keduniawian. Jadi, dikatakan, “Demikianlah berbagai karma buruk ini tidak terbatas.” “Kini kami bertobat secara terbuka di hadapan di sepuluh penjuru, Dharma yang mulia, dan Sangha yang suci.”
Karma buruk ini sesungguhnya amat banyak. Sebelumnya kita juga sudah membahas banyak tentang noda batin apa menciptakan karma apa. Istilah yang ada sungguh banyak. Intinya, jenis-jenis karma buruk amat banyak dan tidak terbatas. Berhubung kita tahu bahwa kita telah menciptakan banyak karma buruk, maka kini kita harus bertobat secara terbuka terhadap para Buddha di 10 penjuru, Dharma yang mulia, dan Sangha yang suci. Kita adalah praktisi Buddhis. Kita mempelajari kebenaran dari ajaran Buddha. Kita menerima ajaran Buddha sehingga mulai paham bahwa kita harus bertobat secara terbuka atas kesalahan masa lalu. Inilah pemurnian. Kita harus sangat tulus bertobat secara total di hadapan para Buddha di 10 penjuru, Dharma yang mulia, dan Sangha yang suci. Pertobatan bagaikan air yang membersihkan kotoran. Jadi, kita harus tulus bertobat secara terbuka dan menyeluruh. Kita harus melenyapkan noda dan kotoran batin kita. Inilah pertobatan yang sesungguhnya. Jadi, Dharma bagaikan air yang dapat membersihkan kotoran. Harap semua orang dapat senantiasa menerapkan Dharma di dalam kehidupan sehari-hari. Senantiasalah bersungguh hati.