Sanubari Teduh-381- Membuka Pintu Kebijaksanaan
Membuka Pintu Kebijaksanaan Saudara se-Dharma sekalian, misi kita dan kewajiban kita setiap hari adalah menjaga pikiran dan tekad Bodhisattva kita dengan baik. Inilah tekad kita dalam berlatih ajaran Mahayana. Jadi, mempelajari ajaran Buddha haruslah mempraktikkan Jalan Bodhisattva. Setiap hari kita harus berjalan di Jalan Bodhisattva dan terus maju selangkah demi selangkah. Kita tak boleh berhenti. Kondisi batin Bodhisattva selamanya tidak tega melihat semua makhluk menderita; tidak mencari kesenangan bagi diri sendiri. Inilah kondisi batin yang harus kita bina, juga merupakan ajaran Buddha kepada kita. Dari tataran makhluk awam menuju kebuddhaan, harus melewati sebuah jalan yang merupakan jalan pelatihan kita. Dunia Saha ini disebut dunia yang makhluknya harus menahan derita. Sesuai namanya, Sesuai namanya, dunia ini penuh penderitaan. Orang yang menderita sangat banyak. Oleh karena itu, Buddha datang ke dunia demi satu tujuan mulia, yaitu membuka hati dan menunjukkan ajaran agar semua menyadari dan menyelami kebenaran. Buddha ingin membuka hati semua makhluk. Penderitaan di dunia sangat banyak dan beraneka ragam. Apakah hidup miskin baru disebut menderita? Orang kaya juga memiliki banyak penderitaan karena di dunia ini orang tidak pernah puas. Saya sering mengatakan bahwa saat memiliki satu, orang merasa kurang sembilan. Begitu ketamakan bangkit, sebanyak apa pun harta yang dimiliki tetap terasa tidak cukup. Bagi orang yang mampu, saat ketamakannya makin besar saat ketamakannya makin besar dan noda batinnya bangkit, maka karma yang diciptakan bisa semakin luas. Kita sering membahas terciptanya karma. Dalam mempelajari ajaran Buddha, bagaimana kita mencegah terciptanya karma buruk? Kita harus terlebih dahulu menutup pintu nafsu dan membuka pintu kebijaksanaan. Nafsu keinginan harus diredam dan dikendalikan. Karena itu, kita juga pernah membahas tentang sila.
Sila bertujuan untuk mencegah kesalahan dan menghentikan keburukan. Sila berguna untuk melindungi jiwa kebiijaksanaan kita dan mencegah diri kita melakukan kesalahan atau berjalan di jalan yang menyimpang. Karena itu, kita membutuhkan sila. Kita memiliki sila Bodhisattva. Untuk menjadi Bodhisattva, kita harus memegang teguh sila ini. Bukan hanya itu, kita juga harus mempraktikkan cinta kasih dan meredam nafsu keinginan. Cinta kasih yang tak berwujud harus dibangkitkan. Ini yang disebut Jalan Bodhisattva. Jadi, Bodhisattva harus melatih rasa iba terhadap penderitaan semua makhluk. Sering dikatakan bahwa Bodhisattva muncul karena adanya penderitaan. Karena di dunia ini banyak makhluk yang menderita, barulah dibutuhkan adanya Bodhisattva. Jadi, Bodhisattva datang ke dunia dengan berlandaskan jalinan jodoh dengan orang-orang yang menderita. Berhubung kita sudah terlahir di dunia dan telah berjodoh dengan Buddha serta telah memilih ajaran Buddha, maka kita harus menapaki sebuah jalan yang disebut Jalan Bodhisattva. Jadi, kita harus mengembangkan rasa tak sampai hati melihat semua makhluk menderita. Rasa iba ini harus dikembangkan. Rasa iba terhadap penderitaan semua makhluk ini disebut rasa empati. Jika setiap orang memiliki rasa empati, kita tak akan tega melihat semua makhluk menderita. Kita tidak mengejar kesenangan bagi diri sendiri. Melihat semua makhluk menderita, jika kita hanya mementingkan keselamatan pribadi dan kebahagiaan sendiri, maka ini sama sekali tidak bermakna. Bukan hanya tidak bermakna, tetapi juga menciptakan karma buruk. Lihatlah saat ini, orang-orang banyak mengejar kenikmatan. Baik dari segi pakaian, makanan, tempat tinggal, dan transportasi, semuanya mementingkan merek dan kepraktisan. Gedung-gedung tinggi dibangun. Namun, orang-orang juga menuntut kenyamanan dalam berjalan. Hanya dengan menekan tombol, lift akan datang. Dari lantai satu ke lantai dua saja harus naik lift, terlebih lagi ke lantai tiga, empat, lima, dan seterusnya. Inilah ketamakan akan kepraktisan. Begitu pula dari segi pakaian dan makanan. Dari segi pakaian, manusia ingin yang baik. Orang-orang mementingkan merek pakaian. Sehelai pakaian yang sama, jika di jual di kaki lima, sehelai tidak sampai beberapa puluh atau ratusan dolar. atau ratusan dolar. Saat dikenakan juga terlihat bagus.
Namun, jika pakaian ini dibeli di butik, dibeli di butik, berhubung memiliki merek, maka meski saat dipakai terasa sama saja, harganya tetap berbeda jauh. Saya pernah menceritakan sebuah kisah Saya pernah menceritakan sebuah kisah Ada sehelai pakaian di butik yang sudah dipajang lama sekali dan tidak kunjung laku. Pemilik butik merasa aneh. Pakaian itu berbahan bagus, mengapa tidak kunjung laku? Banyak orang yang melihat dan mencoba pakaian itu. Mereka berkata bahwa pakaian itu bagus. Saat mereka bertanya berapa harga pakaian itu dan dijawab dua ribu dolar, mereka tidak jadi membelinya. Si pemilik butik merasa aneh. Pakaian itu begitu indah dan tidak begitu mahal, mengapa tidak laku? Suatu hari, seorang temannya datang. Dia melihat pakaian yang sama, juga sudah merabanya. Temannya ini adalah langganannya. Dia bertanya, “Baju ini begitu bagus.” “Setelah melihat-lihat, mengapa kamu tidak membelinya?” Temannya menjawab, “Meski bagus, tetapi harganya murah.” “Apakah benar itu barang bagus?” “Apakah benar itu bermerek?” Si pemilik butik akhirnya mengerti. Si pemilik butik akhirnya mengerti. Setelah temannya pergi, dia mengubah harga pakaian tadi dia mengubah harga pakaian tadi dia mengubah harga pakaian tadi menjadi delapan ribu dolar. Setelah harga diganti, keesokan harinya ada orang lain yang datang, lalu melihat-lihat baju itu. Dia merasa baju itu sangat bagus. Setelah melihat harganya delapan ribu dolar, dia langsung membelinya. dia langsung membelinya. Si pemilik butik ini adalah anggota komite Tzu Chi. Dia menyumbangkan enam ribu dolar. Dia berkata, “Master, dahulu saya akan sangat senang menerima uang ini, tetapi kini saya merasa tidak sesuai dengan hati nurani saya.” “Harga baju itu sebenarnya adalah dua ribu dolar, tetapi agar baju itu laku, saya menyesuaikan dengan psikologi pembeli, maka memasang harga delapan ribu dolar.” “Sekarang saya merasa melanggar hati nurani sendiri.” “Saya ada laba lebih enam ribu dolar, maka saya menyumbangkannya.” Ini adalah kisah yang saya dengar saat saya pergi ke Taipei. Jika dibahas lebih jauh, baju yang sama, jika dijual di kaki lima mungkin harganya hanya dua ratus dolar. Di butik harganya bisa mencapai dua ribu dolar. Bahkan, karena dirasa terlalu murah, orang-orang merasa tidak puas berhubung itu adalah barang bermerek.
Harga barang itu perlu dinaikkan agar sesuai dengan harga barang bermerek. Semua makhluk sudah tersesat dan keliru. Dengan enam ribu dolar, berapa banyak keluarga yang bisa kita tolong? Karena itu, sering dikatakan bahwa Satu kali santapan keluarga mampu sama dengan makanan setengah tahun keluarga tidak mampu. Satu kali makan bagi orang berada mungkin menghabiskan beberapa ribu dolar, sedangkan bagi orang kurang mampu, pendapatan satu tahunnya mungkin tidak sampai enam ribu dolar. Kalian bisa pergi ke Tiongkok, Indonesia, atau Sri Lanka untuk mencari tahu kehidupan warga di sana dan berapa pendapatan mereka per tahun. Di Sri Lanka, pendapatan rata-rata warga per tahun adalah 120 dolar AS (1,5 juta rupiah) atau beberapa ribu dolar Taiwan. Bayangkan, saat keluarga berada pergi makan, saat keluarga berada pergi makan, biaya yang harus dikeluarkan sudah melampaui penghasilan buruh selama setahun. Intinya, kehidupan manusia penuh kekeliruan. Kita sudah membahas bahwa manusia mengejar kenikmatan dalam hal pakaian, makanan, tempat tinggal, dan transportasi. Jelas-jekas ada begitu banyak orang menderita, tetapi kita tak bisa membangkitkan rasa empati. Kita tetap berbuat sesuka hati Kita tetap berbuat sesuka hati terus mencari kesenangan serta kenikmatan. Bodhisattva tidak sampai hati melihat semua makhluk menderita. Mereka tidak mencari kesenangan bagi diri sendiri. Jadi, kita harus ingat bahwa di dalam kehidupan sehari-hari, kita harus sangat hemat. Pola hidup hemat adalah sikap terpuji. Kini kita terus menyosialisasikan pola hidup minim emisi karbon. Kita bahkan harus menghemat listrik, terlebih lagi konsumsi yang tidak perlu. Suatu ketika, saat saya berkunjung ke RS kita, kepala RS menekan tombol lift. Saya bertanya, “Kita hendak ke lantai berapa?” Beliau menjawab, “Lantai dua.” Saya berkata, “Apakah kamu lupa?” “Lantai enam belas pun saya bisa pakai tangga, masak hanya ke lantai dua perlu pakai lift?” Beliau berkata, “Saya mempertimbangkan kaki Master yang sedang sakit.” Saya berkata, “Naik dua tiga lantai seharusnya tidak masalah.”
Saya pun segera menuju anak tangga dan mulai berjalan naik. Setibanya di lantai atas, saya berkata, “Bukankah ini hal yang mudah?” Beliau berkata, “Ya, biasa saya juga naik tangga.” “Kami juga menggalakkan pelestarian lingkungan.” Saudara sekalian, dalam kehidupan sehari-hari, kita harus beradaptasi dengan alam. Jadi, kita bukan hanya tidak boleh mengumbar kenikmatan, Berikutnya dikatakan, Berikutnya dikatakan, “Adakalanya melakukan kebajikan bercela demi pahala di tiga alam sehingga merintangi pelampauan keduniawian.” Bukan hanya tidak boleh mengejar kenikmatan, kita juga harus mengembangkan cinta kasih kita. Kita harus menutup pintu nafsu keinginan kita dan senantiasa berbuat baik. Memang sebagian orang mulai bersedia berbuat baik. Namun, kebaikan itu memiliki cela. Dalam berbuat baik, mereka mengharap balasan. Ada orang yang berkata, “Berbuat baik akan mendapat berkah.” “Karena itu, saya ingin memohon, jika saya menolong orang, berkah saya akan bertambah.” “Jika saya berdana, maka usaha saya akan menghasilkan untung.” “Untung saya ada berdana, sehingga kini usaha saya lancar.” Ada pula orang yang berpikir, “Saya harus segera bersembahyang.” “Saya harus segera bersembahyang.” “Hidup saya sangat sulit.” “Saya ingin bahagia di kehidupan mendatang.” “Semoga kelak saya menjadi orang berada dan bisa menikmati hidup.” Ini disebut kebajikan bercela. Bersumbangsih, tetapi memiliki pamrih. Insan Tzu Chi selalu berkata, “Bersumbangsih tanpa pamrih.” Bukan hanya tanpa pamrih, kita juga harus bersyukur. Demikianlah insan Tzu Chi di seluruh dunia. Semua orang bersumbangsih dengan sukarela. Sesulit apa pun kondisi yang dihadapi, mereka tetap menerimanya dengan sukacita. Meski telah banyak berbuat baik dan berdedikasi tinggi, tetapi jika sesuatu terjadi pada diri atau lingkungan mereka, mereka tetap dapat mengendalikan batin dan menerimanya dengan kebijaksanaan. Prof. Xie dari National Taiwan Univ. mengendarai sebuah sepeda. Saat itu beliau hendak berangkat kerja sembari berolahraga. Seseorang dengan keterbelakangan mental melihat Prof. Xie ini, lalu memukulnya tepat di atas kepala. Seorang akademisi, tiba-tiba dipukul dengan tenaga yang kuat tiba-tiba dipukul dengan tenaga yang kuat dari atas kepala, akhirnya tumbang.
Setelah itu, orang ini terus menendang tubuh Prof. Xie dan terus memukuli kepalanya. Sesampainya di rumah sakit, Prof. Xie sudah meninggal. Berdasarkan hasil visum dari dokter, beliau mengalami pendarahan di otak. Selain itu, organ hati, limpa, paru-paru, dan lambungnya rusak. Istrinya adalah guru anggota Asosiasi Guru Tzu Chi. Saat menerima berita ini, dia berada di Hualien dan tetap berusaha tenang. Dia segera pulang. Anggota Asosiasi Guru juga mendampinginya. Sesampainya di rumah, dia melihat sudah banyak insan Tzu Chi yang berada di sisi suaminya dan sudah mengatur segala sesuatunya. Tiga orang anaknya juga sudah ditenangkan. Saat melihat kondisi itu, dia masih menggendong tas punggungnya. Saat bertemu insan Tzu Chi, dia langsung berterima kasih. Meski wajahnya penuh air mata, tetapi dia cukup tenang dan terus berterima kasih. Sebelum sempat meletakkan tas punggungnya, dia terlebih dahulu memberi penghormatan bagi almarhum suaminya. Dia mengambil dupa dan berkata pada almarhum suaminya, “Maaf, Tzu Chi organisasi yang demikian baik, tetapi saya belum membawamu masuk.” “Maaf.” “Ada organisasi sebaik ini, saya tidak membawamu masuk.” Saat menerima pukulan hidup yang berat, batinnya masih dapat tenang, bahkan masih tetap berterima kasih. Satu-satunya penyesalannya adalah tidak mengajak suaminya masuk Tzu Chi. Saat itu, ada orang yang bertanya padanya bagaimana pandangannya terhadap si pelaku. Dia berkata, “Saya memaafkannya.” “Memaafkan orang lain berarti berlaku baik pada diri sendiri.” “Jadi, saya harus memaafkannya.” Dia juga menasihati anaknya, “Nak, kejadian yang menimpa Ayah hari ini adalah pelajaran yang menggugah.” “Kita harus menerimanya dengan rasa syukur.” “Ini adalah pelajaran yang menggugah.” Dia adalah orang yang amat bijaksana. Dia bahkan berkata semoga suaminya adalah korban terakhir. Lihatlah sikap batinnya ini. Dia adalah anggota Asosiasi Guru Tzu Chi. Dia mendidik dengan cinta kasih, juga telah menjadi anggota komite Tzu Chi dan bersumbangsih di masyarakat.
Apakah kebaikannya masih kurang? Dia sudah banyak bersumbangsih. Namun, kehidupan setiap makhluk bagaikan sebuah naskah. Setiap orang menulis naskah sendiri pada kehidupan lampau. Kehidupan semua makhluk tak lepas dari hukum sebab akibat. Segala yang diterima pada kehidupan ini adalah buah dari benih yang ditanam pada kehidupan lampau. Dia sudah mendengar banyak dan sudah memahami hal ini. Tiada gunanya terus menuntut. Dia mengembangkan rasa empati, welas asih, dan rasa iba. Dia tidak tega terhadap suaminya, tetapi juga berempati terhadap si pelaku. Si pelaku telah berjalan di jalan yang salah, maka kondisinya di kehidupan ini tentu juga penuh penderitaan. Dia harus menghadapi jeratan hukum. Entah berapa tahun lagi dia baru bisa bebas. Setelah bebas, dia mungkin kehilangan rasa hormat dari orang, juga kehilangan kepercayaan dari orang lain. Jadi, dalam kehidupan ini, orang itu juga menderita. Karena itu, guru ini merasa iba. Dia memaafkannya. Ini yang disebut rasa empati, tidak tega melihat semua makhluk menderita. Sesungguhnya, ingin menuntut seperti apa pun, tidak akan membuat diri sendiri damai. Entah berapa tahun pengadilan menjeratnya. Orang itu pasti menderita. Jadi, guru itu memilih untuk tidak perhitungan dan memilih untuk memaafkan. Dengan rasa maaf di hatinya, dia kembali ke Hualien dan berterima kasih pada saya. Meski dia tetap merasa kehilangan suaminya dan tetap menangis saat bercerita, tetapi masih ada senyuman di wajahnya. Dia datang membawa tiga orang anaknya dan berterima kasih pada keluarga besar Tzu Chi yang membuatnya cepat keluar dari kesedihan itu. Mereka sekeluarga dapat menatap masa depan, berjalan menuju keharmonisan, dan melewati hari-hari dengan damai. Jadi, jika dapat membangkitkan rasa empati, maka berbagai karma ini akan terkikis. Jadi, saat berbuat baik, jangan sampai kebaikan kita bercela. Kita harus bersumbangsih tanpa pamrih. Semua tak luput dari rangkaian sebab akibat masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dalam menapaki Jalan Bodhisattva, kita harus ingat pada hukum sebab akibat. Bukankah kita harus mengamati hukum sebab akibat? Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.