Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-390-Kelahiran Kembali Mengikuti Karma

Saudara se-Dharma sekalian, sebagai praktisi Buddhis, kita harus mempraktikkan ajaran. Kita harus meyakini hukum sebab akibat. Kita sudah membahas bahwa sejak masa tanpa awal, semua makhluk pernah menjadi orang tua atau saudara kita. Di dalam Brahmajala Sutra juga dikatkaan demikian. “Yang perempuan adalah ibuku, yang laki-laki adalah ayahku.” Jadi, semua makhluk merupakan keluarga kita. Berikutnya dikatakan, “Saat terlahir kembali, semua makhluk mengalami perubahan wujud sesuai karma sehingga tidak saling mengenal; membangkitkan niat mencelakai atau memakan dagingnya sehingga melukai cinta kasih.” Di dalam kelahiran kembali, baik terlahir maupun meninggal, baik datang ke dunia baik datang ke dunia maupun meninggalkan dunia, kita mengalami perubahan wujud. Saat orang lanjut usia meninggal, dia akan terlahir kembali sebagai bayi, lalu tumbuh besar. Kelahiran kembali melibatkan perubahan wujud. Saat berganti masa kehidupan, makhluk hidup berganti wujud. Saat berpindah satu masa kehidupan, kita akan berganti satu wujud. Kita belum tentu terlahir dalam wujud manusia. Mungkin saya kita terlahir di alam binatang. Mengenai alam binatang, kita dapat melihat kucing atau anjing peliharaan. Ada kucing yang saat melihat seseorang, langsung merasa senang. Begitu pula dengan anjing. Ia dapat meminta untuk dimanja, disayang, dan dikasihi. Ada pula yang seperti itu. Sebaliknya, adakalanya saat melihat seseorang, entah mengapa ia langsung menggigit dan merasa tidak suka. Tidak dapat dipungkiri, ini adalah rasa dendam atau benci yang terjalin entah dalam kehidupan yang mana. Ini mungkin saja.

Intinya, di dalam enam alam kehidupan, kita harus memiliki cinta kasih yang setara. Jika tidak, saat kita semua terlahir kembali dan berganti wujud, dan berganti wujud, kita hanya akan semakin tidak mengenal, bahkan saling mencelakai. Meski hanya berganti wujud, kita dapat berniat untuk saling mencelakai atau membunuh. Bukankah ini adalah kekeliruan? Begitu pula dalam hubungan antarmanusia. Terhadap orang yang tidak berjodoh, dia baru bicara sedikit saja kita sudah menganggapnya banyak bicara. Kita tidak suka berbicara dengannya. Ini karena kita tak berjodoh dengannya. Ada pula orang yang suka mengucapkan kata-kata yang menyakiti orang lain. Ada juga orang seperti ini. Ada pula orang yang gemar bertikai, bahkan saling membunuh dan mencelakai. Sebagai manusia, mungkin dia tidak jahat, dia hanya tidak berjodoh dengan orang tertentu. Akhirnya, timbul rasa tidak suka dan tidak dapat mengasihi. Mereka tidak saling menyukai dan tidak bisa saling mengasihi. Inilah yang terjadi di dunia ini. Baik terhadap rekan kerja maupun saudara se-Dharma, kondisinya demikian. Ada pula makhluk hidup yang terlahir sebagai binatang. Manusia terus memakannya. Tiada hewan yang tidak dimakan manusia. Manusia seakan tak bisa hidup tanpa makan daging. Bahkan ada orang yang berkata, “Saya pernah makan semua hewan dalam 12 shio, hanya naga yang belum pernah saya makan.” Saya pernah mendengar ini dari teman saya saat saya masih muda. Saat semua orang berbincang-bincang, ada yang bertanya padanya, “Kamu pernah makan daging harimau?” “Tentu pernah,” jawabnya. Dia juga pernah makan daging harimau.

Harimau adalah binatang buas, tetapi manusia sanggup memakan dagingnya, apalagi daging hewan lain. Di dunia ini begitu banyak makhluk hidup. Manusia memakan dagingnya. Yang kuat memakan yang lemah. Inilah yang sering kita dengar dan kita lihat. Ada orang yang sangat kejam dalam hal makan. Mereka tega mengupas kulit hewan hidup-hidup, juga tega memegangi kepala ikan hidup-hidup sambil menggoreng badannya. Orang-orang di meja itu memakan dagingnya bersama-sama. Mulut ikan itu masih membuka dan menutup, tetapi dagingnya sudah dimakan beramai-ramai. Orang-orang di meja itu tengah menanam karma buruk kolektif. Mereka melakukan satu hal bersama-sama, yaitu bersama-sama memakan daging ikan itu. Mereka juga akan sama-sama menerima buahnya. Di dalam Sutra Ksitigarbha terdapat kisah ibu putri brahmana. Bukan hanya tidak menghormati Tiga Permata, dia juga gemar makan daging. Terlebih lagi, yang dimakannya bukan hanya seekor ikan, Bukan. Yang dia makan adalah ikan-ikan kecil. Dalam sekali telan, dia bisa menelan banyak nyawa. Akibatnya, dia terlahir di neraka dan menerima buah penderitaan yang tak terkira. Jadi, Bodhisattva Ksitigarbha pernah lahir menjadi Putri Jyotinetra dan putri brahmana untuk menolong ibu mereka masing-masing.

Bayangkan, karma buruk tercipta hanya karena nafsu makan. Ini bisa membawa pada kelahiran di neraka. Intinya, sebagai manusia, kita harus memandang semua makhluk hidup sebagai orang tua yang memiliki budi luhur terhadap kita. Orang tua kita dalam kehidupan ini memiliki budi luhur terhadap kita. Tentu, orang tua pada kehidupan lampau juga memiliki budi luhur terhadap kita. Lihatlah Sutra Bakti Seorang Anak. Suatu ketika Buddha memimpin Sangha berjalan melewati lahan pemakaman. Orang India tidak dimakamkan setelah meninggal. Orang yang akan meninggal dibawa ke lahan pemakaman. Setelah meninggal, tubuhnya dibiarkan untuk dimakan burung hinga tersisa tulangnya. Jadi, di lahan pemakaman terdapat banyak tumpukan tulang. Jadi, saat Buddha berjalan melewati lahan itu, Beliau melihat setumpuk tulang putih. Buddha lalu memberi hormat pada tulang itu. Para murid-Nya yang melihat merasa heran. “Buddha adalah guru para dewa dan manusia, mengapa menghormat kepada tulang?” mengapa menghormat kepada tulang?” Ananda mewakili para bhiksu untuk bertanya, “Yang Dijunjung, Anda adalah ayah dari semua makhluk dari empat kelahiran, guru para dewa dan manusia, mengapa saat melihat setumpuk tulang, malah memberi hormat?” Buddha menjawab, “Tahukah kalian?” “Tulang ini adalah milik orang tua-Ku pada kehidupan lampau.” “Sesungguhnya, orang tua-Ku pada kehidupan lampau bukan hanya tulang ini, melainkan semua makhluk.” “Jadi, semua orang pernah menjadi orang tua-Ku dalam berbagai kehidupan.”

Buddha sendiri mengatakan demikian. Terlebih lagi, kita adalah makhluk awam. Benar, orang tua kita di kehidupan lampau, sesungguhnya ada berapa banyak? Jika ditumpuk, tulangnya mungkin setinggi gunung. Belum lagi ada orang tua pada kehidupan mendatang. Mungkin kalian yang duduk di sini kelak menjadi orang tua atau guru saya. Jadi, saya harus menghormati kalian semua. Begitu pula kalian semua, harus memandang semua orang bagai orang tua sendiri yang budinya harus dibalas atau bagai saudara sendiri. Sebagai saudara, kita harus menjaga norma antarsaudara. Kasih sayang antarsaudara juga harus diperhatikan. Kita harus terus mengembangkan cinta kasih terhadap siapa pun. Mereka hanya berganti wujud dan berganti masa kehidupan. Saat manusia berganti kehidupan, kita tidak lagi saling mengenal. Meski hanya berbeda satu kehidupan, kita tidak lagi saling mengenal semua orang dan lupa siapa mereka pada kehidupan lampau. Begitulah makhluk awam. Kini, di kehidupan sekarang, kita berniat untuk saling melukai. Di kehidupan lampau, kita mungkin saudara. Terhadap saudara, kita mungkin juga pernah menjalin jodoh buruk sehingga pada kehidupan ini kita berebut harta. Terlebih lagi, kita berniat untuk saling melukai atau saling memakan. Di manakah hati nurani kita? Di manakah rasa kemanusiaan kita? Ini sungguh menyedihkan.

Manusia sungguh melukai cinta kasih. Makan daging sangat melukai rasa cinta dan welas asih. rasa cinta dan welas asih. Hilangnya welas asih dimulai dari makan daging. Hilangnya welas asih dimulai dari makan daging. Jika Anda sampai tega makan daging, berarti Anda telah diliputi kegelapan batin sehingga memiliki hati yang begitu kejam. Anda telah kehilangan cinta kasih. Tak heran jika Buddha menyebut kita makhluk hidup awam. Jika kita ingin menjadi manusia, maka kita harus beda dari makhluk pada umumnya. Semua makhluk saling memakan, bahkan ikan besar memakan ikan kecil. Kita manusia berbeda dari makhluk lain karena bisa mengasihi semua makhluk hidup. Karena itu, manusia disebut sebagai makhluk tercerdas di antara semua makhluk. Kita dapat mengasihi semua makhluk. Ini baru dapat disebut manusia. Jadi, Buddha berkata bahwa jika kualitas sebagai manusia dapat dipenuhi, maka kebuddhaan pasti dapat dicapai. Sebagai manusia, kita harus menyempurnakan kualitas sebagai manusia. Dengan begitu, kita akan mencapai kebuddhaan.

Berikutnya dikatakan, “Karena itu, Buddha berkata bahwa sebelum memakan yang lain, pikirkanlah apakah kita cukup lapar untuk memakan daging anak sendiri.” Di sini kita diajarkan untuk tidak makan daging dan bervegetaris. Ini sesungguhnya tidaklah sulit. Kita hanya perlu mengubah pola pikir dan menumbuhkan cinta kasih sehingga tak tega memakan daging makhluk lain. Kita masih memiliki bahan makanan lain. Vegetarian zaman sekarang juga sudah banyak. Masakan vegetaris juga sangat beragam. Namun, di dunia ini ada tiga bencana besar dan tiga bencana kecil. Tiga bencana kecil mencakup kelaparan. Bencana kelaparan terjadi jika bumi ini tidak mampu lagi menumbuhkan tanaman pangan. Ini terjadi akibat kekeringan. Kekeringan pernah terjadi di Korea Utara selama lima tahun. Entah apakah kalian masih ingat. Saat itu kita ada menyalurkan bantuan ke sana. Saat itu bahkan rumput tak dapat tumbuh di sana. Warga di sana hanya makan akar rumput dan kulit pohon. Ini adalah lingkaran keburukan. Mereka tak memiliki makanan hingga harus mengorek akar rumput. Bayangkan, akar rumput pun mereka korek. Kalaupun hujan turun, rumput tak akan tumbuh lagi. Kulit pohon pun mereka makan. Jika begitu, pohon juga bisa mati. Pohon terlindung oleh kulit pohon. Lihatlah, bencana kekeringan sudah terjadi. Namun, di dalam Sutra Buddha dikatakan bahwa saat kelaparan dan kekeringan terjadi, hujan tak akan turun selama tujuh tahun. hujan tak akan turun selama tujuh tahun.

Di Korea Utara, hujan tidak turun selama 5 tahun, manusia sudah harus memakan akar rumput, apalagi jika hujan tak turun selama tujuh tahun. Ini yang dikatakan oleh Buddha. Ini adalah salah satu dari tiga bencana kecil. Jika waktunya tiba, bagaimana mungkin ada makanan? Meski bervegetaris, kita juga tidak punya makanan. Bahkan, akar rumput pun sudah habis dikorek. Apa yang bisa dimakan pada saat itu? Jadi, mulai sekarang kita harus sungguh-sungguh mengembangkan cinta kasih. Jika saat ini setiap orang memiliki cinta kasih, maka tiada karma buruk kolektif. Jika semua orang sama-sama membangkitkan cinta kasih, maka tiada niat jahat yang timbul. Jika tiada niat jahat yang timbul, maka tidak akan ada bencana dan tidak ada perubahan iklim ekstrem. Dengan demikian, tidak akan ada kekeringan yang membuat tanaman pangan tidak tumbuh. Jadi, intinya kita tetap harus mengembangkan karma baik dengan cinta kasih. Kita harus banyak menciptakan berkah. Dengan memiliki berkah, maka iklim tentu akan bersahabat dan tanaman pangan akan tumbuh. Baiklah. Semua hendaknya selalu bersungguh hati.

Leave A Comment