Sanubari Teduh-389-Menjaga Sila dan Saling Mengasihi
Saudara se-Dharma sekalian, “Menghormati kehidupan, menjaga sila dan saling mengasihi, makhluk berperasaan ataupun tidak, semua yang bernyawa memiliki kesadaran, semuanya ingin hidup dan takut dibunuh atau dilukai.” Inilah kasih sayang kepada semua makhluk. Kita semua harus menghormati kehidupan. Bukan hanya menghormati kehidupan, kita juga harus menjaga sila dan saling mengasihi. Kita harus sungguh-sungguh menjaga pikiran kita dan memperhatikan perilaku kita. Kita harus memikirkan segala sesuatu baik yang bernyawa maupun tidak. Yang tak bernyawa contohnya adalah rumput dan kayu. Apakah rumput dan kayu benar-benar tidak bernyawa? Jika tidak bernyawa, bagaimana sebutir benih dengan dukungan berbagai kondisi dapat tumbuh menjadi rumput atau kayu? atau kayu? Semua ini bagaikan memiliki nyawa. Ini termasuk semua benda di dunia. Saat suatu benda berguna, maka ia bagai memiliki nyawa. Benda apakah yang tidak memiliki guna? Ambil lantai sebagai contoh. Penopang alas duduk kalian saat ini disebut lantai. Karena tanah ini dilapisi semen. Karena tanah ini dilapisi semen. Namun, semen saja tidak cukup. Demi kebersihan, digunakanlah lantai berbahan kayu. Inilah kegunaan lantai. Tanpa pelapis lantai ini, mana mungkin ruangan ini sebersih sekarang sehingga kita bisa duduk di sana? Tanpa semen di bawah lapisan lantai, bagaimana tanah bisa menjadi rata? Tanpa adanya lapisan tanah, bagaimana lapisan semen bisa menjadi solid? Bayangkan, semuanya memiliki guna atau fungsi. Semuanya bagaikan memiliki nyawa.
Sesuatu yang berguna bagaikan bernyawa. Kadang saat membeli suatu alat, kita mencari informasi berapa lama garansinya. Artinya, kegunaan alat tersebut dapat bertahan berapa lama dan dijamin berapa lama. Arti lainnya adalah berapa lama alat itu dijamin tidak akan bermasalah. Ini dijamin oleh penjual. Seperti zaman sekarang, manusia memiliki asuransi jiwa. Saat sakit, manusia juga harus berobat. Ini ibarat garansi pada barang. Dunia materi memiliki sifat yang sama. Jadi, kita harus menjaga sila dan saling mengasihi. demi menghormati kehidupan. Segala sesuatu mengandung kehidupan. Jadi, kita harus menjaga sila dan saling mengasihi. Kita harus mengasihi semua makhluk. Segala yang berperasaan ataupun tidak, memiliki kehidupan, terlebih lagi makhluk hidup yang memiliki kesadaran. Dengarkah suara burung berkicau? Dengar. Dengarkah serangga mengerik? Dengar. Semua itu juga kehidupan. Jadi, segala yang memiliki kesadaran adalah kehidupan. Segala yang bernyawa pasti ingin hidup dan berharap untuk tidak dibunuh. Kita dapat melihat burung bertengger di pohon, sangat gembira. Mereka juga memiliki keluarga. Ada burung betina ada burung jantan yang menjaga anak mereka di atas pohon, juga mengajari anak mereka mencari makan, mengajari anak mereka terbang. Jika kita melempar batu ke arah kawanan burung, mereka pasti beterbangan. Lihatlah, mungkin mereka beterbangan mencari anggota keluarga mereka. Kemudian, kereka mungkin berkumpul kembali. Kadang saat melihat kawanan burung terbang, ada seekor yang menjadi pemimpin. Mereka terbang membentuk sudut, begitu teratur.
Bayangkan, bukankah ini termasuk kehidupan? Mereka hidup di dunia mereka, memiliki norma dan peraturan sendiri. Jadi, mereka pun sama, berharap untuk hidup dan takut mati. Jadi, kita harus senantiasa melindungi kehidupan dengan cinta kasih. Jadi, di dalam kehidupan sehari-hari, kita harus menjaga sila dan saling mengasihi. Dikatakan, “Jangan membunuh, jangan memukul dengan tongkat.” “Meski binatang memiliki beragam jenis, tetapi sama-sama ingin hidup dan takut mati.” Ini memberi tahu kita agar kita tidak membunuh. Membunuh bisa dilakukan dengan pisau, bisa dilakukan dengan tongkat. Kita sering mendengar di zaman dahulu, saat akan menyembelih sapi, orang memukul kepalanya terlebih dahulu dengan tongkat baru membunuhnya. Saya pernah mendengar ini saat masih kecil. Kini entah bagaimana caranya. Namun, masyarakat sekarang juga masih sama. Di masyarakat sering terjadi kasus pembunuhan. Pembunuhan dilakukan dengan berbagai cara. Kita merasa merinding mendengarnya dan merasa manusia begitu kejam. Membunuh orang berarti berutang nyawa kepada orang lain. Apa pun hukumannya di dunia ini, itu hanyalah bersifat sementara, entah itu ringan atau berat. Namun, hukum karma tidak terbayangkan. Bukan berarti setelah menerima proses hukum semuanya sudah berakhir. Kehidupan bagai sebuah drama.
Hukum di alam manusia juga bagaikan drama. Namun, manusia memilki karma yang terus mengikuti. Benih karma ini akan terus mengikuti. Kebaikan atau budi tentu harus dibalas. Contohnya dalam satu keluarga, ada yang anaknya sangat berbakti dan sangat berbakat. Anak yang berbakti dan berbakat datang untuk membalas budi. Begitu pula, ada orang yang memiliki dan membesarkan anak yang datang untuk menagih utang. Sebaik apa pun kondisi keluarga mereka, anaknya tetap tidak berprestasi baik. Sejak kecil, dia selalu membuat orang tua cemas. Anak penagih utang seperti ini juga banyak. Di dunia ini, di panggung sandiwara kehidupan ini, kita melihat peran setiap orang berbeda-beda. Kita melihat banyak ketidakberdayaan. Banyak makhluk yang sangat menderita. Dari sini kita bisa melihat betapa menakutkannya kekuatan karma. Jadi, semua makhluk yang memiliki kesadaran memiliki nyawa dan kehidupan masing-masing. Kita harus mengasihi mereka. Jangan seperti yang sering kita bahas bahwa kebanyakan orang hanya memaklumi diri sendiri. Diri sendiri banyak melakukan kesalahan, seperti menindas makhluk lain, melakukan lima karma celaka, merampas kekayaan orang lain, mencelakai nyawa orang lain, dan sebagainya. Semua ini dilakukan dengan berbagai cara. Setelah itu, manusia berusaha menghindar. Mereka tidak mengakui kesalahan, apalagi membunuh.
Terhadap diri sendiri, manusia selalu mencari cara untuk memaafkan dan melindungi diri sendiri. Mereka tidak berpikir bahwa makhluk lain juga ingin melindungi diri sendiri. Kita harus menempatkan diri pada posisi makhluk lain. Terhadap semua makhluk hidup, kita harus menganggapnya sebagai bagian dari diri kita. Hewan-hewan seperti sapi dan kuda, mungkin saja adalah kehidupan lampau kita. Karena kurang hati-hati, kita melakukan karma yang membuat terlahir di alam binatang. Mungkin juga sapi atau kuda di masa lampau itu kini lahir sebagai anak kita. Semua makhluk hidup, baik manusia maupun hewan, semua termasuk dalam enam alam kehidupan. Semua pernah saling menjadi orang tua atau anak. Kita tak dapat melihatnya dalam kehidupan ini. Kita tidak mengetahuinya karena batin kita telah diliputi kegelapan batin. Jika kita dapat memahami semua ini, maka kita akan menganggap semua makhluk bagaikan anak cucu kita sendiri atau keluarga terkasih kita sendiri. Kita akan melindungi mereka. Saya teringat suatu hari, seorang bhiksuni datang sambil menggendong Shanlai (kucing persia) dan berkata kepada saya, “Master, Shanlai harus dirawat di rumah sakit dan harus diantarkan ke Taipei.” “Di Taipei baru ada rumah sakit hewan.” Saya bertanya, “Ada apa dengannya?” Bhiksuni ini menjawab, “Dia mengalami tumor.” Di tubuhnya ada sebuah tumor. Jadi, mungkin ia harus dioperasi. Ia benar-benar diantarkan ke rumah sakit.
Di rumah sakit, dokter mengatakan bahwa ia juga sudah tua. Tumor itu pun belum tentu sembuh jika dioperasi. Dokter menjelaskan kondisi penyakitnya. Kemudian, kita membuat keputusan. Kita mengusulkan dapatkah Shanlai menyumbangkan tubuhnya untuk bedah anatomi dan penelitian. Shanlai juga bisa menjadi Silent Mentor. Ia adalah seekor kucing. Kita juga sangat mengasihinya. Intinya, di Griya Jing Si, kita juga telah memeliharanya selama sekitar 20 tahun. Dua puluh tahun waktu manusia, bagi dunia hewan seperti mereka sama dengan lebih dari seratus tahun. Shanlai sudah sangat tua. Hewan juga mengalami fase lahir, tua, sakit, mati. Kita mengasihinya. Saat ia sakit, kita memperlakukannya bagai manusia. Kita mengantarnya dari Hualien ke Taipei untuk berobat di rumah sakit hewan. Namun, pengobatan juga memiliki batas. Jadi, kehidupan juga memiliki batasan. Agar Shanlai dapat memberi sumbangsih terakhir, maka kita menyumbangkan tubuhnya untuk bedah anatomi. Bayangkan, bukankah kita juga menganggap hewan-hewan ini bagaikan anak cucu kita sendiri? Mungkin saja mereka adalah orang tua kita di kehidupan lampau atau orang-orang terdekat kita. Jadi, jika kita dapat mengasihi hewan-hewan apakah kita masih tega membunuh atau memakan mereka? Tentu tidak. Jadi, kita hendaknya mengasihi semua makhluk bagai mengasihi keluarga sendiri.
Dengan demikian, kita akan dapat merasakan bahwa semua makhluk sama-sama memiliki hakikat kebuddhaan. Kita bagai sedang melindungi Buddha. Dengan demikian, barulah kita tak akan melanggar sila membunuh. Membunuh ada berbagai cara, ada yang menggunakan pisau, ada yang menggunakan tongkat, pentungan, ataupun kedua tangan. Caranya sungguh banyak. Alat untuk membunuh juga banyak. Alat-alat itu kerap dipakai dengan kejam. Bukan berarti pembunuh tak mendapat buah karma, hanya saja waktunya belum tiba. Jadi, orang yang menciptakan karma pasti menerima buahnya. Kita harus tahu bahwa meski kita melihat hewan sebagai hewan dengan wujud yang berbeda-beda, seperti kucing dengan wujud kucing, anjing dengan wujud anjing, sapi dengan wujud sapi, kuda dengan wujud kuda, burung dengan berbagai jenisnya, dll., baik unggas maupun mamalia… Unggas adalah yang terbang di udara, Unggas adalah yang terbang di udara, mamalia adalah yang berlari di darat, seperti sapi, kuda, dll. Baik yang terbang di udara maupun yang berlari di darat, meski memiliki wujud berbeda-beda, meski memiliki wujud berbeda-beda, semuanya sama-sama ingin hidup dan takut mati. Mereka berusaha melindungi nyawa mereka dan takut mati.
Semua makhluk memiliki perasaan seperti ini. Jadi, kita sebagai manusia yang disebut makhluk tercerdas, hendaknya melindungi semua makhluk. Baik segala yang berperasaan maupun tidak, baik yang terbang maupun yang berjalan, semuanya harus kita kasihi. Berikutnya dikatakan, “Jika ditelusuri, sejak masa tanpa awal, semua makhluk ini pernah menjadi orang tua, saudara, ataupun kerabatku.” Kita dapat merenungkan bahwa semua makhluk dalam berbagai kehidupan sejak masa tanpa awal dengan wujud yang berbeda-beda di enam alam mungkin pernah menjadi orang tua, anak, saudara, ataupun kerabat kita. orang tua, anak, saudara, ataupun kerabat kita. Ini mungkin saja. Mungkin mereka pernah menjadi sanak saudara kita. Meski kutipan teks ini sangat sederhana, tetapi maknanya sangatlah dalam. Kita harus menyelaminya dengan saksama. Di dalam Brahmajala Sutra, ada penggalan seperti ini. “Semua makhluk, yang laki-laku adalah ayahku, yang perempuan adalah ibuku.” “Aku sudah terlahir dari kehidupan ke kehidupan, maka semua makhluk di enam alam adalah orang tuaku.” Dari penggalan ini, kita bisa merenungkan, apakah enam alam hanya terdiri atas manusia? Tidak. Tadi kita sudah membahas bahwa mungkin yang kita lihat saat ini dalam rupa sapi, kambing, atau kuda adalah anak-anak yang kita lahirkan pada kehidupan lampau saat kita juga terlahir sebagai sapi, kambing, atau kuda. Dari sana, kini kita terlahir sebagai manusia, tetapi kita masih berada di enam alam dan mengalami kelahiran kembali.
Intinya, di enam alam kelahiran kembali, baik terhadap yang berwujud maupun tidak, kita harus mengembangkan cinta kasih. Jadi, di dalam Sutra ada sebuah kisah. Jadi, di dalam Sutra ada sebuah kisah. Suatu hari Dewa Sakra mengamati dunia dengan mata dewanya. Dia melihat seorang teman baiknya terlahir di alam manusia sebagai perempuan. Perempuan ini menjalankan sebuah usaha atau berdagang. Dewa Sakra merasa alam manusia penuh penderitaan. Jadi, berhubung perempuan itu adalah temannya, maka dia bermaksud menolongnya. Dewa Sakra lalu menjelma menjadi seorang tetua dan berdiri di depan toko perempuan itu sambil terus melihat dan tersenyum. sambil terus melihat dan tersenyum. Perempuan ini mengira ada tamu yang datang sehingga segera memanggil putranya untuk mengambil kursi. Namun, putranya sepertinya agak lamban. Namun, putranya sepertinya agak lamban. Sang tetua masih terus berdiri dan memandangi perempuan itu sambil terus tersenyum. Kursinya tak kunjung datang. Merasa terus dipandangi oleh tetua yang terus tersenyum itu, perempuan ini bertanya, “Mengapa Anda terus tersenyum?” Berhubung putranya lamban mengambil kursi, maka dia terus memarahi putranya. Saat sang tetua mendengarnya, dia tetap tersenyum.
Perempuan ini lalu meminta pelayannya memainkan alat musik. Dia merasa bahwa tetua ini adalah tamu agung. Melihat orang-orang bermain musik, tetua ini tetap tersenyum. Saat melihat ayah tetanggga si perempuan sakit, sehingga keluarganya menyembelih hewan, si tetua juga tersenyum. Setelah itu, dia juga melihat seorang perempuan menggendong anak. Anak itu sangat nakal. Saat digendong, anak itu terus memukuli ibunya, bahkan mencakar wajah ibunya hingga berdarah. Sang ibu masih menggendongnya dengan erat. Si perempuan tadi melihat sang tetua ini selalu tersenyum saat melihat apa pun. Sang tetua tersenyum sambil memandanginya. Perempuan itu merasa canggung dan sangat marah. Dia berkata, “Apa sebenarnya maumu?” “Diberi kursi pun kamu tidak mau duduk.” “Kamu hanya terus tersenyum melihatku.” “Saat saya memarahi putra saya kamu juga tersenyum; saat ada orang bermain musik, kamu juga tersenyum.” “Apa sebenarnya maksudmu?” “Apa sebenarnya maksudmu?” Tetua ini menjawab, “Aku adalah temanmu.” “Kamu juga tidak mengenaliku.” “Dia adalah ayahmu, kini dia terlahir menjadi putramu.” “Namun, kamu juga memarahinya.” “Kamu tidak bisa melihat kehidupan lampau dan kehidupan sekarang.” “Mengenai orang yang menabuh genderang, sebenarnya kulit lembu genderang yang ditabuh oleh pemuda yang bermain musik itu adalah kulitnya sendiri pada kehidupan lampau.” adalah kulitnya sendiri pada kehidupan lampau.” “Dia menabuh kulitnya sendiri.” “Kemudian tetanggamu.” “Lihatlah, dia menyembelih hewan untuk upacara demi ayahnya.” “Itu bagaikan minum racun saat haus.” “Setelah ayahnya meninggal, akan terlahir sebagai hewan.”
“Berikutnya, wanita yang menggendong anak.” “Perempuan itu adalah istri tua, sedangkan anak yang digendong itu sebelumnya adalah istri muda.” “Si istri muda sering ditindas oleh si istri tua.” “Dia lalu bunuh diri.” “Setelah mati, dia lahir sebagai anak si istri tua untuk membalas dendam.” “Si istri tua juga menerimanya dengan sukarela.” “Lihatlah, saat digendong, anak itu terus memukulinya.” “Sejak kecil hingga tua, anak itu akan terus menindas ibunya.” Perempuan tadi sangat bingung. Tetua itu berkata, “Jika kamu tidak percaya, saya akan kembali beberapa hari lagi.” Beberapa hari kemudian, perempuan itu terus menunggu apakah tetua tadi benar-benar akan datang dan bagaimana pula wujudnya. Selama beberapa hari ini dia tidak melihatnya. Saat itu, raja menggelar sebuah pesta besar. Perempuan ini turut hadir. Di tengah kerumunan, tiba-tiba muncul orang berpakaian compang-camping memanggil perempuan itu. Perempuan itu bertanya, “Ada apa?” “Saya tidak mengenalmu.” Orang ini bertanya, “Bagaimana mungkin?” “Beberapa hari lalu aku baru datang ke rumahmu.” “Lihatlah, masih di masa kehidupan yang sama, beberapa hari lalu aku berbicara denganmu, kamu tidak percaya.” “Beberapa hari kemudian, aku muncul kembali, kamu bilang tidak mengenalku.” “Bagaimana bisa kamu mengingat kehidupan lampau?” Perempuan itu sadar seketika.
Setelah menceritakan kisah ini, Buddha berkata, “Tahukah kalian?” “Dewa Sakra saat itu adalah Aku, Sakyamuni.” “Perempuan itu adalah Bodhisattva Maitreya.” “Di kehidupan lampau, Aku membimbing Maitreya.” “Karena itu, kini Dia menjadi murid-Ku dan berikrar bahwa di masa depan akan menjadi Buddha di Dunia Saha dan membimbing semua makhluk.” Dari penggalan Sutra ini, kita bisa merenungkan, dari kehidupan ke kehidupan, siapa yang masih mengenal siapa? Di dalam satu kehidupan yang sama pun, hanya dalam beberapa hari saja tetua itu sudah tidak dikenali oleh perempuan itu karena berganti penampilan, apalagi jika berbeda masa kehidupan. Jadi, di tengah banyaknya ketidaktahuan, kita harus sungguh-sungguh menganggap semua makhluk sebagai keluarga sendiri. Dengan begitu, kita tak akan menjalin rasa benci dan dendam. Untuk itu, harap semua selalu bersungguh hati.