Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-388-Menciptakan Berkah Tanpa Kenal Lelah

Saudara se-Dharma sekalian, kita terus membahas tentang karma. Penciptaan karma membawa penderitaan. Penciptaan karma seperti apa? Ada karma buruk, ada karma baik. Berkah membawa kebahagiaan, kurangnya berkah membawa penderitaan. Jangan lelah menciptakan berkah di kehidupan sekarang atau mendatang. Artinya, di sini kita diberi tahu orang seperti apa yang memiliki berkah. Orang yang memiliki berkah batinnya akan selalu damai dan bahagia. Jika batin bisa damai dan tenang, maka inilah manusia yang paling bahagia. Jika tidak memiliki berkah, maka  akan menderita. Meski memiliki makanan lezat atau harta kekayaan, ada orang yang tidak merasa dirinya beruntung. Baik pada kehidupan ini maupun mendatang, kita hendaknya tahu bahwa berkah diciptakan oleh diri sendiri. Jika tidak, maka jika berkah kita habis dinikmati pada kehidupan sekarang, maka di kehidupan mendatang yang ada hanyalah penderitaan. Di kehidupan ini kita berkesempatan mendengar ajaran Buddha. Jika di dalam hati kita sudah ada kebajikan dan telah diwujudkan ke dalam perbuatan, maka kita harus semakin giat dan tidak mundur. Jadi, baik kehidupan kini maupun mendatang, kita jangan lelah menciptakan berkah.    Jika demikian, kita akan menderita. Jadi, kita harus sungguh-sungguh menciptakan berkah.

Lihatlah, kita memiliki banyak relawan daur ulang. Mereka bersumbangsih di tengah cuaca panas dan harus mengangkat beban berat. “Anda berangkat begitu pagi.” “Nek, apakah tidak lelah?” “Kek, mengapa tidak bangun lebih siang sedikit?” “Kini sudah waktunya menikmati hari tua, mengapa tidak bersantai di rumah saja?” Jika ditanya begitu, mereka menjawab, “Tahukah kalian, bersantai juga menderita?” “Ada pekerjaan sangat menggembirakan.” “Kami semua sangat gembira.” “Daur ulang dapat menolong Bumi dan juga mengembangkan cinta kasih.” “Kami melakukannya dengan gembira.” Jadi, apa itu kebahagiaan? Apa itu penderitaan? Dahulu, untuk menggiling gandum menjadi bubuk, digunakan batu yang sangat besar yang tak bisa digerakkan dengan tenaga manusia, melainkan harus menggunakan tenaga lembu atau keledai. Gilingan batu disambungkan pada tali, lalu disambungkan lagi pada kuk lembu. lalu disambungkan lagi pada kuk lembu. Lembu akan berjalan memutar seharian untuk menarik batu penggiling. Batu penggiling yang sangat besar ini berputar seharian untuk mengupas kulit gandum. Ada seekor lembu yang telah berusia puluhan tahun. Setiap hari ia melakukan hal yang sama. Setiap hari ia menarik batu penggiling. Suatu hari, tuannya merasa lembu ini sudah tua dan telah bekerja keras sehingga membiarkannya beristirahat.

Lembu ini akhirnya dikeluarkan dari gudang penggilingan. Ia ditambatkan pada sebatang pohon. Dengan penuh kelembutan dan rasa terima kasih, sang tuan menggiring lembu ini. Sang tuan merasa tidak tega, tetapi juga berterima kasih kepadanya. “Selama puluhan tahun ini, kau selalu membantu menarik penggiling.” “Kini sudah waktunya kau beristirahat dan pensiun.” “Lihatlah, rerumputan ini sangat luas.” “Kau bisa beristirahat di bawah pohon ini.” Lembu ini ditambatkan pada sebatang pohon. Meski ia tidak perlu lagi menarik penggiling atau mengeluarkan tenaga, tetapi bagaimana pun, ia tetap melakukan hal yang sama, yaitu berjalan mengelilingi batang pohon. Ia terus berjalan di bawah pohon hingga tali penambatnya semakin pendek tergulung. Ia terus berjalan hingga akhirnya tak bisa melangkah lagi. Cerita ini, bukankah menggambarkan kehidupan manusia? Di masa muda kita terus bekerja. Kita mengerjakan pekerjaan yang kasar ataupun halus, yang menggunakan otak ataupun otot. Kita terus bekerja. Bukankah sama dengan lembu tadi? Demi menghasilkan sesuatu, demi bertahan hidup, lembu itu harus menarik penggiling selama puluhan tahun. selama puluhan tahun. Manusia memiliki masa pensiun. Sesungguhnya, tuan dari lembu tadi juga berpikir untuk membiarkan lembu itu pensiun, tetapi kenyataannya berbeda. Dia mengikatnya di bawah pohon. Lembu itu bisa melihat hamparan rumput, tetapi tidak bisa memakannya.

Meski hamparan rumput begitu luas, tetapi kerbau ini terikat di bawah pohon. Ia tak punya kebebasan sedikit pun. Ia terus berputar dan berputar hingga talinya tergulung semakin pendek dan ia semakin mendekat pada batang pohon. Bukankah ini menggambarkan akhir dari usia manusia? Manusia suatu hari akan menua. Tubuh ini, meski melihat banyak hal dan merasa masih mampu mengerjakannya, tetapi orang lain menganggap kita sudah tua dan tidak berguna. Meski usia sudah lanjut, tetapi kita sendiri merasa kita masih mampu. Sayangnya, orang lain memaksa kita pensiun. Ini bagai diikat dengan tali di bawah pohon. Setiap hari kita tak bisa melakukan apa-apa. Sesungguhnya, orang lanjut usia tetap boleh dibiarkan mengembangkan potensi mereka. Selagi masih bisa, biarkan mereka melakukan hal yang mereka sukai. Mereka semua bisa melakukannya dengan gembira sekaligus dapat mengembangkan cinta kasih. Mereka dapat mengasihi sesama dan menghargai sumber daya alam. Ini sangat baik. Ada sekelompok orang dari luar negeri memberi tahu saya bahwa kegiatan daur ulang sangat baik bagi lansia. Mereka ingin melakukannya di negara mereka. Mereka merasa bahwa tak ada kegiatan di masa tua sangatlah menderita. 

Leave A Comment