Sanubari Teduh-387-Melihat Hakikat Sejati dan Menumbuhkan Jiwa Kebijaksanaan
Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari kita harus tulus dan selalu mengingat budi luhur Tiga Permata. Lihatlah kebijaksanaan Buddha. Jika ajaran-Nya dapat kita terapkan dalam keseharian dan hati kita dapat selalu berada dalam Dharma, maka kita tak akan mudah membuat kesalahan. Berhubung telah membuat kesalahan, maka kita harus bertobat. Hanya dengan bertobatlah kita dapat melenyapkan tabiat buruk. Semua manusia pada hakikatnya sama dengan Buddha. Hanya saja, di kemudian hari, dari kehidupan ke kehidupan, kita memupuk tabiat buruk. Jadi, dalam ucapan dan tindakan, kita memiliki tabiat yang tidak baik. Jadi, kini kita harus sungguh-sungguh bertobat dengan tulus. Dengan bertobat, barulah jiwa kebijaksanaan dapat bertumbuh, barulah kita dapat melihat jelas hakikat sejati. Hakikat sejati kita pada dasarnya adalah murni. Hakikat sejati ini adalah kebijaksanaan sempurna. Hanya saja, kita telah tersesat dan kehilangan hakikat sejati ini. Ini adalah akibat dari tabiat buruk kita yang menutupinya. Jadi, Dharma bagaikan air. Dharma di sini adalah pertobatan. Pertobatan bagaikan air yang dapat membersihkan tabiat buruk kita. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati dan mengingat budi luhur Tiga Permata, barulah bisa membangkitkan rasa bertobat yang tulus. Dengan membangkitkan rasa bertobat yang tulus, barulah jiwa kebijaksanaan kita bisa benar-benar bertumbuh dan kita bisa memiliki batin yang jernih serta melihat hakikat sejati. Berhubung kita semua memiliki hakikat kebuddhaan, maka tentu kita harus bersandar kepada ajaran Buddha untuk membangkitkan hakikat kebuddhaan ini. Karena itu, kita harus menyatakan perlindungan. Jadi, di sini dikatakan, “Berlindung kepada para Buddha, semoga senantiasa dilindungi.” “Kami para murid secara umum telah bertobat atas segala karma buruk.” Ini memberi tahu kita bahwa kita kini telah tulus berlindung kepada Buddha.
Di masa lalu kita mungkin penuh kesesatan dan menciptakan banyak karma buruk. Kini kita telah berlindung. Aksara Tionghoa “berlindung” mengandung arti berpaling dari gelap ke terang. “Gelap” mewakili masa lalu yang sesat sehingga menciptakan karma buruk. “Terang” berarti cemerlang dan sudah memahami mana yang buruk dan mana yang baik. Kini kita telah berpaling dari keburukan menuju kebaikan. Yang buruk harus kita lenyapkan. Kini kita harus mengarah pada Dharma yang terang dan cemerlang. Inilah yang disebut “berlindung”. Tubuh dan batin kita harus bersandar pada Tiga Permata. Kita bersandar kepada para Buddha. Tubuh dan batin kita bersandar pada ajaran Buddha dan para suciwan. Jadi, kita harus berikrar dengan hati yang tulus dan penuh hormat. “Semoga senantiasa dilindungi.” Ini berarti kita berdoa semoga para Buddha dan Bodhisattva serta para suciwan selalu memperhatikan kita dengan penuh welas asih dan menjaga kita serta tekad kita. Sering dikatakan, siapa yang dapat menjaga hati siapa? Para Buddha, Bodhisattva, dan para suciwan telah menunjukkan jalan bagi kita. Yang penting kita menjalaninya dengan baik. Jangan lagi kita berjalan di jalan yang salah. Jalan yang salah harus kita tinggalkan. Buddha sudah menunjukkan arahnya. Kita harus berjalan ke arah itu. Kita tentu tidak ingin salah jalan lagi. Jika kita ada sedikit penyimpangan, semoga para Buddha dan Bodhisattva berwelas asih untuk meluruskan kita dan menjaga kita agar tidak salah jalan. Sesungguhnya, para Buddha dan Bodhisattva selalu berada di sisi kita. Kita juga bisa menjadi Bodhisattva bagi orang lain. Saat pikiran kita lurus, maka jalan akan terang. Batin kita akan jernih dan kita dapat melihat hakikat sejati. Jika kita memiliki sedikit penyimpangan, orang lain yang pikirannya lurus dan memahami kebenaran akan menasihati kita. Kita harus menghormati mereka dan segera kembali ke jalan yang benar. Kita tak boleh mengulangi masa lalu. Kita harus kembali ke jalan yang benar. Jadi, “Semoga senantiasa dilindungi” bukan semata-mata memohon kepada rupang Buddha di luar untuk melindungi kita.
Sesungguhnya, yang kita harapkan adalah Buddha di dalam batin kita adalah Buddha di dalam batin kita atau pikiran benar di dalam batin masing-masing. Kita dapat saling menjaga dan saling memperhatikan. Jika melihat orang dengan hati Buddha, maka setiap orang akan terlihat bagai Buddha. Jadi, dengan hati yang penuh hormat, kita menghadapi setiap orang. Di sini dikatakan, “Kami para murid secara umum telah bertobat atas segala karma buruk.” Sebelumnya kita sudah membahas banyak hal. Kita sudah membahas pertobatan atas berbagai karma buruk. Jika kita benar-benar bertobat atas semuanya dan memperbaiki diri, maka inilah yang disebut pahala. Berhubung kita telah melatih batin dan telah memperbaiki perbuatan, maka timbullah pahala dari kerendahan hati dan sikap penuh tata krama. Di masa lalu kita mungkin terlalu sombong dan tidak membina tubuh, ucapan, dan pikiran. Sejak mengenal ajaran Buddha, kita tahu bahwa kita harus bertobat. Kekotoran di dalam batin harus satu per satu dibersihkan dengan Dharma. Kita perlahan-lahan memperbaiki diri. Pandangan salah di dalam batin Pandangan salah di dalam batin telah kita luruskan. Kita harus tahu bahwa untuk meluruskan pandangan dari sesat menjadi benar, jika bukan dengan cara melatih batin, maka tak ada cara lain. Jika kita dapat memperbaiki pandangan salah di masa lalu, ini menunjukkan bahwa kita telah berubah. Ini disebut pahala. Pahala ini datang dari pelatihan diri dan pelurusan perilaku. Inilah hasil dari pertobatan.
Dengan demikian, perlahan-lahan, selangkah demi selangkah kita sudah kembali menuju ajaran Buddha. Kita telah bermandikan air Dharma yang membersihkan kekotoran dari kesalahan kita. Inilah yang kita sebut pertobatan. Kesalahan umum dari tubuh, ucapan, dan pikiran telah mulai kita pahami satu per satu dan kita perbaiki. Setelah kita perbaiki, maka kita tak lagi menciptakan karma buruk. Jadi, “Bertobat atas segala karma buruk.” Di masa lalu kita menciptakan karma buruk. Sejak saat ini, kita memperbaiki tabiat masa lalu satu per satu. Setelah memperbaikinya, maka tidak boleh mengulanginya lagi. Dikatakan, “Hari ini kami kembali menyatakan pertobatan secara khusus satu per satu.” Sebelumnya kita sudah membahas banyak istilah, tetapi baru menyatakan pertobatan secara umum. Kini kita kembali bertobat satu per satu karena semua makhluk mudah lupa. Kita lupa dengan cepat. Dari sejak lama hingga kini Dharma yang bagaikan air telah menyadarkan kita bahwa kita telah tercemar dan harus segera membersihkan diri, bahwa kita telah melakukan kesalahan dan menciptakan karma buruk sehingga harus memperbaiki diri. Meski kita telah membahas banyak istilah mengenai karma lewat tubuh, ucapan, dan pikiran yang menciptakan sepuluh kejahatan, bahkan 3.000 atau 80.000 pelanggaran, dan sebagainya, meski kita telah mengetahui semua ini, tetapi tahu hanyalah sekadar tahu. Sulit untuk mengubah tabiat buruk. Jadi, Mahabhiksu Wu Da amat penuh welas asih. Beliau mengajak kita untuk bertobat secara umum, lalu kemudian kita diajak kembali mengingatnya. Kita kembali diingatkan Kita kembali diingatkan agar kita semakin paham. Kita kembali diajak untuk mengulang pertobatan sesuai urutan mengulang pertobatan sesuai urutan agar kita bisa bertobat secara khusus satu per satu. “Satu per satu” menunjukkan jumlah yang banyak.
Sebelumnya kita bertobat atas kesalahan umum. Kini kita bertobat atas satu demi satu kesalahan. Artinya, kesalahan yang ada berbeda-beda karena menghasilkan buah yang berbeda pula. Apa kesalahan yang kita buat, maka buah karma itulah yang akan kita terima. Kini kita mulai bertobat satu per satu. Berikutnya, dikatakan, “Baik umum maupun khusus, kasar maupun halus, ringan maupun berat, dikatakan maupun tidak, serta berbagai jenis turunannya, semoga semua lenyap adanya.” Demikian pula, kita berdoa semoga kita dapat benar-benar bertobat atas berbagai kesalahan umum di masa lalu. Namun, mungkin masih banyak kesalahan lain, baik yang kasar dan terlihat maupun yang halus. maupun yang halus. Kesalahan-kesalahan halus yang kita perbuat mungkin tak terlihat oleh orang lain. Kesalahan yang kasar, saat kita lakukan, orang lain bisa mendengarnya dan melihatnya. Bukan hanya melihatnya, orang lain bahkan bisa menyebarkannya sehingga semua orang tahu. Seperti siaran berita di masyarakat, setiap hari memberitakan berbagai hal dan kejadian. Meski kita tak mengenal orang-orang itu, tetapi setiap hari kita bisa melihat berita-berita di surat kabar tentang mereka. Mereka memiliki nama dan kedudukan, tetapi mungkin melanggar hukum atau berbagai aturan.
Sudahkah mereka memperbaiki diri? Berita di surat kabar begitu besar dan dilihat banyak orang. Meski orang-orang tidak mengenalnya, Meski orang-orang tidak mengenalnya, tetapi begitu mendengar namanya atau melihat wajahnya di televisi, semua sudah tahu siapa dia. Media massa masa kini bukan hanya menulis hitam di atas putih, tetapi juga menjabarkan dengan gamblang dan membuat orang itu seakan berada di depan kita. Kita tahu kesalahannya sangat besar. Namun, orang itu masih bersikap angkuh. Masyarakat tetap memperdebatkan dirinya. Jika tahu dirinya bersalah, akankah dia memperbaiki diri? Kadang kita tidak tahu. Kita juga tidak dapat memahami apa sesungguhnya isi pikiran orang itu. Ini adalah sesuatu yang sangat halus. Pikiran di dalam hati tiada orang yang tahu, tetapi perbuatan yang berwujud adalah sesuatu yang kasar sehingga orang lain bisa melihat atau mendengarnya. Semua orang bisa memperdebatkannya. Ini adalah wujud yang kasar. Semua makhluk, siapa yang tak pernah melakukan kesalahan kasar? Siapa yang tak pernah berniat buruk yang halus dalam pikiran? Ini memang tak bisa didengar atau dilihat orang. Noda batin kita juga banyak, bahkan semakin banyak. Dikatakan, “Baik yang ringan maupun yang berat.” Ada kesalahan yang ringan, bisa dimaafkan hanya dengan mengaku dan meminta maaf. Ini adalah kesalahan ringan. Namun, ada pula kesalahan berat, Namun, ada pula kesalahan berat, seperti lima karma celaka yang penah kita bahas. Ada pula pembunuham, pencurian, perbuatan asusila, dusta, konsumsi miras, dll. Banyak pelanggaran yang dilakukan, ditambah lagi dengan lima karma celaka, seperti membunuh orang tua, tak menghormati Tiga Permata, atau berbagai kesalahan akibat ketamakan, kebencian, dan kebodohan.
Semua karma buruk ini sangat berat. Ini disebut pelanggaran berat. Ini bukan semata-mata melanggar norma masyarakat, tetapi berkaitan dengan hukum karma. Mengikuti kekuatan karma ini, manusia bisa jatuh ke tiga alam rendah. Di enam alam kehidupan, manusia pun banyak menerima buah karma. Kita kadang merasa, “Mengapa karma buruk orang ini begitu berat?” “Penderitaan bertubi-tubi menghampirinya.” “Penderitaan bertubi-tubi menghampirinya.” Inilah yang dikatakan di dalam Sutra bahwa jika karma buruk belum habis diterima di neraka, maka bisa berlanjut di alam manusia. Jadi, ini bergantung pada karma yang diperbuat. Benih buruk pasti membuahkan kondisi buruk. Kondisi dan jalinan jodoh buruk ini akan mematangkan buah karma buruk. Jadi, jangan menciptakan karma buruk. Jika kita ciptakan, maka seperti ungkapan yang berbunyi, “Karma bagai merasuk ke tulang tak bisa dihilangkan oleh pisau sekalipun.” Ini adalah perkataan orang zaman dahulu. Sesungguhnya, jika ditilik dari ajaran Buddha, dikatakan bahwa karma bagaikan bayangan yang mengikuti bentuk. Bentuk apa yang kita tampilkan, maka bayangannya akan mengikuti. Hukum karma sungguh menakutkan. Jadi, sebelumnya kita pernah membahas bahwa kita harus mempraktikkan empat pengamatan. Kalian seharusnya masih ingat. Kita harus merenungkan hukum sebab akibat. Ini adalah yang pertama. Jadi, kita harus selalu meningkatkan kewaspadaan. Jadi, karma buruk ada yang berat, ada yang ringan, ada yang dikatakan, ada yang tidak dikatakan. Perbuatan kita ada yang diketahui orang lain, ada pula yang tidak. Kita harus mengaku dan bertobat secara terbuka. Ini disebut “yang dikatakan”. Mengenai “yang tidak dikatakan”, saat diri sendiri berbuat kesalahan dan orang lain tidak tahu, kita tetap tidak mengakuinya. Disebutkan, “Yang tidak dikatakan, serta berbagai jenis turunannya.” Baik kita katakan maupun tidak, selama kita sudah melakukannya, maka karma telah tercipta. Jadi, karma ini ada berbagai jenis.
Namun, baik yang ringan maupun berat, semuanya tetaplah karma buruk. Jadi, karma ini tetap akan mengikuti kita asalkan kita ada menciptakan karma itu. Lihatlah kisah Mahabhiksu Wu Da, penulis Syair Pertobatan Air Samadhi ini. Selama 10 kehidupan, penagih utang terus mengikutinya. Ketika pintu karmanya terbuka, benih itu langsung berbuah. Beliau begitu menderita. Beliau memang sudah melatih diri. Namun, jika tidak sungguh-sungguh bertobat dan menerima buah karma dengan ikhlas, maka sulit bagi karma ini untuk lenyap. Jadi, janganlah kita menciptakan karma buruk. Jika karma ini sudah terlanjur tercipta, bagaimana kita mengikisnya? Kita harus menerimanya dengan ikhlas. Dengan begitu, karma ini akan terkikis. Jangan lagi ada niat untuk mengulanginya. Janganlah kita tidak ikhlas dan malah menciptakan karma buruk baru. Jika kita ikhlas, barulah karma ini akan terkikis. “Semoga semua lenyap adanya.” Karma terus mengikuti kita. Ibarat memiliki utang, kita harus membayarnya dengan sukacita. Kita sering mendengar di dalam ajaran Buddha sering dikatakan bahwa jika kita berutang di kehidupan lampau, maka kita harus membayarnya pada kehidupan ini. Kita membayar dengan rela. Dengan demikian, Dengan demikian, batin akan lebih lapang dan terbuka dan tidak akan mengeluh ataupun risau. Ini adalah wujud doa. Karma buruk ini ada yang tergolong umum, yaitu yang tercipta sekaligus dari tubuh, ucapan, dan pikiran. Ini yang disebut umum. Yang disebut khusus atau spesifik adalah tujuh cabang karma, mencakup membunuh, mencuri, dan berbuat asusila dari tubuh; ditambah empat karma dari ucapan, yaitu berbohong, berkata kosong, bergunjing, dan bertutur kata kasar. Jika dijumlahkan seluruhnya ada tujuh. Adakalanya kita hanya berucap tanpa bertindak. Ini yang disebut khusus.
Pada tubuh kita terdapat enam indra. Perbuatan dari tubuh, ada yang perbuat dengan tangan, dengan mata, dengan mulut, dengan kaki saat berjalan, dll. Jenisnya sangat banyak. Masih banyak jika ingin dijabarkan lebih jauh. Jadi, segala aktivitas dapat dikelompokkan secara lebih terperinci. Ada orang yang berkata, “Saya hanya berucap, saya tidak berniat buruk.” “Saya hanya asal bicara.” “Saya tidak bermaksud buruk.” Mungkin memang benar dia tiada maksud buruk dan tidak melakukan perbuatan buruk. Ini adalah sebuah tabiat buruk. Jadi, “berucap tanpa berpikir”, “bertindak tanpa berniat”, mungkin saja ada karma seperti itu. Meski tidak berniat buruk, tetapi karma tetap tercipta. Meski saat berucap kita tidak berniat buruk, tetapi selama ada orang yang terluka, kita tetap telah menanam karma. Jadi, Tujuh jenis karma ini jika dijabarkan dan dianalisis satu per satu, merupakan wujud kasar. Karma dari tubuh dan ucapan termasuk kasar karena bisa didengar dan dilihat. Karma dari pikiran termasuk halus dan ada 3 jenis, yaitu ketamakan, kebencian, dan kebodohan. Ini termasuk wujud halus. Ini termasuk wujud halus. Sebelum ketamakan, kebencian, dan kebodohan ini terwujud, di dalam batin kita, semua ini tak dapat dilihat orang lain. Karena itu, ini disebut wujud halus. Saudara sekalian, mengenai kasar dan halus, yang dapat dilihat dan didengar termasuk kasar, sedangkan yang belum terlihat, masih berada dalam pikiran, dan tidak diketahui orang lain disebut halus. Ketamakan, kebencian, dan kebodohan halus ini adalah sumber dari segalanya. Jadi, kita tak boleh meremehkan karma dari pikiran. Aktivitas pikiran tak boleh kita abaikan. Jadi, kita harus selalu menjaga pikiran kita. Tentu, penjelasan selanjutnya masih banyak. Harap semua tetap selalu bersungguh hati.