Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-391-Membina Batin dengan Cinta Kasih

Saudara se-Dharma sekalian, pikiran hendaknya sejalan dengan kebenaran dan kebenaran selalu ada di dalam pikiran. Jadi, kita harus selalu  merenungkan buah karma baik dan buruk; latihlah batin dengan cinta kasih; jangan lengah; buatlah semua orang melatih diri sehingga  memperoleh manfaat besar dan rasa sukacita. Ini memberi tahu kita bahwa pikiran dan perbuatan kita tak boleh lepas dari kebenaran. Kita harus sungguh-sungguh merenungkannya. Setiap pagi, kita terus diingatkan tentang hukum sebab akibat. Berbuat jahat akan membawa penderitaan, berbuat baik akan membawa berkah. Ini adalah kebenaran yang tidak pernah berubah. Jadi, kita harus mengembangkan cinta kasih. Welas asih harus selalu ada dalam batin kita. Jadi, kita sering diberi tahu bahwa di dalam hati harus ada Buddha dan di dalam perbuatan ada Dharma. Jadi, Dharma bertujuan membina batin dan mengembangkan cinta serta welas asih. Kita tidak boleh lengah. Berhubung tengah melatih diri, maka batin adalah ladang pelatihan diri. Di dalam ladang pelatihan diri, pikiran kita tidak boleh lengah. Kita harus terus bersemangat dalam ladang pelatihan cinta kasih. Dengan demikian, bukan hanya melatih dan menyadarkan diri sendiri, kita juga dapat membimbing dan menyadarkan orang lain. Bukankah ini membawa manfaat besar? Jadi, manfaat besar dan sukacita ini dirasakan oleh diri sendiri dan semua orang. Ini dimulai dari sebersit pikiran cinta kasih. Jadi, dengan adanya pikiran cinta kasih, tak akan timbul niat membunuh makhluk lain atau niat mencelakai orang lain. Jadi, pikiran ini sangatlah penting.

Saya berharap kita semua memiliki kekuatan cinta kasih. Inilah yang harus kita tingkatkan dalam melatih diri. Inilah yang terpenting. Kita sudah membahasnya. Berhubung kita adalah makhluk awam, maka kita tak dapat mengingat kehidupan lampau. Meski di kehidupan lampau seseorang adalah orang yang paling kita kasihi atau yang memiliki budi luhur terhadap kita, seperti misalnya orang tua kita atau saudara kita, di kehidupan sekarang kita mungkin tidak mengetahuinya.  Mungkin saja pada kehidupan sekarang, mereka malah menjadi musuh kita sehingga kita dan mereka saling melukai. Ini mungkin saja terjadi. Kita membangkitkan niat mencelakai. Bagaimana niat ini bisa muncul? Di masyarakat zaman sekarang, kita sering mendengar tentang persaingan. Persaingan adalah pertarungan. Dalam dunia usaha juga ada persaingan. Kadang kita mendengar orang berkata, “Jika anak kita terlalu baik, kelak bagaimana dia bersaing di masyarakat?” Mengenai persaingan, sepertinya di masa kini, untuk dapat bertahan hidup, kita harus bertarung dengan orang lain. Kita harus meningkatkan kewaspadaan seakan orang lain akan berseteru dengan kita atau bersaing dengan kita. Pada kehidupan lampau kita mungkin adalah saudara, bahkan orang tua dan anak atau kerabat lainnya. atau kerabat lainnya. Setelah berbeda satu kehidupan, kita semua menjadi tersesat. Karena itu, kita berulang kali membangkitkan niat untuk mencelakai makhluk lain, termasuk terhadap binatang. Kita membunuh hewan dan memakan dagingnya. Kita membunuh hewan dan memakan dagingnya.

Semua makhluk memiliki hakikat kebuddhaan. Meski wujudnya berbeda-beda, baik tikus, lembu, harimau, maupun kelinci, semuanya memiliki nyawa. Hanya saja, wujudnya berbeda-beda. Mereka sama-sama ingin hidup dan takut mati. Kita sering berkata bahwa kita harus menghormati kehidupan. Kita harus mengasihi semua makhluk. Asalkan terhadap semua makhluk yang bernyawa, kita harus menghormati. Mereka semua memiliki hak untuk hidup. Manusia adalah makhluk tercerdas di alam ini. Jadi, kita harus mengasihi semua makhluk. Inilah kewajiban sebagai manusia. Cinta kasih harus bersifat universal. Jika kita terus melukai atau membunuh makhluk hidup dan memakan dagingnya, ini berarti melukai cinta kasih kita. Jadi, kita harus selalu selalu berintrospeksi dan senantiasa merenungkan kebenaran ini di dalam hati. Menghormati semua makhluk berarti kita harus mengasihi semua makhluk hidup. Dengan begitu, kita melindungi cinta kasih kita dan membawa manfaat bagi semua makhluk. Berikutnya dikatakan, Karena itu, Buddha berkata bahwa sebelum memakan yang lain, pikirkanlah apakah kita cukup lapar untuk memakan daging anak sendiri.

Buddha mengatakan kepada kita, sebelum memakan daging makhluk hidup, kita harus merenungkan apakah kita benar-benar lapar. Lapar di sini merujuk pada bencana kelaparan di mana hujan tak kunjung turun sehingga tanaman pangan tak dapat tumbuh dan manusia mengalami kelaparan. Sebelumnya saya juga pernah membahas bahwa agar tanaman pangan dapat tumbuh, dibutuhkan berbagai kondisi pendukung. Dibutuhkan tanah, air, sinar matahari, dan udara. Namun, saat iklim tidak lagi bersahabat dan hujan tidak turun, kekeringan akan terjadi. Bayangkan, selama belasan tahun ini, di Gansu, Tiongkok selalu kekurangan air. Warga di sana mengandalkan air hujan. Pada bulan Mei hingga September tiap tahunnya, di sana adalah musim hujan. Namun, jika hujan tidak kunjung turun atau curah hujan sangat rendah, maka mereka akan kekurangan air minum, bagaimana mereka bisa bercocok tanam? Tidak bisa. Jadi, kita ingin membantu mereka untuk membangun penampungan air. Bentuknya seperti sumur. Gunanya adalah menampung air hujan. Jika air hujan di musim hujan ditampung, maka dapat tertampung sekitar 10 ton air. Air ini bisa digunakan sebagai air minum dan mengairi tanaman. dan mengairi tanaman. Lihatlah kita di Taiwan, untuk merawat taman, sudah digunakan teknologi elektronik. Saluran air ditarik ke tengah taman atau ladang.

Begitu tombol ditekan, air akan menyembur. Mulut keran diletakkan di dalam jarak tertentu. Ini sangat praktis. Ada pula yang menggunakan selang yang disambung dengan pompa. yang disambung dengan pompa. Dengan begitu, air dapat terus memancar dan membasahi tanah. Jika teringat kondisi di Gansu, warga di sana sangat menderita. Kita melihat bagaimana mereka menimba air dari penampungan air dan memikul ember sampai ke tengah ladang untuk mengairi tanaman. Mereka menggunakan cangkir minum untuk menyirami pohon. Mereka hanya menyirami sekitar benih ditanam. Luasnya hanya beberapa inci. Setelah permukaan tanah terlihat basah, mereka akan menyirami tempat lain. Persediaan air mereka sangat terbatas. Namun, mereka cukup merasa puas dan bersyukur dengan adanya enam sampai tujuh ribu penampungan. Selama belasan tahun ini, kita terus membangun penampungan di beberapa desa dan memberi manfaat bagi enam hingga tujuh ribu keluarga. Bisa memiliki ini semua, mereka sudah sangat bersyukur. Namun, musim hujan juga tak datang tepat waktu. Penampungan tidak pasti penuh di musim hujan. Tahun 2007, kondisi mulai semakin parah. Pada bulan Mei, air mulai habis, tetapi pada bulan Juni hujan tak kunjung turun. Pada bulan Juli, terjadilah kekeringan. Pada bulan Agustus dan September, curah hujan hanya sedikit. Ini sungguh mengkhawatirkan. Para komisaris kehormatan kita beserta para anggota komite pembangunan terus meyakinkan warga bahwa terus meyakinkan warga bahwa sebanyak apa pun kita membangun penampungan, jika hujan tidak turun, warga tetap akan sulit bertahan hidup.

Kita berharap mereka bersedia pindah ke dataran rendah yang dekat dengan sungai. Kita ingin membantu mereka pindah. Awalnya memang sedikit sulit, tetapi ini baik untuk generasi mendatang. Anak-anak muda tidak perlu lagi merantau. Anak-anak muda tidak perlu lagi merantau. Mereka tidak perlu lagi  jauh dari orang tua selama setahun penuh. Orang tua pun tidak perlu sampai tidak ada yang merawat di kampung halaman. Anak-anak tidak harus diasuh oleh kakek atau nenek mereka. Anak-anak juga tidak akan tidak bisa bersekolah. Jadi, kita berharap mereka dapat pindah dari atas gunung. Dengan begitu, anak-anak akan lebih leluasa untuk pergi ke sekolah. Orang tua juga dapat bekerja lebih dekat. Para lansia dapat melewati hari-hari dengan tenang. Jadi, kita memilih desa yang sangat kekeringan dan tidak lagi turun hujan untuk menjadi prioritas pemindahan. Inilah yang kita usahakan. Di sini dikatakan, “Sebelum memakan yang lain, pikirkanlah apakah kita cukup lapar untuk memakan daging anak sendiri.” “Yang lain” merujuk pada daging selain manusia, “Yang lain” merujuk pada daging selain manusia, tepatnya adalah hewan. Jika kita ingin memakan atau membunuh hewan-hewan ini untuk diambil dagingnya, kita harus membayangkan terjadinya kelaparan kita harus membayangkan terjadinya kelaparan di mana kita harus membunuh anak sendiri dan memakan dagingnya. Inilah kebijaksanaan Buddha.

Beliau menggunakan perumpamaan agar kita membayangkan bahwa daging di piring kita adalah anak yang kita kasihi pada kehidupan lampau atau anggota keluarga kita pada kehidupan sebelumnya. Kini kita hidup berkecukupan. Kini kita bisa makan apa pun yang kita mau. Kita juga dapat makan berbagai jenis makanan, yang digoreng ataupun direbus, bahkan yang dikuliti atau dimasak hidup-hidup. bahkan yang dikuliti atau dimasak hidup-hidup. Saat ingin makan seperti ini, kita harus ingat perumpamaan tentang kelaparan hingga harus membunuh anak sendiri. Apakah masa itu akan tiba? Ya. Di masa lalu, saat masa Perang Dunia Kedua, saat itu tentu saya masih kecil. Namun, saya mengerti pembicaraan orang. Saya mendengar orang yang pulang dari Hainan. Di zaman Jepang, orang Taiwan sering diutus ke Pulau Hainan sebagai tentara. Pada saat itu, Pulau Hainan disebut sebagai garis depan. Di tahun kedelapan peperangan, daya tahan untuk perang sudah berkurang. Jadi, banyak tentara yang mengungsi ke berbagai daerah. Namun, mereka tidak memiliki makanan. Di masa perang tak dapat bercocok tanam. Jadi, lahan juga menjadi lahan kosong. Para tentara yang kabur tentu merasa lapar. Meski mereka tidak lagi terancam oleh peluru, tetapi mereka tidak punya makanan dan kelaparan. Melihat jenazah yang belum membusuk, mereka memotong dagingnya, menusuknya dengan ranting, lalu memasaknya. Sebagian dari mereka bahkan sudah tak bertenaga dan mati kelaparan. Orang yang mati kelaparan akan menjadi makanan bagi orang-orang yang mengungsi ini.

Terhadap mereka yang makan daging manusia ini, orang-orang bertanya, “Bagaimana rasanya daging manusia?” “Asin, keras, dan tidak enak.” Kata-kata ini masih terngiang di telinga saya. Ini saya dengar saat saya masih kecil, tepatnya di akhir Perang Dunia Kedua. Saat itu, para tentara berangsur pulang. Saya mendengar mereka bercerita tentang kondisi saat mereka mengungsi di Pulau Hainan dan memakan daging manusia. Saudara sekalian, kita harus menghargai kehidupan. Kita harus menjaga pikiran dengan baik. Jika dapat menghimpun berkah dan mengumpulkan kebajikan, maka iklim tentu akan bersahabat. Jika manusia memiliki berkah, maka iklim akan bersahabat. Jagalah pikiran kita. Kebenaran harus selalu ada dalam pikiran kita. Kita harus mengingat hukum karma. Kita harus selalu membina pikiran dengan cinta kasih dan jangan lengah. Buatlah semua orang dapat berlatih dan memperoleh manfaat serta sukacita. Dalam melatih diri, kita juga berharap orang-orang dapat turut melatih diri. Dengan begini, kita semua menghimpun berkah. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati. 

Leave A Comment