Sanubari Teduh-392-Kesabaran dan Cinta Kasih
Saudara se-Dharma sekalian, dalam keseharian, kita berhubungan dengan segala sesuatu. Segala sesuatunya menyokong kehidupan kita. Jadi, kita harus menghargai segala sesuatu dan semua makhluk. Ini yang disebut lingkaran cinta kasih. Jika manusia sangat egois dan tamak terhadap nafsu makan sehingga membunuh makhluk lain, maka ini akan melukai cinta dan welas asih. Kita harus tahu bahwa cinta kasih paling bisa diwujudkan oleh manusia. Manusialah yang paling bisa mengungkapkan cinta kasih. Jika hanya karena nafsu makan daging, manusia tidak memikirkan bahwa segala jenis daging berasal dari makhluk hidup yang bernyawa apa pun wujudnya, lalu disembelih menjadi daging untuk dimakan, maka ini benar-benar melukai welas asih kita. Jadi, sebaiknya manusia tidak makan daging. Terlebih lagi, di masa kini asupan nutrisi sudah berlebih. Ditambah lagi, kini berbagai hewan ternak Ditambah lagi, kini berbagai hewan ternak dikembangbiakkan dengan suntikan dan bahan kimia. Ini berdampak tidak baik bagi kesehatan tubuh. Jika kita ingin tubuh kita sehat, maka kita harus mengembangkan kesehatan batin dan menyayangi segala sesuatu di alam semesta. Dengan begitu, batin kita baru bisa sehat. Jadi, kita semua harus memiliki kesabaran dan membangkitkan cinta kasih, mengubah kejahatan ke arah kebajikan, inilah praktik Bodhisattva. Berhubung kita tengah melatih diri, maka kita menjadi Bodhisattva.
Bodhisattva adalah makhluk yang memiliki cinta kasih berkesadaran. Kita menyayangi semua makhluk. Inilah cinta kasih yang terunggul. Jadi, kita harus senantiasa memiliki kesabaran dan ketahanan. Kita harus menahan nafsu. Jika kita bisa menahannya sebentar saja, maka ia akan berlalu dan cinta kasih akan tumbuh. Dengan begitu, kita dapat melindungi semua makhluk. Asalkan kita dapat menahan diri sebentar dari nafsu makan, maka segala kejahatan akan dapat dihindari. Jika kejahatan dapat dihindari, maka kebajikan akan tumbuh. Jadi, kita harus senantiasa mengembangkan cinta kasih kita. Di masa lalu mungkin kita pernah berbuat salah karena kita adalah makhluk awam. Tiada orang tak tak pernah berbuat salah. Sebagian besar orang pernah berbuat salah. Lalu bagaimana? Kita harus mengubah kejahtan ke arah kebajikan. Jika kita pernah menjalin jodoh buruk atau memiliki niat melukai makhluk lain, maka dalam kehidupan ini akibatnya mungkin akan berbuah. Mungkin akan banyak hal kurang baik yang menimpa diri kita. Untuk itu, kita harus meningkatkan kewaspadaan. Kita mungkin pernah berbuat salah pada kehidupan lampau saat belum melatih diri, maka kita hendaknya menerima apa pun kondisi saat ini. Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kita bisa mengubah keburukan menjadi kebaikan.
Kita harus menghadapinya dengan kebaikan. Saat keburukan datang, Kita harus menghadapinya dengan kebaikan. Dengan demikian, inilah praktik Bodhisattva yang sesungguhnya. Berikutnya, kita lihat penggalan ini. Dikatakan, “Bagaimana bisa memakan ikan dan daging?” “Buddha berkata bahwa manusia membunuh makhluk hidup demi keuntungan; menangkap hewan demi kekayaan.” Kata-kata ini sangat sederhana. Kita harus membayangkan di masa kelaparan, saat tidak ada apa pun untuk dimakan, kita lalu membunuh anak sendiri untuk dimakan. Kita juga membayangkan bahwa semua daging bagaikan daging keluarga kita. Dengan begitu, kita tidak akan tega. Yang paling sederhana, di meja makan orang pada umumnya selalu tersaji ikan dan daging yang lain. Ini sepertinya ada pada setiap kali makan. Jadi, di sini dikatakan, “Bagaimana bisa memakan ikan dan daging?” Ini yang sering tersaji di meja makan. Buddha kembali berkata, “Manusia membunuh makhluk hidup demi keuntungan; menangkap hewan demi kekayaan.” Ada orang yang membunuh demi keuntungan. Ada pula yang membunuh hewan demi makan. Ada pula yang melakukan ini demi hobi, seperti sengaja pergi memancing atau menjala. Kita lihat saat ikan tersangkut mata pancing, pasti akan memberontak dan berusaha menyelamatkan diri. Kita menganggap penderitaan makhluk lain sebagai kesenangan bagi diri sendiri. Ada orang yang hobi memancing.
Di RS Tzu Chi juga pernah ada sebuah kisah Suatu hari, ada seseorang yang gemar memancing dilarikan ke unit gawat darurat. Kondisinya sangat parah. Dia harus dioperasi dalam waktu lama. Apa yang terjadi? Suatu hari dia pergi ke tempat pemancingan. Saat kail sudah dilempar, ikan pun datang dan tersangkut. Saat itu dia sangat senang karena merasa ikan yang didapat sangat besar. karena merasa ikan yang didapat sangat besar. Jadi, saat ikan itu terpancing, orang ini merasa senang dan berteriak. Mulutnya pun terbuka, lalu dia menarik kuat-kuat kail tersebut. Namun, ikan tersebut ternyata tidak ada pada kail. Kail itu mengayun dengan kencang. Kail itu mengayun dengan kencang. Kebetulan, mulut orang itu sedang terbuka dan kail itu jatuh tepat di kerongkongannya. Pada saat itu, kail itu tersangkut di kerongkongannya sendiri. Saat ingin diambil ke luar, kail itu tersangkut. Saat ditarik dengan lebih kuat, kail itu malah masuk semakin dalam. Jadi, dia dilarikan ke UGD rumah sakit kita. Di UGD dia tidak bisa dioperasi. Dia harus dimasukkan ke ruang operasi dan harus dioperasi selama beberapa jam. Kerongkongannya terluka tidak ringan. Jadi, adakalanya orang menangkap hewan bukan karena mencari uang, melainkan hanya karena sebuah kesenangan, seperti memancing. Ada orang yang setelah memancing, melihat ikan berjuang untuk hidup, dia merasa senang. Setelah senang sejenak, dia kembali melepaskan ikan itu. Ikan itu belum tentu dimakan. Dia juga tidak perlu makan ikan sebanyak itu. Dia hanya menjalankan hobi. Dia menganggap penderitaan makhluk lain sebagai kesenangan bagi diri sendiri.
Ada pula orang yang membeli ikan dan mengupas seluruh sisiknya. Ikan itu terus berusaha memberontak. Ini juga sangat kejam. meski sudah umum bagi orang-orang bahwa di meja makan selalu tersaji ikan atau daging yang beraneka ragam, tetapi kita tahu saat hewan-hewan dibunuh, mereka melewati penderitaan hebat sebelum sampai di meja makan. Hewan-hewan itu mungkin menyimpan rasa benci. Ada pula orang yang membunuh hewan bukan untuk dimakan sendiri, melainkan untuk mencari keuntungan. Mereka tidak hanya membunuh ikan, tetapi juga hewan lainnya. Di sini disebut semua makhluk. Baik sapi, babi, kambing, ayam, maupun bebek, semuanya umum tersaji di meja makan. Ada orang yang berprofesi sebagai pejagal demi menghasilkan uang. Mereka menyembelih hewan. Ini juga menciptakan karma buruk. Karma buruk seperti ini, baik demi keuntungan maupun demi nafsu makan, semuanya melukai cinta kasih kita. Dahulu, saya pernah membaca sebuah buku yang ditulis oleh Mahabhiksu Lian Chi. Di dalamnya terdapat sebuah kisah. Di sana diceritakan, di sebuah pasar, orang-orang menjual belut. Belut itu dijual hidup-hidup. Belut-belut ini ditaruh di dalam ember. Di dalam ember itu terdapat air. Belut-belut di dalam ember tersebut sangat banyak. Lalu, ada seseorang yang ingin membeli belut itu. Dia mengulurkan tangan untuk memilih yang lebih gemuk. Dia memasukkan tangannya ke dalam ember dan menangkap seekor belut. Saat dia memasukkan tangannya ke dalam ember, belut-belut berdatangan. Seberapa dalam dia menjulurkannya, belut-belut terus menggigiti tangannya. Sakit sekali. Belut-belut itu tak bisa disingkirkan.
Saat dia mengangkat tangannya, belut-belut itu masih terus menggigit. Orang itu pun berteriak kesakitan karena digigit belut. Belut itu tidak melepaskan gigitan. Mendengar kabar ini, putra orang tersebut segera datang menghampiri. Dia ingin segera membawa ayahnya pulang. Namun, banyak belut masih menggantung di tangannya. Mereka harus bagaimana? Mereka lalu menggunakan gunting besar untuk mengguntingi ekor belut-belut itu. Mereka terus menggunting, tetapi kepala belut-belut itu masih menempel pada tangannya. Kondisi saat itu tidak seperti saat ini. Ilmu pengobatan tidak semaju saat ini. Gigi-gigi belut itu menancap dengan dalam pada lengannya. Kepala belut-belut itu harus dicabut satu per satu. Tangannya pun mengalami banyak luka. Gigi-gigi belut itu juga harus dikorek dan membutuhkan waktu beberapa hari. Orang ini terus menjerit kesakitan. Akhirnya, orang ini pun meninggal dunia. Inilah cerita yang pernah saya baca. Cerita ini terjadi di zaman Mahabhiksu Lian Chi. Saat itu, orang-orang merasa takut saat mendengar cerita itu. Ternyata, orang tersebut sangat gemar makan daging belut. Setiap hari, dia makan banyak belut. Setiap hari, dia juga memilih belut sendiri. Setiap hari, dia juga memilih belut sendiri. Intinya, ini adalah karma yang berbuah dalam satu kehidupan yang sama.
Ada yang berbuah pada kehidupan berikutnya. Ada pula karma yang berbuah pada beberapa kehidupan selanjutnya. Bukankah ini sudah pernah kita bahas? Jadi, tidak makan daging tentu lebih baik. Makan daging adalah wujud pikiran yang kejam. Makan daging adalah wujud pikiran yang kejam. Saat kita ingin memakan daging makhluk lain, makhluk itu juga mengalami penderitaan. Mereka mungkin menyimpan rasa dendam. Berikutnya dikatakan, “Keduanya adalah karma buruk dan membawa pada kelahiran di Neraka Jeritan.” “Karena itu, ketahuilah bahwa membunuh dan memakan makhluk lain kesalahannya sedalam sungai dan lautan, beratnya melebihi gunung dan bukit.” “Keduanya” merujuk pada orang yang makan daging dan orang yang membunuh hewan demi keuntungan. Orang-orang ini akan terus memupuk karma buruk dan setelah meninggal akan terlahir di Neraka Jeritan. Mereka akan jatuh ke alam neraka dan terus menjerit siang malam akibat penderitaan. Di alam manusia, kita dapat melihat kondisi ini di rumah sakit. Rumah sakit adakalanya bagaikan neraka di alam manusia. Manusia menderita saat sakit, baik ringan maupun berat. Begitu jatuh sakit, manusia sangat menderita. Ada pula orang yang berpenyakit parah dan para dokter tidak memiliki cara lagi. dan para dokter tidak memiliki cara lagi. Seorang Mahabhiksu Wu Da yang merupakan guru kerajaan pun penyakitnya tidak bisa disembuhkan oleh berbagai tabib di seluruh negeri. Luka wajah manusia yang dideritanya amat parah. Terlebih lagi, di rumah sakit masa kini, kita dapat melihat berbagai jenis penyakit.
Para dokter bersungguh hati untuk meringankan penderitaan pasien, tetapi pasien tetap merasa sakit dan terus menjerit. Kasus seperti ini juga banyak. Sebelum meninggal, mereka sudah merasa bagaikan di neraka. Mereka sangat menderita. Terlebih lagi, jika terlahir di Neraka Jeritan. Mengapa disebut “Jeritan”? Kita melihat orang yang menderita sakit parah, dapat menjerit seharian. Kita bisa membayangkan kondisi di neraka dengan adanya yaksa yang memberi hukuman, tentu penuh penderitaan. Hukuman di neraka sungguh menyiksa dan membuat makhluk di sana terus menjerit. Menjalani hukuman tentu tersiksa. Mereka dihukum, kesakitan, dan pingsan, lalu disiram air hingga sadar. Setelah sadar, hukuman kembali diulang. Begitulah kondisinya, menderita sekali. Dari Sutra Ksitigarbha bab Jenis-jenis Neraka, kita akan dapat memahaminya. Kita pernah membahas Sutra Ksitigarbha dan mengulas bab Jenis-jenis Neraka. Sungguh menakutkan. Jadi, kita tak boleh berbuat jahat. Jika kejahatan tercipta dan terpupuk, maka kita pasti jatuh ke alam neraka. Buahnya bukan hanya diterima di alam manusia. Sebuah kejahatan besar mungkin berbuah pada penderitaan di neraka. Jadi, di sini dikatakan bahwa baik membunuh hewan demi keuntungan maupun demi nafsu makan, jika kesalahan ini terus dipupuk, maka akan menjadi sedalam sungai dan lautan. maka akan menjadi sedalam sungai dan lautan. Jika kesalahan ini seluas lautan, apakah dapat dihilangkan? Tidak. Masih ada kemungkinan baginya untuk terus terpupuk. Jadi, jika tidak segera mengendalikan diri, kesalahan ini akan semakn dalam bagai lautan. Kesalahan kita akan berlapis-lapis dan menumpuk bagaikan bukit atau gunung.
Bukit adalah gunung yang lebih rendah. Gunung lebih tinggi dari bukit. Intinya, seberapa dalam, tinggi, berat, atau ringannya karma buruk, ia dapat terpupuk. Kesalahan ringan, jika terus dilakukan, akan menjadi kesalahan berat. Kejahatan ringan jika terus dipupuk akan menjadi kekeruhan berat. Jadi, kita harus bersungguh hati dalam keseharian. Kita harus sungguh-sungguh menjaga pikiran cinta kasih kita. Janganlah karena nafsu makan sesaat, kita membunuh makhluk hidup dan melukai cinta kasih kita. Jangan pula karena sedikit keuntungan dalam kehidupan, kita membunuh makhluk hidup dalam jumlah besar. Janganlah melakukan hal yang melawan hati nurani. Dengan demikian, barulah kita bisa menjaga diri dari kesalahan dan karma buruk sehingga terhindar dari penderitaan. Jadi, memanfaatkan saat ini, saat kita dapat mendengar ajaran Buddha dan memahami kebenaran, kita harus segera melatih diri. Jika tidak, akibat mengerikan seperti yang kita dengar masih sangat banyak. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati.