Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-393-Saling Menjadi Penolong

Saudara se-Dharma sekalian, kita berjodoh untuk berkumpul bersama., maka kita seharusnya dapat senantiasa bersahabat satu sama lainnya. Dengan demikian, kelompok kita ini, masyarakat kita ini, bukankah akan harmonis? “Kamu adalah teman saya, terlebih teman yang bermanfaat.” Jika saya melakukan kesalahan, kamu harus memberi tahu saya, dan saya harus menerimanya dengan sukacita serta berterima kasih. Jika kamu melakukan kesalahan, saya juga harus segera memberi tahu kamu, dan kamu juga harus menerima dengan tenang dan penuh sukacita. Kita semua saling bersahabat. Dengan begitu, semua orang di sekitar kita merupakan penolong bagi kita. Kita pun menjadi penolong bagi orang lain. Dengan begitu, masalah apa lagi yang terjadi di masyarakat? Sikap saling membohongi, saling menipu, dan saling bertikai tidak ada lagi. Kita dapat saling membimbing ke jalan yang benar. Jika semua orang berjalan sesuai dengan aturan, maka kita dapat melakukan berbagai hal baik. Semua orang saling membimbing untuk berbuat baik. Semua orang dapat menjadi Bodhisattva. Jika kita agak keluar jalur dari sisi sila ataupun tata krama, maka akan ada orang yang meluruskan dan membimbing. Kita juga dapat meluruskan dan membimbing orang lain. Jika setiap orang dapat mematuhi peraturan dan menjaga citra yang baik, maka bukankah dunia ini akan menjadi tanah suci Bodhisattva? Ini sangatlah penting. Jadi, kita harus saling bersahabat dan menjadi penolong satu sama lain.

Berikutnya dikatakan, Berikutnya dikatakan, “Sejak masa tanpa awal, kami tidak bertemu teman yang bajik; semua adalah akibat dari karma ini.” Apa yang dimaksud “karma ini”? Sebelumnya kita pernah membahas bahwa kita telah menciptakan banyak karma membunuh demi memakan daging makhluk hidup dan telah menjalin rasa dendam. Karma buruk ini sangat berat, dalam bagaikan sungai atau lautan. Bayangkan, di tengah rasa dendam dan jalinan jodoh buruk ini, untuk mendapat sahabat yang bermanfaat tentu akan lebih sulit. Ini adalah akibat dari karma yang dilakukan. Jadi, sejak masa tanpa awal, berapa banyak karma yang kita lakukan, berapa banyak makhluk yang sudah kita celakai, dan berapa banyak daging hewan yang kita makan? Semua ini sudah berlalu dan kita tak dapat menghitungnya. Begitu tersesat dan terjerumus, kita sulit untuk membebaskan diri. Dengan demikian, kita terus kesulitan bertemu teman dan guru yang baik serta tidak bertemu Dharma untuk terlepas dari Samsara. Jadi, kita terus tenggelam dalam enam alam kelahiran kembali dan tak mampu membebaskan diri. Ini sungguh menyedihkan. Jika mampu bertemu teman dan guru yang baik, barulah kita berkesempatan bertemu Dharma.

Di zaman Buddha hidup, ada pula kisah seperti ini. Di dalam Sangha, banyak anggota keluarga kerajaan, banyak pula warga biasa. Jadi, segala kebiasaan ada di sana. Buddha ingin semua orang setara, maka baik keluarga kerajaan, sanak keluarga Beliau sendiri, ibu tiri Beliau, ataupun anak istri Beliau, semuanya dibimbing masuk ke dalam Sangha. Di dalam Sangha juga ada anak pejabat, tentu juga ada orang berkasta rendah. Di zaman Buddha hidup ada empat kasta. Di India hingga kini sistem ini masih berlaku, Di India hingga kini sistem ini masih berlaku, terlebih lagi di zaman Buddha. Demi menolong semua makhluk, dan membuat semua orang saling menghormati, Buddha ingin mengedepankan kesetaraan. Di dalam Sangha ada sepupu Buddha yang bernama Devadatta. Devadatta juga meninggalkan keduniawian dengan sukacita. Dia juga sangat tekun dan bersemangat. Hasilnya, dia memperoleh kesaktian. Namun, dia mulai besar kepala dan menjadi sangat sombong. Dia merasa tak jauh berbeda dari Buddha. “Mengapa Buddha begitu dihormati dan dikagumi oleh banyak orang?” “Mengapa aku tidak?” Jadi, dia berpikir bagaimana caranya agar dirinya sama atau bahkan lebih termasyhur dan lebih dihormati dari Buddha. Ketika kesombongan muncul, niat buruk pun mulai bangkit. Dia mulai memilih. Dia ingin memilih orang yang berkuasa untuk dijadikan sandaran. Dengan begitu, dia merasa pengaruhnya akan bertambah besar. Lalu, dia berpikir untuk mencari Ajatasatru.

Saat itu Ajatasatru adalah seorang putra mahkota. Ayah dan ibunya sangat meyakini ajaran Buddha dan menghormati Buddha Sakyamuni. Namun, Ajatasatru lebih bersikap membangkang. Devadatta memilih mendekati Ajatasatru. Dia menggunakan berbagai cara dan berbagai kesaktian untuk mengelabui Ajatasatru. Lama-kelamaan, melihat kesaktian dan kepandaian Devadatta, melihat kesaktian dan kepandaian Devadatta, Ajatasatru pun merasa tertarik. Di dalam hatinya timbul pandangan keliru. Apa pun yang dikatakan Devadatta, dia memercayainya. Lambat laun, pandangan salahnya memuncak hingga dia akhirnya melakukan lima karma celaka. Jadi, Devadatta ingin menggantikan Buddha, memberontak, dan menghancurkan Sangha. Dia ingin menggantikan Buddha Sakyamuni untuk memimpin Sangha, sedangkan Ajatasatru ingin menjadi raja. Oleh karena itu, dia melakukan salah satu dari lima karma celaka. Devadatta dan Ajatasatru bertemperamen mirip. Jadi, Ajatasatru setiap hari berpikir bahwa Devadatta sudah melampaui Buddha. Karena itu, dia berpikir untuk terus aktif mendukung Devadatta, menghormati, serta menyokongnya. Jadi, setiap hari dia mengirimkan lima ratus kereta berisi bahan makanan untuk menyokong Devadatta dan pengikutnya yang berjumlah lebih dari 500 orang dan juga membentuk persamuhan seperti Sangha. Ini terjadi di zaman Buddha. Di zaman Buddha sudah ada Sangha tandingan. Saat itu Buddha juga tidak bertindak banyak.

Suatu hari, sekumpulan bhiksu berkumpul di kota untuk mengumpulkan makanan. Mereka melihat lima ratus kereta yang dikirimkan  kepada Devadatta dan pengikutnya. Orang-orang di kota menggunjingkan hal itu. Ada orang yang memuji, ada pula yang merasa tidak sepatutnya. Setelah para bhiksu mengumpulkan makanan, mereka kembali ke vihara. Para bhiksu pun makan dengan tenang. Setelah makan, Setelah makan, mereka menuju kediaman Buddha untuk memberi hormat dan melaporkan kejadian yang mereka lihat dan mereka dengar di kota tentang Devadatta yang terus mengumpulkan orang dan memperkuat perkumpulan miliknya. Perkumpulan itu didukung oleh Ajatasatru. Mereka melaporkan hal ini kepada Buddha. Setelah mendengarnya, Buddha mulai berbicara kepada para bhiksu. Buddha berkata bahwa tidak seharusnya para bhiksu membangkitkan rasa iri saat pergi ke tempat Devadatta. Ini tidak boleh terjadi. Semua orang harus menjaga pikiran. Buddha berkata bahwa jangan sampai para bhiksu merasa iri melihat Ajatasatru memberi persembahan bagi Devadatta, jangan pula mengingini hal yang sama. jangan pula mengingini hal yang sama. Semua orang diharapkan bersikap waspada. Mengapa? Buddha lalu mulai bercerita.

Devadatta kelak akan dirugikan karena tamak atas persembahan. Para bhiksu hendaknya mengurangi keinginan, tetapi Devadatta malah menghalalkan segala cara demi mendapat persembahan. Dia bahkan menggunakan kesaktiannya untuk mengelabui Ajatasatru hanya demi mendapat persembahan dan mendapatkan kekuasaan. Kelak Devadatta akan mencelakai diri sendiri. Buddha juga memberi perumpamaan ibarat pohon pisang yang mati setelah berbuah. Kita semua tahu pohon pisang raja. Setelah pohon pisang raja berbuah dan buahnya diambil, pohon itu akan mati. Kita juga sering mendengar orang berkata, “Siput yang beranak akan segera mati.” Saat siput hendak melahirkan anak, itu berarti hidupnya sudah tidak lama lagi. Demikian pula, Devadatta mendapat persembahan ibarat pohon pisang raja yang berbuah dan siput yang melahirkan anak. Hidupnya tak akan lama lagi. Demikianlah perumpamaannya. Devadatta adalah orang yang bodoh dan tak bijaksana. Dia tidak memahami kebenaran. Akibatnya, dia selalu berada dalam penderitaan. Kelak, setelah mencelakai diri sendiri, dia akan merasakan penderitaan panjang. Kita semua juga tahu bahwa akibat perbuatannya yang hendak mencelakai Buddha, akhirnya Devadatta mati ditelan Bumi dan terlahir di neraka. Inilah akibat yang diterimanya. Jadi, kita semua harus tahu bahwa kita harus belajar melepas ketamakan. Sejak awal Devadatta berpikiran menyimpang dan melanggar aturan. Dia lalu mengelabui Ajatasatru dan membentuk kelompok di luar Sangha.

Saat itu, di masyarakat jadi ada dua Sangha. Karena itu, para bhiksu mengadu pada Buddha. Buddha pun menjelaskan hal ini kepada mereka. Jadi, Buddha berpesan, “Kalian semua hendaknya melepas ketamakan.” Semua hendaknya meningkatkan kewaspadaan. Batin kita harus bisa melepas ketamakan. Kita harus mengamati dan sungguh-sungguh menyelami kebenaran. Kita harus sungguh-sungguh mengamati agar dapat membedakan benar dan salah. Berhubung telah meninggalkan keduniawian, Berhubung telah meninggalkan keduniawian, tidak lagi mengejar kemewahan dan kedudukan, dan memasuki Sangha dengan sukarela, maka kita harus ingat terhadap kebenaran ini. Kita harus hidup sederhana agar batin tidak lagi terpengaruh oleh ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan. Jadi, kita harus sungguh-sungguh mendalami dan merenungkan prinsip kebenaran. Kita harus sungguh-sungguh menjaga pikiran dan perbuatan kita sendiri. Inilah nasihat Buddha kepada para bhiksu. Kisah Devadatta dan Ajatasatru ini menggambarkan sahabat yang tidak baik. Devadatta bukanlah teman yang baik bagi Ajatasatru. Sebaliknya, dia adalah teman yang merugikan. Sebagai putra mahkota, Ajatasatru tidak dapat memperoleh teman yang baik. Bukan hanya itu, dia malah berteman dengan teman yang jahat. Teman yang jahat memperkuat nafsu keinginannya.

Pandangan kelirunya pun semakin mencuat. Jadi, ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan keraguan telah perlahan-lahan mencemari batinnya. Jadi, teman yang baik dapat membimbing kita menuju jalan yang baik, sedangkan teman yang jahat mengarahkan kita pada jalan yang sesat. Memasuki jalan yang baik berarti menuju kecemerlangan. Memasuki jalan yang sesat berarti menuju kebodohan dan kegelapan. Berikutnya dikatakan, “Karena itu, di dalam Sutra dikatakan bahwa karma buruk dari membunuh dapat membuat semua makhluk terjatuh ke alam neraka atau setan kelaparan dan menerima penderitaan.” Tidak mendapat teman yang baik adalah akibat dari karma. Semua terjadi akibat adanya sebab dan kondisi. Bayangkan, Ajatasatru hidup sezaman dengan Buddha. Orang tuanya adalah murid Buddha yang setia dan sangat taat. Namun, Ajatasatru tidak bisa menerima ajaran benar dari Buddha, sebaliknya malah terjebak oleh Devadatta. Akibatnya, pikirannya menyimpang. Begitu menyimpang sedikit saja, dia pasti tersesat jauh.

Akhirnya, dia melakukan salah satu dari lima karma celaka. Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, pikiran kita harus selalu dijaga baik. Untuk itu, kita harus bergaul dengan teman-teman yang baik. Kita harus selalu menunaikan kewajiban kita. Kewajiban kita harus dijalankan dengan murni dan penuh semangat. Batin kita pun harus harus murni. Dengan demikian, kita akan menjadi penolong diri sendiri  dan penolong bagi orang lain. Kita juga akan berkesempatan untuk mendapat pertolongan dari orang lain. Ini adalah berkah kita. Jadi, di dalam kelompok, kita harus membimbing ke arah yang benar dan sesuai sila Vinaya. Kita harus senantiasa melatih batin kita. Jangan biarkan pikiran menyimpang sedikit pun. Jadi, setiap orang harus selalu bersungguh hati. 

Leave A Comment