Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-395-Kondisi Batin Bodhisattva

Saudara se-Dharma sekalian, Buddha mengajarkan kepada kita agar kita memiliki hati Buddha dan berjalan di Jalan Bodhisattva. Jika kita terus tenggelam di lima alam, maka maksimal kita hanya bisa terlahir di alam dewa yang berumur panjang dan menikmati lebih banyak berkah. Berhubung biasa menanam kebajikan, kita memupuk banyak berkah. Karena itu, kita terlahir di alam dewa, menikmati umur panjang dan banyak berkah. Di alam manusia, kebahagiaan lebih sedikit daripada penderitaan. Usia pun lebih pendek. Kehidupan manusia sungguh penuh derita. Mengenai kebahagiaan, apakah kebahagiaan yang ada di dunia? Apakah kenikmatan material? Segala materi juga tidak kekal. Materi juga terbentuk dari perpaduan berbagai unsur. Semua itu disebut materi. Berhubung semua hanyalah perpaduan, maka pasti ada saatnya semua terurai. Jadi, segala materi juga bersifat semu. Sesungguhnya, saat kita memiliki banyak materi, seperti rumah, harta, uang, atau permata, apakah semua itu akan terus abadi? Meski materi dapat bertahan lama, tetapi usia kita juga tidaklah panjang. Para kaisar zaman dahulu, setelah mangkat, segala kekuasaannya menjadi milik orang lain. Jadi, tiada kebahagiaan yang nyata. Jikapun ada, maka sangatlah sedikit. Usia manusia tidaklah panjang. Sebaliknya, penderitaan sangat banyak. Di alam manusia, banyak hal yang membawa kerisauan. Manusia risau akan mendapat dan kehilangan. Ditambah lagi dengan ketidakkekalan hidup dan rentannya bumi ini, kekhawatiran kita semakin banyak. Kita harus selalu mawas diri. Kita harus selalu berhati tulus.

Terhadap langit ataupun bumi, kita harus menghormati dan menghargai. Ini yang selalu saya katakan. Bukan hanya menghormati langit dan bumi, kita juga harus bersyukur terhadap segala sesuatu. Bukan hanya itu, kita juga harus menghormati semuanya. Segalanya harus kita hormati. Terlebih lagi, antarsesama manusia. Jadim kita harus mengembangkan rasa syukur, rasa hormat, dan cinta kasih. Inilah yang disebut hati Buddha dan hati Bodhisattva. Dengan adanya hati Buddha dan Bodhisattva, maka baik kaya maupun miskin, kita tetap dapat hidup dengan damai tanpa tercemar. Batin kita tak akan dipenuhi noda batin. Jika kita memiliki hati Buddha dan hati Bodhisattva, maka batin kita akan selalu dipenuhi kebahagiaan dalam Dharma. Jadi, terhadap segala materi, kita tidak melekat. Terhadap Buddha dan Dharma, kita selalu membangkitkan rasa sukacita. Inilah kondisi batin Buddha dan Bodhisattva. Berikutnya, mengenai tiga alam rendah, tiga alam rendah mencakup alam neraka, setan kelaparan, dan binatang. Semua kondisi ini mengikuti karma. Benih karma apa yang ditanam, seberapa banyak benih yang ditanam, maka saat benih itu matang, buah karma ini akan muncul.

Mengenai hukum sebab akibat, sering saya katakan bahwa karma diciptakan dan diterima oleh diri sendiri. Jika kita jatuh ke alam neraka, penderitaannya akan sangat tak terkira. Salah satunya disebut “Neraka Tanpa Jeda”. Tanpa jeda berarti tiada ruang untuk berhenti. Penderitaan dirasakan bertubi-tubi dan terus-menerus. Yaksa, setan, dan penjaga neraka terus memberi hukuman. Hukuman ini tiada hentinya. Karena itu, disebut “tanpa jeda”. Kondisinya sangat menderita hingga tak sempat memikirkan penderitaan orang lain. Seperti inilah penderitaan di neraka. Di dalam Sutra Ksitigarbha dikatakan, “Penuh oleh satu orang, juga penuh oleh banyak orang.” Artinya, menjaga diri sendiri saja tak sanggup, bagaimana bisa memikirkan orang lain? “Sakit yang saya derita amat berat, amat menyiksa.” “Sayalah yang paling menderita.” Meski pasien di sebelahnya juga berteriak, dia tidak akan menggubris. Dia berkutat dengan penderitaannya sendiri. Inilah yang disebut “tanpa jeda”. Tanpa jeda juga berarti tanpa ruang dan tanpa jeda waktu. Inilah kondisi di neraka. Di alam manusia juga ada penderitaan seperti ini. Adakalanya bencana datang silih berganti. Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari. Saat satu kesulitan baru berlalu, kesulitan lain sudah datang lagi. Kita juga sering mendengar relawan bercerita saat mereka melakukan kunjungan kasih ke rumah-rumah warga kurang mampu, adakalanya satu keluarga didera penyakit. Ada pula yang mengalami keterbatasan fisik.

Ada pula yang tubuhnya terlihat baik, tetapi ternyata memiliki gangguan mental. Ini juga menjadi beban keluarga. Demikianlah neraka di alam manusia. Berikutnya adalah alam setan kelaparan. Kita tahu asal mula upacara Ullambana. Suatu hari, Mahamaudgalyayana menelusuri kondisi ibunya yang telah meninggal. Setelah menerima ajaran Buddha, Mahamaudgalyayana meyakini hukum karma. Dia teringat ibunya yang semasa hidup tidak menghormati Tiga Permata dan gemar membunuh. Dia juga sering memfitnah orang lain. Tiada ucapan baik keluar dari mulutnya. Tiada kebajikan dalam tindakannya. Tiada niat baik dalam hatinya. Jadi, saat teringat ibunya semasa hidup, Mahamaudgalyayana yakin bahwa ibunya pasti terlahir di alam neraka. Memanfaatkan waktu di masa varsa, dia pergi ke neraka dengan kesaktiannya. Di sana dia melihat sekelompok setan kelaparan. Benar, ibunya terlahir di alam setan kelaparan. Dia segera menghampiri. Melihat Mahamaudgalyayana, ibunya mengenali putranya tersebut dan segera meminta makanan. Mahamaudgalyayana tidak tega. Dia memiliki kekuatan batin terunggul. Dia segera memunculkan semangkuk nasi. Saat nasi itu muncul dan diberikan kepada ibunya, begitu ibunya menerima dengan tangannya dan membuka mulut ingin makan karena sangat lapar, seketika itu api keluar dari mulutnya.

Seluruh nasi itu pun menjadi arang dan tidak bisa dimakan. Bukankah kita pernah mendengar ungkapan, “Lapar bagai tengah terbakar?” Rasanya lapar sekali, tidak ada makanan, tidak ada air minum. Perut serasa tengah terbakar. Hawa panas bagai keluar dari mulut. Hawa panas bagai keluar dari mulut. Api keluar dari mulut ibu Maudgalyayana. Sang ibu sangat sedih. Bahkan anaknya yang begitu sakti pun tidak berdaya di alam setan kelaparan. Derita akibat karma sang ibu ini tak dapat digantikan oleh sang anak. tak dapat digantikan oleh sang anak. Buah karma ini juga tak dapat dihilangkan. Dia harus bagaimana? Mahamaudgalyayana bermeditasi. Begitu keluar dari meditasinya, dia langsung menemui Buddha. Dia bersujud di hadapan Buddha, lalu menceritakan kisah ini. Buddha berkata, “Ini sungguh tak dapat dihindari.” Diri sendiri yang berbuat, diri sendiri pula yang menerima akibatnya.” “Karma ibumu berat bagai Gunung Sumeru, sulit untuk diubah.” “Ini adalah perbuatannya sendiri.” Maudgalyayana memohon kepada Buddha, “Meski karma ibuku begitu berat, apakah tak ada cara meringankannya?” Buddha berkata, “Maudgalyayana, kekuatanmu seorang tak akan cukup.” “Aku sebagai Buddha sekalipun, juga tak dapat mengubah karma.” “Hanya dengan menghimpun kekuatan banyak praktisi berkualitas luhurlah banyak praktisi berkualitas luhurlah ibumu dapat diselamatkan.”

“Bagaimana caranya?” Buddha tersenyum dan berkata, “Maudgalyayana, masa varsa akan berakhir.” “Tahukah dirimu?” “Berapa banyak orang yang melatih diri di dalam Dharma pada saat ini?” “Semua orang dipenuhi keheningan batin.” “Batin semua orang sangat murni.” “Mereka sudah mencapai pencerahan.” “Ada yang mencapai buah pertama, kedua, bahkan mencapai tingkat kesucian Arhat.” “Manfaatkanlah waktu-waktu sekarang ini untuk memberi persembahan bagi mereka.” “Dengan kekuatan jalinan jodoh baik ini, barulah bisa meringankan beban ibumu.” Jadi, Mahamaudgalyayana segera  mempersiapkan persembahan bagi Sangha dengan penuh rasa hormat. Dengan persembahan penuh rasa hormat ini, para anggota Sangha menerimanya dengan tulus. Jadi, ketulusan semua orang terhimpun untuk mendoakan sang ibu. untuk mendoakan sang ibu. Dengan demikian, kekuatannya sangat besar. Bukan hanya ibu Maudgalyayana yang terbebas dari alam setan kelaparan, melainkan makhluk-makhluk yang saat itu berada di alam setan kelaparan dan mengalami penderitaan, terbebas seketika. Setiap kali mendengar kisah ini, saya selalu merasa terharu. Jika kita hanya berlatih seorang diri, bahkan seperti Buddha pun tak dapat melenyapkan karma makhluk hidup. Dibutuhkan kekuatan ketulusan dari banyak orang agar cukup untuk membuat perubahan. Kisah Maudgalyayana ini tersebar ke Tiongkok.

Di India, orang-orang makan dengan tangan. Di cerita tersebut, mereka mencuci tangan sebelum makan. Jadi, Maudgalyayana memberikan air ke hadapan setiap anggota Sangha dengan penuh rasa hormat dan tulus, baru kemudian mempersembahkan makanan. Karena itu, dalam upacara bulan tujuh kini, diletakkan semangkuk air untuk cuci tangan para makhluk halus. Sesungguhnya, ini sudah berubah makna. Saat itu, Maudgalyayana membangkitkan ketulusan tertinggi dan kualitas pelatihan diri untuk menghampiri setiap anggota Sangha guna mempersembahkan air sebelum semua orang mulai makan. Jadi, kita tahu bahwa bulan tujuh adalah bulan penuh syukur dan bulan bakti. Ini karena Mahamaudgalyayana teringat ibunya. Baik di masa lalu maupun masa kini, kita hendaknya membangkitkan rasa bakti seperti Mahamaudgalyayana. Kita harus segera berbakti saat ini juga, membuat orang tua mengenal Dharma, dan memicu diri sendiri untuk berlatih. Jika kini kita hanya mengandalkan niat untuk berada di sisi orang tua dan memberikan kebutuhan materi, dan memberikan kebutuhan materi, maka saat buah karma mereka berbuah, kita tetap tidak bisa membantu mereka.

Yang terbaik adalah menuntun mereka untuk mengenal Dharma dan mempraktikkan Jalan Bodhisattva. Inilah pertolongan yang utama bagi orang tua. Jadi, alam setan kelaparan amat menderita. Rasa lapar di sana bagai membakar tubuh. Kita pernah mendengar ungkapan bahwa saat lapar, perut bagai terbakar api. Saat diberikan makanan, dari mulutnya keluar api. Inilah kondisi alam setan kelaparan, menderita sekali. Di alam binatang, kita dapat melihat kondisinya, juga sangat menderita. Mereka tak bisa mengendalikan diri. Siapa yang rela terlahir di alam binatang? Entah itu binatang buas di gunung, unggas di udara, ataupun binatang liar lainnya, tak peduli seberapa kuat tenaganya, binatang tetap menderita. Manusia takut melihatnya. Buah karma mereka juga membawa derita. Jadi, baik harimau, macan, serigala, elang, burung pemangsa, ular, kalajengking, maupun yang lainnya, batin mereka kerap dipenuhi kejahatan.

Burung pemangsa di udara juga memiliki pikiran yang jahat. Mereka terus memangsa hewan lain. Yang kuat memakan yang lemah. Begitu pula dengan ular berbisa, harimau, serigala, dan lainnya. Saat melihat manusia, mereka ingin menyerang. Ini karena mereka memiliki pikiran buruk. Saudara sekalian, kita harus tahu bahwa di lima alam kelahiran, di alam manusialah kita dapat melatih diri. Meski di alam ini juga banyak penderitaan dan usianya tergolong pendek, tetapi manfaatkanlah waktu untuk berlatih. Kita harus memiliki hati Buddha dan menjalankan praktik Bodhisattva. Dengan demikian, akan ada lebih banyak orang yang mawas diri dan tulus dalam menghadapi masyarakat, menghormati langit, mengasihi bumi, menghargai kehidupan. Dengan demikian, barulah karma buruk dapat terkikis berkat kekuatan banyak orang. Semoga semua orang selamat dan bebas dari penderitaan. Kita semua harus lebih bersungguh hati.

Leave A Comment