Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-396-Menghormati dan Mengasihi Semua Makhluk

Saudara se-Dharma sekalian, batin manusia harus selalu diselaraskan. Berhubung kita adalah manusia, maka harus memiliki sifat luhur menghormati kehidupan. Kita harus menghormati dan mengasihi semua makhluk. Jika kita menciptakan karma buruk, maka akibatnya tak dapat dihindari. Mengenai binatang buah karma sebagai binatang buas, unggas pemangsa, atau ular, ini mengingatkan kita bahwa sebagai manusia kita hendaknya selalu mengembangkan cinta kasih. Berhubung terlahir sebagai manusia Berhubung terlahir sebagai manusia yang merupakan makhluk berakal budi, kita hendaknya mengasihi semua makhluk apa pun jenis dan wujudnya. Ini adalah kewajiban kita. Ini karena kita telah hidup sebagai manusia. Baik dalam kehidupan lampau maupun kehidupan saat ini, kita mungkin telah menciptakan karma, maka buahnya tak dapat kita hindari. Saya sering menceritakan bahwa banyak orang mengeluh pada diri sendiri. “Mengapa orang tua melahirkan saya dalam kondisi seperti ini?” Mereka tidak puas terhadap diri sendiri, tetapi juga tak dapat berbuat apa-apa. Apakah wujud kita memuaskan atau tidak, itu bergantung pada karma yang kita ciptakan di masa lampau dan berbuah di masa kini. Bagaimana pun rupa kita, asalkan empat anggota gerak dan lima indra berfungsi normal, kita haruslah bersyukur. Kita harus bersikap pengertian dan berpuas diri. Jika kita tak dapat bersikap pengertian dan merasa puas, kemudian sering mengeluh dan tidak puas terhadap berbagai hal, maka kita akan sangat menderita.

Apa yang kita keluhkan? Yang harus dikeluhkan adalah diri sendiri yang dahulu tak memahami kebenaran sehingga menciptakan karma buruk. Akibatnya, kekuatan karma ini menentukan rupa kita. Terlebih lagi pikiran. Kini pikiran kita telah memilih arah yang benar. Jika kita telah memilih ajaran yang benar, maka kita harus mempraktikkannya. Dengan begitu, kita tidak akan salah. Jika kita telah berjalan di jalan yang benar, tetapi dalam kehidupan ini masih banyak hal-hal yang tak sesuai harapan, lalu bagaimana? Kita harus segera bertobat. Kita harus segera bertobat. Kita harus menerima buahnya dengan sukarela. Dengan begitu, hati kita akan lebih lapang. Ini lebih baik daripada jika kegelapan batin bangkit dan kekuatan karma muncul, kita yang sudah memahami bahwa kekuatan karma bagai angin hitam yang datang di hadapan kita tetap tidak menutup rapat pintu batin kita sehingga terpengaruh kembali oleh kekuatan ini. Jika begitu, batin kita akan kembali terluka. Jadi, kita harus selalu memperhatikan pintu hati kita. Saat angin topan akan datang, kita semua harus melakukan antisipasi. Saat hujan badai berlalu, angin dan hujan akan kembali normal. Demikian pula dengan batin kita. Jika batin kita masih terus terbelenggu oleh kekuatan karma, maka akan menjadi bagaikan binatang buas. Niat jahat binatang buas dipengaruhi oleh kekuatan karma karena sesungguhnya hewan juga tidak ingin terlahir di alam seperti itu.

Wujud pemangsa atau binatang buas bukanlah pilihan mereka sendiri. Berhubung sudah terlahir sebagai hewan buas, maka mereka memiliki pikiran jahat. Sejak lahir, mereka memiliki naluri jahat mengikuti kekuatan karma. Ini juga merupakan belenggu karma. Mereka tak dapat mengendalikan diri. Begitulah kondisi kehidupan mereka. Jadi, kini, berhubung kita lahir sebagai manusia dan memiliki jalinan jodoh untuk bertemu ajaran Buddha, serta bisa melatih diri dengan tenang dan menerima cara hidup Buddhis, maka kita harus bersungguh hati dan tekun di jalan yang lapang ini. Jangan lagi kita salah jalan. Jika tidak, di manakah kita akan lahir pada kehidupan mendatang, apakah di neraka, alam setan kelaparan, ataukah alam binatang, kita tak bisa menentukan. Kita lihat penggalan berikutnya. Penggalan sebelumnya berbicara tentang unggas pemangsa dan hewan buas serta kondisi kelahiran di alam binatang. Berikutnya dikatakan, “Atau terlahir dalam wujud rusa, beruang, dan lainnya serta selalu memiliki rasa takut.” Yang ini lebih baik. Kehidupan mereka berada di hutan, tetapi banyak binatang lain di hutan. Jumlahnya tidak terhitung. Tentu, jika terlahir sebagai rusa atau beruang, maka dari binatang-binatang yang ada di hutan, ukuran tubuh mereka termasuk besar. Namun, sifat mereka lebih lembut. Jika dibandingkan dengan harimau dan serigala, mereka sepertinya lebih lemah.

Jika bertemu dengan harimau, mereka juga bisa merasa takut dan ingin kabur. Jadi, hidup di hutan, mereka juga sering merasa terancam dan takut. Ini juga akibat karma membunuh di masa lalu. Karena itu, mereka terlahir di alam binatang. Jadi, karma buruk membunuh akan mengakibatkan kelahiran dalam kondisi terancam dan takut mati. Mereka takut dilukai oleh hewan buas. Jadi, mereka juga merasa takut. Mereka juga ingin hidup dan takut mati seperti manusia. Meski sama-sama binatang dan sama-sama tinggal di hutan, tetapi kondisi mereka berbeda dari hewan buas atau ular beracun. Jadi, mereka kerap dipenuhi rasa takut. Bukankah manusia juga demikian? Meski sama-sama hidup di alam manusia, tetapi manusia yang lemah dan lebih bajik kadang memiliki rasa takut akan ditindas oleh orang lain. Yang jahat kerap menindas yang baik. Yang jahat kerap menindas yang baik. Ini juga terjadi di alam manusia. Kita bisa melihat bahwa semua makhluk, bagaimana pun bentuknya, semuanya ingin hidup dan takut mati. Sifat ini selalu sama. Berikutnya dikatakan, “Jikapun terlahir di alam manusia, menerima dua jenis buah karma; yang pertama adalah banyak penyakit, yang kedua adalah pendek usia.” Di hutan ada banyak jenis hewan yang tak habis disebutkan. Di sana terdapat banyak kehidupan. Kita juga tak dapat mendalaminya satu per satu. Namun, di alam manusia, kita dapat melihat dan lebih memahami kondisi kehidupan.

Ada dua jenis buah karma. Jika kita terjun ke tengah masyarakat dan mengamati dengan saksama, maka kita dapat mendengar dan melihat lebih banyak. Jadi, sebagai manusia, berhubung sudah terlahir sebagai manusia… Tadi kita sudah membahas alam rendah, seperti alam binatang dan alam neraka. Ini termasuk tiga alam rendah. Kini kita beruntung terlahir sebagai manusia. Manusia termasuk alam baik. Alam dewa dan alam manusia adalah alam baik. Namun, di alam manusia, kebaikan dan keburukan bercampur. Ada baik dan ada buruk. Ada orang yang karma buruknya ringan, dapat mengendalikan hidup mereka sendiri. Namun, banyak pula orang yang tak dapat mengendalikan hidupnya. Kondisi seperti ini juga banyak. Ada orang yang sehat, ada pula yang sakit. Semua ini bergantung pada berat tidaknya karma buruk. Orang-orang berkata, “Datang ke dunia pasti membawa karma.” Benar. Datang ke alam manusia pasti membawa karma, hanya berbeda pada berat atau ringannya. Kecuali mereka yang memang membawa ikrar, selebihnya orang pada umumnya tak dapat memilih. Ini karena kita terlahir membawa benih karma. Namun, dapat terlahir di alam manusia yang penuh suka duka, kita masih memiliki kesempatan. Kini kita akan membahas dua jenis buah karma. Manusia pada hakikatnya bersifat bajik. Mengapa bisa memiliki buah karma buruk? Karena jalinan jodoh masa lampau yang terbentuk dari sebab dan kondisi.

Benih buruk mendatangkan kondisi buruk. Kondisi buruk mematangkan buah yang buruk. Inilah buah karma yang diterima. Jalinan jodoh ini ada yang kuat, ada yang lemah. Buah karma juga ada yang ringan, ada yang berat. Ada orang yang terlahir cacat dan tidak sehat atau memiliki anggota tubuh yang tidak lengkap. Ada orang yang kelihatannya sehat secara fisik, tetapi tidak sehat dari sisi mental. Ada orang yang mengalami lumpuh otak dan masih banyak lagi. Ada orang yang mengalami keterbelakangan mental. Sejak lahir, dia sudah tersiksa. Ini adalah buah karma kolektif dirinya dan orang tuanya. Dia menerima buah karmanya sendiri, tetapi memiliki jodoh dengan orang tuanya. Ada orang tua yang setelah melahirkan anak, sangat menyayangi anaknya. Anaknya menemani mereka hingga lanjut usia. Sejak bayi, orang tua merawat anaknya sepenuh hati hingga tumbuh besar dan dewasa. Ini adalah jalinan jodoh orang tua dan anak. Namun, buah karma ditanggung masing-masing. Namun, buah karma ditanggung masing-masing. Ada orang yang memiliki jalinan jodoh dan buah karma sama. Ada yang sama-sama berada di satu kondisi, tetapi buah karmanya tidak sama. Ini bergantung pada jalinan jodoh masa lalu. Buah karma ada yang ringan, ada yang berat. Ada pula bunga karma. Begitu lahir, ada orang bagaikan menggigit sendok emas.

Tahukah kalian artinya? Mereka lahir di keluarga yang berada, mendapat pendidikan dan perawatan yang baik. Namun, apakah dia merasa puas? Mungkin saja meski sejak kecil tubuhnya sehat, tetapi mentalnya tidak sehat. Meski mentalnya juga sehat, mungkin saja dia tidak menyadari berkah. Orang seperti ini seharusnya juga banyak. Tak peduli orang tuanya mengeluarkan berapa banyak orang untuk mendidiknya, dia tetap tidak belajar dengan baik. Dia tidak menggenggam kesempatan. Ini adalah salah satu contoh bunga karma. Ada orang yang menempuh pendidikan dengan lancar dan berhasil lulus, lalu berkeluarga. Segalanya berjalan baik. Tak disangka, setelah berkeluarga, entah mengkhawatirkan anak-anak, memiliki hubungan kurang baik dengan suami, atau sering berselisih, ini juga tak lepas dari jodoh dan karma.  Kadang usaha berjalan dengan baik. Ada orang yang menghasilkan uang berkat kerja keras. Dia sangat bekerja keras. Namun, setelah mendapat uang, dia mengalami musibah yang membuatnya kehilangan banyak uang. Lalu, dia kembali bekerja keras, tetapi musibah kembali menimpanya. Mungkin anggota keluarganya mengalami kecelakaan. Uangnya selalu terpakai. Dia harus kembali bekerja keras. Begitulah kondisinya. Meski dia sungguh-sungguh bekerja keras untuk membangun keluarga yang bahagia, tetapi sedikit berkah yang didapat dengan cepat tersapu oleh karma buruk. Inilah yang disebut bunga karma.

Buah karma datang bertubi-tubi. Ada orang yang terus tertimpa musibah, sangat menderita. Semua ini tak lepas dari karma. Kekuatan karma buruk ini telah terpupuk lama dan terbawa dari kehidupan lampau. Benih dan kondisi buruk menghasilkan buah dan akibat buruk. Orang yang mengalami ini sangat banyak. Kita juga sering melihat dan sering mendengar bahwa di antara pasien kasus Tzu Chi, banyak yang mengalami hal serupa. Kita tentu juga melihat pasien kita yang sebelumnya sangat berjaya, tetapi kemudian hidup dengan memprihatinkan. Kasus seperti ini juga banyak. Ada pula yang tertimpa kemalangan bertubi-tubi. Mereka sungguh menderita. Ini adalah akibat karma buruk. Bedanya hanyalah berat atau ringan. Karma baik dan buruk kerap bercampur. Sebagai manusia, kita mungkin cukup baik, tetapi kita masih makhluk awam, tentu juga tidak luput dari kesalahan. Kesalahan ini menanam karma buruk. Jadi, karma baik dan buruk bercampur. Jika karma baik lebih banyak, berkah tetap tidak akan hilang. Suatu saat berkah tetap akan datang. Jadi, apa yang kita perbuat, itulah yang kita terima. Begitu pula, dapat terlahir di keluarga berada dan mendapat pendidikan yang baik adalah karena kekuatan kebajikan masa lalu lebih kuat. Namun, karma buruk juga tetap bisa berbuah. Jika kita melakukan karma buruk, maka benih ini akan tetap mengikuti kita. Jadi, di antara kebajikan, juga ada kejahatan. Karena itulah, kita sering mengatakan bahwa dalam hidup ini hal yang tak diinginkan sulit dihindari.

Sebagai manusia, kita lahir membawa benih karma. Karena itu, hal yang tak sesuai harapan sulit dihindari. Bahkan ada yang berkata bahwa dari 10 hal, ada 8 sampai 9 yang tak sesuai harapan. Ada orang berkata tidak separah itu, mungkin hanya 6 sampai 7 dari 10. Ada pula yang masih tidak setuju. Ada pula yang masih tidak setuju. Dia merasa yang tak sesuai harapan hanya 2 sampai tiga dari 10. Orang seperti ini tergolong berkarma baik. Karma buruk dan karma baik bercampur. Berhubung pernah melakukan karma baik, manusia dapat menikmati buah yang baik. Jika dikatakan dari 10 hal, ada 8 sampai 9 hal yang tidak sesuai harapan, maka kita masih memiliki 1 sampai 2 hal yang sesuai harapan. Kita tetap harus menghargai hal baik ini. Buah karma baik yang sedikit ini juga dapat menuntun kita untuk kembali menanam benih yang baik. Karma baik ini harus kita genggam. Karma baik ini harus kita genggam. Dengan adanya benih karma baik, akan ada kondisi yang baik. Jika kita dapat memanfaatkannya untuk berbuat baik, maka di kehidupan mendatang kita akan memiliki lebih banyak kesempatan. Di kehidupan ini kita berkesempatan untuk menciptakan berkah. Di kehidupan mendatang pun demikian. Singkat kata, Karma baik dan karma buruk bercampur. Baik dan buruk, kita sendiri yang menerima. Jadi, ada dua jenis akibat. Yang satu adalah buah karma yang berbeda pada ringan atau beratnya. Yang lain adalah bunga karma. Jadi, terlahir sebagai manusia, ada orang yang terbelenggu oleh karma buruk. Karma buruk membelenggu kita. Akibatnya, kita menderita banyak penyakit dan pendek usia.

Ada orang yang sangat panjang umur, tetapi banyak hal dalam hidupnya yang tak sesuai harapan. Ada orang yang sejak lahir menderita banyak penyakit atau pendek usia. Ada orang yang usianya hanya beberapa hari. Dia masih belum mengerti apa-apa, tetapi sudah meninggal. Ada orang yang terus didera penyakit dan tidak memiliki pilihan. Karma terus mengikuti. Jadi, terlahir sebagai manusia, kita harus memanfaatkan kesempatan. Berhubung sudah terlahir sebagai manusia, maka kita harus mengembangkan sifat menghargai kehidupan. Kita harus selalu mengembangkan cinta kasih. Makhluk hidup apa pun harus kita kasihi, terlebih lagi sesama manusia. Jadi, kita harus menghargai kehidupan. Kita harus menghormati semua makhluk. Apa pun bentuknya, kita harus menghormati mereka yang hidup di dunia masing-masing. Kita harus mengasihi semuanya. Cinta kasih kita harus menjangkau semuanya. Jika tidak sengaja menciptakan karma buruk, maka sebagai manusia, kita tetap akan menerima akibatnya. Buah karma baik dan buruk akan diterima si pelaku, baik itu karma yang dilakukan pada kehidupan lampau maupun pada kehidupan sekarang. Kita tak dapat menghindarinya.

Ada orang yang berkata, “Saya tidak ingin marah dan tidak ingin melukai orang lain, tetapi tabiat saya terus melukai orang lain.” tetapi tabiat saya terus melukai orang lain.” Karena itulah, kita harus segera melatih diri. Jika kita tidak memiliki pemahaman, maka kegelapan batin akan memegang kendali. Jika kita memiliki pemahaman, maka kita bisa melakukan pencegahan. Contohnya binatang buas, selalu dikendalikan oleh pikiran buruk. Ini sangat menakutkan. Saudara sekalian, kita harus memanfaatkan waktu sebagai manusia saat ini. Kita juga telah menapakkan kaki di Jalan Agung yang lapang dan telah mengenal ajaran Buddha. Kita tak boleh menyimpang dari jalan ini. Jadi, selama suatu hal itu benar, maka lakukan saja. Selama jalan kita benar, maka melangkahlah dengan tekun. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.

Leave A Comment