Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-400-Menghormati Semua Makhluk Layaknya Diri Sendiri

Saudara se-Dharma sekalian, manusia harus selalu mengembangkan cinta kasih. Niat untuk melindungi kehidupan tak boleh tidak ada. Manusia adalah makhluk tercerdas di alam. Manusia pada hakikatnya memiliki sifat luhur melindungi kehidupan dan hendaknya menghormati semua makhluk layaknya diri sendiri. Tiap orang hendaknya mengembangkan sifat ini. Manusia yang merupakan makhluk tercerdas Manusia yang merupakan makhluk tercerdas harus dapat menyayangi dan melindungi semua makhluk. Jadi, kita harus memiliki pikiran untuk melindungi makhluk hidup. Ini karena di antara semua makhluk hidup, kita disebut manusia. Tiada yang tak bisa dilakukan oleh manusia. Pikiran manusia sejatinya adalah baik karena manusia pada hakikatnya bersifat bajik. Berhubung memiliki sifat hakiki yang bajik, maka manusia dianggap mampu memimpin semua makhluk. Namun, jika kita tak mengerti untuk melindungi dan menjaga mereka, maka apa gunanya kita disebut sebagai manusia? Jadi, kita harus memiliki sifat mengasihi kehidupan. Sifat ini pada hakikatnya dimiliki semua orang. Kita semua harus menghormati kehidupan layaknya melindungi diri sendiri. Jika kita dapat mengasihi semua makhluk layaknya diri sendiri, maka inilah yang disebut melindungi kehidupan. Mengenai melindungi kehidupan, di dalam karya Master Lian Chi yang berjudul “Melepas Satwa dan Berhenti Membunuh” terdapat sebuah cerita.

Kisah ini bercerita tentang sepasang sahabat di Zhejiang. Mereka mengikuti ujian bersama-sama. Sepulangnya dari ujian, keduanya ingin singgah di Vihara Da Shan. Mereka berdoa dengan tulus. Salah satu dari mereka bernama Tao Shiliang, yang lainnya bernama Zhang Zhiting. Saat dalam perjalanan menuju vihara, mereka melewati tepi sungai besar. Di sana mereka melihat beberapa nelayan. Di sana mereka melihat beberapa nelayan. Para nelayan menggunakan jala yang besar untuk menangkap banyak ikan. Jika dihitung, mungkin ada puluhan ribu ikan yang terjaring. Banyak sekali. Pada saat itu, mereka bertanya. “Untuk apa Anda menangkap ikan sebanyak ini?” Nelayan itu tentu menjawab untuk dijual. Salah satu dari mereka, Tao Shiliang merasa tidak sampai hati. Dia berkata kepada temannya, “Saya tidak tega melihat begitu banyak ikan ditangkap oleh manusia, lalu dibawa ke pasar untuk dijual.” “Apa dosa mereka?” “Ikan-ikan itu tidak berdosa.” “Jika dibeli orang, hampir pasti mereka akan berakhir dengan dipotong dan dimasak.” “Semakin membayangkannya, saya semakin tidak tega.” “Saya tidak sampai hati.” “Namun, kita membutuhkan banyak uang.” “Ikan sebanyak itu, saya tentu tak mampu membelinya.” “Kemampuan saya tidak cukup.” “Saya ingin mengajakmu berbuat baik.” “Kita sama-sama membelinya.” “Kita sama-sama menggalang dana.” “Temannya berkata, “Boleh.” “Sebelum menggalang dana dari orang lain, kita juga harus berdana.” Jadi, dia bersama temannya sama-sama mengeluarkan satu tahil perak. Ini tentu saja tidak cukup. Mereka segera menggalang dana lebih banyak. Mereka segera menggalang dana lebih banyak.

Setelah berusaha, mereka mengumpulkan delapan tahil perak. Delapan tahil perak cukup untuk membeli puluhan ribu ekor ikan itu guna dilepaskan kembali ke sungai. Ikan-ikan itu berenang mengikuti arus air dan seakan terlihat sangat gembira. Kedua orang tadi pun turut merasa senang. Kedua orang tadi pun turut merasa senang. Asalkan ada kesungguhan hati untuk menggalang dana dan berusaha maksimal untuk bersumbangsih, maka puluhan ribu ekor ikan ini dapat tertolong dan berenang dengan gembira mengikuti aliran sungai. Pemandangan itu sungguh menyenangkan. Kejadian itu pun berlalu. Saat musim gugur tiba, pada suatu malam, Tao Shiliang bermimpi. Dia bermimpi bertemu seorang dewa yang berkata, “Mulanya nasibmu seharusnya tidak lulus ujian.” “Namun, karena cinta kasihmu begitu besar sehingga melepas begitu banyak makhluk hidup, maka kebajikanmu juga begitu besar.” “Jadi, kamu akan lulus ujian.” Saat terbangun dari tidur, dia memikirkan perkataan dewa itu. “Apa yang telah aku perbuat?” Dia lalu teringat, “Mungkin ini ada hubungannya dengan melepas ikan.” “Namun, ini bukan saya sendiri yang melakukan.” “Zhang Zhiting juga ikut.” “Jika bukan dia yang membantu untuk menggalang dana, mana mungkin saya bisa melakukannya.” “Bagaimana jika saya lulus ujian, tetapi dia tidak?” Dia bermimpi akan lulus ujian, tetapi bukannya merasa gembira, malah mengkhawatirkan temannya. “Jika melepas satwa memang berpahala, maka pahalanya tidak lebih sedikit dari saya.” “Apakah dia juga lulus ujian?” “Apakah dia juga lulus ujian?” Dia memikirkan temannya. Kemudian, berselang beberapa hari, mereka menerima pengumuman dari ibu kota. Ternyata bukan hanya Tao Shiliang yang lulus ujian, tetapi Zhang Zhiliang juga lulus ujian. Cerita ini dituliskan Master Lian Chi Cerita ini dituliskan Master Lian Chi pada karyanya.

Sungguh, kita harus tahu, saat melihat makhluk hidup menderita, kita harus membangkitkan rasa ingin melindungi makhluk hidup. Kita melakukannya tanpa pamrih hanya demi melindungi makhluk hidup. Bukan berarti kita dengan sengaja ingin mengumpulkan pahala, lalu meminta orang menangkap ikan untuk kita lepaskan. Bukan begitu. Bukan hanya ikan, melainkan semua makhluk hidup memiliki hakikat kebuddhaan. Jika ada yang berjodoh dan bertemu dengan kita, maka kita harus membangkitkan pikiran menyayangi semua kehidupan. Inilah pikiran untuk melindungi kehidupan. Lihatlah cerita tadi. Dua orang sahabat karib itu mungkin adalah umat Buddha yang taat. Mereka bersama-sama pergi mengikuti ujian. Saat ingin singgah di vihara untuk berdoa, mereka bertemu nelayan yang menangkap ikan. Ikan yang ditangkap sangat banyak. Belas kasih mereka pun bangkit. Pikiran ini bangkit seiring kondisi yang ditemui. Inilah yang seharusnya dilakukan oleh manusia. Manusia harus memiliki pikiran untuk menyayangi semua makhluk. Jadi, kita harus senantiasa mengembangkan sifat peduli pada semua makhluk karena watak manusia pada hakikatnya baik. Kita harus menghormati kehidupan layaknya diri sendiri. Lihatlah diri kita sendiri. Bukankah kita berusaha melindungi nyawa kita? Tentu, kita selalu menjaga nyawa kita dan menyayangi kehidupan kita. Begitu pula seharusnya terhadap semua makhluk. Jadi, kita harus mengembangkan pikiran baik.

Berikutnya dikatakan, Berikutnya dikatakan, “Adakalanya menyulut api saat kondisi berangin atau melepas burung pemangsa atau anjing sehingga mencelakai semua makhluk.” “Atas kesalahan-kesalahan seperti ini, hari ini kami bertobat.” Di sini dibahas tentang angin dan api. Api juga bisa menjadi alat melakukan kesalahan. Angin adalah pendukung kesalahan itu. Kita pernah mendengar berita kebakaran hutan, ada pula rumah yang terbakar akibat api kecil yang membesar dan membakar seisi rumah. Kita sering mendengar baik di Amerika, Australia, maupun Eropa, kebakaran hutan terjadi amat dahsyat. Begitu api menyala, ia sulit dikendalikan. Hutan yang terbakar sangat luas. Kita menyebutnya kebakaran hutan. Setelah hutan terbakar, ia bukan selesai di sana. Saat hutan rusak terbakar, maka akan memengaruhi udara di Bumi ini. Begitu pula dengan konservasi air dan tanah. Kaitannya sangat besar. Kaitannya sangat besar. Baik udara maupun tanah dan air, semuanya berkaitan erat dengan manusia. Tubuh manusia membutuhkan udara bersih. Hutan dapat menyerap yang kotor dan menghasilkan yang bersih. Hutan dapat menyerap udara kotor dan menghasilkan udara bersih. Bayangkan, jika hutan yang luas terbakar api, berarti pepohonan di sana akan mati. berarti pepohonan di sana akan mati. Semua pohon di hutan itu hangus terbakar. Mengapa api bisa membakar hutan yang luas? Karena ada angin. Jadi, unsur tanah, air, api, dan angin, keempatnya saling berkaitan. Jika ada api tanpa ada angin, api juga tidak akan berkobar.

Jadi, saat api dinyalakan, kita melihat lidah-lidah api yang bergerak. Ini karena adanya angin. Tiupan angin memperbesar kobaran api. Kita tentu pernah melihat, jika kita menyalakan lilin, kita tak perlu meniupnya untuk mematikannya. Jika kita mengambil gelas untuk menutup lilin itu, maka tidak akan ada udara di dalam gelas. Dengan tidak adanya angin dan udara, api itu akan mati. Jadi, api sendiri juga membutuhkan udara untuk bisa menyala. Angin adalah udara yang bergerak. Hanya sebutannya saja yang berbeda. Sesungguhnya, substansinya sama. Jadi, api bisa menjadi alat menciptakan karma. Api bisa membakar segala sesuatu. Namun, tanpa adanya angin sebagai pendukung, api juga tidak akan berkobar besar. Kita lihat saat orang zaman dahulu memasak. Untuk menyalakan api, mereka harusĀ  membuat angin dengan meniup bambu. Dengan begitu, api baru menyala. Prinsipnya sangat sederhana. Dari sini kita tahu bahwa api dapat menjadi alat melakukan karma buruk. Api dapat membakar hutan, rumah, dan lainnya. Api dapat membakar segalanya jika bertemu angin. Begitu pula manusia, pada hakikatnya adalah bajik, tetapi ketika dihasut oleh orang lain, kita kadang tak bisa mengendalikan diri dan bisa mencelakai orang lain atau melakukan kesalahan. Jadi, dalam hubungan antarmanusia prinsipnya juga demikian.

Demikian pula dengan hal-hal lainnya. Saat suatu benih atau sebab pasti memerlukan kondisi pendukung untuk menghasilkan sesuatu. Jadi, dengan kekuatan angin, api dapat digunakan untuk membunuh. “Adakalanya menyulut api saat kondisi berangin.” Bukan hanya membakar pohon, api dapat membakar hewan-hewan di hutan. api dapat membakar hewan-hewan di hutan. Selain merusak hutan, ia juga mencemari udara. Selain itu, banyak makhluk yang hidup bergantung pada hutan ini, entah tu burung yang bersarang ataupun hewan lain yang hidup di darat. Semuanya bisa terbakar oleh api. Entah berapa banyak yang celaka olehnya. Karma buruk ini sungguh berat. Selain itu, “Melepas burung pemangsa atau anjing.” Burung elang adalah burung pemangsa. Ia sering memakan makhluk hidup lain. Ada pula anjing liar. Kita tahu banyak pemburu yang membawa anjing. Anjing itu disebut anjing pemburu. Di mana ada hewan buruan, anjing itu akan mampu mengendusnya, lalu mulai mencari jejaknya. Tuannya akan segera membidik buruan itu. Kemudian, anjing itu akan menggigit mangsanya. Saat melihat ada burung yang terbang, si pemburu akan menembaknya. Dia tidak tahu di mana jatuhnya burung itu, lalu anjingnya akan mencarinya. Begitulah anjing pemburu. Ia bisa mencari jejak makhluk hidup. Bukan hanya mencari jejak burung yang jatuh, ia juga bisa mencari jejak hewan di darat. Penciuman anjing memang sangat tajam. Kita sering mendengar banyak bencana terjadi. Contohnya adalah gempa 21 September 1999. Tim penyelamat juga membawa anjing pelacak untuk mencari jejak kehidupan. Anjing itu akan mengendus. Jika menemukan sesuatu, ia akan menggonggong. Tim penyelamat lalu menggali tempat itu dan benar-benar menemukan korban selamat. Jadi, kepekaan anjing adakalanya lebih tinggi dari manusia. Kita tidak boleh meremehkan segala jenis makhluk hidup.

Jadi, ada orang memanfaatkan anjing sebagai alat untuk memburu dan mencelakai semua makhluk. Tindakan ini membuat makhluk hidup lain tak bisa tenang dan hidup di dalam ketakutan. Ini sungguh berdampak buruk bagi lingkungan dan membuat makhluk hidup tidak tenteram. Ini adalah tindakan yang tidak baik. “Mencelakai semua makhluk.” “Atas kesalahan-kesalahan seperti ini, hari ini kami bertobat.” Lihatlah, baik unggas yang terbang di udara, ikan yang hidup di air, maupun hewan yang hidup di gunung; baik hewan buas maupun pemangsa, semuanya bisa dikendalikan oleh manusia. Lihatlah, manusia sungguh dapat melakukan banyak hal. Selain itu, hewan-hewan juga bisa saling bunuh. Bayangkan, di enam alam kehidupan ini, di alam dewa juga ada peperangan antara para dewa dan asura. Di alam manusia ada perseteruan antarsesama. Di alam hewan, hewan-hewan saling memangsa. Bayangkan, begitulah kondisi makhluk hidup. Kita juga merupakan bagian dari makhluk hidup. Beruntung, kita terlahir di alam manusia. Lebih beruntung lagi, kita dapat bertemu ajaran Buddha. Kita dapat memahami kebenaran. Jadi, kita harus memiliki pikiran untuk melindungi makhluk hidup. Kita harus menghormati kehidupan layaknya diri sendiri. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati.

Leave A Comment