Sanubari Teduh-411-Membimbing Orang Lain seperti Diri Sendiri
Saudara se-Dharma sekalian, kita Saya sering mengatakan bahwa pikiran adalah pelopor segalanya. Pikiran kita harus selalu dijaga ketenangannya, juga kemurniannya. Di dalam kemurnian ini ada cinta kasih. Dengan cinta kasih, kita membimbing orang lain seperti diri sendiri. Berhubung makhluk hidup memiliki wujud yang berbeda-beda, maka kita bukan hanya harus menolong diri sendiri, melainkan juga menolong yang lain
Bukan hanya menyelamatkan diri sendiri, kita juga harus menyelamatkan orang lain. Jadi, kita hidup berdampingan dengan semua makhluk. Dapat bertemu ajaran Buddha dan memperoleh pembebasan batin serta memahami kebenaran, kita terlebih harus memahami sebab penderitaan. Berhubung sudah tahu sebab dari penderitaan, kita harus mencegah sebab tersebut. Bagaimana benih penderitaan mendatangkan buah penderitaan telah kita pahami. Kita harus mencegah agar benih penderitaan ini tidak tumbuh sehingga buah penderitaan tidak muncul Jadi, kita telah memahami ajaran Buddha, maka kita harus lebih tekun dan bersemangat Setelah memahami derita dan berkah, kita harus memutus derita dan menanam berkah. Jadi, kita harus membimbing orang lain bagai diri sendiri. Kita harus mewariskan metode yang baik ini kepada orang lain
Hati Bodhisattva harus berdiam dalam cinta kasih berkesadaran. Kita harus sadar. Setelah sadar, kita harus menjaga keteguhan di masa depan. Kita tahu bahwa kehidupan saling terkait. Saya sering mengatakan hal ini. Di alam semesta ini, hanya di Bumi ada kehidupan. Jadi, kita harus hidup berdampingan dengan semua makhluk di Bumi ini. Jadi, kita harus memiliki cinta kasih berkesadaran. Cinta kasih yang dimaksud adalah cinta kasih murni tanpa noda. Kita harus bisa melenyapkan penderitaan semua makhluk
Berhubung kita telah lahir di tengah semua makhluk, maka kita harus tetap berada di sini untuk melenyapkan penderitaan mereka. untuk melenyapkan penderitaan mereka. Dahulu saya sering berkata bahwa semua makhluk memiliki dunia masing-masing. Sebagai manusia, kita harus melindungi dunia semua makhluk hidup. Jadi, kita harus berada di dunia ini untuk melenyapkan segala penderitaan semua makhluk. Manusia disebut makhluk tercerdas di alam. Hanya manusia yang dapat menolong makhluk lain dari penderitaan. Setelah meringankan penderitaan mereka, kita membabarkan Dharma. Di dalam keadaan yang mendesak, kita dapat meringankan kesulitan mereka. Kita mengurai kesulitan mereka. Kita melenyapkan penderitaan mereka. Inilah yang dapat manusia lakukan. Asalkan ada niat, maka tiada yang sulit. Kita harus lebih banyak menjalin jodoh dengan semua makhluk. Kita harus menjauhi kebencian dan tidak memiliki niat membunuh. Bukan hanya tidak membunuh, Bukan hanya tidak membunuh, bahkan niatnya pun tidak boleh ada. Bukan hanya tidak berniat membunuh, kita terlebih harus menganggap semua makhluk bagai anak tunggal kita. Semua makhluk kita anggap sebagai anak kita atau kita menganggap diri kita adalah anak semua makhluk. Mengenai anak tunggal ini, kita memiliki orang tua dan anak atau generasi penerus
Jadi, Buddha di hadapan tumpukan tulang juga memberi hormat. Buddha menghormat karena tulang-tulang itu adalah milik orang tua-Nya pada kehidupan lampau. Jadi, kita harus selalu berpikir dari sudut pandang “anak tunggal” ini. Semua makhluk bagaikan orang tua kita. Semua makhluk juga bagaikan anak kita. Dengan demikian, kita dapat selalu membangkitkan cinta kasih. Kita bukan hanya dapat melindungi semua makhluk, tetapi juga dapat membuat semua makhluk memahami kebenaran dan selamanya terbebas dari penderitaan di enam alam kelahiran kembali. Kita juga membuat semua makhluk tidak menjalin rasa dendam. Inilah bimbingan Buddha kepada kita. Inilah ajaran-Nya tentang praktik Bodhisattva. Jadi, hati Bodhisattva harus memiliki cinta kasih berkesadaran. Kita harus berada dalam dunia makhluk hidup untuk melenyapkan penderitaan mereka. Kita juga harus membabarkan Dharma bagi semua makhluk agar mereka memahami hukum karma. Kini kita lihat penggalan berikutnya. Artinya sama dengan yang sebelumnya. Saat semua makhluk berada dalam kondisi mendesak, kita menyelamatkan mereka tanpa memedulikan nyawa. Ini seperti misi amal Tzu Chi. Di mana pun dan sejauh apa pun bencana terjadi, sesulit apa pun medan yang harus ditempuh, para relawan tetap menyalurkan bantuan dengan kesungguhan hati dan cinta kasih. Kita tentu masih ingat tsunami yang melanda Asia Selatan. Pada bencana tsunami itu, bukan hanya relawan Tzu Chi dari Taiwan yang pergi ke Sri Lanka dan Aceh untuk menyalurkan bantuan, untuk menyalurkan bantuan, memberi pelayanan kesehatan, membangun sekolah, dan membangun Perumahan Cinta Kasih. Saat warga berada dalam kondisi mendesak, insan Tzu Chi dalam waktu singkat segera tiba di tempat itu. Di sana, mereka masih melihat banyak jenazah di mana-mana. Aromanya sangat tidak sedap. Mereka juga melihat banyak korban luka-luka, orang sakit, dan orang yang mengalami trauma. Tzu Chi mengirimkan beberapa gelombang tim medis ke sana. Kita memberi pelayanan kesehatan dan menyalurkan bantuan bencana
Pada puncaknya, insan Tzu Chi dari delapan negara berkumpul di Sri Lanka, termasuk dokter, perawat, dan relawan. Inilah mereka yang tidak memedulikan diri sendiri untuk segera memberi pertolongan saat melihat orang lain menderita. Para relawan segera bergerak, bahkan mendampingi dalam jangka panjang dan membaur dengan warga setempat. Beberapa relawan muda dari Malaysia dan Taiwan mendampingi secara bergiliran di sana. Di mana pun dibutuhkan, para relawan muda itu bersedia untuk tinggal di negara itu bersedia untuk tinggal di negara itu untuk menjawab kebutuhan warga setempat yang hidup kekurangan atau menderita sakit. Yang bisa ditangani dalam baksos kesehatan akan segera ditangani. Yang perlu dibawa ke kota dengan perjalanan 6 sampai 7 jam juga akan tetap segera dibawa untuk segera ditangani dan ditolong. Mereka tidak pernah menyerah. Memiliki cinta kasih berkesadaran, mereka tidak tega melihat orang lain menderita dalam kesulitan. Inilah Bodhisattva dunia. Mereka bahkan bersahabat dengan warga dan membuat warga memahami semangat Tzu Chi. Mereka juga mengajak warga untuk turut menjadi relawan
Di Hambantota, warga setempat sangat memahami Tzu Chi, bahkan para guru juga menggalang dana. Demikian pula, saat menyalurkan bantuan, mereka juga turut berpartisipasi. Singkat kata, bantuan materi yang berwujud serta bimbingan yang tak berwujud ini merupakan Dharma yang menakjubkan. Kita lihat penggalan berikutnya. Ini berarti kita harus menjalin banyak jodoh baik dengan semua makhluk. Perbuatan kita lewat tubuh, ucapan, pikiran haruslah kita bina. Dalam bertutur kata, kita harus belajar agar saat orang mendengar suara kita, meski belum memahmi kebenaran di dalamnya, tetapi dapat membuka hati dan membangkitkan rasa sukacita. Saat melihat sosok kita, Saat melihat sosok kita, orang-orang dapat merasa tenang. Di dalam Sutra terdapat suatu kisah. Alkisah Buddha bersama para murid-Nya berada di tengah padang, di bawah sebatang pohon besar. Pada saat itu, matahari sudah hampir tenggelam. Kemudian, berlalulah sekawanan burung. Burung-burung ini selalu tenang saat melewati tempat Buddha berada dan suka berteduh di bawah bayangan Buddha. Mereka sangat tenang. Jika Buddha berpindah tempat, maka Sariputra mengikuti di belakang-Nya. Bayangan pun berganti menjadi bayangan Sariputra. menjadi bayangan Sariputra. Burung-burung itu pun segera terbang. Mereka seakan sangat panik dan segera berpindah tempat mengikuti bayangan Buddha. mengikuti bayangan Buddha. Mereka berteduh di sekitar bayangan Buddha. Beberapa kali Buddha berpindah tempat diikuti oleh Sariputra, burung-burung itu melakukan hal yang sama. burung-burung itu melakukan hal yang sama. Mereka tetap memilih berlindung di bawah bayangan Buddha karena merasa sangat tenang. Sebagian murid merasa aneh. “Mengapa burung-burung itu terus mengikuti bayangan Buddha?” “Saat berada dekat bayangan Buddha, mereka seakan sangat tenang.” Buddha pun tersenyum dan mulai bercerita. “Ini adalah bayangan atau refleksi batin.” “Pelatihan diri meliputi tubuh dan batin.” “Di luar kita mungkin terlihat patut dan penuh tata krama.” patut dan penuh tata krama.” “Namun, ada orang yang batinnya belum bebas dari kekotoran.” “Mereka masih berada pada kondisi pikiran awam.” “Makhluk lain merasa takut orang itu akan menyakiti mereka.” “Karena itu, mereka merasa tidak tenang.” “Di bawah bayangan-Ku, mereka merasa tenang karena pikiran-Ku bebas dari noda.” “Pikiran-Ku benar-benar murni.” Semua orang lalu menatap Sariputra. “Sariputra yang berkebijaksanaan unggul, mungkinkah pikirannya tidak murni?” Saat melihat semua orang menatapnya dengan penuh pertanyaan, Sariputra lalu berkata kepada Buddha, “Yang Dijunjung, kini di dalam pikiranku benar-benar ada gangguan.” “Melihat kelakuan burung-burung itu, pikiran saya bergejolak.” “Jadi, aku mengaku pikiranku terganggu.” Ini adalah percakapan antara guru dan murid
Dari sini kita juga bisa menyimpulkan bahwa semua makhluk bisa menilai sosok kita. Jadi, ada ungkapan berbunyi, Dari suara bisa terlihat sosoknya. Sebagian orang bisa menilai, Sebagian orang bisa menilai, “Mengapa orang ini berbeda dari sebelumnya?” “Dahulu dia gemar perhitungan dengan orang.” “Dahulu dia suka marah-marah.” Banyak kasus seperti ini. Saat melihat sosok orang tersebut, orang lain bisa memiliki kesan berbeda. Kita sering mendengar bahwa penampilan adalah gambaran isi hati. Bagaimana kondisi pikiran kita, akan terpancar dari penampilan kita. Tidak ada yang berubah dari diri kita, hanya saja orang lain merasakannya. Buddha juga bisa mengetahui kondisi pikiran murid-Nya dari penampilan luarnya. Sosok Buddha membuat semua makhluk merasa lebih damai dan bahagia. Jadi, bukan hanya melihat bayangan-Nya yang membuat burung-burung merasa tenang, bahkan mendengar nama-Nya pun demikian. Kita sering menganjurkan orang untuk melantunkan nama Buddha seperti nama Buddha Sakyamuni. Setelah melakukannya, batin merasa tenang. Kita melantunkannya dengan lantang. Meski banyak orang, suaranya sangat serentak. Meski banyak orang, suaranya sangat serentak. Suara ini dapat menjangkau para dewa dan para pelindung Dharma. Ini membawa kebaikan. Jadi, inilah kedamaian dari suara. Begitu pula, kita sering bertutur kata baik. Begitu kita berbicara, Begitu kita berbicara, orang lain merasa sangat tenang. Kata-kata kita tak akan melukai orang lain. Kata-kata kita juga bukanlah gosip semata. Orang lain akan memercayainya. Kata-kata itu benar dan tidak palsu, nyata dan tidak bohong. Saat mendengar suara kita, ketakutan mereka pun lenyap. ketakutan mereka pun lenyap. Mereka tidak lagi merasa takut
Saudara sekalian, kita harus berlatih hingga mencapai tahap ini. Tubuh, ucapan, dan pikiran kita harus murni agar semua makhluk, baik yang melihat sosok kita, melihat penampilan kita, maupun mendengar suara kita dapat merasa tenang dan bahagia serta bebas dari ketakutan. Jadi, kita hendaknya berlatih hingga tahap itu. Tentu, seperti yang dikatakan di awal, berbagai keburukan dan kejahatan harus kita lenyapkan. Berbagai kebaikan harus kita jalankan. Ajaran Buddha harus kita jalankan sepenuh hati. Berhubung kita adalah murid Buddha dan telah menerima ajaran Buddha, maka untuk mengubah perilaku dan pemikiran kita, bukankah kita harus sangat tulus? Di sini dikatakan, “Hari ini kami bersujud.” Bersujud menandakan ketulusan. “Berlindung kepada Buddha.” Hati kita senantiasa tidak terlepas dari Buddha. Berlindung berarti bersandar pada Buddha. Bersandar pada Buddha berarti pikiran kita tidak membangkitkan niat buruk. Jika kita dekat dengan Buddha, maka pikiran kita akan penuh niat baik. Bukankah kalian pernah mendengar saya menjelaskan tentang berlindung? Aksara Tionghoa “berlindung” berarti berpaling dari hitam menuju putih. Berlindung kepada buddha berarti membuang tabiat buruk masa lalu dan membina kebiasaan baik di masa depan. Sejak saat ini, kita senantiasa membangkitkan niat baik. Jadi, berlindung kepada Buddha berarti menjadikan hati Buddha sebagai hati kita. Karena itu, sering dikatakan bahwa di dalam hati harus ada Buddha dan di dalam perbuatan ada Dharma. Kita terjun ke tengah masyarakat untuk membimbing semua makhluk. Dharma juga keluar dari ucapan kita. Jadi, segala tutur kata kita haruslah selaras dengan kebenaran. Segala perbuatan kita harus sesuai Dharma. Di dalam Dharma ada meditasi. Meditasi sama dengan Samadhi. Ia adalah kondisi batin yang jernih dan bebas dari gangguan. Jadi, Saudara sekalian, mempelajari ajaran Buddha berarti belajar menenangkan batin sendiri dan orang lain. Jika tubuh dan batin kita tenang, maka hubungan antarmanusia juga akan damai. Baiklah, Saudara sekalian, selalulah bersungguh hati.