Sanubari Teduh-418-Menumbuhkan Jiwa Kebijaksanaan Bersama Saudara Se-Dharma
Saudara se-Dharma sekalian, hidup di dunia ini, kita mengandalkan budi luhur langit dan bumi. Kita juga harus bersyukur atas budi luhur orang tua dan jalinan jodoh dengan keluarga. Semua ini harus kita syukuri sebagai manusia. Kita harus bersyukur atas budi langit dan bumi. Jika bukan berkat iklim yang bersahabat sehingga tanaman dapat tumbuh; jika bukan berkat tanah subur yang bisa menyokong kehidupan kita, bagaimana mungkin manusia dapat hidup dengan bebas, menghirup udara segar, dan menyerap nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh? Jika setiap hari berada di kolong langit dan di atas bumi dan dapat hidup dengan baik, kita harus bersyukur. Terlebih lagi, tubuh kita ini adalah pemberian orang tua. Tubuh kita adalah darah daging orang tua. Saat kita dilahirkan dan keluar dari rahim ibu, dan keluar dari rahim ibu, orang tua membesarkan kita. Budi luhur ini sangat besar. Banyak orang tua yang bekerja keras dan membanting tulang demi anak. Bayangkan, betapa besar budi orang tua. Jika dibandingkan dengan gunung dan lautan, sesungguhnya ia lebih tinggi dari gunung dan lebih dalam dari lautan. Demikianlah budi luhur orang tua membesarkan kita. Kita harus selalu mengingatnya.
Jangan membuat orang tua khawatir. Gunakanlah tubuh pemberian orang tua ini untuk memberi manfaat bagi masyarakat. Pahala ini bisa dilimpahkan bagi orang tua. Ini berarti membalas budi orang tua. Di dunia ini kita bisa merasakan kehangatan. Umat manusia sangat menakjubkan. Selain berjodoh dengan orang tua, masih ada enam jenis hubungan kekerabatan. Orang tua memiliki saudara. Ayah memiliki saudara laki-laki dan perempuan. Begitu pula dengan ibu. Jadi, dari para leluhur, diwariskan enam hubungan kekerabatan. Saudara laki-laki dari ayah kita panggil paman. Putra dari paman adalah kakak atau adik sepupu. Ibu juga memiliki saudara. Anak dari saudara ibu disebut sepupu luar. Inilah kekerabatan. Berbagai jenisnya dibedakan dengan jelas, baik yang berhubungan darah maupun tidak dan yang merupakan keturunan segaris maupun tidak. Inilah kekerabatan antarumat manusia. Kita harus menghargai jalinan jodoh ini. Meski bukan saudara kandung dari ayah dan ibu yang sama, anak dari paman dan bibi tetap harus kita hargai. Baik saudara kandung maupun saudara jauh, semuanya adalah jodoh.
Jadi, kita harus menghargai jalinan jodoh kekeluargaan ini. Selain mereka yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan kita, tentu dengan semua makhluk kita juga memiliki jalinan jodoh. Mengapa orang tua memiliki budi? Para kerabat berjodoh dengan kita. Meski orang lain tak ada hubungan darah dengan kita, mengapa kita juga menyebut mereka berjodoh dengan kita? Buddha membimbing kita untuk membalas budi semua makhluk. Setelah dipikirkan dengan jelas, semua makhluk juga memiliki budi kepada kita. Tadi kita sudah membahas bahwa hidup di dunia ini, kita disokong oleh semua makhluk di dunia. Kita hidup di alam yang luas ini. Setiap hari kita harus bertahan hidup.
Bayangkan, hidup kita bergantung pada orang tua. Meski orang tualah yang membesarkan kita, tetapi bagaimana kita tumbuh besar? Kita juga makan tanaman pangan. Segala sandang, pangan, dan papan yang kita gunakan ada berkat banyak orang dari berbagai bidang di masyarakat. Mereka membuat, memproduksi, mendistribusikannya, dan seterusnya. Dengan begitu, barulah kita memiliki berbagai barang pemenuh kebutuhan kita. Jadi, kita juga harus bersyukur atas budi luhur semua makhluk. Kita harus bersyukur kepada semuanya. Pikirkanlah dengan sungguh-sungguh, jika dalam hidup ini kita semua dapat saling bersyukur dan senantiasa saling membalas budi, saling membalas budi, maka dunia ini akan dipenuhi kerukunan. maka dunia ini akan dipenuhi kerukunan, begitu hangat dan bahagia. Bukankah ini adalah Tanah Suci di dunia? Jadi, di dalam Syair Pertobatan Air Samadhi, kita selalu dibimbing untuk mengembangkan pikiran kita ke arah welas asih. Kita dibimbing untuk memahami penderitaan semua makhluk dan melindungi kehidupan. Kita dibimbing untuk tidak membunuh dan tidak melukai makhluk lain. Inilah yang ada dalam Syair Pertobatan Air Samadhi.
Bagai kehidupan yang tak bisa kekurangan air, kita pun tak bisa kekurangan Dharma. Sebagai manusia, kita tak boleh lepas dari norma. Kita seharusnya telah mendengar banyak dan memahami banyak. Setelah paham, apakah sudah cukup? Belum. Berikutnya dikatakan, “Bersosialisasi” berarti bergaul secara dekat dan baik. Terhadap siapa pun, di dalam lingkungan pertemanan kita, baik yang kita kenal maupun tidak, intinya dalam hubungan antarmanusia, kita harus beritikad baik. Jadi, hubungan harus memiliki timbal balik. Setiap orang harus saling bertata krama dan saling bersikap ramah. Inilah pedoman hubungan antarmanusia, terlebih lagi terhadap guru. Selain orang tua dan kerabat, ada guru dan teman perguruan. Sebagai kaum monastik, kita dapat berjodoh untuk berada di satu ladang pelatihan dengan guru, jalan, dan tekad yang sama. Kita belajar bersama dan mendengar Dharma bersama. Ini juga termasuk teman seperguruan.
Di lingkungan kita, Di lingkungan kita, hubungan baik juga sangat penting. Terlebih lagi, di ladang pelatihan ini, selain memiliki kerabat sendiri, sesungguhnya kita merupakan keluarga dalam Dharma yang bersama-sama menumbuhkan jiwa kebijaksanaan. Keluarga kandung belum tentu bertemu lagi di kehidupan mendatang, juga belum tentu satu guru, satu jalan, dan satu tekad. Kita yang berada di ladang pelatihan ini memiliki satu guru, satu jalan, dan satu tekad. Kita bersama-sama menghirup Dharma untuk menumbuhkan jiwa kebijaksanaan. Dari kehidupan ke kehidupan, kita berada di ladang pelatihan ini. Jadi, terhadap keluarga se-Dharma, kita harus lebih saling bersyukur dan mengasihi. Berikutnya lebih jelas dikatakan, Selain di ladang pelatihan, di kehidupan manusia pada umumnya juga ada keluarga. Artinya, kita diberi tahu bahwa dalam kehidupan setiap orang ada keluarga dan enam jenis kekerabatan. Hubungan ini semestinya sangat dekat. Ada kakak beradik atau keluarga besar yang sebelum berpisah rumah tinggal bersama. Mereka tinggal di rumah yang sama. Mereka tinggal di rumah yang sama. Segala kebutuhan keluarga besar tidak dipisahkan. Mereka hidup menyatu dalam satu keluarga. Sejak zaman dahulu, orang tua senang jika tinggal bersama anak-anak. Dahulu, orang tua memiliki banyak anak sehingga memiliki banyak menantu pula. Semua orang bergiliran memasak. Kadang ada pula yang bersikap perhitungan.
Setelah itu, mereka membuat kesepakatan, “Baiklah, kita tinggal bersama, tetapi pisah dapur.” Mereka tetap tinggal bersama, tetapi memiliki dapur masing-masing. Orang tua mereka masih hidup. Mereka tetap masih bercocok tanam di lahan yang sama, tetapi mulai berhitungan siapa yang menggunakan barang lebih banyak dan lebih sedikit. Mereka mulai bersikap perhitungan dan berusaha mendapat lebih banyak. Mereka mulai membeda-bedakan dan mulai saling menipu. Pikiran seperti ini perlahan timbul. Intinya, Sebagai manusia, lebih mudah saat hidup bersama sedikit orang. Saat anak-anak semakin banyak dan menantu semakin bertambah, keluarga besar mulai pisah rumah. Kehidupan di satu rumah bersama semakin lama semakin ramai sehingga mereka mulai berpencar. Karena itu, di zaman dahulu, seluruh dusun adalah keluarga sendiri. Seluruh anggota keluarga memenuhi dusun. Inilah yang berlaku pada zaman dahulu. Jika ada Dusun Keluarga Wang, berarti seluruh warganya bermarga Wang. Ada pula Dusun Keluarga Li dan Zhang. Ada pula Dusun Keluarga Li dan Zhang. Mereka semua mulai membentuk dusun yang terdiri atas kerabat sendiri.
Berhubung semua adalah kerabat, semua menggunakan sumur yang sama. Ini berarti satu sumur digunakan oleh beberapa keluarga. Perlahan-lahan mereka berpisah. Beberapa keluarga menggunakan satu sumur, sedangkan yang lain menggunakan sumur lain. Jumlah warga pun semakin banyak. Pembagian pun semakin teliti. Pikiran mereka pun semakin rumit. Kebutuhan mereka pun semakin banyak. Kebutuhan mereka pun semakin banyak. Saat kebutuhan makin banyak dan pembagian semakin rumit, mereka mulai saling menipu. Sampai di titik ini, manusia mulai saling mengelabui. Niat untuk menipu timbul perlahan. Hubungan kekeluargaan pun menjadi renggang hingga seperti orang asing. Jadi, tatanan masyarakat menjadi rusak. Setelah saling merusak, saling menipu, dan saling merampas, penyakit masyarakat akan timbul. Mulanya semua ini sangat sederhana. Hubungan kekerabatan semakin lama semakin renggang sehingga manusia semakin tidak peduli. Perasaan antarsaudara pun semakin hambar. Di masa kini, orang-orang bahkan tidak tahu lagi harus bagaimana menyapa kerabatnya. harus bagaimana menyapa kerabatnya. Hubungan kekerabatan semakin renggang serta semakin asing. Berikutnya dikatakan, Coba kita bayangkan. Pada mulanya hubungan keluarga sangat dekat. Pada mulanya hubungan keluarga sangat dekat. Seluruh dusun adalah satu keluarga, tetapi semakin lama semakin menjauh. Desa pun mulai terbagi-bagi. Desa pun mulai terbagi-bagi. Mulanya, satu keluarga menghuni satu dusun, lalu menjadi desa, semakin lama semakin luas. Populasi pun semakin tinggi. Kini bukan hanya ada desa, tetapi ada pula kecamatan, kabupaten, kota, dan provinsi. Wilayah-wilayah ini terus dimekarkan. Wilayah-wilayah ini terus dimekarkan. Semuanya dimulai dari dusun.
Setelah jumlah populasi bertambah, terbentuklah beberapa desa yang saling bertetangga. Desa ini memiliki perbatasan. Desa ini memiliki perbatasan. Dusun juga memiliki perbatasan. Dusun juga memiliki perbatasan. Begitu pula dengan kawasan rumah. Begitu pula dengan kawasan rumah. Setiap lahan dibatasi dengan jelas dengan pagar. Kadang pagar pun dirasa kurang sehingga dibangunlah tembok. Manusia semakin menutup diri dan tidak ingin orang lain melangkahi wilayahnya. Pembagian semakin lama semakin rumit. Manusia takut lahan miliknya direbut orang lain.
Namun, adakalanya diri sendiri bersikap perhitungan dan ingin merebut wilayah orang lain. Jadi, manusia saling berebut. Ada pula kakak beradik yang saat akan membagi rumah membagi rumah saling tidak mengalah. Lalu bagaimana? Rumah itu harus dibongkar dan dibangun kembali menjadi dua rumah. dan dibangun kembali menjadi dua rumah. Di tengah-tengahnya dibuat pembatas. dibuat pembatas. Sikap perhitungan semakin dalam. Manusia bisa menyerang kediaman orang lain. Mereka ingin menyerang dan menguasai lahan. Begitu pula dengan rumah. Bagaimana cara memisahkannya? Dahulu ada sebuah kisah yang menarik. Ada sebuah keluarga yang orang tuanya telah tiada. Yang tertua di sana adalah si kakek paman. Kakek paman ini membagi harta. Bagaimana caranya? Bagaimana agar adil? Para menantu tidak mau saling mengalah. Sesama saudara pun demikian.
Jadi, mereka diminta mengeluarkan seluruh kepunyaan mereka untuk didata. “Bolehkah ini diberikan kepadanya?” “Tidak, saya sudah biasa menggunakannya.” “Bagaimana dengan yang ini?” “Tidak bisa, di sana juga ada bagian saya.” Si kakek paman lalu berkata, “Ya, kalian mengaku memiliki bagian dalam setiap barang, lalu bagaimana?” “Apakah sebuah piring harus dibagi dua?” “Mari, kalian sama-sama punya bagian.” “Piring ini dibagi dua saja.” “Piring ini dibagi dua saja.” “Dengan begitu, semuanya dapat bagian.” “Begitu pula dengan kursi dan meja.” “Semuanya dibelah dua.” “Dengan begitu, kamu dapat bagian, dia juga dapat bagian.” “Bagaimana dengan pakaian?” “Pakaian saya juga mau.” “Baiklah, belah jadi dua bagian.” Bayangkan, sikap perhitungannya sampai pada tahap ini. Tentu, rumah juga dibagi dua. Pada waktunya, lahan rumah juga dibagi dua dan diberi batas yang mana milik sang kakak dan yang mana milik sang adik. Seharusnya semua ini sulit untuk dibagi. Benda mungkin bisa dibelah, tetapi apakah hati bisa dibelah? Namun, manusia rela melakukannya dan merusak persaudaraan.
Ini membawa penderitaan Saat rasa persaudaraan berkurang, kebencian akan bertambah. Persaudaraan berubah menjadi kebencian, kemarahan, dan rasa dendam. Bayangkan, bagaimana dunia bisa harmonis? Keharmonisan keluarga dan Tanah Suci yang kita bahas telah menjadi tanah keruh. Dengan adanya sikap perhitungan, bagaimana selanjutnya? Di masa lalu kita mungkin pernah melakukannya. Selain bersikap perhitungan, kita mungkin juga merampas kepunyaan orang yang tak kita kenal. Berbagai hal buruk yang kita anggap sepele mungkin pernah kita lakukan. Kita mungkin juga mengambil keuntungan dari masyarakat. Ini disebabkan oleh ketamakan dan keinginan. Kita mungkin merampas rumah atau toko orang. Rumah atau toko milik orang lain kita rampas.
Bahkan, yang lebih besar lagi adalah menguasai desa orang lain. Berbagai kesalahan ini sungguh tak habis disebutkan. Kini kita telah memahami kebenaran. Kita berada di ladang pelatihan yang sama. Terutama Tzu Chi, kini relawannya sudah tersebar di seluruh dunia. Kita memiliki silsilah Dharma dan mazhab yang sama. Setiap orang harus memiliki hati Buddha. Hati tidak boleh terpecah. Jika hati Buddha ini terbelah, maka akan menjadi hati makhluk awam. Hati makhluk awam penuh perhitungan. Hati Buddha adalah hati penuh welas asih agung. Jadi, silsilah Dharma dan mazhab kita harus didasari oleh hati Buddha dan Dharma dalam diri setiap orang. Dalam aktivitas sehari-hari harus ada Dharma. Di dalam Dharma ada Samadhi atau keteguhan pikiran. Kita harus berpegang pada jalan yang benar. Untuk membuat dunia bebas dari bencana, masyarakat harmonis, dan setiap keluarga rukun, tentu harus dimulai dari membimbing hati setiap orang untuk bersatu. Inilah hati Buddha. Saudara sekalian, kita harus selalu bersungguh hati untuk menjadikan hati Buddha sebagai hati sendiri dan menerapkan Dharma di dalam perbuatan. Kita harus menjalankan tekad Guru. Inilah yang disebut saudara se-Dharma. Jadi, harap semua orang lebih bersungguh hati di dalam Dharma.