Sanubari Teduh-417-Menjaga Sila dan Menghormati Tiga Permata
Saudara se-Dharma sekalian, dalam kehidupan sehari-hari, kita harus menjaga pikiran kita. Jangan mengabaikan keburukan kecil. Kita harus selalu mengingatkan diri sendiri. Jangan pula meremehkan kebajikan kecil. Kita harus selalu membangkitkan cinta kasih. Kita harus menaati norma dan tidak melanggar sila berat ataupun ringan. Kita benar-benar harus menaati norma. Norma dan sila yang kita sepakati tidak boleh kita langgar sedikit pun. Menghormati Tiga Permata berarti harus menjaga Vinaya dan tata krama.
Vinaya adalah sila untuk mencegah kesalahan dan menghentikan keburukan. Tata krama adalah sikap. dalam kehidupan sehari-hari, dalam aktivitas berjalan, berdiam, duduk, dan berbaring, kita harus bersungguh hati. Sebelumnya kita juga telah membahas bahwa kadang manusia diliputi ketamakan dan mengambil sesuatu yang tidak diberikan baik sengaja maupun tidak. Semua ini tak luput dari hukum sebab akibat. Mengikuti hukum sebab akibat, semua ini membawa penderitaan. semua ini membawa penderitaan. Jadi, janganlah kita melakukan pelanggaran sekecil apa pun. Dengan welas asih-Nya, Buddha membabarkan Dharma di dunia ini demi membimbing kita untuk berjalan di jalan yang benar dan tidak melangkah di jalan yang salah. Jadi, setiap hari saya meminta kalian untuk meningkatkan kesadaran dan mengingatkan kalian agar jangan meremehkan pelanggaran kecil. Semua itu juga memiliki akibat. Jadi, kita harus menjaga sila, jangan mengira pelanggaran kecil tak berpengaruh. Ada. Ini tetap sebuah pelanggaran. Jadi, kita harus meningkatkan kewaspadaan. Berbagai pelanggaran sudah kita bahas, seperti mengambil sesuatu yang tak diberikan. Sesuatu yang bertuan tak boleh sembarang kita ambil tanpa izin. Sebatang rumput atau sesuatu yang kecil sekalipun yang kita rasa tidak bernilai, jika itu adalah milik orang lain, kita tidak boleh mengambilnya tanpa izin. Sesuatu yang kecil, bahkan yang sangat halus sekalipun, harus kita perhatikan, terlebih tindakan merampas, merampok, atau mencuri. Semua pelanggaran ini sudah kita ketahui. Jadi, kita harus bertobat atas semuanya.
Kita harus bertobat terhadap kesalahan besar ataupun kecil. Jika ada pelanggaran yang disengaja ataupun tidak, kini kita harus bertobat. Pertobatan adalah pemurnian. Namun, sejak masa tanpa awal, dari kehidupan ke kehidupan entah berapa banyak kesalahan kita. Satu kali bertobat saja tidaklah cukup. Jadi, kita harus terus bertobat. Pertobatan ini diulang berkali-kali. Berikutnya dikatakan, Sebelumnya kita membahas kepunyaan orang pada umumnya. Kini kita membahas milik Tiga permata, yaitu Buddha, Dharma, dan Sangha. Segala sesuatu di vihara adalah milik Buddha, Dharma, dan Sangha. Jika tidak diizinkan, kita tak boleh mengambilnya. Begitu pula dengan Sutra dan rupang. Misalnya kita suka terhadap Sutra tertentu dan tersentuh setelah mendengarnya. Kita sangat menyukai Sutra itu. Namun, jika tanpa persetujuan para bhiksu atau bhiksuni di sana atau pengurus vihara atau pengurus vihara kita diam-diam mengambilnya, ini juga termasuk mencuri. Bukan hanya Sutra atau rupang, bahkan benda umumnya juga demikian. Singkat kata, meski kita sangat tulus ingin memuliakan Buddha, sangat membutuhkan dan menyukai benda itu, serta ingin membawanya pulang untuk dibaca atau dipuja dan dipergunakan, kita tetap harus mendapat izin dari pengurus, baru boleh mengambilnya. Begitu pula dengan benda perawat stupa. Benda perawat stupa berarti alat untuk membersihkan stupa dan vihara. Untuk menjaga kebersihan vihara, kita harus menggunakan alat. Kita menggunakan alat untuk membersihkan lantai, meja, tembok, kaca, dan lainnya.
Benda apa yang kita gunakan, kalian semua seharusnya sudah tahu. Baik sapu, pengki, ember, kain lap, atau yang lainnya, meski semua ini terdengar sepele karena hanya merupakan alat pembersih atau alat-alat pekerjaan kasar seperti sekop atau cangkul, jika belum mendapat izin dari pengurus, kita juga tidak boleh mengambilnya diam-diam. Begitu pula dengan persembahan bagi Sangha. Benda apa pun itu, semua yang dibawa oleh si pemberi sebagai persembahan, baik makanan maupun barang keperluan; baik yang besar maupun yang kecil, kita tak boleh sembarang mengambilnya. Mengambil yang tidak diberikan sama dengan mencuri. Ini adalah pelanggaran, terlebih jika benda itu milik Tiga Permata. Tiga Permata adalah ladang berkah terunggul dan paling mulia. Seperti yang kita bahas tadi, alat-alat untuk membersihkan vihara kita rasa bukanlah benda berharga dan merupakan alat pekerjaan kasar. Namun, selama itu adalah milik Sangha, berarti itu adalah milik Tiga Permata, yaitu Buddha, Dharma, dan Sangha. Tiga Permata adalah ladang berkah terunggul dan paling mulia. Jadi, jika kita mencuri dari Tiga Permata, itu merupakan pelanggaran yang lebih berat daripada pencurian biasa. Jadi, kita harus lebih memahaminya. Hanya orang yang meyakini Buddha yang pergi ke vihara.
Jadi, kita harus paham sila dan tata krama. Berikutnya dikatakan, Kita harus lebih hati-hati atas hal ini. “Caturdisa” berarti empat penjuru, yaitu timur, barat, selatan, dan utara, sedangkan sepuluh penjuru mencakup tengara, barat laut, dan arah mata angin lainnya ditambah arah atas dan arah bawah. Inilah sepuluh penjuru. Secara sederhana disebut empat penjuru. Inilah “Caturdisa”.
Di vihara, orang-orang dari empat atau sepuluh penjuru bersama-sama berlatih. Inilah Sangha. Jadi, “Caturdisa” berarti vihara, yaitu tempat orang-orang dari sepuluh atau empat penjuru berlatih bersama. Ini adalah keluarga bersama. Barang-barang milik bersama, jika kita mengambilnya, mencurinya, menguasainya tanpa persetujuan yang lain, atau menyalahgunakannya, meski tidak ingin mengambilnya, meski tidak ingin mengambilnya, tetapi kita menyalahgunakannya, tetapi kita menyalahgunakannya, ini juga tidak boleh. Kita harus selalu meningkatkan kewaspadaan. Melatih diri berarti harus meningkatkan kewaspadaan. Milik orang lain ataupun milik sendiri tidak boleh kita salah gunakan. Menghilangkan milik orang lain juga tidak boleh. Karena itulah, kita harus melatih diri. Hal sekecil apa pun harus kita perhatikan. Ada pula yang menguasai dan tak mengembalikan. Misalnya, saat meminjam barang orang lain, Misalnya, saat meminjam barang orang lain, kita tidak mau mengembalikannya.
Sebelumnya kita membahas tentang penyalahgunaan. Di sini kita membahas barang yang sudah digunakan. Lalu bagaimana? Ada yang tidak bersedia mengembalikannya. Ini juga tidak benar. Setelah menggunakan milik orang lain, kita mengembalikannya. Inilah yang benar. Jika kita menyalahgunakannya, lalu masih berkata, “Lalu kamu mau bagaimana?” “Ini sudah terlanjur digunakan, kita harus bagaimana?” ini berarti kita tidak bersedia mengembalikan. Ini juga tidak boleh. Jika ada kesalahan, kita harus mengakuinya. Jika menghabiskan barang orang lain, kita juga harus menggantinya. Kita semua harus ingat kisah yang pernah saya ceritakan. Ada seseorang yang hendak meminjam garam dari orang lain. Si empunya rumah tidak ada di tempat. Dia lalu berpikir, “Toh hanya garam saja, saya juga kenal baik dengan tuan rumah.” “Dia tidak ada di tempat, saya ambil saja sesendok garam.” Kemudian, saat bermeditasi, dia tiba-tiba merasa angkasa dipenuhi garam. “Apa yang terjadi?” Dia terus berpikir. Dia belum pernah mengalami itu sebelumnya. Dia lalu teringat pernah mengambil sesendok garam tanpa izin pemiliknya. Barangkali karena hal itu, saat bermeditasi dia melihat banyak garam. “Saya harus segera mengembalikannya.” Suatu hari, dia membawa segerobak garam kepada si tuan rumah dan berkata, “Maaf, saya pernah meminjam garam saat kamu tidak ada di tempat.” “Tanpa izinmu, saya mengambil sesendok garam.” “Saya merasa sangat bersalah.” “Begitu saya bermeditasi, di angkasa seakan penuh dengan garam.” “Ini tidak boleh dibiarkan.” “Saya harus segera mengembalikannya.” Si tuan rumah bertanya, “Kalau begitu, mengapa harus sebanyak ini?” “Karena saya mengambil tanpa izinmu.” “Jadi, kini saya mengembalikan ribuan kali lebih banyak.” Meski ini hanya sebuah kisah, tetapi kita dapat mengambil hikmahnya sebagai pengingat diri.
Meski barang milik orang lain sangat murah, tetapi mengambilnya adalah menyalahi hati nurani kita. Hakikat kebuddhaan bersifat murni. Sedikit saja batin kita tercemar, hati nurani tidak dapat menerimanya. Jadi, dia segera mengembalikannya sebanyak ribuan kali lipat. Kita juga harus mengambil hikmah dari cerita ini untuk mengingatkan diri sendiri. Jika terburu-buru, setelah menggunakan barang milik orang, saat si pemilik kembali, kita harus segera melapor, “Maaf, tadi saat kamu tidak di tempat, saya terburu-buru dan menggunakan barangmu sekian banyak.” Kita terlebih dahulu melapor dan bersedia mengembalikannya. Dengan begitu, kita tak akan seperti cerita tadi yang begitu bermeditasi langsung melihat setitik noda batin yang menjadi banyak. Jadi, kita harus segera mengaku.
Ini juga termasuk pertobatan. Jadi, tidak mengembalikan barang orang tidaklah benar. Anda sudah menyalahgunakan barang orang, lalu tidak mengembalikannya. Ini tidak benar. Kita mungkin meminjam untuk dipakai sendiri Kita mungkin meminjam untuk dipakai sendiri atau meminjamkannya lagi kepada orang lain. atau meminjamkannya lagi kepada orang lain. Kita mungkin meminjamkan milik kita atau meminjam dari orang lain lagi. Kita meminjam dari orang lain. Barang itu memiliki tuan. Kita meminjamnya. Namun, saat melihat orang lain membutuhkan, barang milik orang ini kita pinjamkan lagi kepada orang itu. Kita sudah meminjam dari orang lain dan belum mengembalikannya. Saat orang lain membutuhkannya, kita meminjamkan barang itu. Orang lain mungkin sangat membutuhkannya dan meminjam barang itu dari kita. Kita yang meminjamnya dari si pemilik. Setelah meminjamnya, kita tidak mengembalikannya. Ini juga tidak benar. Kita juga mungkin lupa mengembalikannya. Setelah meminjamkannya lagi pada orang lain, kita lalu melupakannya kita lalu melupakannya dan tidak mengembalikannya. Ini memang tidak disengaja. Kita lupa telah meminjamkannya. Kita juga lupa pernah meminjam barang itu. Orang yang meminjam dari kita juga lupa. Kita juga mungkin mengembalikan kurang dari jumlah yang dipinjam. Kita merasa sudah mengembalikannya. Kita merasa sudah mengembalikannya.
Namun, yang kita pinjam lebih banyak. Meski sudah dikembalikan, tetapi jumlahnya kurang. Namun, kita merasa kita sudah mengembalikannya. Ini disebut lupa. Ini disebut lupa. Meski tidak disengaja, tetapi telah dilupakan. Mungkin juga kita sembarang menggunakan milik Tiga Permata. Milik Tiga Permata juga kita pinjam. Kita juga tidak ingat jelas apa yang dipinjam. Ini yang disebut sembarang menggunakan. Ini juga termasuk pelanggaran akibat mengambil milik orang lain dengan sengaja. mengambil milik orang lain dengan sengaja dan menyalahgunakan milik orang lain termasuk pelanggaran. Berikutnya dikatakan, Ini sangat sederhana. Di dalam keseharian, meski tinggal di vihara yang sama, meski tinggal di vihara yang sama, ada yang berlatih masing-masing ada yang berlatih masing-masing ada yang berlatih masing-masing dan memasak makanan sendiri-sendiri. Misalnya dalam hal beras dan kayu bakar. Baik beras maupun kayu bakar, saat kita tidak punya cukup banyak, lalu melihat orang lain memiliki lebih, kita lalu mengambil begitu saja tanpa meminta izin. Begitu pula dengan garam, kecap, dan cuka. Semua ini seakan sangat sepele.
Vihara-vihara zaman dahulu sering mengasinkan sayur atau membuat acar. Makanan-makanan itu sangat asin. Ini juga terkesan sepele. Namun, jika mengambil tanpa izin, berarti kita telah melakukan kesalahan. Begitu pula dengan sayuran dan buah. Semua makanan ini ada di berbagai tempat di vihara. Ada pula uang, bambu, dan kayu. Ada pula kain berwarna atau panji. Lihatlah vihara tradisional, pasti dihiasi kain berwarna dan panji. Semua orang seharusnya sudah tahu. Semua orang seharusnya sudah tahu. Ada pula bunga dan lampu minyak. Jika kita mengambil semua ini untuk kepentingan pribadi atau mengambil milik orang lain untuk diberikan kepada orang lain lagi, maka meski semua ini terkesan sepele, tetapi dengan welas asihnya, Mahabhiksu Wu Da menjabarkan semua benda kecil di vihara menjabarkan semua benda kecil di vihara menjabarkan semua benda kecil di vihara agar kita semua diingatkan bahwa barang-barang kecil di dalam keseharian juga harus sangat kita perhatikan. Kita tak boleh melanggar peraturan. Berikutnya dikatakan, Semua ini berada di kediaman Tiga Permata atau tempat tinggal Sangha. Meski hanya mengambil kayu bakar, beras, atau buah dan bunga di taman, atau buah dan bunga di taman, kita harus meminta izin. kita harus meminta izin. Vihara memiliki orang yang bertugas di kebun. Semua bagian ada yang mengurusnya. Saat ingin memetik sayuran, kita harus mencari pengurus kebun untuk meminta izin. untuk meminta izin. Saat ingin memetik buah, kita harus meminta izin kepada penjaga kebun buah. meminta izin kepada penjaga kebun buah. Semua ada aturannya. Ini disebut Vinaya dan tata krama.
Berhubung semua itu adalah milik vihara dan ada yang mengurusnya, maka kita harus menghormatinya. Kita harus melapor jika ingin mengambil sesuatu. jika ingin mengambil sesuatu. Terhadap tanaman saja demikian, terlebih semua yang disimpan di gudang. Semua benda yang disimpan dan menjadi milik bersama pasti memiliki penanggung jawab. pasti memiliki penanggung jawab. Saat ingin mengambil sesuatu di gudang, entah itu mangkuk, piring, bahan makanan kering, dan sebagainya, kita harus melapor pada penanggung jawab. “Saya ingin membuka gudang untuk mengambil barang.” Kita harus melapor, tidak boleh sembarangan. Baik bahan-bahan alami maupun barang-barang yang disimpan, semua perlu kita laporkan. kita harus meminta izin. kita harus meminta izin.
Milik Tiga Permata tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi secara sembarangan. Meski membutuhkannya, kita tak boleh mengambilnya begitu saja kita tak boleh mengambilnya begitu saja meski benda itu sangat kecil. Berbagai kesalahan ini tak terhitung jenisnya. Saudara sekalian, ini sudah dibahas di awal. Bukankah semua ini seakan sangat sepele? Bukankah semua ini seakan sangat sepele? Benda-benda ini seakan tidak bernilai. Namun, begitu kita mengambilnya, berarti kita melakukan pelanggaran. Mendengarnya, apakah kalian merasa takut? Ya. Kita harus takut, baru bisa menjaga sila dan waspada. Dalam keseharian, kita harus meningkatkan kewaspadaan. Dalam keseharian, kita harus ingat untuk tidak meremehkan kejahatan kecil dan tidak mengabaikan kebajikan kecil. Kita harus menjaga norma dan tidak melanggar sila yang berat ataupun ringan; Menghormati Tiga Permata; menjaga Vinaya dan tata krama. Kita semua harus selalu bersungguh hati.