Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-416-Menyimpan Niat Baik dan Menyerap Dharma

Saudara se-Dharma sekalian, hati hendaknya selalu menyimpat niat baik, giat menyebarkan benih kebajikan, dan tidak membiarkan timbulnya niat jahat yang memicu berbagai kesalahan. Kita harus menjaga pikiran kita. Kita sudah pernah membahas bahwa jangan sampai kita membangkitkan niat untuk mengambil yang bukan hak kita. Saat si pemilik tidak memberikannya, kita malah mencari cara untuk merampasnya. Jangan ada niat untuk merampas seperti ini. Jika ada sebersit niat menyimpang, maka berbagai kesalahan bisa timbul. Kita terus membahas orang yang hidup menderita dan harus membayar utang. Ini tak lepas dari hukum karma. Bagaimanapun, ketamakan tidak pernah terpuaskan. Ketamakan akan terus tumbuh. Meski saat ini diberi materi sebanyak apa pun, manusia tetap merasa tidak cukup. Orang seperti ini selamanya tetap tamak dan tidak pernah merasa puas. Di kehidupan mendatang, mereka akan terus membayar utang.

Dalam kehidupan ini mereka tidak merasa cukup dan terus mengumbar ketamakan. Di kehidupan mendatang mereka harus membayar utang. Ini sudah pernah kita bahas sebelumnya. Semoga setelah mendengar Dharma, semua orang menyerapnya ke dalam hati. Sutra adalah jalan. Jalan ini harus ditapaki dalam keseharian tanpa menyimpang langkah demi langkah. Berikutnya dikatakan, Penggalan ini juga tidak terlalu dalam. Sebelumnya dibahas tentang menggunakan kekuasaan demi kepentingan pribadi atau menggunakan kekerasan untuk menekan orang lain. Ini yang sudah dibahas sebelumnya. Hari ini kita masih membahas topik serupa, yaitu menggunakan berbagai alat hukuman untuk menindas orang, bahkan menindas orang yang tak bersalah. Orang itu pada dasarnya baik, tetapi malah ditindas dengan ancaman dan kekuasaan. Di masa kini juga banyak kasus seperti ini. Inilah rendahnya moral manusia. Pikiran manusia awam begitu tercela. Saat memiliki sedikit saja hubungan dengan penguasa, mereka memanfaatkan hubungan ini untuk menindas orang baik. Sebagian orang yang tertindas hanya menyimpan kemarahan tanpa bicara.

Mereka tak dapat mengungkapkan kemarahan. Kehidupan tetap harus berlanjut. Orang yang memiliki hubungan dengan mereka menekan atau menindas mereka. Meski mengetahuinya, mereka tidak berani bicara. Begitulah orang yang baik, kerap menjadi sasaran penindasan. Karena itu, ada orang berkata, “Takut orang jahat, menindas orang baik.” Begitulah orang baik kerap tertindas. Ini disebut menindas orang tak berdosa. Jelas-jelas tahu orang itu tidak bersalah, tetapi orang lain malah menekan dan menindasnya. Betapa banyak orang di dunia ini yang mengalami hal ini. Bahkan, di dalam penjara, apakah semua orang bersalah? Belum tentu. Ada pula orang yang tidak bersalah, tetapi dihukum secara sia-sia, bahkan mendapat tekanan. Meski tidak melakukan tindak kriminal, mereka tidak berdaya. Ada pula yang mengambil barang haram. Ada orang yang bekerja sama dengan orang yang tidak taat hukum. Mereka mungkin mengedarkan narkoba. Barang-barang itu tidak seharusnya ada. Demi keamanan bersama, semua orang seharusnya berdagang secara adil.

Namun, ada orang yang melanggar hukum dan melakukan penyelundupan lewat jalur ilegal. Tentu, orang seperti ini memiliki penjamin. Penjamin ini mungkin memiliki penjamin yang lebih kuat lagi. Mereka melakukannya secara sembunyi-sembunyi atau dengan menekan orang lain. Pajak atau denda yang harus dibayar tidak perlu dibayar. Mereka hanya perlu membayar si penjamin. Inilah mengambil barang haram. Ini tidak sesuai hukum. Mereka melakukan bisnis ilegal karena ketamakan terhadap harta. Inilah yang disebut mengambil barang haram. Ada pula “membelokkan yang lurus”. Seseorang mulanya sangat lurus, tetapi terus dibelokkan. Kebenaran mulanya ada di pihaknya. Namun, orang ini terus disalahkan. Ini juga tindakan yang tidak adil. Demi melindungi satu orang, Demi melindungi satu orang, adakalanya dicari orang lain untuk mengaku bersalah. Ada juga kasus seperti ini. Di zaman dahulu terjadi kasus seperti ini, di zaman sekarang pun demikian.

Para korbannya tak dapat menuntut keadilan. Inilah “membelokkan yang lurus”. Jelas-jalas kebenaran begitu lurus dan sederhana, tetapi malah dibuat rumit agar mudah dibelokkan. Para korbannya tidak dapat menuntut keadilan. “Oleh sebab itu, terkena jeratan hukum.” Jika diri sendiri bersalah dan banyak melakukan hal yang tidak benar, maka bagaimanapun menghindar, suatu saat juga akan terbongkar. suatu saat juga akan terbongkar. Mereka juga akan terkena jeratan hukum. Selain membuat orang yang tidak bersalah menjadi terhukum, mereka sendiri suatu hari juga akan menerima hukuman akibat penyuapan, kerja sama ilegal, dan sebagainya. Semua ini adalah tindakan melawan hukum. Selain itu, Semua ini sangat rumit. Di masyarakat masa kini banyak orang menjalankan usaha ilegal dan mencelakai rakyat. Sebagai pejabat pemerintah, seseorang seharusnya menjalankan tugas sesuai aturan. Namun, ada orang yang menjalankan usaha prostitusi, pornografi, dan sebagainya yang merugikan masyarakat dan merusak moral. Semua ini harus ditindak. Semua ini harus ditindak.

Namun, orang-orang ini bukan hanya tidak ditindak; bukan hanya tidak ditangkap; sebaliknya dibiarkan begitu saja untuk melakukan hal yang tidak seharusnya. Orang-orang ini tentu harus ditindak. Ini adalah tugas penegak hukum, yaitu menjaga keamanan dan meredam kekerasan agar rakyat dapat hidup dengan tenteram. Namun, orang-orang itu malah dibiarkan untuk melakukan hal yang tidak benar, seperti menjalankan prostitusi dan sebagainya. Selain membiarkan, mereka juga mengambil keuntungan. Hal ini juga terjadi. Masyarakat masa kini sungguh kompleks. Sesungguhnya, melihat teks pertobatan ini, kita bisa mengetahui bahwa sejak zaman Mahabhiksu Wu Da, hal-hal seperti ini sudah terjadi. Bukankah ini menunjukkan bahwa kegelapan batin terus berlanjut sejak masa tanpa awal? Ada yang merugikan kepentingan umum demi kepentingan pribadi. Ada orang menggelapkan pajak demi kepentingan pribadi. Betapa banyak orang melakukan hal ini. Kita sering melihat laporan berita tentang pejabat tingkat rendah yang sanggup menggelapkan uang negara entah bagaimana caranya dalam waktu yang lama dan jumlah yang besar. Tindakan mengorbankan kepentingan umum demi kepentingan pribadi seperti ini ada. Ini juga menakutkan.

Lihatlah, seorang pejabat kecil, lewat tangannya sendiri lewat tangannya sendiri dapat mengumpulkan puluhan juta dolar ke kantong pribadinya. Pada suatu hari, kasus ini juga akan terbongkar. Si pelaku dari luar terlihat sangat jujur dan baik, tetapi secara sembunyi-sembunyi, dia telah melakukan pelanggaran hukum demi kepentingan pribadi. Ada pula orang yang menekan pihak tertentu seakan membela kepentingan umum. Demi menunjukkan kontribusi atau jasa, dia menekan pihak tertentu dengan memungut pajak yang tidak seharusnya. Dia seakan membela kepentingan umum. Namun, tindakannya berlebihan sehingga menekan pengusaha yang baik. Dia seakan menjalankan hukum yang berlaku, tetapi sesungguhnya juga menyulitkan rakyat. Ada yang merugikan satu pihak demi kepentingan pihak lain; mencelakai satu orang demi manfaat orang lain. mencelakai satu orang demi manfaat orang lain.

Singkat kata, semua ini dijalankan tidak sesuai prinsip dan asas keadilan. Ini tidak sesuai prinsip kebenaran. Ini juga membuat kehidupan orang menjadi sulit. Ini menimbulkan ketidakpuasan di masyarakat. Warga tak dapat hidup tenang lahir batin. Inilah yang terjadi di kalangan pejabat atau orang yang seharusnya melayani. Mereka secara diam-diam melakukan kecurangan. Berikutnya dikatakan, Ini dilakukan oleh orang yang memiliki hubungan dengan pejabat. Mereka merampas milik orang lain demi kepentingan sendiri Mereka merampas tanah orang lain. Saat mengukur lahan, mereka mengubah batas lahan. Saat bekerja sama dengan orang lain, mereka merugikan orang lain demi menguntungkan diri sendiri. Dari luar mereka terlihat baik. Di mulut mereka juga terus berkata akan banyak melakukan hal baik dan membantu. dan membantu. Mereka banyak mengatakan hal yang membuat orang lain percaya dan mengandalkan mereka. Namun, itu tak sesuai dengan hati mereka.

Mereka berkata ingin melakukan banyak hal, tetapi tidak begitu di dalam pikiran mereka. Berhubung tidak berniat melakukannya, bagaimana mungkin mereka benar-benar mewujudkannya? Mereka hanya manis di mulut saja. Sesungguhnya, mereka tak pernah berpikir untuk membantu orang, terlebih memberi untuk orang lain. Mereka hanya bermulut manis. Kita menyebutnya bertutur kata kosong. Kata-katanya sangat enak didengar. Sesungguhnya, mereka sangat kikir dan tamak. Mereka berusaha mencari keuntungan. Mereka berusaha mengatakan hal-hal yang menyenangkan, tetapi sesungguhnya tak mampu dijalankan atau diberikan. Jadi, mereka lebih banyak bicara tanpa ada yang dilakukan. Ini disebut “kikir dalam ucapan dan pikiran”. Ada pula yang mencatut uang sewa. Ada orang yang mencatut uang dengan menjadi calo. Contohnya, kini banyak tenaga kerja asing yang harus melapor  ke pemerintah atau kepada majikan. Upah yang diterima para tenaga kerja ini Upah yang diterima para tenaga kerja ini dipotong beberapa puluh persen. Uang yang benar-benar dapat mereka kirim ke kampung halaman tidak seberapa.

Ini karena adanya calo. Semua orang tidak tahu. Para tenaga kerja juga tidak tahu berapa potongan yang dikenakan. Para majikan juga tidak tahu berapa uang yang benar-benar didapat para tenaga kerja asing. Mereka tidak tahu. Inilah mencatut. Tanpa sepengetahuan orang lain, mereka mengambil sesuatu dari pihak lain. Misalnya, mereka menjadi perantara antara penyewa dan pemberi sewa rumah. Mereka mengaku harga sewa sebulan adalah lima belas ribu. Sesungguhnya, yang dibayarkan kepada pemberi sewa hanya dua belas atau sepuluh ribu. Mereka mencatut di tengah-tengah. Ada pula yang menyelundupkan barang melintasi perbatasan. Mereka membantu orang menyelundupkan barang terlarang atau menghindari pajak. Ini yang disebut menyelundupkan barang.

Mereka menghindari pajak pemerintah. Para penyelundup sepakat, “Jika Anda membantu saya, saya akan memberi bagian.” Ini sama dengan menggelapkan dana umum. Pajak yang seharusnya dikenakan tidak dikenakan. Barang selundupan dibiarkan masuk. Uang pajak pun masuk ke kantong pribadi. Ini disebut menyembunyikan. Ini adalah perbuatan yang tidak benar. Harta yang dihasilkan tidaklah halal. Semua ini bermula pada pikiran. Manusia kerap melakukan hal yang melanggar hukum. Kasus seperti ini juga banyak. Manusia sendiri tidak mematuhi aturan. Mereka melanggar hukum. Karena adanya mereka yang melanggar hukum, berniat dan bertindak tidak baik, berniat dan bertindak tidak baik, maka orang-orang yang bekerja dalam pelayanan publik juga melakukan tindakan ilegal dan menindas orang-orang yang baik. Ini adalah siklus keburukan. Adakalanya sebersit niat buruk dapat menimbulkan kekacauan masyarakat. Di Sydney ada sebuah desa. Orang luar biasanya tidak berani datang ke desa ini, hanya ada relawan Tzu Chi yang berani keluar masuk dalam jangka panjang karena relawan Tzu Chi membawa penghiburan penuh cinta kasih.

Orang-orang di desa ini, semuanya adalah pengguna narkoba dan tidak memiliki mata pencaharian lazim. Jadi, di seluruh desa, baik orang dewasa, anak kecil, laki-laki, maupun perempuan, menjalani kehidupan yang kacau. Orang luar tidak berani masuk. Relawan Tzu Chi berinteraki dengan warga dalam jangka panjang sehingga memperoleh kepercayaan. Begitu melihat seragam Tzu Chi, warga setempat pasti menyambut. Setiap hari relawan mengantarkan roti agar warga dapat hidup dengan tenang. Setelah beberapa tahun, pada tanggal 15 Februari 2004, tepatnya pada malam hari, ada seorang anak dari desa itu pergi ke luar dengan mengendarai sepeda. Dia berkeliaran pada malam hari. Berhubung di sana juga banyak polisi yang memandang rendah warga desa itu, maka di sana sering diberlakukan jam malam. Pada malam itu, seorang remaja mengendarai sepeda dan berkeliaran di luar. Polisi yang melihat segera mengejarnya. Melihat polisi datang, anak ini mengayuh sepeda lebih cepat. Dia menabrak tembok akibat tidak hati-hati.

Di sisi tembok itu terdapat gardu listrik. Jadi, anak ini mati tersetrum. Warga desa itu memang sejak lama memendam kebencian memang sejak lama memendam kebencian terhadap polisi berkulit putih. terhadap polisi berkulit putih. Begitu peristiwa itu terjadi, seluruh desa pun bergejolak. Mereka menuduh polisi menyebabkan anak itu tewas. Jadi, warga melempari polisi dengan bahan peledak. Polisi pun bergerak menekan warga. Namun, warga tidak terbendung. Warga yang mengamuk terus melemparkan bom molotov dan bahan peledak, bahkan membakar stasiun. Stasiun pun dibakar. Kebakaran berlangsung selama 9 jam. Bom molotov dan batu terus dilemparkan. Batu-batu pun beterbangan. Selama sembilan jam ini, anggota polisi juga mengalami luka-luka. Ada empat puluhan polisi yang terluka. Ini adalah kerusuhan terparah di Sydney dalam puluhan tahun terakhir. Intinya, gejolak di tengah masyarakat ini terjadi akibat keamanan yang tidak baik terjadi akibat keamanan yang tidak baik dan pemerintah yang tidak mengayomi dengan cinta kasih, melainkan menekan dengan kekerasan. Warga pun tidak mengasihi diri sendiri. Mereka menggunakan narkoba dan tidak bekerja.

Akhirnya, terjadilah perseteruan antara warga dan polisi. seluruh desa menjadi sarang narkoba. Jadi, tak ada orang yang berani masuk ke sana. Hanya kekuatan cinta kasih Hanya kekuatan cinta kasih yang dapat memperbaiki kehidupan orang-orang yang tidak taat hukum itu. Hanya cinta kasih yang dapat membantu dan membimbing mereka. dan membimbing mereka. Seperti pada kerusuhan sembilan jam itu, para polisi pun mengalami luka-luka dan kondisi tetap tidak terkendali.

Kemudian, insan Tzu Chi datang untuk menenangkan warga sehingga warga dapat sedikit tenang dan polisi dapat sedikit bernapas. Peristiwa ini terjadi pada 15 Februari 2004 Peristiwa ini terjadi pada 15 Februari 2004 di Sydney. Kerusuhan itu sangat besar. Kerusuhan itu sangat besar. Insan Tzu Chi meredamnya dengan cinta kasih. Kekuatan cinta kasihlah yang terbesar. Namun, cinta kasih ini bukan sesaat saja, melainkan dipupuk dalam jangka panjang, barulah bisa meredam kebencian. Dunia ini sejak masa tanpa awal sudah dipenuhi manusia bermoral rendah yang tidak menaati aturan. Banyak orang yang tak mengasihi diri sendiri. Warga yang tidak menaati hukum, Warga yang tidak menaati hukum, pejabat pemerintah yang melindungi pelanggar hukum, atau orang baik yang dihukum, semuanya ada. Singkat kata, semua bermula dari pikiran. Jika kita dapat menjaga pikiran dengan baik, selalu menyimpan niat baik, menyebarkan benih kebajikan, serta terus menggarap ladang berkah, maka niat jahat tak akan muncul dan kesalahan tak akan terwujud. Begitu niat jahat timbul, segala perbuatan menjadi salah.

 

Jadi, kita harus sungguh-sungguh menjaga pikiran kita. Kita harus selalu mengembangkan cinta kasih dan menjalin jodoh dengan setiap orang. Inilah cara menciptakan ketenteraman dan meredam gejolak. Dengan begitu, masyarakat akan damai. Jadi, kita semua harus lebih bersungguh hati.                                     

Leave A Comment