Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-415-Keyakinan dan Perhatian Benar

Saudara se-Dharma sekalian, kita harus meyakini hukum sebab akibat. Setiap hari sepertinya saya mengingatkan hal ini. Ini bukanlah takhayul. Ini adalah keyakinan benar. Dalam keseharian, manakah akibat yang datang tanpa sebab? Semua akibat didahului oleh sebab. Contohnya, kita semua pagi-pagi sekali masuk ke aula pada waktu yang ditentukan. Untuk apa? Karena kita sedang melatih diri. Ini adalah aturan dalam ladang pelatihan ini demi membina pikiran benar dan mempelajari Dharma. Jadi, setelah memberi hormat pada Buddha, kita duduk. Ini adalah sebab. Setiap hari saya keluar pada waktu yang ditentukan karena harus berceramah untuk kalian.

Jadi, saya juga duduk di sini pada waktunya untuk berbagi dengan kalian semua. Semua ini ada sebabnya. Setelah duduk, kalian menenangkan pikiran agar tubuh dan batin terasa damai sehingga dapat menerima Dharma dengan jelas. Saya juga harus memikirkan dengan tenang cara yang harus saya gunakan terhadap orang-orang dengan beragam sifat agar Dharma yang dalam dapat mudah dipahami agar Dharma yang dalam dapat mudah dipahami dan dirasakan oleh semua orang. Setelah mendengar Dharma, apakah pemahaman kalian bertambah? Jika pemahaman bertambah, ini adalah buah atau akibat. Saya juga berbahagia. Batin kita juga terasa lebih damai.

Ini adalah sebuah perasaan. Kapankah di dalam kehidupan kita, kita luput dari hukum sebab akibat? Hukum sebab akibat ini dapat kita rasakan dalam keseharian kita. Ini dapat ditelusuri lebih jauh hingga masa lalu dan masa depan. Sama halnya, dengan menganalisis masa lampau, kita dapat memperkirakan masa depan. Ini tidak luput dari sebab akibat. Inilah keyakinan yang benar. Keyakinan benar ini harus dipegang teguh. Setiap orang dan hal yang kita hadapi setiap hari tak lepas dari hukum sebab akibat. Jadi, kita harus memiliki keyakinan mendalam seperti kita meyakini adanya langit, bumi, dan manusia. Jika ditanya apakah kalian percaya adanya langit, kalian pasti menjawab percaya. Langit bisa kita lihat saat menengadah.

Seberapa tinggikah langit itu? Tidak terbatas. Semua orang meyakininya. Ilmu pengetahuan kini sangat maju, dapat meneliti planet-planet. Namun, berapa tinggi langit Namun, berapa tinggi langit tetap sulit untuk diukur. Saat menengadah, kita bisa melihat langit dan menilai, “Hari ini langit cerah.” “Matahari terlihat bersinar terang.” Kita bisa mengetahui dan melihatnya. Namun, berapa jaraknya masih belum dapat diukur meski dalam satuan tahun cahaya. Namun, kita tahu ada jarak yang sangat besar. Kita dapat melihatnya. Kita juga tahu jika hujan akan turun. Saatt melihat awan hitam dan langit yang semakin gelap, kita tahu bahwa hujan akan turun. Semua ini ada. Pertanyaan berikutnya, “Adakah bumi?” Tentu ada. Setiap orang dari kita berpijak di bumi ini. Setiap orang, dalam berjalan, berdiam, duduk, dan berbaring, manakah yang terlepas dari bumi ini? Bahkan, segala kebutuhan hidup kita berasal dari bumi. Jadi, kita meyakini adanya bumi. Setelah meyakini adanya bumi, pertanyaan selanjutnya, “Adakah manusia?” Ada. Di kolong langit, di atas bumi, hiduplah manusia. Jadi, kita semua seharusnya percaya. Ini adalah Dharma yang benar.

Kita meyakini langit, bumi, dan manusia. Jadi, kita meyakini Dharma yang benar. Di kolong langit dan di atas bumi yang sama, dalam kehidupan manusia, ada keberuntungan dan ketidakberuntungan. Apakah kita semua percaya? Percaya. Di ruang yang sama, di waktu yang sama, di tempat tertentu, pada orang-orang tertentu, berlaku kejadian tertentu. Ini sudah pasti. Ada orang yang meski hidup di rumah yang sama dan di lingkungan yang sama, tetapi memiliki perasaan yang berbeda. Ada yang merasa puas terhadap keluarganya puas terhadap keluarganya dan merasa beruntung, ada pula orang yang merasa tidak tenang atau tidak puas hidup di tengah keluarga itu dan merasa tidak beruntung. Ini juga ada. Jadi, keberuntungan dan ketidakberuntungan bergantung pada pikiran. Jadi, kita harus memiliki perhatian benar.

Kita hidup dalam kondisi yang berbeda karena kita memiliki perbuatan yang berbeda. Kita harus meyakini sepuluh kebajikan. Ini adalah berkah.

Sepuluh kejahatan adalah keburukan. Yang menjalankan kebajikan akan terberkahi, yang jahat akan mendapat buah keburukan. Setiap orang harus meyakininya. Jadi, kita harus meyakini hukum sebab akibat seperti meyakini langit, bumi, manusia, keberuntungan, dan ketidakberuntungan. Meski hidup di tempat yang sama, manusia memiliki kehidupan masing-masing. Perbuatan menentukan kehidupan kita. Jadi, kita harus memiliki keyakinan, Dharma, perhatian, dan perbuatan yang benar. Setiap orang harus memiliki keyakinan teguh.

Di dalam teks pertobatan dikatakan bahwa perbuatan kita sangatlah menentukan dan tak lepas dari hukum sebab akibat. Di sana tertulis buah dari  tidak mengasihi kehidupan dan melukai atau membunuh makhluk hidup. Di sana dijabarkan pula tentang mengambil yang bukan haknya. Entah itu mencuri, merampok, merampas, menipu, atau yang lainnya, semua akan mendatangkan buah di masa mendatang. Semua ini telah kita bahas. Kini kita harus tahu bahwa untuk membayar utang karma, penderitaan di alam binatang juga bisa berlanjut di alam manusia. Ada orang yang hidupnya penuh kesulitan.

Karena itu, banyak orang bertanya, “Mengapa menjadi manusia amat menderita?” Benar, karena banyak orang menciptakan karma buruk. Dalam kehidupan sehari-hari, jika tidak hati-hati, perbuatan kita akan menciptakan karma buruk yang akan mendatangkan akibat. Inilah yang kita bahas sebelumnya. Berikutnya dikatakan, Sebelumnya kita sudah membahas tentang merampok, mencuri, merampas, menipu, atau mengambil yang tidak diberikan. Barang yang tidak diberikan atau tidak disetujui pemiliknya untuk diberikan, kita malah mencari cara untuk mengambilnya dengan mencuri, merampas, dan lainnya. Setelah karma ini tercipta, maka kelak buahnya akan kita tuai. Di masa lalu kita tak memahami hal ini sehingga menerima berbagai buah penderitaan. Entah sudah berapa kehidupan kita menanggung buah karma buruk ini. Kini mungkin buah yang kita tuai sudah lebih ringan sehingga kita berjodoh untuk melatih diri, berkesempatan memahami kebenaran, dan mendengar Dharma yang benar. Setelah mengetahui hal ini, kini kita harus segera bertobat dengan tulus. Kita bertobat atas kemungkinan pernah melakukan pencurian di masa lampau.

Jadi, setiap hari kita harus memiliki hati yang bertobat. Berikutnya dikatakan, Ini dinyatakan sekali lagi, seperti mencuci barang yang kotor, sekali dicuci mungkin tidak langsung bersih. Meski sudah menggunakan sabun dan digosok dengan kuat, dan digosok dengan kuat, tetapi setelah dicuci dengan air bersih, tetapi setelah dicuci dengan air bersih, saat diamati sungguh-sungguh, masih belum benar-benar bersih. Karena itu, benda itu harus dicuci sekali lagi. Ia harus dicuci ulang dengan menggunakan sabun dan air. dengan menggunakan sabun dan air.

Demikian pula dengan pertobatan. Kita harus terus bertobat atas kesalahan selapis demi selapis, bukan hanya sesaat ataupun sehari. Kita harus selalu mengingatkan diri sendiri. Terhadap hal ataupun manusia, kita terus memiliki hati yang bertobat. Saat melihat sesuatu yang berpemilik, meski kita menyukainya dan membutuhkannya, sebelum mengambil, sudahkah kita meminta izin dari orang yang menjaga atau memilikinya? Sudahkah kita mendapat persetujuannya? Meski itu hanya sehelai kertas yang dianggap tidak berharga atau barang kecil yang sepertinya sepele, jika si pemilik tidak memberikannya kepada kita, tetapi kita merampasnya atau mengambilnya tanpa izin, ini termasuk pencurian. ini termasuk pencurian. Intinya, meski kita tidak melakukan pelanggaran besar, tidak melakukan perampokan, tetapi mungkin dalam keseharian, kita pernah menggunakan milik orang tanpa izin. Ini mungkin pernah kita lakukan. Jadi, tindakan sekecil apa pun harus senantiasa kita perhatikan. Jika ada pemiliknya atau pengurusnya.

kita tentu harus meminta persetujuan mereka. Jadi, kadang kita terburu-buru sehingga langsung menggunakan barang yang ada. Kita mungkin sering melakukan hal ini. Jadi, berikutnya kembali dikatakan, “Kami para murid sejak masa tanpa awal hingga kini…” Kita mungkin pernah merampas harta orang lain atau merampok dengan senjata. Merampok berarti menggunakan kekuatan. Merampas saja sudah menggunakan kekuatan. Ada pula yang merampok menggunakan senjata. Ini berarti menggunakan ancaman. Ini adalah karma buruk merampok. Karma buruk ini sangat berat. Jadi, berikutnya dikatakan, Artinya adalah barangkali kita melakukannya sendiri, yaitu merampas langsung dari diri orang lain dengan cara memaksa atau mengancam. Bukan hanya mengambil yang menempel di tubuh, tetapi juga merampas harta di rumahnya. Ini disebut mengambil secara paksa.

Ada pula yang menggunakan kekuasaan. Ada orang yang memiliki kedudukan, lalu menyalahgunakan kedudukannya. Zaman dahulu ada ungkapan berbunyi, “Meski kaki menginjak kotoran kuda, tetap mengaku memiliki kuasa dan jabatan.” Ini adalah ungkapan orang zaman dahulu. Meski yang menaiki kuda hanyalah pejabat dan para bawahan hanya bekerja, dan para bawahan hanya bekerja, tetapi mereka bisa memanfaatkan kekuasaan tuannya untuk melakukan sesuatu. Mereka juga memanfaatkan kekuasaan dan kedudukan untuk mengancam orang lain. Kalian di zaman dahulu mungkin pernah menyaksikan sebuah film. Di dalam film itu ada orang yang memanfaatkan kedudukan palsu. Orang seperti ini sangat banyak. Adakah orang seperti ini di masa kini? Saya percaya apa yang terjadi di masa lalu juga masih berlaku hingga saat ini. Ada orang berkata, “Menjadi pejabat harus melatih diri.” Jika tidak, Jika tidak, bukan hanya tidak dapat melayani masyarakat, tetapi juga dapat menggunakan kekuasaan untuk menindas orang lain, melakukan korupsi, dan sebagainya.

Kasus seperti ini sangat banyak. Ada orang yang bekerja sepenuh hati Ada orang yang bekerja sepenuh hati atau menjalankan usaha, tetapi ditindas oleh orang seperti tadi dan sangat tidak berdaya. Mereka sangat menderita. Orang yang memanfaatkan kedudukan atau kekuasaan sangat membuat rakyat menderita. Bukan hanya satu keluarga yang tercancam. Bukan. Bahkan, rakyat satu negeri dapat tertindas oleh orang yang memanfaatkan kekuasaan atau kedudukan. Bencana yang disebabkan olehnya juga banyak. Jika satu orang tidak berakhlak baik, dia akan merusak keluarga. Satu keluarga dapat dirusaknya, bahkan mungkin mengancam masyarakat.

Bukan hanya masyarakat, bahkan juga mengancam negara. Jika terjadi perang antarnegara, maka bencana akibat ulah manusia ini akan membuat rakyat menderita, bahkan akan menelan korban jiwa serta membuat pengungsi tak memiliki tempat tinggal. Banyak sekali akibatnya. Ini adalah kondisi yang menyedihkan. Semua ini disebabkan oleh pikiran sebagian orang yang tidak benar. Mereka memanfaatkan kekuasaan. Contohnya,  pada bulan Juli 2006, meletus perang antara Israel dan Lebanon. Mengapa itu bisa terjadi? Ini tentu dipicu perang dingin yang sudah lama berlangsung antara kedua negara. Dua negara ini saling berseteru dan mengklaim wilayah. Antarsesama manusia terjadi perbedaan dan perseteruan politik. Jadi, suatu hari, Partai Hizbullah di Lebanon menyandera dua orang tentara Israel untuk memaksa pihak Israel membebaskan tahanan perang dari Arab. Ketegangan antara Arab dan Israel terus terjadi sehingga kedua pihak saling menyandera tahanan. Israel tidak menerima ancaman dari Lebanon. Bukan hanya tidak mau melepaskan tahanan, Israel malah melakukan serangan terhadap Partai Hizbullah di Lebanon Selatan. Hizbullah juga tidak mau menyerah. Jadi, keduanya mengerahkan kekuatan senjata dan memulai peperangan. Negara-negara Eropa dan Amerika Serikat terus menyerukan agar kedua belah pihak menahan diri, tetapi seruan ini tidak berhasil. Peperangan itu semakin sengit. Korban jiwa pun sangat banyak. Perang ini berlangsung selama 34 hari, mengakibatkan lebih dari 1.200 orang tewas dan lebih dari  900 ribu orang kehilangan tempat tinggal. Lihatlah, keluarga dari 900 ribu orang lebih tercerai-berai. Korban tewas mencapai lebih dari seribu orang. Ini hanya diakibatkan oleh pikiran segelintir orang yang berinisiatif menangkap dua prajurit untuk ditukar dengan tahanan lain. Kesepakatan tidak tercapai sehingga perang meletus. Dalam 34 hari, banyak orang menjadi korban. Selain itu, lingkungan dan alam Selain itu, lingkungan dan alam juga rusak akibat perang ini. Sebuah pembangkit listrik di Lebanon yang menyimpan minyak diledakkan. Lebih dari 15 ribu ton minyak mengalir ke luar dan mencemari Laut Mediterania. dan mencemari Laut Mediterania. Permukaan laut yang tercemar minyak mencapai lebih dari 70 kilometer.

 

Bayangkan, bukan hanya manusia yang menjadi korban, alam pun turut tercemar. Bayangkan, bukankah ini disebabkan oleh orang yang memiliki kekuasaan atau kedudukan? Rakyat satu negara harus menghadapi bencana kemanusiaan harus menghadapi bencana kemanusiaan akibat pikiran buruk dari segelintir politikus. Jadi, pikiran sangat menakutkan. Bencana alam juga bermula dari ulah manusia. Keberuntungan dan ketidakberuntungan bergantung pada karma kolektif semua makhluk. Lihatlah, karma kolektif memengaruhi suatu tempat. Pada hari yang sama, ada tempat yang penuh kenikmatan, kebahagiaan, dan kedamaian, sebaliknya juga ada tempat yang diliputi peperangan dan kekejaman. Semua ini adalah akibat karma kolektif. Karma kolektif ini memicu para politikus setempat untuk memiliki pikiran buruk. Jadi, ini tak luput dari hukum sebab akibat. Jadi, kita semua tetap harus memiliki keyakinan, Dharma, perhatian, dan perbuatan yang benar. Dengan demikian, barulah semua orang di dunia dapat memiliki pikiran dan perbuatan benar. Dengan demikian, barulah dunia dapat bebas dari bencana. Jadi, semua orang harus selalu bersungguh hati.                             

Leave A Comment