Sanubari Teduh-414-Bertata Krama di Jalan Kebenaran
Saudara se-Dharma sekalian, ketenteraman adalah berkah. Jika dapat melewati hari-hari dengan selamat, berarti kita harus selalu bersyukur. Sulit untuk terlahir sebagai manusia. Ajaran Buddha memberi tahu kita bahwa sulit untuk terlahir sebagai manusia dan bertemu ajaran Buddha. Kita dapat terlahir sebagai manusia, sungguh tidaklah mudah. Meski alam manusia penuh penderitaan, tetapi tidaklah mudah juga untuk terlahir di alam manusia ini. Di alam manusia, terlebih sulit untuk terlahir penuh berkah. Di alam manusia ada tempat-tempat yang penuh berkah dan ada tempat-tempat yang kurang beruntung serta penuh penderitaan.
Jadi, lebih sulit untuk terlahir penuh berkah. Bagaimana cara mendapat berkah? Tentu, berkah juga ditanam oleh manusia sendiri. Manusia harus bertata krama dan berada di jalan benar. Berkah ada di dalamnya. Barang siapa yang menanam berkah, dirinya sendiri yang akan menuai. Kata-kata ini sangat sederhana. Beruntung atau tidaknya manusia, sulit dinilai hanya dari segi materi. Ada orang yang berkelimpahan secara materi, tetapi sepanjang hari merasa menderita. Ada orang memiliki suami dan anak yang baik serta hidup dalam kemewahan, tetapi tetap merasa menderita. Kekhawatirannya sangat banyak.
Apa yang dikhawatirkan? Sungguh, saat mendengar hal seperti ini, saya berpikir apa yang dikhawatirkan. Anaknya begitu berbakat, dia malah khawatir usaha anaknya tidak lancar. Suaminya begitu baik, dia malah khawatir suaminya pergi lebih dahulu. Banyak hal yang tak perlu dikhawatirkan malah dia khawatirkan. Bayangkan, bahagiakah kehidupan seperti ini? Sungguh menderita. Kita harus menyelaraskan pikiran kita sendiri. Kita harus bertata krama dan berada di jalan benar. Memiliki kehidupan seperti ini, kita harus menjaga tata krama. Manusia harus tetap bertata krama meski memiliki kekayaan. Dalam memperlakukan orang lain, haruslah penuh sopan santun. Ramah terhadap semua orang dan memiliki tata krama, barulah layak menyandang status orang kaya. Meski hidup berlimpah materi, tetapi sepanjang hari terus mengeluh, orang itu sangatlah kasihan. Dia tidak layak disebut orang kaya. Dia miskin di tengah kekayaan.
Sebaik apa pun kehidupannya, dia masih tidak puas. Jadi, kita harus mengembangkan tata krama. Kita harus bertata krama meski berada di tengah kekayaan. Meski hidup sulit, kita tetap harus berada di jalan benar. Kita harus memahami kebenaran. Kita harus memahami kebenaran. Jadi, kita harus memahami hukum karma. Yang terpenting adalah dapat menjalani hidup dengan tenteram dan aman serta dapat mempelajari kebenaran. Lebih baik lagi jika dapat memahami hukum karma. Ini yang disebut bertata krama dan berada di jalan benar.
Dengan demikian, berkah akan ada di sana. Siapa pun memiliki berkah. Berkah bukan semata-mata materi, bukan ketenaran, bukan keuntungan, melainkan ada di dalam batin kita. Batin kita bagaikan sebidang lahan. Kita harus sungguh-sungguh menggarap ladang berkah di dalam batin ini. menggarap ladang berkah di dalam batin ini. Di manakah kita menciptakan berkah? Di tengah masyarakat. Di tengah masyarakat, kita dapat menjalin banyak jodoh baik dengan orang lain. Jadi, kita yang menggarap ladang berkah, kita pulalah yang akan menuai jodoh berkah. Beberapa kalimat singkat ini mengandung kebenaran. Kita harus bersungguh hati. Ingatlah bahwa sulit untuk terlahir sebagai manusia, terlebih lagi manusia penuh berkah. Berhubung memiliki berkah, Kita harus bertata krama dan berada di jalan benar. Dengan begitu, berkah akan datang. Barang siapa yang menanam berkah, dialah yang akan menuai.
Kebenaran sederhana ini harus meresap ke dalam hati kita. Selanjutnya dikatakan, Penggalan ini tidak termasuk dalam. Ia cukup sederhana. Artinya adalah seperti yang pernah kita bahas bahwa karma buruk mencuri dan merampok yang telah dilakukan dapat membuat manusia terlahir di alam binatang. Di alam binatang, mereka membayar utang.
Berhubung pernah merampas milik orang, berlaku curang terhadap orang lain, berutang, dan sebagainya, maka di kehidupan sekarang lahir sebagai lembu atau kuda. Sebelumnya kita sudah pernah membahas ini. Karma buruk ini tergolong karma ringan, belum yang terparah. Binatang hanya harus bekerja keras untuk membayar utang. Mereka tidak lahir di neraka atau alam setan kelaparan. Ini mungkin saja. Sebelumnya kita sudah membahas tentang lima karma celaka, pembunuhan, memecah belah Sangha, atau merusak tatanan norma. Mereka yang melakukan sepuluh kejahatan dan lima karma celaka akan terlahir di neraka dan alam setan kelaparan, lalu ke alam binatang. Alam binatang dan umat manusia lebih dekat.
Jadi, alam binatang masih termasuk karma buruk ringan. Meski mereka harus bekerja dan membayar utang, tetapi binatang masih disayangi manusia. Kalian tahu Shanlai? Ia adalah seekor kucing yang hampir berusia 20 tahun. Di dunianya, ia seakan berusia seratus tahun. Di dunia manusia ia seperti berusia 20 tahun. Ia juga mengalami usia tua dan penyakit. Kita semua menyayanginya. Saat tahu ia sakit, kita membawanya ke RS Tzu Chi Taipei. Bayangkan, bukankah sebagai binatang ia juga memiliki berkah? Namun, seberapa pun ia memiliki berkah, kehidupannya hanyalah dua puluh tahun alam manusia atau sama dengan seratus tahun alam binatang. Usianya tidak termasuk panjang, terlebih karena ia terlahir sebagai binatang. Ia juga tak bisa mengutarakan penderitaannya. Kucing yang sangat beruntung sepertinya juga tidak banyak.
Sesungguhnya, kebanyakan hewan juga hidup dalam penderitaan. Lihatlah, banyak anjing liar yang dibuang oleh majikannya. Mereka menderita sakit kulit dan kelaparan. Mereka selalu diusir orang di mana-mana. Lihatlah, binatang sangat tidak dihormati, bahkan dicampakkan oleh manusia. Mereka juga didera penyakit dan banyak penderitaan lainnya. Bayangkan, bukankah enam alam penuh penderitaan? Apakah setelah terlahir sebagai binatang, karma buruk mereka akan habis? Belum. Ada manusia yang masih menerima sisa karma buruk. Selain bekerja membayar utang, mereka juga harus merelakan daging dan tulang mereka untuk dimakan manusia. Lembu, kuda, unta, kambing, ayam, bebek, dan sebagainya adalah hewan yang diperdagangkan. Sebagian dimakan oleh manusia. Dengan begitu, apakah utang mereka lunas? Belum. Jika sisa karma buruk masih ada, mereka akan lahir sebagai budak di alam manusia. Mereka akan kembali menerima buah karma. Menjadi kuda atau lembu masih belum cukup. Di alam manusia pun mereka masih menjadi budak. Lihatlah, sekarang banyak orang hidup di negara miskin. Kini berbagai tempat semakin terhubung. Jadi, banyak orang meninggalkan kampung halaman untuk bekerja di negara lain. Mereka pergi demi mencari nafkah dan harus melakukan pekerjaan kasar. Ini juga berarti menjadi budak. Ada juga yang tidak berpakaian. Mereka tidak memiliki baju untuk dipakai. Baju yang mereka kenakan sudah rusak. Ada pula yang mengambil pakaian dari tumpukan sampah.
Banyak orang yang hidup di negara seperti ini Terlebih lagi, perubahan iklim kini sudah menyebabkan bencana di berbagai tempat. Banyak orang bahkan tidak memiliki makanan. Mereka bergantung pada organisasi kemanusiaan. Namun, saat penyaluran bantuan, ada pula orang yang takut tidak kebagian sehingga menggunakan kekerasan. Ini adalah lingkaran keburukan. Mereka merampas dengan kekerasan. Akibatnya, banyak organisasi amal tidak berani datang. Ini adalah lingkaran keburukan. Manusia tidak memahami kebenaran. Jadi, beberapa organisasi hanya menyerahkan bantuan kepada pemerintah. Pemerintah lalu menimbun bantuan itu, sedangkan warga tidak mendapat bagian. Jadi, Tzu Chi menyalurkan bantuan secara langsung. Namun, di tengah kondisi yang tidak aman, di tengah sifat manusia yang keras dan menyimpang, bagaimana hati kita bisa tenang? Jadi, demi orang-orang yang kekurangan dan terkena bencana.
kita tetap tidak punya cara untuk menenangkan hati mereka untuk menenangkan hati mereka dan menyalurkan barang bantuan. dan menyalurkan barang bantuan. Jika mengingat hal ini, batin saya selalu penuh pergumulan. Entah apa yang harus dilakukan. Jadi, dikatakan, “Hidup dalam kemiskinan, tata susila hampir tidak dimiliki.” “Tata susila hampir tidak dimiliki” berarti selain hidup dalam kekurangan, manusia juga tidak hidup sesuai norma. Akibatnya, krisis semakin banyak. Inilah yang tadi kita bahas.
Meski penderitaan yang ada begitu banyak, bagaimana kita dapat membantu? Berhubung prinsip sebagai manusia sudah hilang dari diri mereka, maka cara apa yang harus kita gunakan untuk membimbing mereka untuk membimbing mereka dan menenangkan batin mereka? Tiada cara yang bisa dilakukan. Jadi, orang-orang seperti ini, di dalam Sutra Buddha dijelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang karma buruknya belum habis setelah pernah lahir di alam binatang. setelah pernah lahir di alam binatang. Karmanya untuk berada di alam binatang memang sudah habis sehingga mereka dapat lahir sebagai manusia. Namun, penderitaan mereka belum berakhir. Mereka masih menerima buah karma buruk. Mereka lahir di negara miskin. Mereka tinggal di tempat yang penuh bencana. Mereka mengalami berbagai penderitaan. Ini bagaikan neraka di alam manusia.
Ada banyak tempat yang penuh penderitaan. Contohnya, Etiopia. Saya ingat bertahun-tahun lalu, kita pernah menyalurkan bantuan ke sana. Kita juga pernah meneliti kondisi kehidupan masyarakat di sana. Pada saat itu, para anggota Tzu Cheng mengunjungi negara itu dan memberi laporan sepulang dari sana. Mereka berkata perjalanannya sangat jauh. Di tengah jalan, mereka semua merasa lapar. Mereka ingin mencari rumah makan. Mereka menemukan penjual makanan. Saat masuk ke rumah makan, ternyata tiada makanan yang bisa dimakan. Kue yang dijual telah dikerubungi lalat. Setelah melihatnya, perut lapar pun terasa kenyang.
Begitulah kondisi di sana. Penjual makanan pun kondisinya seperti itu. Apakah orang yang melihat sanggup makan? Para relawan terpaksa menahan perut lapar dan meneruskan perjalanan. Sesampainya di suatu desa, di sana ada orang melangsungkan pesta. Pesta apa? Pesta pernikahan. Mempelai prianya berusia 20 tahun, mempelai perempuannya berusia 11 tahun. Ini sungguh tak terbayangkan. Mengapa anak sekecil itu sudah menikah? Itu adalah tradisi di sana. Kini, jika diingat kembali, orang di sana berusia sangat pendek. orang di sana berusia sangat pendek. Rata-rata hanya 30-an tahun. Pantas saja mereka menikah begitu dini. Ada juga sebuah siaran berita yang memberitakan anak kecil yang juga menikah di Etiopia. Wartawan saat itu melihat seorang ibu yang sedang mengandung. Saat ditanya usianya, dia menjawab usianya 12 tahun. Apakah itu anak pertama? Ternyata anak kedua. Setengah tahun sebelumnya, dia melahirkan anak pertama. Namun, kini dia kembali mengandung. Artinya, tidak ada jeda yang cukup lama. Usianya masih sangat belia, tetapi dia sudah mengandung. Apakah dia memiliki masa kanak-kanak? Mari kita tengok anak-anak di Taiwan. Anak-anak di Taiwan, pada usia 11, 12, 14, sampai 15 tahun sedang menjalani masa remaja. Mereka begitu beruntung. Orang tua memanjakan mereka. Sebaliknya, anak-anak di Etiopia menganggap pernikahan dini sudah biasa.
Di usia belasan tahun mereka sudah menjadi ibu dan harus mengerjakan pekerjaan rumah. dan harus mengerjakan pekerjaan rumah. Mereka tidak memiliki masa kanak-kanak. Meski beberapa tahun lalu pemerintah setempat sudah mengeluarkan ketetapan untuk melarang pemaksaan anak-anak untuk menikah pada usia belasan tahun akibat desakan dan sorotan akibat desakan dan sorotan dari dunia internasional, dari dunia internasional, apakah kebijakan itu efektif? Tidak. Terlebih lagi, anak-anak yang mengandung mungkin melahirkan secara prematur atau kesulitan melahirkan. Banyak yang meninggal. Ini karena usia mereka masih kecil. Jadi, yang meninggal saat melahirkan tidak sedikit.
Bayangkan, meski terlahir sebagai manusia, sulit pula menjadi manusia yang penuh berkah. Apakah anak-anak itu bukan manusia? Mereka adalah manusia, tetapi mereka lahir di negara dengan kondisi seperti itu. Itu mencakup seluruh suku di sana. Usia rata-rata di sana sangat pendek. Mereka menikah sebelum usia dewasa. Terlebih lagi, anak-anak yang menikah di usia terlalu dini berkemungkinan meninggal di usia lebih muda karena tingkat kegagalan dalam persalinan. Meski mereka melahirkan dengan lancar, tetapi seperti yang kita bahas tadi, mereka sudah menjadi ibu di usia 12 tahun. Anak tadi menjadi ibu pada usia 11 tahun. Di usia 12 tahun, dia mengandung lagi. Tidak ada jeda baginya. Bayangkan, bukankah ini sangat memprihatinkan? Buah karma ini, menurut ajaran Buddha adalah sisa buah karma dari alam binatang atau alam neraka. Mereka masih harus menanggungnya di alam manusia. Bukankah sangat menderita? Meski sulit terlahir sebagai manusia, lebih sulit lagi menjadi orang penuh berkah. Dapat terlahir dalam lingkungan yang bertata krama dan mengenal jalan benar tentu lebih sulit lagi.
Jadi, kita semua telah berada di lingkungan seperti ini. Kita telah memiliki berkah, maka harus kembali menanam ladang berkah untuk dapat kembali menuai berkah. Kita harus lebih banyak menanam berkah. Kita harus banyak menjalin jodoh baik. Jadi, harap kita membuka wawasan sedikit. Lihatlah ke seluruh dunia. Kondisi di alam manusia sendiri juga penuh penderitaan. Jadi, kita yang berada di lingkungan seperti ini harus menyadari dan menghargai berkah. Jadi, kita semua harus lebih bersungguh hati.