Sanubari Teduh-420-Berdisiplin dan Belapang Dada Membawa Kedamaian
Saudara se-Dharma sekalian, hati kita harus lapang, toleransi kita harus besar. Jika hati kita sempit, maka yang muncul adalah tabiat buruk. Kadang ketamakan sedikit saja dapat terpupuk hingga semakin besar. Jika ketamakan kecil dituruti, maka ketamakan besar akan sering muncul. Jadi, kita harus menjaga pikiran kita. Jangan biarkan ada ketamakan terhadap materi. Materi adalah benda di luar diri. Berapa banyak yang bisa kita gunakan? Berapa banyak yang bisa kita habiskan? Sesungguhnya, dalam kehidupan dan kesehariannya, berapa banyak yang dibutuhkan seseorang? Jika tidak memahami kebenaran, kita akan terus mengumbar ketamakan. Sesungguhnya, dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang hanya perlu makan dua mangkuk nasi, tiga jenis lauk, dan satu jenis sup. Jika ada menu seperti itu dalam 3 kali makan, maka sudah cukup. Gizi yang dibutuhkan akan terpenuhi. Dalam sebuah keluarga, yang dibutuhkan setiap anggota juga tak jauh dari semua ini. Dalam hal pakaian, meski harus berganti pakaian setiap hari, tetapi yang dipakai dalam sehari juga hanya satu helai. Berapa banyak yang kita butuhkan untuk berganti? Yang penting baju kita bersih. Begitu pula dalam hal tempat tinggal.
Setiap hari, berapa luas lingkungan yang bisa kita jangkau? Ada satu kamar tidur, satu ruang tamu, satu ruang tamu, ruang apa lagi yang kita butuhkan? Kalaupun memiliki gedung tinggi atau rumah besar, apakah semua ruang kita gunakan? Juga tidak. Yang benar-benar digunakan sangatlah terbatas. Ketamakan atas apa yang perlu kita miliki? Kebutuhan sandang, pangan, dan papan kita sesungguhnya tidak banyak. Untuk apa kita begitu menderita? Untuk apa kita begitu menderita? Kita menderita bukan hanya karena mengejar materi. Yang paling membuat manusia menderita adalah ketidakpuasan dalam batin. Akibat batin yang penuh ketidakpuasan, kita tamak akan berbagai hal besar ataupun kecil. Jika demikian, kita akan sangat menderita. Jadi, kita harus memupuk pikiran baik. Kita harus menumbuhkan pikiran baik. Kita harus selalu mengembangkan niat baik dan mengendalikan diri. Dalam lingkup keseharian kita, dalam hal penggunaan materi, jangan ada sesuatu yang diperoleh dengan tidak benar.
Jadi, kita harus senantiasa menjaga pikiran kita. Terhadap orang lain, kita harus mengembangkan kelapangan hati. Kita harus selalu mengembangkan kesabaran dan toleransi. Kita harus memaafkan dengan lapang dada. Terhadap diri sendiri, kita harus menjalankan disiplin dengan ketat. Terhadap orang lain, kita harus berlapang dada. Jadi, dalam hal barang, segala yang digunakan oleh diri sendiri boleh lebih sederhana dan sedikit. Bagi orang lain, kita memberikan yang lebih berkualitas dan lebih banyak. Jika mampu melakukan ini dan mampu berlapang dada dan berdisiplin, kita tidak akan melakukan kesalahan. Jadi, kita harus selalu mengembangkan niat baik dan kelapangan hati. Dengan demikian, setiap hari kehidupan kita akan damai dan tenteram. Kita telah membahas bahwa kita tidak hanya menciptakan karma buruk akibat ketamakan terhadap materi. Sesungguhnya, dalam hubungan antarmanusia, memanfaatkan tenaga orang lain juga termasuk sesuatu yang tak seharusnya. Dalam hal kecil, kita mungkin memanfaatkan tenaga orang lain untuk melakukan pekerjaan kita. Mungkin ini bukan demi kebutuhan kita, tetapi kita telah mengelabui orang lain untuk melakukan sesuatu yang tidak patut atau menipu orang lain untuk bekerja kasar sehingga mereka menderita.
Hasil kerja mereka kita nikmati sendiri. Ada orang yang keluarganya tercerai-berai karena hal ini. Kita telah membahasnya. Dari sisi kehidupan keluarga, karena ketamakannya, satu orang dapat menipu orang lain untuk meninggalkan kampung halaman, bahkan membuat rakyat di seluruh negeri saling terpisah dari anggota keluarga mereka. Semua ini berawal dari pikiran manusia. Jika satu orang memiliki pikiran tidak benar, saat kekuasaannya semakin besar, kedudukannya semakin tinggi, atau kekuatannya semakin besar, dia dapat membuat banyak keluarga di seluruh masyarakat atau seluruh negeri di seluruh masyarakat atau seluruh negeri tercerai-berai. Ini adalah hal yang tidak seharusnya. Karena berbagai hal inilah, manusia menciptakan penderitaan di dunia.
Dalam masyarakat masa kini, ada juga orang yang rela menjual diri sendiri untuk menjadi paron. Kita pernah melihat berita di Tiongkok, ada tempat orang melampiaskan kemarahan. Ada orang yang kesal saat bekerja dan dipenuhi kemarahan. Mereka bisa mencari tempat itu yang berkedok pusat kebugaran. Sesungguhnya, di tempat itu ada tempat untuk melampiaskan kemarahan. Bagaimana caranya? Di sana ada orang yang bersedia dipukuli. Dia akan berdiri dan pasrah saat dipukuli. Ongkos yang harus dibayar bergantung pada bagian tubuh mana yang akan dipukul dan berapa lama durasinya. Bagian tubuh yang mudah luka akan dihargai lebih mahal. Semakin panjang durasi, harganya juga semakin mahal. Ini sungguh memprihatinkan. Demi uang, jika tubuh harus terluka, lalu apakah mengobatinya tidak perlu uang? Demi menghidupi keluarga, Demi menghidupi keluarga, ada orang yang menggunakan cara ini. Jika mereka terluka dari kepala, dada, hingga sekujur tubuh, berapa lama mereka bisa menghidupi keluarga? Mungkin tidak lama nyawa mereka sudah terancam. Jika tidak meninggal, mereka mungkin cacat seumur hidup. Ada juga yang terluka parah, entah berapa lama baru bisa pulih.
Bukankah kehidupan seperti ini menyedihkan? Mereka menggunakan tubuh untuk menghasilkan uang. Kita mungkin juga teringat banyak anak perempuan yang mungkin karena tekanan lingkungan atau karena dikelabui orang, terjerumus ke dalam perdagangan manusia. Namun, ada pula yang menjerumuskan diri sendiri. Ini berarti tidak menghargai diri sendiri ini. Mereka tidak menyayangi diri sendiri Mereka tidak menyayangi diri sendiri dan mencemari diri sendiri. dan mencemari diri sendiri. Semua ini bukanlah perbuatan yang benar. Jadi, akibat ketamakan, ada orang yang mencelakai orang lain, mencelakai masyarakat, mencelakai negara, ada pula yang menjerumuskan diri sendiri. Semua ini berawal dari sebersit niat. Jadi, kita setiap hari selalu membahas pikiran. Kita harus menjaga pikiran kita dan selalu mengembangkan niat baik.
Dalam menghadapi orang dan masalah, kita harus memiliki hati yang lapang. Dengan demikian, kita tidak akan menyimpang dari jalan benar. Berikutnya dikatkan, Penggalan ini menjelaskan bahwa demi mencari nafkah atau berdagang, demi mencari nafkah atau berdagang, baik di masa lalu maupun masa kini, mungkin pernah melakukan kesalahan. Kita mungkin dahulu pernah membuka usaha Kita mungkin dahulu pernah membuka usaha atau bisnis yang besar atau pernah berdagang. Saat menjual barang, kita mungkin membeli barang berkualitas buruk dan menyebutnya sebagai barang bagus. Barang murah kita jual kembali dengan harga mahal. Ini yang kerap dilakukan saat berdagang. Ini yang kerap dilakukan saat berdagang. Ada orang yang membuka toko atau berdagang dipasar. Ada orang yang tidak memiliki toko, tetapi menjadi perantara. “Saya memesankan barang untukmu.” “Entah barangnya bagus atau tidak.” “Entah bisa dijual mahal atau tidak.” “Yang penting, saya juga berdagang dan harus mengambil untung besar.” Barang yang kurang baik kita akui sebagai barang yang bagus. Beginilah cara orang berdagang.
Mereka mungkin membeli barang murah, lalu menjualnya dengan harga mahal. Ada orang yang mencurangi timbangan. Untuk barang yang ringan, Untuk barang yang ringan, seperti saat hendak menimbang emas, orang menggunakan timbangan kecil orang menggunakan timbangan kecil yang ukurannya lebih kecil dari kilogram. yang ukurannya lebih kecil dari kilogram. Mereka menggunakan timbangan dengan ukuran gram. dengan ukuran gram. dengan ukuran gram. Untuk menimbang beras, digunakan timbangan jenis lain. Di toko-toko yang berjualan dengan ukuran berat, pasti ada timbangan. Jika barang dagangannya lebih berat, biasa digunakan timbangan duduk besar. biasa digunakan timbangan duduk besar. Jika harus menimbang sekarung beras atau ubi dalam jumlah besar, tidak bisa menggunakan timbangan kecil. tidak bisa menggunakan timbangan kecil. Jadi, digunakan timbangan gantung dengan skala ukur yang lebih besar. Karung beras atau bakul beras diangkat oleh dua orang, lalu satu orang lagi memindahkan bobot timbangan.
Di sana tertera beratnya. Inilah cara menimbang barang yang lebih berat. Ada juga orang menggunakan ukuran tangan. Pada zaman dahulu, ada sebuah cerita. Ada seseorang yang menjalankan usaha. Dia berdagang segala tanaman pangan. Dia berdagang segala tanaman pangan. Tokonya sangat besar. Segala jenis timbangan ada di sana. Dia terus berpikir, “Dagangan saya adalah barang-barang berat.” “Saya juga tidak bisa cepat mendapat laba.” “Laba yang diterima selalu sama sesuai timbangan.” selalu sama sesuai timbangan.” Dia lalu memikirkan sebuah cara. Dia lalu memikirkan sebuah cara. Dia menggunakan timbangan besar. Di sana dia membuat sebuah lubang. Timbangan itu sangat besar. Jadi, dia membuat sebuah lubang di sana dan diisi dengan air raksa. Air raksa bisa bergerak. Jadi, saat dia membeli barang dan barang itu diantar ke tokonya, saat menimbangnya, dia cukup menggerakkannya sedikit. Air raksa itu akan bergulir ke belakang. Jelas-jelas barang yang diantar memiliki berat seratus kilogram, tetapi setibanya di sana dan ditimbang kembali, hasilnya adalah delapan puluh kilogram. “Mana ada seratus kilogram?” “Jelas-jelas tadi saya timbang 100 kilogram, mengapa sampai sini bisa jadi 80 kilogram?” “Kalau tidak percaya timbang saja sendiri.” Si pemilik toko menyerahkan timbangannya., tetapi tetap dimiringkan ke belakang. Saat ditimbang, “Benar, aneh sekali.” “Bagaimana bisa menjadi 80 kilogram?” “Ya sudahlah.” Si pemilik toko mendapat barang 100 kg dengan harga 80 kg. Cara itulah yang dia gunakan. Saat dia ingin menjual barang, timbangan itu diarahkan miring ke depan. Dengan begitu, barang seberat 50 kilogram bisa menjadi 70 kilogram. Saat timbangan dimiringkan ke depan, bagian belakangnya akan terangkat sehingga tidak perlu barang banyak untuk mendapat berat yang diinginkan. Inilah yang disebut mencurangi timbangan.
Berat timbangan yang dicurangi bukan hanya beberapa gram. Jika barang yang diperdagangkan berat, maka kecurangannya juga semakin besar. Uang yang didapat juga lebih banyak. Saat akan meninggal di usia tua, si pemilik toko memanggil putranya. Dia berkata, “Anakku, saya bisa mendapat laba banyak karena ada rahasia.” “Ada yang merasa berbelanja di toko kita harganya lebih murah.” “Orang-orang suka berbelanja di toko kita.” “Saya memiliki jurus rahasia yang ingin diteruskan kepadamu.” Dia meminta putranya mengambil timbangan. Dia lalu berkata, “Di sinilah letak keuntungan kita.” “Kadang kita membeli dari orang lain dengan harga lebih tinggi.” “Sesungguhnya, tidaklah begitu.” “Kita mengambil berat lebih banyak.” “Saat kita dikatakan menjual lebih murah, sesungguhnya juga tidak begitu.” “Kita juga mengurangi beratnya.” “Bagaimana caranya?” Sang anak bertanya pada ayahnya. Ayahnya menjawab, “Timbangan ini sudah dipasangi alat.” “Saat kamu ingin menjual barang, ingat untuk memiringkan timbangan ke depan.” “Dengan begitu, kita tak perlu memberinya sesuai berat yang sebenarnya.” “Dengan begitu, kita mendapat untung.” “Teknik ini harus kamu pelajari.” “Saat akan membeli dari orang lain, miringkan timbangan ke belakang.” Dengan begitu, kita tak perlu membayar sebanyak harga barangnya.” Setelah mendengarnya, putranya merasa sedih. Ternyata ayahnya mengeruk laba dengan tidak memedulikan hati Nurani.
Namun, melihat ayahnya sudah tidak berdaya, sang putra berkata pada ayahnya, “Ayah tenang saja.” “Saya akan mewakili Ayah berbuat baik.” Ayahnya tidak mengerti maksud dari anaknya yang ingin mewakilinya berbuat baik. Ayahnya berpikir, “Jika saya meninggal, tentu bagus jika kamu mewakili saya berbuat baik.” Ayahnya lalu meninggal. Putranya ini mengurus semua upacara kematian ayahnya. Dia mengundang banyak bhiksu untuk mengadakan upacara penyeberangan. untuk mengadakan upacara penyeberangan. Dia sangat menghormati para bhiksu. Namun, upacara di zaman itu juga masih membakar barang-barang bakaran. Setelah melantunkan Sutra dan memberi hormat dengan tulus, dia mengambil timbangannya. Pada hari itu juga, Pada hari itu juga, dia mematahkan timbangan itu di hadapan banyak biksu dan di tengah kobaran api, lalu membakarnya.
Dia berkata pada ayahnya, “Ayah, saya mewakilimu berbuat baik.” “Semoga para Buddha dan Bodhisattva menjadi saksi saya.” “Mulai hari ini, saya akan memberi bonus saat menjual dan mengurangi jatah saat membeli demi menebus kesalahan Ayah.” “Biarlah timbangan ini pergi bersamamu.” “Saya tak akan lagi menggunakannya.” Kemudian, di tengah kobaran api, terjadi peristiwa aneh. Ada dua kepulan asap yang terus meninggi dan panjang hingga ke langit. Orang-orang sangat tercengang. “Aneh, bagaimana bisa begitu?” Selesai upacara, tiga hari kemudian sepasang anak kembar dari sang putra itu tiba-tiba meninggal dunia. Keduanya meninggal bersamaan. Hatinya sangat sedih. Hatinya sangat sedih. Dia terus menangisi kedua anaknya yang lucu. “Ayah saya berbuat begitu banyak kecurangan dan begitu banyak kejahatan, tetapi masih memiliki putra sebaik saya.” “Mengapa saya yang berhati baik dan baru mulai ingin berbuat baik harus tiba-tiba kehilangan kedua anak saya?” Dia lalu bermimpi pada malam harinya. Di dalam mimpi dia bertemu seorang tua yang berpakaian putih. Dia berkata, “Karma buruk ayahmu mulanya sangat berat dan akan berpengaruh pada dirimu dan keturunanmu.” “Kedua anakmu akan menghancurkanmu.” “Namun, kini kamu melakukan hal baik dan bertekad untuk memberi bonus saat menjual dan mengurangi jatah saat membeli, maka segala rintangan karma buruk ayahmu telah lenyap.” “Karena itu, kedua anakmu juga meninggal.” “Tak lama lagi, istrimu akan kembali mengandung dan melahirkan dua putra yang baik untukmu.” Benar saja, tidak lama kemudian, istrinya kembali mengandung dan kembali melahirkan anak kembar.
Anak-anaknya sangat baik dan pandai. Setelah besar, kedua anak itu mengikuti ujian negara di ibu kota dan berhasil diangkat menjadi pejabat. Ini adalah kisah yang pernah ada di masa lalu. Saudara sekalian, tamak akan kepunyaan orang lain mungkin akan memengaruhi keturunan kita. Jadi, kita harus senantiasa memupuk kelapangan hati. Terhadap diri sendiri, kita harus menjalankan disiplin dengan ketat. Terhadap orang lain, kita harus berlapang dada. Jadi, pikiran kita dapat menciptakan kebaikan, tetapi juga bisa menciptakan kejahatan. Jadi, baik dan buruk dalam pikiran kita hanya dibatasi oleh batasan yang tipis. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati.