Sanubari Teduh-421-Mengenal Rasa Puas dan Menghargai Berkah
Saudara se-Dharma sekalian, manusia memiliki ketamakan tanpa batas sehingga terus mencari seumur hidup. Jika tidak pernah berpuas diri, malapetaka bisa berlanjut ke anak cucu. Setiap hari kita membahas tentang pikiran. Jangan ada ketamakan dalam pikiran. Jika kita memiliki banya ketamakan dan berupaya untuk memenuhi itu semua, maka ketidakpuasan ini dapat berdampak kepada anak cucu. Kebahagiaan yang didapat akan singkat dan penderitaan akan panjang. Kita harus segera bertobat. Penggalan ini memberi tahu kita untuk selalu menjaga pikiran kita. Pikiran kita harus memiliki ukuran. Tolok ukur ini adalah pengetahuan nurani. Di dalam nurani kita, harus ada tolok ukur atau pedoman sebagai manusia. Artinya, jangan tamak terhadap milik orang. Sering dikatakan bahwa Buddha mengajari kita untuk berdana. Bukan hanya mengajarkan untuk tidak tamak, tetapi juga memberi, baik dalam bentuk materi, Dharma, maupun ketenteraman. Ini berarti kita hendaknya bukan hanya tidak tamak terhadap yang berwujud, melainkan juga terhadap yang tidak berwujud.
Inilah ukuran di dalam pikiran kita atau ukuran di dalam hati nurani kita. Jadi, kita harus selalu menjaga pikiran kita. Jika ketamakan timbul, maka keinginan kita terhadap materi menjadi tak terbatas. Orang seperti ini akan menderita seumur hidup. Sebanyak apa pun memperoleh laba, orang itu tak pernah merasa cukup. orang itu tak pernah merasa cukup. Kita sering mendengar orang berkata, “Master, saya ingin lebih sepenuh hati untuk menjalankan Tzu Chi, tetapi tidak bisa.” “Entah mengapa saya semakin sibuk.” Saya menjawab, “Bukankah kamu bilang setelah proyek yang itu selesai, kamu akan memfokuskan diri di Tzu Chi?” Dia menjawab, “Benar, mulanya saya berpikir begitu dan bisa menyerahkan pekerjaan kepada orang lain, tetapi kini peluang sedang bagus.” “Mereka ingin saya berinvestasi lagi.” “Ini adalah perusahaan yang besar.” “Jika kami tidak berinvestasi, maka perusahaan tak dapat dibangun.” “Ini adalah sebuah integrasi vertikal.” “Master, Anda mungkin tidak mengerti.” Saya berkata, “Saya mengerti.” “Maksud dari integrasi vertikal adalah kamu berada dalam satu titik produksi, lalu perusahaan lain ada pada titik di bawahnya.” “Mereka dapat mengambil untung dari olahan produkmu.” “Jadi, kini kamu ingin membuka pabrik untuk memproduksi barang itu.” “Benar?” “Benar,” jawabnya. “Kini pabrik sudah dibuka, benar?” “Benar.” “Namun, saya lalu berpikir, jika bisa memproduksi produk jadi, kami akan bisa melakukan perdagangan langsung.” Saya menjawab, “Benarkah?” “Perdagangan langsung berarti kamu akan membuka jaringan toko dan menjual produk eceran.” “Kalau begitu, toko yang harus dibuka tak akan ada habisnya.” “Benar,” jawabnya.
“Kini saya berpikir untuk berinvestasi di beberapa negara.””Kami membuat produknya sendiri, memasarkannya sendiri, dan mempekerjakan orang.” “Ini juga perbuatan baik.” Saya bertanya, Bagaimana bisa disebut perbuatan baik? Dia menjawab, “Saat mulai membuka usaha, kita akan membina sumber daya manusia agar mereka berkembang.” “Bukankah ini berarti membina SDM?” Saya berkata, “Benar, membina sumber daya manusia agar mereka bisa berkembang.” “Ini bagus sekali.” Dia berkata, “Setelah pabrik berhasil dibuka, produk saya akan mulai diproduksi.” Saya berkata, “Benar, jika produk sudah diproduksi, bukankah itu sudah berhasil?” bukankah itu sudah berhasil?” “Produk sudah diproduksi.” Dia berkata, “Justru itulah kita perlu mengembangkannya terus.” Dia terus berbicara. Dia berkata, “Begitu pabrik dibuka, ia dapat menjadi sumber penghasilan banyak keluarga.” Saya berkata, “Kedengarannya benar juga.” “Ya, saya juga menolong orang,” katanya. “Kamu bilang kamu menolong orang, tetapi kamu tidak bersumbangsih terlebih dahulu.” “Kamu harus lebih dahulu memberikan cinta kasih untuk merawat keluarga-keluarga itu.” “Jangan tunggu sampai usahamu berjalan, baru memberi mereka upah.” “Saat akan mengembangkan usaha di negara tertentu, pilihlah negara miskin.”
“Sebelum usahamu dibuka, “Sebelum usahamu dibuka, kamu harus terlebih dahulu menolong warga setempat.””Saat mereka menjadi karyawanmu, meski pabrik belum beroperasi, kamu harus terlebih dahulu memahami kondisi mereka dan terlebih dahulu menolong keluarga mereka, barulah mereka akan bekerja dengan tenang.” Ini juga benar. Dia juga sangat patuh. Dia membuka usaha di negara tertentu Dia membuka usaha di negara tertentu dan menjalankan pesan saya. Dia benar-benar memperhatikan ribuan keluarga. Saat terjadi kerusuhan di sana, para karyawannya menjaga pabriknya. Ini adalah berita yang baik. Namun, apakah sudah selesai sampai di sana? Berhubung dia merasa saya berkata hal itu baik, maka di berbagai negara, seperti Vietnam, Kamboja, dll., dia terus mengembangkan usahanya, Dia sangat menderita. Dia berkata, “Master, saya sangat menderita.” “Saya tahu kamu sangat menderita.” “Mengapa kamu harus seperti ini?” “Bukankah Master berkata “Bukankah Master berkata dengan begini saya bisa membantu orang?” “Jika sekarang saja kamu menderita, bagaimana kelak?” “Siapa yang bisa meneruskan pekerjaan sulit ini?” “Benar, saya juga sedikit khawatir.” Namun, itu tidak berlangsung lama. Dia kembali mengembangkan usaha dan menjual produknya sampai ke seluruh dunia. sampai ke seluruh dunia. Dia pun semakin menderita. Kadang niat berbisnis yang besar memang baik karena juga dapat membantu orang dan membuka lapangan pekerjaan.
Namun, jika ingin menguasai lini bisnis dari hulu ke hilir karena takut orang lain mendapat laba, karena takut orang lain mendapat laba, maka penderitaan ini tak akan ada akhirnya. Seperti kondisinya sekarang, dia membuka pabrik di berbagai negara, apakah dirinya tidak khawatir? Tentu khawatir. Meski tidak berbisnis, di mana terjadi bencana, kita juga dapat memberi pertolongan. Ini juga termasuk membantu orang. Jika kita hanya terus mengembangkan bisnis, Jika kita hanya terus mengembangkan bisnis, kadang saya berpikir, “Meski bisnis yang terus berkembang dapat menekan angka pengangguran, tetapi juga menciptakan pencemaran.” Nafsu keinginan manusia tidak terbatas, karma yang tercipta juga tak terbatas. Pencemaran yang terjadi semakin berat. Bukan hanya menjadi masalah bagi penerus, tetapi ini adalah sebuah masalah besar. Pencemaran melanda negara miskin akibat pengembangan industri. Kadang ini menjadi kontradiksi. Singkat kata, kita hendaknya berpikir berapa lama sesungguhnya kita hidup di dunia. Pikiran manusia kadang memiliki penyimpangan. Ada orang yang berbisnis dan bisa bersumbangsih bagi masyarakat, tetapi ada pula yang tidak bisa. Pikiran mereka penuh ketidakpuasan. Mereka terus memikirkan uang dan cara untuk mendapatkan laba.
Setelah menghasilkan banyak uang, mereka tetap tak bisa berbuat baik. Orang seperti ini bukan hanya akan lelah, tetapi juga menderita. tetapi juga menderita. Terlebih lagi, di dalam pikirannya terdapat rasa tidak puas. Mereka terus mengembangkan usaha Mereka terus mengembangkan usaha dan membuat alam tercemar. Mereka juga mengeruk kekayaaan dengan tidak adil. Mereka kerap menekan upah, memperdagangkan manusia, dll. Semua ini telah kita bahas. Bukankah ini akan membawa malapetaka bagi anak cucu? Usaha yang tak berhati nurani ini, berapa lama bisa dinikmati? Tidak lama. Meski bisa menikmati berkah di kehidupan sekarang, mereka akan menderita di kehidupan mendatang. Saya juga sering melihat orang yang usahanya sangat berhasil, tetapi bangkrut dalam sekejap. Semakin tinggi posisi seseorang, lukanya akan semakin parah saat terjatuh. Dia akan menderita dalam waktu yang lama.
Segala yang dilakukan dalam hidup ini, segala penderitaan dalam hidup ini, kita harus bertobat atas semuanya. Jangan memikirkan kejayaan masa lalu; jangan mengeluhkan penderitaan sekarang. Semuanya tidak boleh dikeluhkan. Semuanya berkaitan dengan masa lalu. Jika bukan dilakukan pada masa kini, berarti itu adalah buah perbuatan masa lalu dengan rentang tak terhingga. Jadi, di tengah penderitaan, kita harus senantiasa bertobat Kita harus senantiasa mengembangkan pikiran yang penuh rasa puas.
Kita harus mengenal rasa puas. Dengan begitu, barulah kita bisa menyadari berkah. Orang yang menyadari berkah baru bisa memberi.
Jadi, kita harus selalu mengenal rasa puas. Berikutnya dikatakan, Artinya, berhubung sudah ada alat ukur dan timbangan, maka kita harus mengukur dengan adil. Saat orang lain datang membeli sesuatu, kita harus menakar dengan benar. Ada penjual kain yang selalu membawa penggaris. Si pembeli melihat si penjual mengukur kainnya dengan benar. Namun, sesampainya di rumah, ternyata ujurannya kurang beberapa inci. Jika membeli dalam jumlah besar, berarti kekurangannya juga akan besar. Ada orang yang pandai mengakali penggaris. Inilah yang disebut “mengurangi ukuran”. Saat menggunting kain, si pengukur melakukan itu. Ini disebut mencuri bagian. Meski hanya sedikit, entah itu dalam ukuran panjang atau ukuran berat, ini juga termasuk ketamakan. Ini juga termasuk pencurian. Mengambil sedikit bagian dari berat atau panjang juga disebut mencuri. Ini disebut mencuri bagian. Meski hanya sedikit, itu tetap mencuri.
Ada pula yang mencurangi standar ukuran . Saat menakar beras dengan cangkir takar, ada orang yang bergerak cepat sehingga beras yang diambil mengerucut tinggi sehingga jumlahnya tentu lebih banyak. Jika bergerak lebih lambat, orang akan mengukur lebih perlahan. Dia bisa menggoyangkan cangkir itu sehingga beras di dalamnya jatuh ke kantong. Dengan begitu, jumlah yang diambil juga lebih banyak. Si penjual tentu akan rugi. Orang zaman dahulu memiliki kiat. Ada ungkapan berbunyi, Sulit mencetak anak pedagang. Mereka harus menguasai alat ukur. Mereka harus menguasai alat ukur. Sangat sulit untuk mengajari anak berdagang. Ini membutuhkan keterampilan. Ada juga orang yang menukar barang bagus dengan yang buruk; menukar yang buruk dengan yang bagus.
Kadang, di masa lalu perdagangan bukan hanya terjadi di toko-toko. Orang-orang di desa sering melakukan barter. Ada orang yang menukarkan barang buruk dengan barang bagus. Barang yang jelek ditukar dengan barang berharga. Ini juga bergantung pada waktu. Kadang beras bisa ditukar dengan emas. Ini terjadi di masa perang. Ubi juga bisa ditukar dengan gelang giok. Saat tidak ada makanan, Saat tidak ada makanan, sedikit bahan makanan sedikit bahan makanan bisa ditukar dengan barang berharga. Ini yang disebut menukar yang buruk dengan yang baik. Perdagangan berarti tukar-menukar, Perdagangan berarti tukar-menukar, entah itu barang ditukar dengan uang atau barang ditukar dengan barang. Mengenai “menukar yang pendek dengan yang panjang”, ini berarti mengambil keuntungan dari orang lain. Kita harus tahu bahwa orang zaman dahulu juga punya prinsip keadilan dan etika berdagang. Penjual kain menggunakan penggaris dan harus mengukur dengan benar.
Melebihkan ukurang untuk orang lain disebut murah hati. Ini membawa berkah. Untuk ukuran berat, digunakan cangkir takar. Mengisi cangkir takar sampai penuh juga disebut murah hati. Bukan sebaliknya. Ada orang yang mengurangi ukuran saat menjual, tetapi ingin menambah ukuran saat membeli. Ada orang yang seperti ini. Orang lain jelas-jelas melihat ukurannya sudah benar, tetapi sesampainya di rumah, mengapa ukurannya jadi berbeda dan kurang? Orang yang mencurangi ukuran seperti ini juga banyak. Singkat kata, Ini karena manusia memiliki niat untuk menipu dan bersiasat. Manusia tidak belajar hal yang baik, tetapi malah belajar cara yang licik. Mereka belajar cara untuk mengambil keuntungan dari orang lain. Banyak sekali orang seperti ini. Ini disebut menggunakan seratus siasat untuk mendapat sedikit keuntungan. Keuntungan sedikit saja juga dikejar. Sedikit pun mereka tak membiarkan orang lain mendapat untung. Ini mirip dengan pengusaha besar yang mengembangkan integrasi vertikal tadi. Mereka ingin menguasai semuanya. Mereka sungguh menderita. Kita bisa tetap menjalankan usaha sementara membiarkan orang lain menjalankan lini usaha yang lain.
Ini bisa dilakukan, tetapi orang zaman sekarang sangat pandai berhitung. Begitu pula orang zaman dahulu. Dahulu, barang-barang yang diperdagangkan lebih sederhana. Orang juga menggunakan cara tradisional untuk mengakali orang lain dan caranya sangat terbatas. Namun, zaman sekarang tidak begitu.
Hanya dengan satu siasat, mereka dapat meraup banyak keuntungan dari orang lain. Ketamakan mereka sangat besar. Inilah perbedaan zaman. Karma buruk yang diciptakan juga semakin dalam dan semakin besar. Karena itu, bencana alam dan ulah manusia semakin banyak terjadi. Semua ini adalah akibat perbuatan manusia dan diawali dari pikiran. Jadi, berhubung karma yang tercipta begitu banyak, kita harus bertobat atas semuanya. Saudara sekalian, mempelajari ajaran Buddha berarti melatih pikiran. Kita tidak boleh tamak. Ketamakan yang timbul sulit dibendung dan membawa penderitaan yang tiada akhir. Jika ada penyimpangan di dalam pikiran, manusia akan lebih menderita lagi karena dengan adanya pikiran seperti itu, manusia akan menggunakan berbagai cara untuk mengakali orang lain. Bukan hanya diri sendiri akan jatuh ke alam neraka, tetapi juga bisa membawa malapetaka bagi anak cucu. Sesungguhnya, segala sesuatu yang dikejar dengan susah payah juga hanya dinikmati sementara. Berkah dinikmati sebentar, penderitaan panjang menanti. Kita harus segera bertobat. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati.