Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-422-Ketamakan Membawa Kemiskinan Batin

Saudara se-Dharma sekalian, kita hendaknya mengurangi nafsu keinginan. Inilah orang yang paling kaya di dunia. Jika memiliki banyak ketamakan, Jika memiliki banyak ketamakan, kita menjadi orang yang paling menderita. Kaya atau miskin  terletak pada pikiran. Orang yang memiliki sedikit keinginan dan mampu berpuas diri, kehidupannya sederhana, hatinya lapang dan pikirannya murni. Orang seperti ini akan berpikir, Seluruh dunia adalah dunia kita, untuk apa menguasai?” Di seluruh dunia, semua makhluk adalah keluarga kita yang kita kasihi. Kita tak harus melihat hubungan darah. Semua kita kasihi dengan setara. Dengan demikian, bukankah kehidupan ini menjadi kaya? Entah itu alam atau bangunan, berhubung kita terlahir di dunia ini, Bukankah memiliki atau tidak sama saja? Bukankah memiliki atau tidak sama saja? Keindahan di dunia ini dan kekayaan masyarakat, bukankah juga kita nikmati? Segala yang bisa kita lihat, apakah harus menjadi milik kita? Tidak perlu. Jika memiliki pikiran tamak dan tidak pernah puas, kita akan menderita. Orang yang tamak dan tak pernah merasa puas di dalam batinnya merasa puas di dalam batinnya adalah orang yang paling menderita.

Saat melihat segala sesuatu, dia merasa, “Andaikan saya seperti itu.” “Saya ingin benda itu menjadi milik saya.” Dia selalu ingin menguasai semuanya, mulai dari yang kecil hingga yang besar. Nafsu untuk menguasai ini adalah ketamakan. Pikiran ini adalah pikiran yang paling miskin. Ini adalah kehidupan yang paling miskin. Meski usahanya sangat besar dan dia memiliki banyak gedung serta harta kekayaan berlimpah, dia tidak merasa cukup karena dia merasa masih banyak tempat baginya untuk terus berkembang. Orang seperti ini sungguh dipenuhi ketamakan dan keinginannya tidak pernah habis. Dengan demikian, bukankah seperti yang dikatakan? “Menggunakan seratus siasat demi sedikit keuntungan.” Hal sekecil apa pun tetap diingini. Hal yang besar juga terus dikejar. Hal kecil juga tidak rela dilepaskan. Dalam kehidupan seperti ini, berapa banyak karma buruk yang tercipta? Semua ini adalah karma buruk. Jadi, kita harus senantiasa bertobat.

Pernahkah kita bersikap begitu dalam kehidupan ini? Jikapun tidak, dalam kehidupan lampau mungkin saja kita pernah melakukannya. Buah karma ada yang berbuah pada masa kini, pada kehidupan berikutnya, dan pada banyak kehidupan selanjutnya. Kita sudah pernah membahasnya. Mungkin perbuatan kita di masa lalu belum berbuah di masa itu, juga belum berbuah di masa kini. Perbuatan ini mungkin berbuat di masa depan. Berapa banyak ketamakan yang kita umbar, berapa banyak karma buruk yang tercipta? Karma masa lalu tidak kita ketahui. Di masa lalu kita tak mengerti untuk bertobat. Kini kita sudah mengerti. Kita harus segera bertobat. Kita bertobat karena sejak masa tanpa awal, sejak masa lalu hingga kini, kita mungkin telah melakukan kesalahan. Kita harus bertobat setiap hari. Setiap hari kita membahas pertobatan. Berikutnya dikatakan, Kedengarannya cukup sulit dimengerti.

Namun, kita seharusnya tetap memahaminya. Melubangi sama dengan menggali. Ada yang melubangi dinding. Ada yang melubangi dinding. Ada orang yang mencuri, merampas, atau merampok. Merampas adalah mengambil paksa milik orang. Merampok adalah menyusup ke rumah orang dan mengancam. Ini yang disebut merampok. Mencuri adalah mengambil milik orang secara diam-diam saat tidak ada yang melihat. Semua benda itu bertuan. Saat pemilik tidak mengizinkan, kita mengambil, merampas, atau mencurinya.

Kini lebih jauh lagi, “melubangi dinding”. Artinya, meski tidak merampas langsung atau masuk lewat pintu untuk merampok, ada orang membuat lubang. Ada yang menggali lubang di tanah. Orang lain bahkan setan tak mengetahuinya. Tiada yang tahu dia menggali lubang. Dia terus menggali terowongan hingga ke tempat tujuan. Dia tau di rumah siapa atau di tempat apa tersimpat harta atau uang. Dia sudah menetapkan target. Ada yang menggali lubang di tanah, ada pula yang melubangi tembok ada pula yang melubangi tembok hingga menembus masuk ke dalam rumah. hingga menembus masuk ke dalam rumah. Sesungguhnya, di masa kini juga ada sebuah kasus. Di sebelah sebuah bank ada proyek pembangunan. Berhubung selalu ada suara pekerja dari sebelah, orang-orang mengira suara itu adalah suara pekerjaan konstruksi. Tak disangka, saat pegawai bank memeriksa ruang bawah tanah, ternyata ruang penyimpanan emas sudah dibobol. Saat diperiksa, puluhan juta dolar sudah raib. Saat polisi memeriksa, ditemukan bahwa di sebuah sudut ada lubang. Lubang ini bisa dilalui orang. Lubang ini dibuat Lubang ini dibuat di dekat area proyek dan entah memakan waktu berapa lama. Si pembuat memanfaatkan suara bising dari proyek untuk menutupi pembuatan lubang menuju ruang bawah tanah bank itu. Dia mengambil puluhan juta dolar uang tunai. Inilah manusia yang bersiasat. Dia sangat pintar. Dia menggunakan kepintarannya untuk membobol penyimpanan di bank. Dia menggunakan alat dengan penuh kesabaran.

Dengan kemampuannya, dia memperkirakan titik tujuannya. Ini adalah siasat. Inilah pelanggaran dengan kepandaian. Dia akhirnya juga ditangkap. Inilah akibat yang langsung diterima di masa kini. Dia lalu dijatuhi hukuman entah berapa tahun, mungkin sangat lama. Dia kehilangan kebebasan. Sebanyak apa pun harta yang diambilnya, tetap saja diambil kembali oleh orang lain. Hanya satu hal yang didapatnya, yaitu kehilangan kebebasan entah berapa lama. Kelak, setelah keluar dari penjara, dia juga akan dianggap tak bermoral. Orang-orang tidak akan memercayainya. Akibat ketamakan, dia kehilangan segalanya. Inilah akibat “melubangi dinding.” Inilah akibat “melubangi dinding.” Ada orang merusak dinding dan menerobos, tidak masuk dari pintu utama. tidak masuk dari pintu utama. Ada yang merampok dengan cara seperti ini. Mereka mengambil milik orang lain. Mereka menyelinap ke kediaman orang lain. Mereka membuat lubang untuk menyelinap masuk guna mengambil milik orang lain. Ada juga orang yang menghadang jalan untuk menjarah. Ini sama dengan perampokan.

Dia tahu ada orang yang baru keluar dari bank dan memiliki sejumlah uang. Dia lalu mengikuti orang itu. Di tempat yang sepi, dia merampok. Kasus seperti ini banyak terjadi di masa kini. Di zaman sekarang juga ada mobil keamanan yang mengantarkan uang tunai ke cabang-cabang dari bank atau mengambil uang dari cabang untuk diantarkan ke kantor pusat. Ada orang yang mengetahui jalur perjalanan mobil ini. Dia lalu menghadangnya dan merampoknya. Ini disebut menghadang jalan. Ini disebut menghadang jalan. Dia menghadang orang di tengah jalan. Perampokan juga bisa terjadi di siang bolong. di siang bolong. Ada juga yang menolak untuk membayar bunga utang. Ada orang yang berutang pada orang lain. Mulanya saat ingin meminjam, dia berjanji untuk membayar bunga. dia berjanji untuk membayar bunga. Pokok utangnya tentu juga harus dibayar. Ini sudah disepakati, bahkan ada yang sampai menandatangani surat perjanjian utang.

Namun, setelah mendapat pinjaman, ada orang yang tidak mau membayar. Dia berusaha untuk menghilangkan bunga, bahkan ingin menghapus utangnya. Orang seperti ini juga ada. Namun, kini yang menakutkan adalah perusahaan penagih utang. Perusahaan penagih utang ini bisa menambahkan bunga berkali-kali lipat. Kadang jumlah utang seratus ribu dolar dalam sebulan harus dibayar 3 ratus ribu. Ini hanya bunganya saja, belum pokoknya. Di zaman sekarang, pemaksaan juga sering terjadi. Kita sering melihat di surat kabar, demi menghindar dari utang, ada orang yang sampai bunuh diri. Ada orang yang melakukan perampokan dan berbagai hal yang melanggar hukum berawal dari utang. Utang tentu harus dibayar. Ada orang yang memikirkan segala cara untuk lari dari utang. Ada pula orang yang terus menagih utang hingga orang lain bunuh diri. Ada juga orang yang berutang dan terus menunda pembayaran hingga si pemberi utang bunuh diri. Inilah berbagai hal yang terjadi di dunia karena orang-orang tidak berpegang pada norma. Jika kita menjalani hidup dengan baik, makan secukupnya, berpakaian secukupnya, tinggal di tempat yang cukup, dan menunaikan kewajiban, maka tidak perlu berutang. Tidak memikul utang maka tidak perlu meminjam uang. Ada orang yang berbaik hati. Saat melihat orang lain kesulitan, dia membantunya. Dia membantu dengan membuka cek atau meminjamkan surat tanah. Setelah temannya ini melewati kesulitan, apakah utangnya akan dibayar? Surat tanah yang dipinjamkan, akankah kembali padanya? Kadang bukan hanya tidak kembali, bahkan temannya menggunakan namanya untuk berutang kembali. Banyak hal yang tidak jelas di dunia ini. Mengenai utang saja, banyak hal yang tidak jelas. Si pemberi utang malah harus menanggung utang. Dahulu mereka berdua berteman baik. Di antara teman, mereka saling berutang, baik dengan bunga maupun tanpa bunga. Bahkan, ada yang berbaik hati meminjamkan nama untuk berutang atau meminjamkan surat tanah.

Semua ini adalah kebaikan, tetapi banyak orang mengkhianati kebaikan dan menyusahkan teman. Mereka melanggar kesepakatan. Jelas-jelas orang itu yang berutang, tetapi ketika penagih utang datang, dia malah kabur dia malah kabur entah ke mana. Jadi, utang ini malah harus dipikul oleh si pemberi utang. Masalah utang piutang seperti ini sungguh rumit. Banyak orang mengkhianati kebaikan dan melanggar perjanjian. Jelas-jelas sudah ada perjanjian, tetapi mereka melanggarnya. Mereka memikirkan cara Mereka memikirkan cara untuk menghilangkan utang tersebut. Orang-orang jadi saling menipu. Kadang yang berbaik hati malah terbawa. Inilah kehidupan. Meski orang-orang sangat pandai, tetapi tidak berhati nurani. Kita harus memiliki hati nurani. Baik berutang maupun menagih utang dengan paksa, semuanya adalah karma buruk yang berat.

Orang baik yang ikut terlibat sangat kasihan. Berikutnya dikatakan, Penggalan ini mengatakan bahwa selain karena utang manusia saling membelenggu, menciptakan kesulitan bagi orang banyak, menimbulkan ancaman bagi nyawa, atau menyebabkan orang bunuh diri, menyebabkan keluarga berantakan, dan berbagai hal menyedihkan lainnya, dan berbagai hal menyedihkan lainnya, ada juga orang yang mengambil sesuatu secara ilegal. Mereka mengambil sesuatu yang tidak sesuai dengan norma. Mereka menipu orang. Kini ada pengedar uang palsu. Mereka mencari kakek atau nenek, orang yang berpengetahuan rendah, orang-orang baik, atau orang-orang yang agak tamak dan mengatakan, “Saya punya sejumlah uang di tempat lain.” “Namun, sekarang saya membutuhkan uang.” “Saya hanya butuh sedikit saja, tetapi sangat mendesak.” “Uang yang saya punya itu, saya tidak mau lagi.” “Jika kamu membantu saya, saya akan bayar dengan uang itu.” Intinya, begitu banyak siasat yang digunakan. Ini terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Mereka menipu orang-orang yang berpengetahuan rendah atau orang-orang yang berbaik hati. Mereka menggunakan berbagai cara. Inilah sindikat pengedar uang palsu. Kadang mereka hanya menyelipkan satu atau dua lembar uang asli, sisanya hanyalah kertas putih. Mereka meminta ditemani untuk mengambil uang. Uangnya benar-benar ada setumpuk. Orang baik yang menemani itu, entah bagaimana caranya, menerima setumpuk uang palsu itu dan uang asli miliknya malah dibawa kabur. Beragam kasus terjadi di masyarakat. Beragam kasus terjadi di masyarakat. Inilah mengambil secara ilegal. Mereka menggunakan cara seperti itu, berpura-pura baik untuk mengambil keuntungan. Saat si korban sudah sadar, mereka sudah hilang jejak. Si korban pun tidak berdaya. Ada juga orang yang tertipu dan kehilangan tabungannya seumur hidup. Inilah tindakan illegal.

Ada juga orang yang mengambil milik makhluk lain. Apakah dewa dan setan memiliki barang? Maksudnya adalah adakalanya di kuil-kuil, banyak orang mempersembahkan emas atau benda-benda lain. Kita sering mendengar benda-benda ini juga kerap dicuri. Benda-benda berharga di kuil juga sering dicuri. Selain itu, makhluk lain seperti binatang juga memiliki pakan. Pakan hewan juga bisa dicuri. Terlebih lagi, di zaman sekarang, pakan hewan sangat mudah dicuri karena telah memiliki kemasan. Singkat kata, di zaman Mahabhiksu Wu Da, sudah banyak orang yang mencuri, merampok, bersiasat, melakukan tindakan ilegal, merampas yang bukan haknya, dll. Semua ini dijabarkan Mahabhiksu Wu Da dalam Syair Pertobatan Air Samadhi. Ada orang yang mengambil milik setan, dewa, hewan, atau makhluk lain dari empat jenis kelahiran. atau makhluk lain dari empat jenis kelahiran. Bukan hanya mengambil milik manusia, mereka bahkan mengambil milik makhluk lain di luar manusia. Ada juga yang menipu lewat ramalan demi mendapatkan harta. Ada juga yang berpura-pura menjadi perantara dewa. Ada orang yang berpura-pura meramal nasib orang dan meminta orang mengadakan upacara. dan meminta orang mengadakan upacara. Mereka menipu dengan cara ini. Ada juga yang berkata, “Tahun ini peruntunganmu buruk.” Banyak sekali modus seperti ini. Di dunia ini, sungguh banyak modus atau siasat yang dipakai untuk menipu.

 

Jadi, kita harus mengembangkan pikiran yang jauh dari nafsu dan mengenal rasa puas. Dengan begitu, setiap hari kita akan hidup damai, kaya batin, dan berbahagia. Janganlah kita tamak. Begitu ketamakan muncul dan kita melakukan salah satu dari perbuatan tadi, maka karma buruk akan tercipta dan membawa penderitaan. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati.                  

Leave A Comment