Sanubari Teduh-439-Menjalankan Lima Sila dan Sepuluh Kebajikan
Saudara se-Dharma sekalian, ingatlah selalu Empat Pikiran
Tanpa Batas. Cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin harus
ada dalam hati kita. Dengan begitu, lima sila akan dapat kita pegang teguh. Kita
harus tahu Terlebih karma dusta. Dari sepuluh kejahatan, karma ucapan ada empat
jenis. Jadi, kita harus selalu mengembangkan Empat Pikiran Tanpa Batas, yaitu
cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Kita harus selalu
meningkatkan kewaspadaan. Kita harus menaati sila untuk mencegah kesalahan. Kita
harus menaati lima sila atau sepuluh sila. Demikianlah orang bijaksana, dapat
menjaga diri sendiri. Untuk menjaga diri sendiri, kita harus menjaga lima sila
atau sepuluh sila. Jika kita dapat menjaga sepuluh sila, kita akan berada dalam
sepuluh kebajikan. Jika dapat mengikis sepuluh kejahatan, kita akan berada
dalam sepuluh kebajikan. Jika berada di dalam sepuluh kebajikan, kita akan
dapat menjaga arah dan keyakinan kita. Segala yang kita lakukan atau ucapkan dalam
menghadapi orang dan masalah akan sangat murni. Kita memegang teguh kesetiaan, keyakinan,
dan kejujuran. Inilah yang harus dipegang teguh dalam kehidupan sehari-hari. dalam
kehidupan sehari-hari. Jadi, di dalam kehidupan sehari-hari, semua ini tak
boleh lepas dari diri kita. Dengan demikian, seperti penggalan berikutnya
mengatakan, Akibat karma ucapan dusta, karakter kita menjadi rusak. Dampak
lebih besar ialah keluarga, bahkan masyarakat dan negara.
Mengapa disebut dusta? Penjelasannya ada di penggalan
berikut. Kebohongan terbesar adalah mengaku mencapai padahal belum. Seseorang
mungkin belum sampai pada tahap tertentu, tetapi dia menyesatkan orang demi
reputasi dan keuntungan. Ada orang mungkin berkata, “Saya tahu, saya telah
mencapai empat buah pencapaian.” Jadi, penggalan ini mengingatkan kita
bahwa kita tak boleh mengaku telah mencapainya jika belum. Jangan berpikir diri
sendiri telah mencapainya, lalu menyesatkan orang banyak. Kebohongan seperti
ini, yaitu mengakui pencapaian tertentu yang sesungguhnya belum dicapai atau
belum diperoleh, ada dijelaskan dalam Sutra Bunga Teratai. Ini adalah karma
kebohongan besar. Karma ini sangat berat. Mengapa? Tentu ini bertujuan untuk
menaikkan posisi diri sendiri agar orang lain merasa diri sendiri berbeda. “Kami
adalah orang luar biasa, lebih tinggi dari orang lain.” Untuk itu, sesuatu
yang tidak ada dikatakan ada. Orang lain tidak mengetahui kebenarannya. Orang
lain tidak mengetahui kebenarannya. Mereka menganggap diri mereka tahu atau
bisa melihat dewa atau setan yang datang menjawab panggilan mereka. Jadi
berikutnya dikatakan, Ini adalah kebohongan. Mereka ingin menunjukkan diri
mereka berbeda. Dalam melatih diri, kita bukan mencari kemampuan untuk melihat sesuatu
yang tidak terlihat. Kita bukan ingin berlatih untuk membaca kehidupan lampau
orang lain, tetapi tidak mengetahui masa lalu diri sendiri; juga bukan ingin
membaca masa depan orang, tetapi tak bisa memprediksi masa depan sendiri. Bagaimana
kelak kita meninggal, sakit apa yang kita derita, kapan karma berbuah dan
berakhir, kita sendiri tidak tahu. Bagaimana boleh kita mengaku tahu? Jadi,
dalam melatih diri, kita harus realistis. Kita tetap manusia biasa yang
berlatih untuk memasuki pintu Buddha.
Buddha memberi tahu kita bahwa melatih diri membutuhkan
waktu tiga Asamkhyeya Kalpa karena kita dari kehidupan ke kehidupan telah
menciptakan karma yang tak terhingga. Dalam interaksi antarmanusia, kita sering
menjalin rasa dendam dan benci. Dengan begitu, kita terus menerima buah karma
buruk. Inilah yang dikatakan dalam Sutra. Ada orang yang bertanya apakah isi
Sutra asli atau palsu. Jika dilihat dari sisi nalar zaman sekarang, hukum sebab
akibat bukankah terlihat nyata? Sebab bagaikan sebutir benih. Saat benih
tanaman bunga jatuh ke tanah, dengan adanya kadar air dan sinar matahari, ia
akan bertumbuh. Saat waktunya tiba, bunga akan mekar. Kita tak bisa menanam
benih bunga, lalu menginginkan tumbuh kacang. Ini tidak mungkin. Benih bunga
akan menumbuhkan bunga, tidak bisa menjadi kacang atau beras. Ini adalah hal
yang tidak mungkin. Bibit bunga kupu-kupu atau bibit bunga peoni akan
menumbuhkan jenis bunga masing-masing. Hasil ditentukan oleh sebabnya.
Benih tumbuh karena adanya kondisi pendukung. Demikian
halnya, jika kita menanam karma buruk, ia bagaikan sebutir benih. Saat
kondisinya sesuai, buahnya akan muncul. Prinsip kebenaran ini bisa diuji. Jika
kini kita menjalin jodoh buruk dengan orang lain, kelak saat bertemu kembali, orang
itu tentu tidak akan bersikap ramah. Ini yang terjadi dalam kehidupan sekarang.
Sebab akibat ini langsung terlihat. Jika kita bersikap baik terhadap orang
lain, maka meski kesan dirinya terhadap kita tidak baik, asalkan kita bersabar dan
mengalah sedikit, serta bertekad untuk menjalin jodoh baik, kesan dirinya tentu
akan berubah dan dia akan bisa memaafkan kita. Bukan hanya itu, dia akan dapat
memahami kita. Dia dapat merasakan ketulusan kita, menjadi teman kita, dan melepaskan belenggu
kebencian. Ini dapat langsung kita pahami dalam kehidupan ini juga. Setelah
tahu diri sendiri bersalah, kita harus mengaku salah dan bertobat. Dengan
begitu, rasa dendam akan terurai dalam kehidupan ini juga. Jika kita tak mau
mengaku salah, dendam ini tak akan terurai. Bergantung pada seberapa dalam dan
seberapa buruk rasa dendam yang kita jalin, selama itulah buahnya akan kita
terima. Ini sudah pernah kita bahas sebelumnya. Jadi, karma ucapan menciptakan
banyak benih dan jalinan jodoh buruk, terlebih lagi berdusta dan mengaku telah
memperoleh hasil padahal belum, telah mencapai pencerahanpadahal belum. Semua
ini adalah kebohongan. Kita membicarakan hal mistis dan menyesatkan orang. Kita
tidak benar-benar melihatnya, tetapi kita mengaku melihat dewa atau setan
datang untuk menghampiri kita, meminta ajaran dari kita, serta memberi
penghormatan.
Ini semua menyesatkan orang banyak. “Saya bisa meramal karena
para dewa dan setan itu dapat berkomunikasi dengan saya.” “Saya akan
memberkatimu.” “Saya bisa melepaskan belenggumu.” Apakah ini
benar? Dirinya sendiri masih makhluk awam, juga belum terbebas dari karma, bagaimana
melepaskan orang lain dari karma? Ini tidak mungkin. Namun, orang seperti ini
tetap ada. Demi persembahan, manusia mengarang kata-kata untuk menyesatkan
orang banyak dengan cerita-cerita mistis. Demi apa? Penghormatan dan
persembahan. Untuk mendapat keuntungan, mereka menciptakan kebohongan. Betapa
dalam dan beratnya karma buruk ini. Ini membuat orang lain tak memiliki
pandangan benar, sebaliknya malah tersesat dalam takhayul. Dengan demikian, ini
bukanlah kewajiban kita yang seharusnya. Ada orang yang takut setan Ada orang
yang takut setan atau takut tertimpa kemalangan. Banyak orang merasa takut. Kita
seharusnya menenangkan mereka dengan kebijaksanaan. Jangan malah membuat mereka
semakin takut dengan mengatakan mereka kelak akan tertimpa apa atau akan
mengalami hal-hal apa. Ini membuat mereka semakin takut. Saat pikiran
bermasalah, tubuh juga akan bermasalah. Saya teringat seorang profesor. Beliau
adalah ahli patologi. Beliau berkata kepada saya bahwa sesungguhnya, manusia
meninggal bukan karena sakit, melainkan sebagian besar karena takut. Ini karena
dalam batin terus timbul kecurigaan atau keraguan. Saat diperiksa, tidak ada
masalah apa-apa. Setelah diperiksa, dokter baru mengatakan, “Kamu
sudah…” “Sudah apa?” Pasien langsung panik dan merasa takut. Pasien
lalu mulai berubah. Pasien lalu mulai berubah.
Mulanya dia bagaikan naga, kini berubah bagai seekor cacing.
“Saya sakit.” “Saya tidak bisa apa-apa lagi.” “Hidup
saya tidak lama lagi.” Dia lalu mulai mencari cara untuk memperpanjang
usia. Dia lalu mulai mengeluarkan uang untuk upacara tolak bala. Ini tidak
benar. Setelah diperiksa dokter, jika ada masalah, kita hendaknya berpikir
bahwa dahulu kita tidak tahu ada masalah itu, kini berkat kemajuan teknologi, kita
jadi tahu masalah pada tubuh kita. Apakah dokter bisa menanganinya? Bisa. Yang
penting kita minum obat atau menjalani perawatan yang benar. Ikuti saran
dokter, maka tak akan ada masalah. Manusia tentu tak luput dari hukum alam. Saat
karma berbuah, kita tak akan bisa menghindar. Kita harus tahu bahwa kita hanya
punya hak guna atas tubuh kita. Kita tidak punya hak milik atasnya. Saat hak
guna ini berakhir, kita harus mengembalikannya. Tubuh ini tidak akan ada lagi.
Kita mulanya tidak memiliki tubuh ini. Berkat jalinan jodoh
dengan orang tua, ditambah dengan kekuatan karma dari kehidupan lampau, kita
terus terbelenggu di dunia ini. Kita semua terlahir karena karma, yaitu karma
baik dan karma buruk. Apakah membalas budi atau menagih utang, ini bergantung
pada diri sendiri. Setelah memahami kebenaran, kita dapat mengubah keburukan menjadi
kebajikan. Kita menghindari segala kejahatan dan melakukan segala kebajikan. Berapa
lama waktu kita dalam kehidupan ini, maka selama itulah kebajikan dapat kita
lakukan. Kita tidak memiliki hak milik atas tubuh ini; kita hanya punya hak
guna. Kita hendaknya tetap tenang dan damai. Apa yang perlu ditakutkan? Jika
dokter berkata kita harus menjalani perawatan tertentu, tidak apa-apa. Kita
terima saja. Inilah keyakinan yang bijaksana, bukan takhayul atau keyakinan
sesat. Kita tak perlu memohon pada dewa atau mengadakan upacara tolak bala atau
kias. atau mengadakan upacara tolak bala atau kias. Siapa yang bisa membantu
kita menolak bala? Semua orang adalah makhluk awam. Siapa yang bisa mengubah
nasib? Buddha juga berkata bahwa karma semua makhluk tak dapat diubah. Ada tiga
hal yang tak dapat dilakukan Buddha. Salah satunya ialah mengubah karma makhluk
hidup. Buddha saja tak dapat melakukan ini. Buddha hanya bisa memberi tahu
bahwa karma diciptakan oleh diri sendiri. Kita harus memahami sebab dan
memahami akibat. Kita harus memahami hukum karma.
Setelah memahami hukum karma, kita harus melatih diri secara
nyata. Buddha hanya membimbing kita, bukan mengubah karma kita. Jadi, ada
sebuah ungkapan berbunyi, “Guru membimbing masuk, pelatihan diri
bergantung pada murid.” Buddha membimbing kita masuk dan menapaki jalan
Buddha, tetapi kita sendirilah yang harus menapakinya. Buddha hanya membuka
jalan yang lapang ini untuk kita tapaki. Buddha hanya membimbing dan
menunjukkan jalan. Beliau adalah guru pembimbing yang membimbing kita untuk
meninggalkan kesalahan masa lalu dan berjalan ke jalan yang lapang agar tidak
mengulangi kesalahan. Beliau adalah pembimbing dan pembabar jalan. Jadi, kita
harus paham bahwa saat karma berbuah, saat karma berbuah, siapa pun tak dapat
menghindarinya. Karena itu, kita sering membahas tentang hukum alam. Kemampuan
dokter pun terbatas. Setiap orang memiliki batasan besar. Batasan besar yang
dimaksud ialah usia yang berakhir di dunia ini. Jika usia berakhir, Tabib Hua
Tuo yang hebat pun tak dapat menolong. Lihatlah manusia dari zaman dahulu
hingga kini, bahkan Buddha sendiri juga hanya hidup hingga usia 80 tahun. Bukan
berarti karena Beliau adalah Buddha, lalu hidup sampai seratus atau dua ratus
tahun. Di dunia ini memang ada orang yang hidup sampai 120 tahun, tetapi sangat
sedikit. Ini karena batasan mereka lebih panjang. Buddha tidak mengambil
batasan terpanjang.
Beliau mengambil batasan rata-rata. Orang zaman dahulu
jarang yang hidup sampai usia 70 tahun, tetapi Buddha hidup sampai 80 tahun, masih
di atas rata-rata saat itu. Jadi, bahkan Buddha pun sama seperti orang pada
umumnya. Kini banyak orang hidup sampai 80 atau 90 tahun. Jadi, dari segi usia,
Buddha tidak jauh menonjol. Beliau juga tidak sengaja memperpanjang usia. Tidak.
Jika bisa merenungkan hal ini, kita tidak lagi berpikir untuk menolak bala atau
mengubah nasib. Bagaimana memperpanjang usia? Ini tidak mungkin. Berhubung
tidak mungkin, untuk apa kita percaya pada upacara tolak bala atau menambah
usia? Kita tidak perlu memercayainya. Namun, ada orang yang berbohong mengenai
hal ini dan dipercaya oleh orang banyak. Ini berarti orang-orang yang tidak
paham semakin tersesat. Jadi, harap kita semua dapat memiliki keyakinan benar
atas ajaran Buddha. Ini juga berlaku bagi pembakaran kertas sembahyang atau
dupa. Saya sering berkata bahwa pembakaran kertas sembahyang harus dihilangkan.
Kini kita tahu bahwa kebiasaan ini bukanlah ajaran Buddha. Namun, banyak orang
berkata orang yang bersembahyang dengan dupa belum tentu umat Buddha.
Sebagai umat Buddha, boleh tidak membakar dupa asalkan
hati kita tulus. Dupa, bunga, dan lainnya adalah wujud penghormatan kepada
Buddha, juga untuk memperindah suasana lingkungan dan suasana batin. Mengungkapkan
rasa hormat kepada Buddha sesungguhnya berarti menghormati Buddha yang hakiki
dalam diri. Saat melihat kondisi ini, kita bersukacita. Ini juga merupakan
wujud ketulusan. Intinya, kita harus memiliki keyakinan yang bijaksana. Menghormati
Buddha bertujuan untuk membangkitkan ketulusan. Bahkan, tubuh dan batin kita sama-sama
menghormat dengan tulus. Inilah semangat dalam praktisi agama. Jadi, kita tak
boleh percaya takhayul. kita harus memiliki keyakinan yang bijaksana. Jika kita
pernah tersesat di masa lalu atau mengikuti keyakinan sesat, kini segeralah
memperbaiki diri. Ini berarti kita bertobat. Jadi, kita harus selalu bertobat
dengan tulus. Kita harus senantiasa bersungguh hati. Jika pikiran diarahkan
pada kebajikan dan kebenaran, segala karma buruk secara alami akan terkikis. Jika
tidak melakukannya, tak akan ada akibat buruk. Jadi, harap semua selalu
bersungguh hati.