Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-438-Mencurahkan Ajaran Mahayana bagi Semua Makhluk

Saudara se-Dharma sekalian, kondisi batin dan kondisi luar, bagaimana agar bisa hening? Batin kita selalu terpengaruh oleh kondisi luar. Dengan adanya pengaruh ini, batin kita sulit untuk tenang. Selain itu, debu kegelapan batin bagai beterbangan setiap saat. Ini berarti batin kita terlalu kering. Ini berarti batin kita terlalu kering. Jadi, setiap hari kita harus membasahi batin dengan air Dharma. Jika ada Dharma di dalam hati, batin kita yang kering akan bagai ditetesi embun terus-menerus. Jadi, di dalam Sutra makna Tanpa Batas dikatakan, Mempelajari ajaran Buddha berarti berusaha mencapai kondisi ini. Batin makhluk awam sangat kering karena kekurangan air Dharma. Bagai tanah yang kering, ia tak dapat ditumbuhi berbagai Dharma. Sama seperti tanah yang kering, permukannya akan retak. Jadi, tanah tak boleh kekurangan kadar air. Batin kita juga tak boleh kekurangan air. Tubuh kita juga tak boleh kekurangan air. Menurut ilmu kedokteran, unsur pembentuk tubuh kita yang paling besar adalah air, yaitu sekitar 70 persen.

Saya teringat saat masih kecil, saya pernah mendengar orang tua berkata tentang seberapa besar tanah, laut, dan gunung di bumi ini. laut, dan gunung di bumi ini. Orang tua ada yang berkata, “Laut 60 persen, gunung 30 persen, sawah 10 persen.” Kita lihat lautan terdiri atas air. Kita juga lihat, dari luar angkasa Bumi terlihat berwarna biru. Ini menandakan bahwa tempat hidup kita ini dipenuhi kadar air. Jadi, air membawa kehidupan. Air sangat penting bagi manusia. Terlebih lagi, batin manusia tidak boleh dibiarkan kering. Jadi, kita harus memiliki air Dharma yang membasahi batin bagai embun. Lihatlah, pada musim panas, terik matahari membuat tanah kering dan retak. Begitu angin bertiup, debu terus beterbangan. Ini adalah sebuah perumpamaan. Sebaliknya, pada malam hari kadar air lebih tinggi. Debu-debu di tanah juga bisa basah oleh embun sehingga saat angin bertiup pada pagi hari, debu-debu tidak beterbangan. Inilah “meneteskan embun ajaran”. Ia bagaikan embun di pagi hari yang membuat tanah basa. “Untuk meredam nafsu keinginan duniawi.” Kegelapan batin kita berawal dari sebersit ketamakan. Ini membuat pintu nafsu keinginan terbuka. Begitu pintu nafsu keinginan terbuka, segala kegelapan batin akan tampak. Jadi, yang terpenting adalah batin kita harus selalu dibasahi. Artinya, air Dharma tidak boleh tak ada dalam batin. Saat kondisi panas, kita harus “mengembuskan angin pembebasan”. Saat cuaca panas, kita akan berkeringat. Kita harus mengamati bahwa tubuh tidak bersih. Keringat mengalir dari dalam tubuh dan kita merasa sangat lengket.

Bukan hanya itu, jika kita tidak mandi, jika kita tidak mandi, tubuh akan mengeluarkan aroma tak sedap. Jadi, tubuh ini tidaklah bersih sehingga harus dibersihkan dengan air. Selain itu, sebelum tubuh berkeringat, jika ada angin berembus sehingga kita tidak kepanasan, kerisauan juga tak akan muncul. Kita harus menjaga batin yang bebas dari kerisauan. Banyak kondisi di dunia ini yang membuat kita risau atau tertekan. Kita harus menahannya. Di dalam batin kita juga banyak hal Orang, masalah, dan hal di luar kerap membuat kita sulit menahan diri. Jadi, untuk membebaskan diri sendiri, kita harus mengandalkan “angin pembebasan” agar dapat “melenyapkan penderitaan dunia dan membawa kesejukan Dharma”. Dharma membuat kita merasa sejuk. “Mencerahkan kegelapan batin.” Artinya, ini membuat segala kegelapan batin lenyap. Baik air Dharma maupun angin pembebasan, bertujuan agar kondisi batin kita berada dalam kondisi yang sesuai untuk mengatasi kegelapan batin. Untuk itu, tentu kita harus “mencurahkan ajaran Mahayana bagi semua makhluk”. Kita harus menginspirasi diri sendiri dan membangkitkan tekad Mahayana. Mahayana adalah praktik Bodhisattva. Kita harus terjun ke tengah masyarakat. Contohnya, di sini, beberapa menit sekali ada suara pesawat terbang yang lewat. Menghadapi kondisi ini, dapatkah kita menahan diri? Sepatah kalimat yang ingin saya sampaikan harus terpotong-potong. Bagaimana ceramah saya bisa terdengar? Terlebih lagi, ceramah pagi ini harus disiarkan ke seluruh dunia. Bagaimana boleh suara pesawat ini mengganggu siaran ke seluruh dunia? Saya yang berbicara harus menyesuaikan diri.

Saya harus menyesuaikan diri dengan waktu pesawat lewat. Dua menit sekali pesawat pasti lewat. Sepatah kalimat harus disampaikan sepotong-sepotong. Orang yang menyunting juga harus sabar untuk meminimalisasi gangguan suara. Dia juga harus sabar untuk menyatukan potongan-potongan kalimat saya. Lihatlah, tanpa praktik Mahayana, sebagai pendengar saja kita sudah tidak tahan, terlebih si pembicara dan si penyunting. Si penyunting harus berusaha menghasilkan tayangan yang jernih untuk disiarkan agar orang-orang yang mendengarkan di dunia bisa merasakan sukacita dalam Dharma. dan memahami prinsip kebenaran. Ini membutuhkan tekad Mahayana. Baik angin pembebasan maupun tetesan embun ajaran, semua bertujuan untuk menenangkan batin kita. “Tercurah bagi semua makhluk.” Jika kita dapat terbebas dari noda batin dan membangun tekad, maka kita akan dapat memberi manfaat bagi semua makhluk. Semua makhluk juga diliputi noda batin dan tak memahami kebenaran. Alangkah baiknya jika kita bisa memperoleh Dharma dan memahami kebenaran. Hanya memahami saja belumlah cukup. Kita berharap semua makhluk juga dapat memperoleh Dharma ini sehingga sebutir benih dapat menjadi tak terhingga. Yang tak terhingga berasal dari satu. Jika satu orang dapat memahami kebenaran dan membagikannya kepada lebih banyak orang, inilah “dari satu menjadi tak terhingga”. Yang tak terhingga berasal dari satu berarti membuat orang banyak dapat memahami kebenaran yang sama.

Berikutnya dikatakan, Kini banyak orang yang berdusta. Bukan hanya saling menutupi atau menipu, manusia bahkan berbohong pada diri sendiri. Diri sendiri merasa diri sendiri sudah giat dan menjadi luar biasa serta ingin orang lain tahu kita berbeda. Kita merasa tahu banyak hal. Kita merasa telah memiliki kekuatan gaib karena kita sudah sangat giat. Kita merasa memiliki kekuatan yang tidak dimiliki orang lain. Kita mungkin juga memuji diri sendiri dan menyatakan diri bisa hidup sederhana serta mengatakan kepada semua orang bahwa diri sendiri adalah praktisi yang sederhana dan bebas dari keinginan ataupun ketamakan di hati. Kita mengaku hidup sederhana dan berlatih dengan keras. Kita mengaku tahan banting dan sabar. Ini mengenai pelatihan diri. Dalam pelatihan diri, dibutuhkan ketahanan dan kesabaran. Kalian tentu sering mendengar saya memuji insan Tzu Chi tidak hanya tahan terhadap keluhan, tetapi juga tahan terhadap kekesalan dan kerja keras. Dengan cinta kasih, mereka menghibur semua makhluk. Semua ini adalah kisah nyata. Di mana ada penderitaan, para relawan tidak takut aroma tubuh atau lingkungan yang kotor. Demi orang-orang yang menderita, mereka rela bersumbangsih dengan cinta kasih. Inilah wujud nyata dari kesabaran dan ketahanan dalam cinta kasih dan kerja keras. Semua ini adalah wujud nyata yang bisa dilihat orang pada umumnya. yang bisa dilihat orang pada umumnya. Namun, ada orang yang menyesatkan orang lain. Mereka mengaku sudah bisa melepas dan bisa melihat alam-alam lain.

Meski insan Tzu Chi penuh kesabaran terhadap kerja keras, keluhan, dan kekesalan, tetapi tidak ada yang mengaku telah mencapai tingkatan Dhyana atau buah pencapaian tertentu. Tidak ada. Namun, banyak orang yang sebaliknya. Mereka tidak bersumbangsih bagi masyarakat, tetapi merasa diri sendiri telah menjalani pelatihan diri telah menjalani pelatihan diri dan telah mencapai empat Dhyana. Mereka menyesatkan orang banyak. Ini yang disebut menggunakan ilusi atau sihir palsu. Semuanya adalah palsu. Dahulu banyak orang yang mempraktikkan pengobatan jarak jauh. Apakah ini benar atau palsu? Tidak tahu. Kita tidak tahu apakah orang itu benar-benar dapat mengobati orang. Kadang ini bisa menyesatkan orang. Ada juga orang yang meminta petunjuk dari medium yang mengaku kerasukan dewa atau Buddha. Mereka mengaku melihat atau mendengar sesuatu. Mereka juga banyak memberi ramalan dahulu kamu pernah lahir sebagai apa, kini kamu harus menanggung karma apa, kelak kamu akan menanggung karma apa. Yang seperti ini juga banyak. Banyak pula orang yang percaya dan jadi tersesat. Banyak orang yang menderita depresi juga sering berhalusinasi dan mengaku mendengar suara tertentu.

lalu apakah mereka berarti punya kesaktian? Jadi, kenyataan dalam hidup harus dihadapi. Jangan memamerkan kemampuan untuk menyesatkan orang banyak atau mengaku telah merealisasi 4 Dhyana. Di tengah dunia yang kacau ini, siapa yang memiliki kemampuan ini? Tidak ada. Jadi, jangan disesatkan oleh hal-hal seperti ini. Berikutnya dikatakan, Sesungguhnya, semua ini berbicara tentang proses pelatihan diri. Dalam proses pencapaian Samadhi, akan melalui pelatihan Anapana dan Enam Belas Pengamatan Praktik. Semua ini adalah pelatihan Samadhi yang memiliki tingkatan. Inilah empat buah pencapaian Sravakayana. Untuk mencapainya, kita harus melewati tingkatan-tingkatan Samadhi. Praktik Anapana adalah salah satu metode meditasi yang diawali dengan mengamati napas. Dahulu kita pernah membahasnya. Dengan berbagai metode meditasi, kita berlatih dari dasar hingga tingkat lanjut. Enam Belas Pengamatan Praktik berkaitan dengan Empat Kebenaran Mulia. Masing-masing dari empat kebenaran itu, mencakup empat praktik. Ada empat praktik dalam kebenaran tentang penderitaan. Ini tentu sangat sulit untuk dijelaskan dan kita akan sulit untuk memahaminya.

Semua ini adalah pelatihan bertahap. Empat dikali empat sama dengan enam belas. Tentu, kondisi Dhyana dan Samadhi adalah pencapaian yang sangat halus. Kadang, saat bermeditasi, ada orang  yang sangat ingin memperoleh pencapaian hingga tersesat. Kita harus berlatih dengan jujur. Saat menghadapi segala sesuatu di masyarakat, kita harus berusaha menenangkan batin dan membuat batin kita tetap teguh. Kita harus sungguh-sungguh membiarkan air Dharma membasahi batin kita. Saat menemui suatu kondisi, jangan biarkan batin kita sedikit-sedikit langsung risau. Kita harus menggunakan air Dharma atau angin pembebasan untuk membasahi batin kita. Jangan biarkan kegelapan batin atau kebencian membuat debu batin kita beterbangan begitu ada sedikit angin yang bertiup. Artinya, kita harus mengendalikan pikiran kita. Batin harus selalu dibasahi oleh air Dharma. Jadi, dalam sepuluh kejahatan, yang termudah dilakukan adalah berbohong. Penggalan tadi juga membahas kebohongan. Banyak orang mengira diri sendiri memiliki kekuatan batin. Sesungguhnya, kekuatan batin tak dapat dicapai tanpa pelatihan Samadhi bertahap yang kita bahas tadi. Jangan mudah disesatkan oleh kebohongan. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati. 

Leave A Comment