Sanubari Teduh-437-Dharma Melahirkan Makna Tanpa Batas
Saudara se-Dharma sekalian, pikiran
kita harus lurus. Kita harus selalu mempertahankan keheningan. Jika pikiran
kita hening, ia tidak akan kacau. Setiap hari kita saling berbagi Dharma. Ajaran
Buddha yang saya pahami tak ada yang lain, hanya berkaitan dengan pikiran. Jika
pikiran tenang, kondisi luar juga tenang. Jika pikiran bergejolak, kondisi luar
juga kacau. Jadi, kita harus selalu menjaga pikiran dan perhatian benar. Ini
adalah kondisi yang murni. Dengan demikian, tubuh, ucapan, dan pikiran akan
murni. Jika ketiga pintu karma ini murni, maka segala yang kita lakukan akan
selaras dengan konsentrasi dan pikiran benar serta selaras dengan Dharma. Jadi,
Dharma yang benar dapat melahirkan makna tanpa batas apa pun bentuknya, Begitu
pikiran kita bergejolak, entah ke arah yang baik ataupun yang buruk, saat itu
juga kebaikan dan keburukan bisa timbul. Kebaikan dapat melahirkan makna tanpa
batas, yaitu berbagai prinsip kebenaran. Saat keburukan muncul, benih dan buah
yang buruk juga bisa muncul. Ini juga merupakan prinsip. Kita menyebutnya
keburukan.
Segala yang dilakukan dengan
pandangan dan pikiran benar juga adalah Dharma. Dharma bisa melahirkan makna
tanpa batas. Jadi, sebersit niat baik atau buruk bergantung dari pikiran. Pikiran
ini memicu terjadinya perbuatan. Kini kita akan membahas pikiran yang mengarah
pada kebenaran. Jika pikiran bisa mengarah ke arah yang positif dan senantiasa
hening, maka Dharma yang ada ialah Dharma yang benar. Dharma yang benar dapat
melahirkan makna tanpa batas. Inilah kondisi batin yang hening dan jernih. Meski
kondisi batin sangat hening, tetapi dalam kondisi yang hening inilah berbagai
pintu Dharma dapat kita lihat. Jadi, makna tanpa batas lahir dari satu Dharma. Inilah
yang dikatakan dalam Sutra Makna Tanpa Batas. Begitu banyak prinsip kebenaran lahir
dari satu Dharma. Dharma apakah yang dimaksud? Dharma yang benar. Artinya,
pikiran harus mengarah pada kebenaran dan keheningan. Jadi, kita dapat
memunculkan Dharma yang tanpa batas. “Meski hanya sekalimat atau sepenggal
syair.” Jika kita dapat mendengar Dharma yang benar, meski hanya satu
kalimat atau sebait syair, kita akan memahami banyak kebenaran. kita akan
memahami banyak kebenaran. Jadi, satu Dharma dapat melahirkan makna tanpa
batas. Di antara makna tanpa batas ini terkandung dalam satu kalimat ataupun
satu bait syair. Dengan batin yang hening, kita baru dapat memahami segala
kebenaran di dalamnya. Singkat kata, pikiran harus mengarah pada kebenaran dan
hening.
Dengan begitu, kita bisa menembus
makna tanpa batas. Jika pikiran kita tidak benar, sepuluh keburukan akan
mengikuti. Inilah pikiran dan niat buruk. Tubuh dan ucapan akan menciptakan
kejahatan. Niat buruk akan terwujud ke dalam berbagai perbuatan buruk. Jadi,
kini kita akan membahas tentang dusta. Jangan mengira, “Saya hanya bicara
saja, bagaimana saya tahu bisa jadi seperti ini?” Hanya dengan membuka mulut
dan mengeluarkan ucapan, kita bisa mengacaukan batin orang lain dan merusak
perasaan orang lain, bahkan mengacaukan masyarakat. Jadi, karma dari ucapan
bohong jika disimpulkan sangatlah besar. Hanya dengan sepatah ucapan dapat
menciptakan banyak keburukan. Jadi, berikutnya dikatakan, Ini berbicara tentang
kebohongan. Bahkan, terhadap orang tua kandung ataupun anak sendiri, apakah
manusia telah jujur? Saat seorang ayah berbicara pada anaknya, apakah dia
mengutarakan isi hati dengan jujur? Mungkin saja ayah ini tidak mengatakan yang
sebenarnya. Di masyarakat masa kini banyak ayah yang waswas terhadap anaknya. Di
zaman dahulu pun demikian. Sejak dahulu hingga kini, ini terus terjadi. Meski
merupakan ayah dan anak kandung, tetapi yang mengutarakan isi hati sangatlah
sedikit. Kadang ada dusta di antara ayah dan anak. Jelas-jelas entah apa yang
sedang dipikirkan, saat seorang ayah bertanya pada anaknya, sang anak juga
tidak berterus terang. Meski diminta untuk bicara terus terang, si anak mungkin
tidak melakukannya. Jadi, di dalam universitas ataupun sekolah menengah dalam
jaringan misi pendidikan Tzu Chi, ada Asosiasi Ayah Tzu Cheng dan Ibu Yi De yang
membantu para guru karena anak muda kadang memiliki masalah yang tidak
diutarakan kepada orang tua.
Saat hati mereka merasa tidak
gembira, mereka juga tak mengatakannya kepada guru. Mereka membutuhkan pihak
lain. Jadi, kita memiliki ayah dan ibu asuh yang bisa berperan sebagai guru,
teman, dan orang tua. Mereka tak memiliki hubungan darah dengan anak-anak, bukan
orang tua kandung mereka, juga bukan guru pelajaran mereka. Para ayah dan ibu
asuh ini berusaha dekat dengan anak-anak dan menganggap mereka sebagai anak
sendiri. Mereka selalu memperhatikan anak-anak. Anak-anak ini pun merasa para
ayah dan ibu asuh sangat perhatian dan merasa sangat dekat. Saat ada pertanyaan
dalam hati, mereka tidak berani bertanya pada guru. Saat guru bertanya, mereka
tidak berani berterus terang, “Saya tidak bisa mengerjakan soal ini, saya
tidak mengerti bagian ini.” Adakalanya juga mereka merasa galau. Mereka
juga akan bercerita kepada ayah Tzu Cheng dan ibu Yi De. Mereka menganggapnya
sebagai guru. Mereka bisa bertanya pengalaman. Mereka berinteraksi bagai teman.
Para ayah dan ibu ini bersedia mendengarkan isi hati mereka atau kegundahan
mereka. Saat ada kesulitan, kebingungan, atau ada pertanyaan, anak-anak ini
menganggap insan Tzu Chi sebagai orang tua sendiri, guru sendiri, atau sahabat
sendiri. Mereka mengeluarkan isi hati mereka. Mereka mengeluarkan isi hati
mereka. Insan Tzu Chi pun dapat membimbing mereka. Saat anak muda kurang
pengalaman atau merasa galau, mereka mudah bertindak gegabah.
Para insan Tzu Chi yang bagaikan
Bodhisattva ini menjadi pihak pendengar isi hati yang baik. Pepatah mengatakan,
Pihak ketiga melihat lebih jelas. Mereka dapat mendengar kenyataan dan memberi
bimbingan sepenuh hati. Jadi, sejak zaman dahulu hingga kini, banyak orang
tidak berterus terang terhadap orang tua ataupun pejabat. Di zaman dahulu, kaisar
dan pejabat sangatlah dihormati. Para pejabat di berbagai bagian harus memiliki
rasa hormat. Zaman sekarang sudah berbeda. Sistem pemerintahan masa kini penuh
dengan hierarki berlapis untuk mengurus masalah negara. Sistem demokrasi tentu
sangat baik, tetapi apakah para pejabat benar-benar berjuang demi kesejahteraan
dan ketenteraman rakyat? Apakah benar begitu? Kita tidak tahu. Kita juga tidak
tahu kondisi zaman dahulu. Namun, sejak dahulu hingga sekarang, di dunia sering
terjadi kekacauan besar. Sesungguhnya, dunia bisa damai, tetapi manusialah yang
tidak bisa damai. Ini karena pikiran manusia tidak benar. Jadi, manusia saling
menindas lewat tubuh, ucapan, dan pikiran. Manusia saling memaki, saling
berbohong, saling menjilat, dan saling bergunjing. Hanya lewat ucapan saja, bisa
membuat dunia kacau. Jadi, di sini dibahas tentang orang tua dan anak, raja dan
pejabat, serta kerabat dan sahabat lama. Dari kerabat atau sahabat lama kita, yaitu
orang-orang yang sudah lama berteman dengan kita, juga tidak mudah untuk mendengar
perkataan jujur. Jadi, saat ayah ingin anak berkata jujur, itu tidaklah mudah. Anak
ingin berterus terang kepada ayah juga tidak muda. Karena itu, pembicaraan bisa
dipenuhi dusta. Kebohongan terus berlanjut. Mereka tak bisa mengutarakan
kebenaran. Raja juga tak menyampaikan maksud sebenarnya kepada pejabat. Raja
tak dapat berterus terang kepada pejabat. Pejabat juga tidak jujur terhadap
raja.
Mereka juga tak dapat berterus
terang. Antara raja dan pejabat, ayah dan anak, tidak berinteraksi dengan
jujur, terlebih lagi antara teman dan kerabat. Ini lebih sulit lagi. Kadang
saya merasa manusia sangat aneh. Di zaman Mahabhiksu Wu Da, para raja, pejabat,
orang tua, dan anak sangat menjaga norma dan tata krama. Jika raja, orang tua, pejabat,
atau anak tak bertindak patut, maka akan timbul kekacauan. Jika demikian, bagaimana
semua orang di dunia dapat berinteraksi dengan jujur? Banyak orang yang percaya
berita bohong. Saat kita mengatakan yang tak sebenarnya, orang yang mendengar tak
mengetahui kenyataannya. Jika yang dikatakan tidak benar, bagaimana mungkin si
pendengar memahami yang sebenarnya? Jadi, kehidupan manusia selalu berkutat pada
kenyataan dan kepalsuan. Dunia pun dipenuhi kekacauan. Setiap orang hendaknya
dapat berkata-kata dengan benar, bajik dan indah. Jika semua orang dapat
berperilaku benar, segala sesuatu akan penuh kebajikan.
Jika segala sesuatu bajik, bukankah
dunia akan indah? Untuk mencapai kebenaran, kebajikan, dan keindahan tidaklah
mudah. Jadi, manusia menyesatkan sesama. Terhadap kerabat saja tidak jujur, terlebih
lagi terhadap orang lain. Mereka akan mudah menyebarkan sesuatu yang tidak
benar. Di dalam Sutra, Buddha berkata, “Saat seseorang menyebarkan
kebohongan, ribuan orang menganggapnya benar.” Saat satu orang berbohong dan
menyebarkan kabar burung, orang-orang mengira itu benar dan ikut
menyebarkannya. dan ikut menyebarkannya. Sesungguhnya, orang yang memulai itu sudah
berbohong dan tidak jujur, tetapi orang yang mendengar tidak tahu dan terus
menyebarkannya karena menganggap itu sebagai kebenaran. Kebohongan ini
menyesatkan masyarakat. Kasus seperti in sangat banyak, terlebih dalam
masyarakat masa kini. Jadi, ucapan yang tidak benar dan tidak sesuai kenyataan,
akan dapat membawa kehancuran bagi keluarga bahkan negara. Jika antara ayah,
anak, ibu, generasi tua, generasi muda, atau sesama
saudara dalam satu keluarga tidak dapat bersikap saling jujur, bahkan saling
membohongi dan kerap berkata tidak benar, bukankah keluarga itu akan hancur? Kita
melihat banyak pengusaha besar yang kondisi keluarganya sangat rumit. Contohnya,
di lingkungan istana zaman dahulu, banyak pertikaian terbuka ataupun
terselubung. Bisnis keluarga juga bisa membuat satu keluarga hancur. Begitu
pula negara. Pemerintah suatu negara, Pemerintah suatu negara, entah itu raja
atau pejabat yang memegang kepemimpinan, atau dengan bahasa masa kini, ada
pemerintah pusat, badan eksekutif, pemerintah daerah, dan sebagainya, semuanya
harus mengusahakan ketenteraman rakyat. Kita berharap negara makmur dan kuat.
Jika para pemimpinnya mengambil
keputusan secara gegabah dan tidak dengan pertimbangan matang; sesaat
mengeluarkan keputusan, lalu mengubahnya dengan cepat, maka cara memerintah
seperti ini akan menciptakan kekacauan. Begitu keputusan gegabah dikeluarkan, ia
akan tersebar lewat media massa. Dengan begitu, seluruh negeri akan kacau. Jika
demikian, negara akan jatuh. Jadi, ayah dan anak harus bersatu hati, barulah
usaha keluarga bisa berkembang. Raja dan pejabat harus bersatu hati, barulah
negara bisa jaya. Jika tidak ada kesatuan hati; semua orang saling menipu dan
menutupi, bagaimana negara atau usaha bisa berkembang? Jadi, karma lewat mulut yang
berupa ucapan sungguh mengkhawatirkan. Setiap hari, media massa adakalanya
membuat kita tak berdaya. Dahulu manusia menyebarkan berita dari mulut ke
mulut. Sekarang tidak begitu. Saat satu orang mengatakan berita bohong, puluhan
ribu orang langsung mendengar dan ikut menyebarkannya sebagai kebenaran. Orang
yang menjadi korban juga banyak. Berita tersebar sehingga semakin tidak jelas. Jika
manusia seperti ini dan kondisi masyarakat seperti ini, bagaimana hati bisa
bahagia? Antarsesama manusia, berbagai masalah bisa terjadi hanya karena
ucapan. Lihatlah, hancurnya keluarga atau negara juga bisa disebabkan oleh ucapan
buruk, dusta, kata-kata kosong, dan gosip. Ada juga orang yang menggunakan ilusi
atau ilmu sihir palsu. Saat seseorang berbicara, mungkin yang mendengar hanya
sedikit. Jadi, ada orang berpura-pura dirasuki dewa. Kini banyak orang yang
berpura-pura menjadi medium dan menyesatkan orang. Mereka mengatasnamakan dewa dan
berpura-pura meramal masa depan.
Kepercayaan takhayul seperti ini membuat orang-orang merasa takut atas sesuatu yang tidak nyata. Ini juga dilakukan lewat ucapan. Jadi, di awal saya sudah membahas bahwa pikiran harus benar dan lurus. Arah kita harus benar. Kondisi batin harus hening. Dengan begitu, kondisi sekitar juga terlihat cemerlang. Segala tindakan, pikiran, dan ucapan kita berada di jalan yang benar. Berbagai prinsip kebenaran ada di dalam jalan pikiran kita. Arah pemikiran yang benar ini Arah pemikiran yang benar ini dapat melahirkan makna tanpa batas. Makna tanpa batas lahir dari satu Dharma, yaitu pikiran dan pandangan benar. Jika dapat mendengar sekalimat atau sebait saja Dharma yang benar, kita dapat memahami berbagai prinsip kebenaran yang menyatu dengan kebenaran, kebajikan, dan keindahan.Kebohongan dan kepalsuan bisa membuat hati manusia tercerai-berai. Baik keluarga, masyarakat, maupun negara juga bisa kacau. Keluarga dan negara bisa hancur karenanya. Saudara sekalian, sepatah ucapan sangatlah penting. Jadi, dalam berbicara kita harus jujur dan harus selalu bersungguh hati.