Kegiatan di Sumatera Utara

Science Camp Kenalkan Teknologi Kesehatan Berbasis AI kepada Pelajar Medan

Bagaimana kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dapat membantu dokter mendeteksi penyakit lebih cepat? Atau bagaimana sebuah sensor kecil mampu merekam aktivitas jantung dan gerakan tubuh untuk mendukung proses pengobatan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab melalui pengalaman belajar yang menarik dalam Science Camp Tzu Chi University (TCU) 2026 yang diselenggarakan Yayasan Buddha Tzu Chi Cabang Medan pada hari Minggu, 19 Juli 2026.
Mengusung tema Bridging Technology and Humanity for a Brighter Future, kegiatan ini mengajak puluhan siswa SMA dan SMK mengenal perkembangan teknologi kesehatan sekaligus memahami bahwa kemajuan ilmu pengetahuan harus berjalan seiring dengan nilai-nilai kemanusiaan. Sebanyak 93 peserta dari berbagai sekolah di Medan dan Banda Aceh mengikuti kegiatan yang terbagi dalam dua sesi. Mereka didampingi para guru, orang tua, delegasi Tzu Chi University, tim Tzu Chi International Medical Association (TIMA), serta puluhan relawan Tzu Chi Medan yang memastikan seluruh rangkaian acara berlangsung dengan lancar.
Dalam sambutannya, pembawa acara Vincent memperkenalkan sistem pendidikan Tzu Chi yang mencakup jenjang dari taman kanak-kanak hingga program pascasarjana. Melalui pendidikan yang berkualitas, Tzu Chi berharap dapat melahirkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki karakter yang dilandasi ketulusan untuk mengabdi kepada masyarakat.
Associate Professor Yang Hui Wen dari Tzu Chi University memaparkan perkembangan Artificial Intelligence (AI) serta penerapannya dalam dunia kesehatan kepada para peserta Science Camp.
Para siswa menyimak dengan saksama pemaparan Associate Professor Yang Hui Wen mengenai perkembangan teknologi kesehatan berbasis AI.
Para peserta antusias mengikuti sesi hands-on learning dengan mencoba langsung berbagai perangkat biomedis yang diperkenalkan dalam Science Camp.
Peserta kemudian berkesempatan bertemu langsung dengan delegasi Tzu Chi University, di antaranya Dean of Biomedical Faculty Mr. Hsu Hao Jen, Associate Professor Yang Hui Wen, Chief Representative TCU Office of International Affairs Indonesia Hendra Lo, serta sejumlah mahasiswa Tzu Chi University yang turut berbagi pengalaman selama menempuh pendidikan di Taiwan.
Sesi ilmiah menjadi salah satu bagian yang paling dinantikan. Associate Professor Yang Hui Wen mengajak para peserta mengenal perkembangan Artificial Intelligence (AI) dan Biomedical Science yang kini semakin berperan dalam dunia kesehatan.
“Teknologi bukan hanya tentang menciptakan perangkat yang semakin canggih, tetapi bagaimana inovasi tersebut dapat membantu meningkatkan kualitas hidup dan pelayanan kepada masyarakat,” tutur Professor Yang Hui Wen dalam penjelasan sederhana.
Ia memperkenalkan konsep Medical Information Technology, yaitu perpaduan ilmu komputer, teknologi informasi, dan ilmu kedokteran. Berbagai data kesehatan, seperti rekam medis, hasil laboratorium, hingga sinyal biologis tubuh manusia, kini dapat diolah menggunakan teknologi digital sehingga membantu tenaga medis mengambil keputusan secara lebih cepat dan akurat. AI juga mampu mengenali pola-pola kompleks dari data tersebut untuk mendukung deteksi dini penyakit, memantau kondisi pasien, hingga membantu pengembangan teknologi kesehatan di masa depan.
Namun, pengalaman belajar peserta tidak berhenti pada pemaparan materi. Mereka diajak mengikuti sesi hands-on learning dengan mencoba secara langsung berbagai perangkat biomedis yang digunakan dalam penelitian.
Laurensia Yofanka Mareto, mahasiswa Tzu Chi University, menjelaskan berbagai program beasiswa internasional yang dapat dimanfaatkan calon mahasiswa untuk melanjutkan studi di Taiwan.
PIC Science Camp Merry Sudilan (kiri) bersama Erlina Khe, He Xin Misi Pendidikan Tzu Chi Sumatera Utara (kanan), menyampaikan pesan cinta kasihnya pada penutupan kegiatan Science Camp Tzu Chi University 2026.
Melalui sensor elektrokardiogram (ECG), para peserta dapat melihat aktivitas listrik jantung mereka sendiri yang ditampilkan dalam bentuk gelombang pada layar komputer. Mereka juga mencoba Inertial Measurement Unit (IMU), sensor yang digunakan untuk mengukur posisi dan gerakan tubuh secara presisi. Teknologi ini banyak dimanfaatkan dalam rehabilitasi pasien pascastroke, pengembangan prostetik cerdas, hingga berbagai perangkat kesehatan berbasis wearable technology.
Suasana kelas pun berubah menjadi ruang eksplorasi yang penuh rasa ingin tahu. Para siswa bergantian mencoba setiap alat, mengamati hasil pengukuran, serta berdiskusi dengan dosen dan mahasiswa TCU mengenai cara AI mengolah data menjadi informasi yang bermanfaat bagi dunia medis. Tidak sedikit peserta yang kembali mencoba sensor ECG untuk melihat perubahan pola gelombang jantung ketika tubuh bergerak maupun saat beristirahat.
Metode pembelajaran learning by doing yang menjadi bagian dari filosofi pendidikan Tzu Chi University membuat para peserta tidak sekadar menerima teori, tetapi benar-benar mengalami proses belajar secara langsung. Melalui pengalaman tersebut, konsep-konsep yang sebelumnya terasa rumit menjadi lebih mudah dipahami sekaligus membangkitkan rasa ingin tahu terhadap dunia sains dan teknologi kesehatan.
Di balik kemajuan teknologi, para peserta juga diajak melihat pentingnya nilai-nilai kemanusiaan. Associate Professor Yang Hui Wen menekankan bahwa seorang ilmuwan maupun tenaga kesehatan tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademis, tetapi juga hati yang penuh empati. Teknologi akan memberi manfaat terbesar ketika digunakan untuk mengurangi penderitaan, meningkatkan kualitas hidup, dan melayani sesama.
Kesan mendalam dirasakan Floris Christianie, siswi kelas XII SMA Methodist Banda Aceh. Menurutnya, Science Camp membuka wawasan baru mengenai perkembangan teknologi kesehatan sekaligus memberikan gambaran nyata mengenai kesempatan belajar di Tzu Chi University.
“Saya jadi lebih memahami bagaimana AI bisa membantu tenaga medis. Kegiatan ini juga membuat saya tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang Tzu Chi University dan peluang melanjutkan studi di sana,” katanya.
Selain mengikuti sesi ilmiah, para peserta juga memperoleh informasi mengenai berbagai program beasiswa yang tersedia di Tzu Chi University. Liony, mahasiswa asal Pekanbaru, dan Laurensia Yofanka Mareto dari Jakarta membagikan pengalaman mereka menempuh pendidikan di Taiwan melalui beasiswa internasional yang mencakup biaya kuliah, akomodasi, hingga bantuan biaya hidup.
Dean of Biomedical Faculty Tzu Chi University, Mr. Hsu Hao Jen, menyampaikan apresiasi atas antusiasme para peserta serta dedikasi relawan Tzu Chi Medan dalam menyelenggarakan Science Camp.
Associate Professor Yang Hui Wen menyerahkan cenderamata kepada para peserta sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi dalam Science Camp Tzu Chi University 2026.
Chief Representative TCU Office of International Affairs Indonesia, Hendra Lo, menjelaskan bahwa Tzu Chi University juga memiliki program pendampingan Yi De Ba Ba dan Yi De Ma Ma. Melalui program tersebut, mahasiswa internasional memperoleh pendamping yang membantu mereka beradaptasi selama menjalani kehidupan di Taiwan, sehingga proses belajar di lingkungan baru menjadi lebih nyaman dan menyenangkan.
“Kami ingin mahasiswa Indonesia merasa nyaman selama belajar di Taiwan. Mereka tidak belajar sendirian karena ada keluarga pendamping yang siap membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan baru,” jelasnya.
Melihat antusiasme para peserta, Dean of Biomedical Faculty Tzu Chi University, Mr. Hsu Hao Jen, mengaku terharu dengan semangat belajar para siswa serta dedikasi relawan Tzu Chi Medan dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut. Ia berharap Science Camp dapat terus diadakan setiap tahun agar semakin banyak generasi muda Indonesia memperoleh kesempatan mengenal perkembangan teknologi kesehatan sekaligus nilai-nilai humanis yang menjadi ciri khas pendidikan Tzu Chi.
Senada dengan itu, PIC Science Camp, Merry Sudilan, berharap kegiatan ini dapat membuka wawasan para pelajar mengenai peluang melanjutkan pendidikan di Tzu Chi University, khususnya pada bidang Medical Laboratory Biotechnology dan berbagai disiplin ilmu kesehatan lainnya.
Science Camp Tzu Chi University 2026 menjadi bukti bahwa teknologi dan kemanusiaan dapat berjalan beriringan. Melalui perpaduan materi ilmiah, praktik langsung, serta interaksi bersama dosen dan mahasiswa, para peserta tidak hanya mengenal inovasi di bidang kesehatan, tetapi juga belajar bahwa ilmu pengetahuan akan memberikan manfaat terbesar ketika digunakan untuk melayani sesama. Harapannya, pengalaman ini dapat menginspirasi semakin banyak generasi muda Indonesia untuk terus belajar, berinovasi, dan menghadirkan perubahan yang membawa manfaat bagi masyarakat.

Jurnalis : Mellisa Sim (Tzu Chi Medan),
Fotografer : Lim Hung Jeng, Mellisa Sim (Tzu Chi Medan),
Editor : Metta Wulandari.