Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-402-Kesetaraan Semua Makhluk

Saudara se-Dharma sekalian, saya selalu terus mengingatkan berulang kali bahwa kita harus selalu mengingat hukum karma. Bahkan sepatah ucapan juga merupakan karma. Ucapan baik dimulai dari pikiran baik. Dalam menghadapi berbagai kondisi, saat mengucapkan sesuatu, ucapan ini dapat menjalin jodoh  dan meninggalkan kesan bagi orang lain. Di sisi lain, bagi kita sendiri, ini meningkatkan citra diri kita. Kita sendiri juga memperoleh kesan. Jika dapat memperhatikan sebab akibat dalam keseharian, maka menghadapi orang dan masalah, manakah yang tak dapat kita tangani dengan baik? Kita hendaknya dapat sepenuh hati mengamati semua ini. Ini adalah ajaran yang paling menakjubkan. Buddha mengajarkan kepada kita tentang kesetaraan. Jangan kita meremehkan makhluk hidup kecil. Jangan pula melakukan kejahatan meski kecil.

Jangan pula tidak mau berbuat kebajikan hanya karena kebajikan itu kecil. Dahulu kita juga pernah membahasnya. Jadi, kini kita harus senantiasa memandang semua makhluk secara setara. Pikiran seperti ini tidak meremehkan makhluk hidup. Jika kita menganggap makhluk hidup kecil tidaklah berarti dan kita abaikan, maka cinta kasih tak bisa meluas hingga ke semua makhluk. Cinta kasih kita harus melingkupi semua makhluk. Inilah yang harus selalu kita kembangkan. Kini kita membahas penggalan berikutnya. “Adakalanya memelihara ayam, babi, lembu, kambing, anjing,  angsa, bebek, dan sejenisnya untuk disediakan bagi tukang masak.” Penggalan ini juga sangat sederhana. Manusia memelihara ayam, bebek, babi, dan kambing sebagian besar untuk dijagal dan dijual di pasar agar orang lain bisa memasaknya.

Inilah sebagian besar tujuannya. Sesungguhnya, hewan yang dipelihara ini bersifat lebih lemah dan polos. Meski lembu sangat ebsar, tetapi sifatnya sangat polos. Terlebih lagi, para petani zaman dahulu bergantung padanya untuk membajak sawah. Jika sudah tua, ia akan dijual ke rumah jagal. Seumur hidup ia bekerja keras, akhirnya menemui ajal di rumah jagal dan menjadi hidangan di meja makan manusia. Hewan ini sungguh kasihan. Begitulah dengan lembu. Begitu pula dengan kambing. Babi pun demikian, terlebih lagi ayam. Bukankah mereka semua adalah  makhluk hidup yang berwujud hewan? Siapa yang memahami suara hati mereka? Pada zaman dahulu, banyak orang memelihara ayam dan bebek, Setelah menantu melahirkan dan menjalani masa nifas atau setelah putri sendiri melahirkan, ibu-ibu selalu membeli ayam untuk dimasak dengan minyak wijen.

Makanan ini diberikan kepada ibu yang baru melahirkan. Hewan bagaikan cendera mata bagi manusia. Hewan-hewan itu tak berdaya. Siapa yang memahami penderitaan mereka? Umat manusia disebut makhluk tercerdas, tetapi pada kenyataannya tidak sama sekali. Manusia tidak memahami suara hati semua makhluk. Mereka tak bisa mendengar jeritan hewan-hewan. Jadi, intinya, manusia bukanlah makhluk yang bisa melakukan segalanya. Manusia juga bukan yang paling cerdas. Berikutnya dikatakan, “Adakalanya meminta orang lain menjagal, membuat makhluk lain meratap  tiada henti; bulu-bulunya berguguran, cangkangnya terluka, bagian-bagian tubunya terpisah, tulang dan dagingnya hancur, kemudian dikuliti, dipanggang, dibakar, direbus, dimasak.” “Dengan kekejaman, kami menindas makhluk tak berdosa.” Penggalan ini juga sangat sederhana.

Kalian semua seharusnya memahaminya. Namun, tadi kita membahas tentang pembunuhan makhluk hidup. Ada orang berkata, “Tidak, saya tidak membunuh.” “Saya menyuruh orang yang membunuh.” “Tidak, saya tidak membunuh, saya hanya beli yang sudah dibunuh orang.” Apakah ini benar? Meski kita tidak membunuhnya sendiri, tetapi kita menyuruh orang lain. Kesalahan ini juga kembali pada si penggagas. Contohnya, saat kita makan hidangan laut, kita melihat banyak hewan di akuarium. Kita ingin memakan yang lebih segar, lalu memilih dan menunjuk sendiri ikan yang kita inginkan di akuarium. “Saya mau yang ini.” “Saya mau yang ini.” Pelayan lalu menangkapnya hidup-hidup. Pelayan lalu menangkapnya hidup-hidup. Begitu kita menunjuk, pelayan langsung menangkapnya. Kita melihatnya saat ia dibunuh. Kita juga melihat saat ini dimasak, lalu dihidangkan untuk kita makan. Demi nafsu makan sesaat yang melewati mulut dan perut, kita meminta orang lain membunuh hewan. Sesungguhnya, karma buruk ini berpulang pada si penggagas. Tentu, yang membunuh juga menciptakan karma buruk.

Namun, penggagas yang memesan dan memakannya tentu juga menciptakan karma buruk yang berat. Ini adalah kejahatan. Kita tahu, ini ibarat orang hidup yang harus menjalani hukuman. Kita lihat, baik ayam maupun bebek, saat ditangkap, mereka menjerit dengan suara keras. Saat babi akan disembelih pada tengah malam, kita bisa mendengar suara jeritannya. Orang zaman dahulu berkata, “Jika Anda bertanya kapan peperangan akan berhenti, maka terlebih dahulu perhatikan suara jeritan di rumah jagal pada tengah malam.” “Jika jeritan itu sudah tidak ada lagi, barulah peperangan tidak akan ada lagi.” barulah peperangan tidak akan ada lagi.” Orang zaman dahulu berkata demikian. Terlebih lagi, kini kita mempelajari ajaran Buddha. Kita harus lebih bersungguh hati dan menggunakan hati penuh welas asih untuk memandang setara semua makhluk. Jadi, kita harus menggunakan welas asih untuk berempati pada penderitaan unggas. untuk berempati pada penderitaan ungags.

Kini sudah banyak rumah sakit untuk anjing. Hewan-hewan peliharaan memiliki dokter hewan saat menderita sakit. Meski manusia menyayangi anjing, tetapi mereka memakan daging hewan lain. Mereka membunuh hewan lain. Orang seperti ini juga banyak. Sesungguhnya, hewan yang Anda kasihi dan Anda pelihara pada dasarnya tidak berbeda dari hewan lain. Kehidupan pada dasarnya adalah sama. Jadi, saat melihat hewan ditangkap, dijagal, ataupun menderita sakit, kita hendaknya membangkitkan belas kasih. Saat mereka akan dijagal oleh manusia, mereka juga merasa ketakutan, Mereka sangat takut mati. Jadi, semua makhluk ingin hidup dan takut mati.

Hewan dan manusia sama dalam hal ini. Hewan dan manusia sama dalam hal ini. Semua makhluk ingin hidup dan takut mati. Manusia memiliki penyakit, unggas, hewan buas, dan hewan lain juga memiliki penyakit. Penyakit itu sama-sama membawa derita. Di dalam teks disebutkan bahwa saat hewan yang dibunuh belum mati, kadang manusia sudah memasaknya. Ini juga ada. Saya pernah membaca sebuah kisah di dalam karya Master Lian Chi. Ada seseorang yang gemar makan daging. Pada suatu musim dingin, dia kedinginan. Dia berpikir untuk makan daging anjing. Jadi, dia menangkap dan menyembelih anjing. Sebelum membunuh anjing itu, dia terlebih dahulu merebus air. Saat air sudah mendidih, dia membunuh anjing itu. Dia mengira anjing yang sudah terbaring itu sudah benar-benar mati. Dia lalu memasukkannya ke dalam air mendidih. Anjing itu tiba-tiba keluar dari panci. Orang itu berdiri di sebelah panci. Saat anjing itu keluar, mulutnya membuka dan menggigit leher orang itu, baru kemudian masuk kembali ke dalam panci. Orang ini membunuh dan memasak anjing itu, tetapi dia sendiri sudah terluka parah. Dia terus merintih. Selama beberapa hari, lukanya itu terus membusuk, dari leher hingga ke seluruh tubuh. Setiap hari dia berteriak dan meraung. Suaranya seperti anjing menggongong. Dia sangat kesakitan. Setelah beberapa waktu, orang itu akhirnya meninggal.

Ini adalah buah karma yang berbuah saat itu juga. Saat akan dibunuh, anjing itu tentu sudah ketakutan saat ditangkap. Ditambah lagi, saat belum benar-benar mati Ditambah lagi, saat belum benar-benar mati dan masih bisa merasakan rasa sakit, ia langsung dimasukkan ke dalam air mendidih. Ia tentu bergumul dengan rasa sakit. Ini sangatlah mengenaskan. Saat ia bergumul di dalam panci, kebenciannya muncul bagai racun. Ia membuka mulut dan menggigit orang itu. Kini jika kita mendengar ada orang tertentu yang digigit anjing, biasa dia segera dilarikan ke rumah sakit untuk disuntik vaksin tetanus dan rabies. Bukan hanya dikhawatirkan menderita tetanus, Bukan hanya dikhawatirkan menderita tetanus, tetapi juga rabies yang mengacaukan pikiran. Digigit anjing berisiko terkena rabies. Penyakit ini juga bisa menular pada orang lain. Di RS Tzu Chi juga ada kasus seperti ini. Pasiennya adalah seorang pekerja dari Tiongkok. Dia digigit anjing. Setelah beberapa hari, gejala penyakit mulai muncul.

Dia terus tidak sadarkan diri. Pikirannya pun tidak jernih. Setelah dia dilarikan ke RS Tzu Chi, dokter kita terus menelusuri penyakit apa yang dideritanya. Kemudian, ditemukan bahwa dia digigit anjing. Ternyata, dia terserang virus rabies. Ternyata, dia terserang virus rabies. Dokter akhirnya mengobatinya. Nyawanya tentu tertolong. Intinya, anjing kadang juga bisa menyimpan kebencian. Begitu kebenciannya muncul, ia bisa menggigit orang. Ia juga bisa mengandung racun dan virus. Terlebih lagi, anjing yang direbus tadi. Ia begitu kesakitan. Racun kebenciannya pasti muncul Racun kebenciannya pasti muncul hingga akhirnya ia menggigit orang. Bisa kita bayangkan, pada zaman itu, pada zaman itu, tentu tidak ada tabib yang bisa mengobatinya. tentu tidak ada tabib yang bisa mengobatinya. Di zaman itu juga tidak ada rumah sakit. Jadi, orang itu terus menunda pengobatan. Tubuhnya terus membusuk. Pikirannya juga semakin tidak jelas. Akhirnya, dia bertingkah seperti anjing.

 Hukum karma sungguh menakutkan. Dia menerima buah karma pada kehidupan itu juga. Kejahatannya sangat kuat sehingga cepat berbuah. Sebelumnya kita pernah membahas tentang tiga jenis buah karma menurut waktunya berbuah. Ada orang yang berkata, “Saya juga membunuh banyang anjing, tetapi tidak mengalami hal seperti itu.” “Saya juga makan banyak daging anjing, tetapi tidak mengalami hal seperti itu.” Ini hanya masalah waktu, bukan berarti perbuatan itu tidak akan berbuah. Sama dengan orang dalam kisah tadi. Dia juga telah banyak makan daging anjing, tetapi tidak mengalami apa-apa. Dia juga telah membunuh banyak anjing dan tidak bermasalah. Tak disangka, anjing yang satu ini, jelas-jelas terlihat seperti sudah mati, tetapi malah menggigit saat dimasukkan ke dalam panci. Anjing itu menggigitnya hingga dagingnya terkoyak dan ikut masuk ke dalam panci. Orang itu masih hidup, tetapi terus menunda pengobatan. Berselang beberapa waktu, dia pun meninggal. Apakah semua ini tak memiliki sebab? Jadi, hukum karma itu ada. Di sini digambarkan bahwa manusia membuat makhluk lain menjerit, rontok bulu-bulunya, dan rusak cangkangnya.

Hal ini banyak dilakukan manusiaKita lihat ikan yang masih hidup adakalanya terus diiris. Ikan itu pun terus bergerak tanpa henti. Begitu pula, ayam dan bebek adalakanya langsung direbus sebelum benar-benar mati. Kadang mereka juga bisa melompat dari panci. Saya ingat seorang pasien di RS Tzu Chi. Saat ayam melompat dari panci, ia menabrak pasien yang masih anak-anak itu. Anak itu akhirnya jatuh ke dalam panci. Dia dirawat di RS Tzu Chi selama setengah tahun. Saat perawat ingin memberi suntikan, jarum sulit untuk masuk. jarum sulit untuk masuk. Dagin anak-anak sangat lunak. Pembuluh darahnya juga sangat tipis. Ibunya terus menangis melihatnya

Begitulah, saat melihat hewan dibunuh, manusia tidak merasa apa-apa. Saat melihat seorang anak mengalami luka bakar, mulai dari kakek, nenek, ayah, hingga ibunya, semua berkumpul di rumah sakit. Mereka sangat menyesal. Mereka melihat bagaimana anak itu kesakitan dan meraung. Kita tahu bagaimana menderitanya dia. Jadi, kita dapat membayangkan, jika anak kita yang mengalami luka bakar, maka kita akan turut merasa menderita. Hewan pun demikian. Saat mengalami luka bakar, kepada siapa mereka harus mengadu? Mereka hanya bergantung pada hukum karma. “Siapa yang membunuhku, siapa yang memakanku, kelak pasti akan mendapatkan akibatnya.” Berikutnya dikatakan, “Kami melakukannya demi kenikmatan sesaat yang hanya dirasakan sejenak oleh lidah yang tak lebih dari tiga inci.” Bukankah begitu? Kita hanya memikirkan selera makan. Ada orang yang berkata bahwa ayam negeri tidak begitu enak dimakan. Yang enak dimakan adalah ayam kampung.

Ada orang berkata begitu. Pernahkah kita mendengarnya? Di dalam hati saya merasa, “Sesungguhnya, mereka sama-sama makhluk hidup, juga sama-sama disembelih.” “Manusia masih memilih-milih rasanya.” “Manusia masih menilai kelezatannya.” Kenikmatan itu hanya sesaat. Sesungguhnya, berapa banyak kenikmatan yang diperoleh saat makan? Sedikit sekali, hanya ada pada lidah yang berukuran 3 inci. Saat daging ada di mulut kita, kita merasakannya. Setelah menelannya, sesungguhnya apa rasanya? Rasanya hanya ada di lidah saja. Rasa apa lagi yang tersisa? Berapa banyak rasa yang ada? Jadi, “Buah karma buruk ini berdampak selama berkalpa-kalpa.” Karma buruk seperti membunuh dan memakan makhluk hidup dilakukan hanya demi kenikmatan lidah yang panjangnya tak lebih dari 3 inci saja.

Jika dilakukan, buah karma buruk  dari terus memakan makhluk hidup ini akan berdampak selama berkalpa-kalpa. Dampak buruknya akan terbawa sangat lama. Ingatkah kalian? Ada seseorang yang pernah datang ke Griya Jing Si dan bertekad untuk melatih diri. Dia pernah keliling dunia. Dia bertobat secara terbuka. Setelah bertobat secara terbuka, dia ingin segera melatih diri. Dia juga menyumbangkan dana bagi Tzu Chi. Pada saat itu, penyakitnya sudah muncul. Dia sendiri sering berkata, “Meningat masa lalu, saya semakin merasa takut dan semakin menyesal.” “Saya juga semakin merasa harus bertobat.” Saya percaya karena dia merasa bertobat dan telah menyesali perbuatannya, maka saat dia menderita sakit, di rumah sakit dia diperhatikan oleh banyak orang. Dia sering berbagi dengan mahasiswa kita.

 Dia bahkan berbagi ke seluruh Taiwan. Meski tubuhnya membawa penyakit, dia tetap berani. Apakah dia tidak merasa sakit? Tentu sakit. Namun, dia menerima dengan ikhlas. Dia menerima buah karma dengan ikhlas. Dia telah memahami hukum karma. Karena itu, dia menerimanya dengan ikhlas. Dia telah mampu membuka pintu hatinya, tak hentinya membuat pengakuan dan tak hentinya bertobat. Pertobatan terbuka yang dilakukannya menambah pengetahuan orang-orang. Dia sering bercerita, “Saya sering bepergian ke luar negeri.” Jika mendengar di suatu negara ada makanan lezat tertentu atau makanan jenis baru dengan cara masak yang istimewa, dia pasti mengunjungi negara itu. Dia juga pernah pergi ke Prancis hanya demi mencicipi makanan di sana, kemudian pulang. Bayangkan, dia bersaksi tentang kehidupannya sendiri. Hingga akhirnya, dua hari sebelum meninggal, dia memanggil adik perempuannya untuk menemaninya datang ke Griya Jing Si. Dia datang dengan kursi roda dan berkata, “Master, saya sudah siap.” “Saya bisa pergi kapan saja.” “Saya sudah siap.” Saya menjawab, “Lepaskan semua, datang dan pergi dengan bebas.” “Saat tiba waktunya untuk pergi, maka pergilah dengan sukacita.”

“Saat berkesempatan untuk sadar kembali, kamu harus bersyukur.” kamu harus bersyukur.” “Lepaskan semuanya, maka kamu akan bisa datang dan pergi dengan bebas.” Keesokan harinya, saya datang ke rumah sakit. Mendengar kabar saya datang, dia segera duduk dan berkata, “Master, saya sudah mau pergi, tetapi mengetahui Master akan datang, saya segera duduk kembali.” Adik perempuannya berkata kepada saya, “Kemarin malam dia sudah hampir pergi.” “Kemarin malam dia sudah hampir pergi.” “Jantungnya sudah berhenti berdetak.” “Dokter datang dan segera menolongnya.” “Dia lalu sadar kembali.” Saya berkata, Kemarin diberi pertolongan darurat lagi? “Sudah cukup.” “Tidak perlu.” Dia menjawab, “Benar, saya juga sudah bilang tidak perlu.” “Saya ingat kata-kata Master.” “Datang dan pergi dengan bebas.” Saya berkata, “Baiklah.” “Bagus kalau sudah siap.” “Tidak perlu melekati apa pun.” “Arahkan pikiran untuk segera kembali.” Akhirnya, saya menerima kabar pada sore hari bahwa dia telah meninggal dunia. Intinya, dia telah benar-benar bertobat secara terbuka. Dia terus berbagi tentang kisahnya.

Meski demikian, tetapi akibat dari perbuatannya masih terus berdampak dalam hidupnya. Saya percaya dia sudah//benar-benar bertobat. Buah karma yang semula amat berat telah dia terima dengan lebih ringan. Dia telah bertobat atas segala perbuatannya. Dia juga telah menyumbangkan kekayaannya. Di akhir hayatnya, banyak orang mendampinginya. Dia pergi dengan sukacita. Jadi, hukum karma sungguh menakutkan. Dikatakan, “Atas kesalahan-kesalahan ini, kini dengan tulus kami bertobat.” Kita harus senantiasa bertobat, bukan hanya satu hari. Kita harus bertobat setiap saat. Saudara sekalian, kita harus bersungguh hati. Kita sungguh tidak boleh meremehkan setiap makhluk hidup.

 

Kita harus memandang semua makhluk dengan setara. Jangan meremehkan makhluk hidup kecil. Jangan meremehkan kejahatan kecil, lalu melakukannya. Jangan mengira kejahatan itu kecil, misalnya hanya sekadar makan daging, lalu tidak akan berdampak apa-apa. Kita tidak boleh berpikir begitu. Jika diakumulasi, dampaknya juga besar. Jangan meremehkan kebajikan kecil, lalu tidak melakukannya. Jangan berpikir apakah bervegetaris itu berpahala besar. Paling tidak kita tidak mendukung pembunuhan. Bervegetaris tentu jauh lebih baik. Saudara sekalian, kita harus selalu bersungguh hati.  

Leave A Comment