Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-403-Keharmonisan Masyarakat dan Hati Manusia

Saudara se-Dharma sekalian, kita hidup di dalam kondisi yang tenteram. Ini merupakan suatu kebahagiaan. Keharmonisan adalah berkah bagi manusia. Bagaimana agar dapat hidup bersahaja dan penuh keharmonisan? Hanya satu cara, yaitu menyelaraskan hati manusia. Jika hati manusia penuh kebaikan, maka dunia akan menjadi bagai surga dan bagai tanah suci Bodhisattva. Jika kita dapat hidup rukun dan saling mengasihi, maka dunia akan menjadi bagai satu keluarga. Dalam hubungan antarmanusia,  jika semua saling menganggap orang lain sebagai saudara, maka bukankah dunia akan selalu damai? Ini bermula dari pikiran baik di hati manusia yang membawa kerukunan dan cinta kasih. Dengan demikian, dunia akan bagaikan surga atau tanah suci. Jadi, kita harus selalu mengembangkan pikiran yang bajik. Lihatlah, berikutnya dikatakan, “Terlebih lagi, sejak masa tanpa awal hingga saat ini, adakalanya menjadi penggerak yang membuat orang berseteru dan berperang di medan perang.” Kondisi ini sangat berbeda jauh dari yang tadi baru saja kita bahas Tadi kita membahas tentang pikiran bajik dan kerukunan dalam hubungan. Kondisi ini bagaikan keluarga besar, semua bagaikan saudara sendiri.

Ini bagaikan tanah suci dan bagaikan surga.  Bagaimana kondisi ini bisa sangat berbeda dari penggalan tadi? Kondisi yang digambarkan pada penggalan ini memberi tahu kita bahwa sejak masa tanpa awal,  entah sejak kapan, hingga saat ini, manusia kerap membangkitkan niat untuk mendorong orang berseteru atau berperang. Mungkin pada kehidupan lampau banyak orang pernah memiliki pikiran untuk menyulut perseteruan dan membuat orang-orang mengelompok dan membuat orang-orang mengelompok atau membuat orang-orang saling berperang. Dalam skala kecil, orang-orang bertikai akibat ketidakharmonisan sehingga mengelompok. Dalam skala besar, terjadi perpecahan di masyarakat. Yang lebih besar lagi adalah perseteruan antarnegara. Jika ini berlanjut, bagaimana jadinya? Akan terjadi bentrokan dan peperangan. Yang lebih besar lagi adalah perseteruan antara berbagai negara.

Orang-orang juga mengelompok akibat kebencian dan ketidakrukunan. Ini merusak keharmonisan antarmanusia. Begitu pula di dalam masyarakat. Ini merusak kerukunan masyarakat. Kita sering berdoa semoga dunia terbebas dari bencana dan masyarakat harmonis. Jika ada perpecahan di masyarakat, bagaimana masyarakat bisa harmonis? Orang-orang saling bertikai. Jika begitu, masyarakat akan kacau. Dalam skala negara, jika di antarnegara terus terjadi keributan, maka dapat memicu peperangan. maka dapat memicu peperangan. Dalam tahap ini, bencana akibat ulah manusia terus terjadi. Jadi, ini adalah yang manusia lakukan sejak masa tanpa awal. Entah sejak kehidupan yang mana, manusia mulai menciptakan karma buruk ini. Manusia seakan resah jika dunia ini tidak kacau. Penggalan tadi memberi tahu kita bahwa pikiran kita merupakan sumber dari kebencian. Itulah mengapa kita sering mengatakan bahwa kita harus menjaga pikiran kita dengan baik.

Ketamakan, kebencian, dan kebodohan tidak boleh muncul. Jika muncul dalam skala kecil, maka akan menanam kebencian dalam hubungan antarindividu. Jika semakin besar, maka akan membuat orang-orang mengelompok. Jika lebih besar lagi, bisa membuat pertikaian antarnegara. Inilah kebencian. Akibatnya, manusia melakukan pembunuhan. Manusia menjadi pendorong pertikaian. Dengan begitu, peperangan pun dimulai. Pada titik ini, terjadilah bencana akibat ulah manusia. Mengapa manusia harus saling berperang? Hanya satu sebab. Orang yang berkuasa tidak mengurus negaranya dengan baik, melainkan ingin menguasai negara lain. Inilah yang disebut sewenang-wenang. Manusia berharap untuk menguasai negara lain. Manusia ingin menguasai dunia. Pikiran yang haus kekuasaan ini sungguh merusak kedamaian di dunia. Jadi, sejak dahulu dunia selalu dilanda peperangan. Ini karena pikiran manusia. Jika kita melihat kembali kisah-kisah masa lalu, contohnya di masa dinasti Qing, meski kaisar telah menguasai seluruh negeri, tetapi di istana sendiri tetap terjadi pertikaian antarsaudara.

Mereka saling menjalankan siasat dan saling membunuh. Mengapa? Mereka berharap suatu saat merekalah yang menjadi kaisar. Di antara banyak saudara, yang menjadi kaisar juga hanya satu orang Karena itu, di antara banyak saudara kerap terjadi pengkhianatan dan pertikaian Di zaman Kaisar Kangxi, kaisar memiliki banyak putra. Kondisi istana sangat kacau. Meski Kaisar Kangxi adalah kaisar yang baik, sangat memperhatikan rakyat, mampu memerintah dengan baik, dan mendapat pujian dari rakyat, tetapi beliau tidak mampu mendidik putra-putranya. Ini membuat terjadinya friksi di kalangan istana. Mereka saling membunuh, menyerang, dan berseteru. Bahkan, anak bisa membunuh ayahnya untuk merebut kekuasaan. Sejak dahulu, kondisi ini terjadi di setiap dinasti. Kita melihat betapa jahatnya pikiran manusia.

Jadi, jika kita dapat mengubah kejahatan ke arah kebajikan, bukankah dunia akan menjadi indah dan manusia dapat hidup saling berdampingan? Berikutnya dikatakan, “Dua pihak saling berhadapan dan saling membunuh. Adakalanya membunuh dengan tangan sendiri atau meminta pihak lain, atau turut bersukacita saat mendengar orang lain dibunuh.” Inilah bencana akibat ulah manusia. Lihatlah pada masa sekarang. Di zaman kita hidup ini, kita lihat di berbagai negara terjadi banyak gelombang pengungsi. Mereka tidaklah berdosa. Mereka tidaklah berdosa. Mereka adalah warga negara yang baik. Hanya saja para politikus yang haus kuasa menyulut peperangan sehingga berbagai pihak saling berseteru. Di satu negara yang sama, orang-orang dari berbagai kelompok juga saling berseteru sehingga menyebabkan gelombang pengungsi. Lihatlah di Timur Tengah dan di Afganistan. Lihatlah di berbagai negara. Kita melihat para pengungsi terus bermunculan. Orang yang terkena dampak tidaklah sedikit. Membahas tentang pengungsi, kita akan teringat Afganistan. Para pengungsi Afganistan mengungsi di tengah cuaca dingin.

Lihatlah, para perempuan dan orang tua menahan lapar di tengah dinginnya cuaca. Jika diingat-ingat, kondisi itu sungguh memprihatinkan. kondisi itu sungguh memprihatinkan. Bahkan, banyak anak menjadi yatim piatu. Seiap kali teringat kepada para pengungsi, saya selalu teringat cuaca yang sangat dingin. Anak berusia lima sampai enam tahun harus menjadi kepala keluarga. Mereka menggendong adik mereka yang lebih kecil di tengah cuaca dingin. Mereka harus melewati tumpukan salju yang licin di tengah cuaca dingin dengan menggendong adik. Mereka kadang terpeleset dan harus bangkit lagi. Melihatnya, saya sungguh merasa sedih. Ini terjadi di zaman sekarang. Lihatlah para anak yatim piatu ini. Bagaimana kondisi mereka saat ini? Mereka lahir di negara dengan kondisi seperti itu. Siapa yang dapat menenangkan mereka? Siapa yang menjaga mereka? Jadi, “Dua pihak saling berhadapan”, baik menyerang negara lain ataupun memicu perang saudara di negara sendiri, kekacauan yang ditimbulkan sama-sama menyebabkan banyak warga yang tak berdosa hidup menderita.

Dalam peperangan, manusia saling membunuh, baik dengan tangan sendiri baik dengan tangan sendiri maupun meminta orang lain yang melakukan. Mereka senang saat mendengar ada musuh yang terbunuh. Pikiran seperti ini sungguh beracun. Ini membuat berbagai tragedi di masyarakat terus terjadi. Intinya, di tengah masa penuh kekacauan ini, bagaimana kita meredam kekacauan? Semua dimulai dari pikiran manusia. Jika manusia dapat mengembangkan cinta kasih dan keselarasan dalam hati, maka masyarakat tentu akan harmonis dan damai. Jika pikiran menyimpan ketidakbaikan atau kejahatan, maka akan berpengaruh pada dunia ini. Hubungan antarmanusia akan kacau, lalu keluarga juga akan kacau. Setelah keluarga kacau, masyarakat akan kacau. Setelah masyarakat kacau, negara juga akan kacau.

Semua ini berawal dari pikiran. Pikiran yang tidak baik membawa kekacauan. Jadi, para suciwan memikirkan cara bagaimana memandang secara luas agar perseteruan dapat berhenti sepenuhnya, bagaimana kita dapat menegakkan keadilan. Sejujurnya, jika semua orang bersikeras bahwa dirinyalah yang benar, maka perseteruan akan terus terjadi. maka perseteruan akan terus terjadi. Siapakah yang benar? “Kamu benar, saya juga benar.” Sulit sekali. Pada zaman Konfusius, suatu hari Yan Hui hendak pergi membeli sesuatu. Sepulangnya dari pasar, dia melihat sebuah gerai penjual kain dikelilingi banyak orang yang bertengkar. Yan Hui pun mendekat untuk mencari tahu apa yang terjadi dan apa yang menyebabkan pertengkaran itu. Dia mendengar penjual kain berkata, “Ada tiga yard kain.” “Tiga yard kain ini, satu yardnya berharga 80 sen.” “Tiga yard berarti 240 sen.” Namun, si pembeli berkata, “Kamu salah hitung.” “Tiga kali delapan sama dengan dua puluh tiga.” Si penjual berkata, “Jelas-jelas 3 kali 8 sama dengan 24.” Namun, si pembeli tetap berkeras, “Pokoknya 23.” Pada saat itu, dia meminta orang lain ikut menilai apakah yang benar adalah 23 ataukah 24. apakah yang benar adalah 23 ataukah 24. Yan Hui adalah murid terpelajar dari Konfusius.

Dia pun maju untuk melerai. Dia berkata, “Wahai pembeli, si penjual ini sudah benar.” “Tiga kali delapan sama dengan dua puluh empat.” Namun, si pembeli tetap bersikeras. “Pasti dua puluh tiga.” Dia terus bersikeras dan merasa tidak puas. Dia kemudian berkata, “Kamu adalah murid Konfusius.” “Ayo, kamu terus berkata yang benar adalah 24.” “Saya bilang yang benar adalah 23.” “Kita menghadap Konfusius untuk bertanya.” “Jika saya kalah, maka saya berikan kepala saya untukmu.” maka saya berikan kepala saya untukmu.” Yan Hui berkata, “Baik.” “Kita menghadap Konfusius.” “Jika saya kalah, maka topi saya ini saya berikan kepadamu.” saya berikan kepadamu.” Mereka lalu menghadap Konfusius dan menceritakan apa yang terjadi. Setelah mendengar dan memahami kondisinya, Konfusius berkata kepada Yan Hui, “Tiga kali delapan sama dengan dua puluh tiga.” “Yan Hui, kamu kalah.” “Berikan topimu untuk orang ini.” Mendengarnya, Yan Hui merasa tidak puas. “Jelas-jelas 3 kali 8 sama dengan 24.” “Mengapa Guru bilang 23?” “Namun, beliau adalah guru saya.” “Guru sudah meminta saya menyerahkan topi.” “Guru sudah meminta saya menyerahkan topi.

” Yan Hui pun menurut dan memberikan topinya. Si pembeli kain merasa dia berada di pihak yang benar dan sangat gembira. Kebenaran seakan berpihak padanya. Dia lalu pergi. Namun, setelah orang itu pergi, Yan Hui bertanya kepada Konfusius, “Mengapa Guru bilang saya yang kalah?” “Jelas-jelas sayalah yang seharusnya menang.” “Yang benar adalah dua puluh empat.” “Mengapa saya yang kalah?” Konfusius berkata, “Kamu kalah.” “Tiga kali delapan memang dua puluh empat.” “Namun, jika kamu kalah, kamu hanya kehilangan topimu.” “Jika si pembeli tadi yang kalah, maka dia akan kehilangan nyawanya.” “Ini demi kebaikan yang lebih luas dan agar tidak membahayakan nyawa orang.” “Dengan begini, semuanya tetap gembira.” “Bukankah begini tidak ada masalah?” Benar, bagaimana kita menentukan justifikasi yang membuat semua orang bahagia? Kebenarannya sangat jelas, tetapi manusia gemar berdebat. Jelas-jelas semua orang tahu itu tidak benar. Siapa yang tidak tahu tiga kali delapan sama dengan dua puluh empat? Orang itu malah bersikeras untuk berdebat. Terhadap orang yang tak masuk akal seperti itu, jika kita bersikeras untuk menang, maka hanya memperumit masalah. maka hanya memperumit masalah. Masalah akan semakin bertambah.

Jadi, sebagai manusia, banyak orang tak dapat membedakan benar salah. Bukan hanya itu, bahkan jelas-jelas tahu mana yang benar, dia tetap ingin berdebat. Intinya, tidaklah perlu memperebutkan menang kalah. Namun, bagaimana kita menyampaikan kebenaran? Untuk itu, dibutuhkan bimbingan. Kita harus membimbing orang-orang untuk memiliki pengetahuan nurani. Ini sangatlah penting. Jika kehilangan pengetahuan nurani, manusia hanya akan pandai untuk memenuhi ketamakannya. Contohnya, di dalam jual beli, di atas nota sudah tertulis dengan sangat jelas, tetapi ada orang yang tamak untuk mendapat sedikit keuntungan. Akibatnya, terhadap orang yang masuk akal pun, dia bertindak tidak masuk akal. Jadi, bagaimana menghadapi orang seperti ini? Ketamakannya sudah tumbuh, niat jahatnya juga sudah timbul. Niat jahatnya sudah tumbuh dan berkembang. Tabiat buruknya sudah muncul. Jika sudah begitu, jangan berdebat dengannya pada saat itu. Sama halnya, menjelang Buddha wafat, Ananda bertanya kepada Buddha, “Saat Yang Dijunjung masih ada, sudah ada enam kelompok bhiksu yang tidak menjalankan ajaran.” “Kelak, setelah Yang Dijunjung wafat, bagaimana kami menghadapi mereka?” Buddha berkata, “Nasihatilah dengan welas asih.” “Jika tidak dapat dinasihati, maka diamkan saja.” maka diamkan saja.” Saat Buddha masih hidup, saat mengajar para murid-Nya, Buddha juga menemui murid berwatak keras dan sulit untuk dibimbing. Tidak semua murid dapat dibimbing dengan baik. Jadi, adakalanya Buddha mendiamkan mereka.

Lihatlah, di antara murid Buddha ada yang bernama Devadatta. Devadatta juga suka menghasut di dalam Sangha sehingga membuat sebagian orang berkelompok dengannya, Mereka mulai membangkang terhadap Buddha. Dalam kondisi demikian, bayangkan, bagaimana mengutarakan prinsip kepada mereka? Jadi, Buddha juga menyayangkan sikap mereka. Tubuh singa digerogoti oleh belatung dari dalam tubuhnya sendiri. Sebuas atau segagah apa pun seekor singa, meski banyak binatang lain yang menghindar meski banyak binatang lain yang menghindar begitu mendengar auman singa, begitu mendengar auman singa, tetapi pada tubuh singa itu sesungguhnya terdapat kutu dan belatung yang menggerogoti tubuh singa tersebut. Pada tubuh hewan lain juga ada. Kutu dan belatung menggerogoti tubuh singa. Kutu dan belatung menggerogoti tubuh singa. Bayangkan, Demikianlah kondisi dunia. Kita harus selalu berusaha karena Buddha berkata bahwa di dalam batin manusia sesungguhnya terdapat sifat hakiki yang sama dengan Buddha. Hanya saja, tabiat buruk semua makhluk telah terpupuk sejak masa tanpa awal dan belum dapat ditaklukkan seluruhnya. Jadi, kita harus terus mewariskan kebenaran Jadi, kita harus terus mewariskan kebenaran dari masa ke masa agar kebenaran ini dapat terus ada dan meresap ke dalam hati manusia.

Hanya dengan cara inilah kita dapat menaklukkan semua makhluk yang berwatak keras. Jadi, manusia yang memahami kebenaran akan mematuhi tata krama. Orang yang bertata krama berarti dapat mengendalikan pikiran sendiri. Dengan begitu, pikiran akan mengarah kepada kebajikan. Jika sebagian besar orang memiliki hati yang baik, maka masyarakat akan menjadi bagai surga atau tanah suci. Jika semua orang bisa bergaul dengan baik, rukun, dan saling mengasihi, maka semua orang di dunia ini maka semua orang di dunia ini bagaikan satu keluarga dan bagaikan saudara? Bukankah ini sangat baik? Kebenaran dapat membimbing manusia untuk mengarah pada kebajikan. Jika setiap orang baik, bukankah semua bagaikan Bodhisattva? Jadi, kita harus selalu membina pikiran bajik dan membimbing orang lain untuk melakukan hal yang sama. Ini adalah tanggung jawab kita, juga merupakan misi kita. Jadi, kita semua harus selalu bersunggu hati.  

Leave A Comment