Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-404-Menghormati Semua Makhluk

Saudara se-Dharma sekalian, di dalam lingkungan yang alami, semua makhluk memiliki ekosistem masing-masing. Dapatkah kita mendengar suara burung? Burung dapat membuat sarang. Untuk apa? Saat induk burung akan bertelur, ia akan mengumpulkan rumput dan ranting untuk membuat sarang. Setelah sarang selesai dibuat, Setelah sarang selesai dibuat, ia akan bertelur dan mengerami di sana. Setelah anak burung lahir, burung jantan dan betina akan bergantian menjaga anak burung di sarang. Di sana anak burung dilatih dan bertumbuh. Ia dirawat, dilatih, dan diajari untuk terbang serta mencari makan. Setiap jenis burung memiliki kondisi berbeda. Dalam melatih dan merawat anak, mereka memiliki cara masing-masing. Tentu, di dalamnya banyak cerita yang kaya. Namun, intinya adalah agar kita semua tahu kondisi unggas.

Mereka terbang di udara dan memiliki lingkungan hidup sendiri. Mereka juga memiliki keluarga. Hewan yang ada di darat pun demikian. Kekeluargaan mereka tak berbeda dari manusia. Jadi, cinta kasih kita harus universal. Segala lingkungan hidup semua makhluk harus kita anggap bagai dunia kita sendiri. Bagaimana kondisi hidup yang kita harapkan, begitulah seharusnya kita menjaga lingkungan hidup semua makhluk. lingkungan hidup semua makhluk. Inilah yang disebut cinta kasih. Kita terus membahas karma membunuh yang dilakukan manusia. Manusia bukan hanya membunuh manusia. Sesungguhnya, membunuh hewan juga termasuk karma buruk.

Jadi, berikutnya dikatakan, “Adakalanya bekerja sebagai pejagal atau algojo; memasak makhluk lain; baik melakukannya dengan tidak tega maupun dengan penuh kemarahan.” Penggalan ini menjelaskan ada orang yang mencari nafkah dengan menjalani berbagai bidang. Ada orang yang belajar menjadi pejagal. Mereka membunuh makhluk hidup. Ada pula algojo yang mengeksekusi hukuman. Pada zaman dahulu, terdakwa dieksekusi di depan umum atau disiksa agar mengaku. Ini adalah perlakuan antarsesama manusia. Ada orang yang dibunuh karena rasa dendam, ada pula yang harus menjalani hukuman. ada pula yang harus menjalani hukuman. Dalam mengeksekusi hukuman, pihak pemerintah meminta orang suruhan. Pejabat zaman dahulu tidak menghukum orang dengan tangan sendiri. Mereka memerintahkan orang lain untuk melakukannya.

Para penjahat pun tidak membunuh dengan tangan sendiri, tetapi menyuruh orang lain. Baik menjadi orang suruhan maupun menjadi penyuruh, baik demi mengeksekusi hukuman maupun membunuh, semuanya sama-sama karma buruk. Ini sama-sama perbuatan membunuh. “Memasak makhluk lain; baik melakukannya dengan tidak tega…” Ada orang yang juga dibayar orang lain untuk memasak. Apa yang dibeli tuannya, itulah yang akan dia masak. Jika tuannya membeli hewan hidup, Jika tuannya membeli hewan hidup, baik ayam, bebek, ikan, maupun udang, apa pun itu, meski masih hidup, dia tetap harus memasaknya. Sebelum dimasak, hewan harus dibunuh. Ini tak bisa dihindari. Jadi, ini juga merupakan karma buruk. Pada zaman dahulu, di dalam karya Master Lian Chi ada sepenggal kisah. Alkisah ada sepasang suami istri. Mereka sangat gemar makan daging penyu. Suatu kali, mereka membeli seekor penyu yang sangat besar. Setelah membelinya, mereka berpesan kepada pelayan di rumah mereka untuk membunuh penyu itu dan memasaknya untuk makan siang. Pelayan ini melihat penyu itu sangat besar. Ia masih hidup dan keempat kakinya yang terus bergumul, Kedua matanya begitu bersinar.

Pelayan ini melihat berpikir, “Apakah hari ini saya harus membunuh lagi?” Melihat penyu itu begitu menderita dan terus bergumul untuk hidup, pelayan itu merasa tidak tega. Dia berpikir, “Saya juga sudah banyak membunuh penyu.” “Mumpung majikan saya hari ini keluar dan tidak di rumah, maka saya harus segera melepaskan penyu ini di kolam.” “Meski hari ini harus dicambuk, saya tetap rela tubuh saya kesakitan.” saya tetap rela tubuh saya kesakitan.” Jadi, dia telah membuat keputusan. Dia sudah siap jika harus dihukum majikannya. Dia akan menerimanya dengan rela. Jadi, dia lalu membawa penyu itu ke kolam di taman belakang rumah majikannya, lalu melepaskannya. Majikannya kembali ke rumah  pada siang hari.

“Mengapa di meja makan tidak ada hidangan daging penyu,” tanya sang majikan. Sang majikan kembali bertanya, “Ada apa?” “Apakah belum matang?” Pelayan itu menjawab, “Tadi saya lengah sehingga penyu itu kabur.” “Saya tidak bisa menemukannya.” Sang majikan sangat marah, lalu mengeluarkan sebuah cambuk untuk memukulnya. Dia memukul si pelayan hingga terluka parah, hingga kemarahannya terlampiaskan. Pelayan ini juga menahan rasa sakitnya. Majikannya terus mencambuknya dan dia hanya bisa menahan rasa sakit. Setelah beberapa waktu, tepatnya beberapa hari kemudian, pelayan ini terkena wabah penyakit. pelayan ini terkena wabah penyakit. Penyakit itu mewabah di seluruh desa. Pelayan itu mengalami demam. Pelayan itu mengalami demam. Dia juga sulit bernapas. Sang majikan takut si pelayan meninggal di rumah dan menularkan penyakit. Sang majikan meminta orang memapahnya ke sebuah paviliun di tepi kolam dan membiarkannya menunggu mati di sana. Si pelayan juga merasa dia tidak dapat melewati malam itu.

Namun, pada malam harinya, ada sesuatu keluar dari kolam ada sesuatu keluar dari kolam dengan mulut penuh lumpur. Ia lalu mengolesi lumpur pada tubuh, kepala, dan wajah si pelayan. Si pelayan merasa sangat sejuk Si pelayan merasa sangat sejuk dan nyaman. Lalu, dia siuman dan pulih perlahan-lahan. Keesokan harinya, sang majikan mengutus orang untuk melihat apakah si pelayan sudah meninggal atau belum. Tak disangka, si pelayan sudah pulih kembali. Tak disangka, si pelayan sudah pulih kembali. Sang majikan juga bertanya padanya, “Kamu tidak makan obat.” “Jelas-jelas kamu sudah hampir meninggal, bagaimana kamu bisa pulih kembali?” Si pelayan menjawab, “Saya juga tidak tahu.” “Tadi malam, saya seperti merasa ada sesuatu keluar dari air dan menggunakan lumpur untuk mengolesi seluruh tubuh saya.” “Karena merasa sangat sejuk, saya lalu siuman dan pulih perlahan-lahan.” Sang majikan tidak percaya. “Bagaimana mungkin ada hal seaneh itu?” Si pelayan itu akhirnya diberi makan dan terus diamati.

Pada malam harinya, majikan bersama istrinya bersembunyi di suatu sudut dan memperhatikan apakah benar-benar ada sesuatu keluar dari air. Mereka melihat seekor penyu yang besar. Mereka melihat seekor penyu yang besar. Penyu itu terlihat mirip dengan penyu yang belum lama mereka beli dari pasar. Ia bagai mengulum sesuatu di mulut dan bolak-balik berulang kali untuk mengolesi kepala, wajah, dan leher pelayan itu. Sejak saat itu mereka percaya bahwa setelah dilepas, hewan juga tahu untuk membalas budi. Hewan juga punya perasaan. Sejak saat itu, sepasang suami istri itu tak lagi berani memakan penyu. Mereka tidak lagi berani memakan semua makhluk hidup yang bernyawa. Di zaman dahulu, terdapat banyak kisah seperti ini, membuat orang-orang percaya bahwa hewan juga memiliki kehidupan seperti manusia. Karena itu, saat itu banyak orang melepaskan makhluk hidup. Di dalam agama Buddha, Master Lian Chi juga sering mengimbau orang untuk menghentikan pembunuhan. Karena itu, terdapat banyak kisah seperti ini.

Kini kita juga sering membaca kisah-kisah ini. Jadi, berikutnya di dalam teks dikatakan, “Memasak makhluk lain; baik melakukannya dengan tidak tega…” Sesungguhnya, orang yang disuruh untuk membeli hewan hidup-hidup dan menyembelihnya dan menyembelihnya juga adakalanya merasa tidak tega saat melakukannya. Mereka melakukannya dengan tidak tega. Namun, ada juga orang yang berbeda dari orang-orang yang dibayar untuk memasak bagi majikan. untuk memasak bagi majikan. Saat majikan membeli hewan, mereka terpaksa menyembelihnya meski di dalam hati merasa tidak tega. Orang-orang ini masih memiliki niat baik. Namun, ada orang yang membunuh dengan penuh kemarahan. Mereka bertemperamen buruk dan sangat ingin membunuh orang lain.

Saat melihat sesuatu, mereka merasa marah dan tidak senang, lalu ingin membunuhnya. lalu ingin membunuhnya. Karma buruk dari kebencian ini juga amat berat. Andai saja mereka dapat membangkitkan rasa belas kasih, maka meski pernah melakukan karma buruk karena harus menuruti perintah atasan, maka atas dasar rasa tidak tega, mereka akan bertobat seperti pelayan tadi. Lihatlah, setelah melepaskan seekor penyu, penyu itu pun bisa membalas budi. Jadi, kebaikan dan kejahatan memiliki buah masing-masing. Berapa banyak Anda membunuh, sebanyak itulah karma buruk yang ditanam. Berapa banyak Anda berbuat baik, sebanyak itulah kebaikan yang akan berbuah. Meski kebaikan kadang bercampur dengan kejahatan, tetapi semua itu dapat dibedakan dengan jelas. Jadi, kita harus selalu mengembangkan cinta kasih dan rasa tidak tega untuk membunuh makhluk hidup. Pikiran ini juga sangat penting.

Jadi, berikutnya dikatakan, “Mengayunkan kapak, melayangkan pisau, menebas, menusuk, mendorong ke dalam lubang.” Ini juga kerap terjadi dalam peperangan. Ada pula orang kaya yang mencegah perampokan. Banyak perampok yang menerobos rumah dengan merusak pintu. Orang-orang kaya membuat dinding tinggi. Dinding tinggi kadang juga tidak berguna. Para perampok dapat menggunakan tangga. Selain membangun dinding, mereka juga menggali parit atau lubang agar rumah mereka dikelilingi air. Saat perampok ingin menerobos, mereka juga bisa jatuh ke dalam air. Inilah cara orang kaya menjaga keluarga. Mereka memasang banyak perangkap. Mereka membuat parit di sekeliling tembok. Parit-parit ini juga ada yang dibuat untuk melindungi kota. Jadi, pada saat ada perseteruan, manusia saling melayangkan kapak dan pisau, saling tebas dan saling tusuk. Bagaimana pun caranya, baik menusuk, memasang perangkap, membuat lubang,  membuat parit, maupun yang lainnya, semua dilakukan saat terjadi perseteruan. Semua orang ingin hidup dan lawannya mati. Ini juga merupakan karma buruk.

Manusia seharusnya hidup saling damai. Untuk apa saling berseteru menggunakan pedang, tongkat, senjata api? Manusia melukai sesama dengan menebas atau menusuk. Ada pula yang menjatuhkan lawan ke dalam lubang. Semua ini adalah perbuatan yang kejam. Ini juga merupakan pembunuhan. Begitulah manusia. Manusia saling melukai dan membunuh. Selain itu, manusia juga membunuh hewan. Ini tidak perlu lagi dibahas. Contohnya tentu sangat banyak. Berikutnya dikatakan, “Atau menyumbat sarang, merusak sarang, menggunakan tanah, batu runcing, atau menggunakan kuda dan kereta.” Ini juga merusak. Manusia menutup lubang sarang hewan, seperti sarang tikus atau hewan lain di dalam tanah. atau hewan lain di dalam tanah. Kadang manusia menyumbat lubang itu sehingga hewan-hewan tak bisa keluar. Kadang manusia juga merusak sarang, seperti sarang burung. Saat sarang burung dirusak, ia tak punya tempat untuk bertelur ataupun tempat untuk pulang.

 

Manusia kadang menyumbat dengan tanah lubang yang di dalamnya terdapat hewan. Mereka juga kadang menggunakan kereta. Roda kereta mengeluarkan suara besar dan melindas hewan-hewan kecil. Manusia banyak melakukan pembunuhan terhadap sesama dan hewan. Semua ini melukai kehidupan, juga melukai jiwa kebijaksanaan sendiri karena jiwa kebijaksanaan berawal dari cinta kasih. Cinta kasih ini mencakup cinta kasih terhadap sesama dan semua makhluk. Kita harus mengasihi jiwa kebijaksanaan sendiri. Jika kita dapat memandang semua makhluk bagaikan diri sendiri, maka kita akan dapat menyayangi semuanya. Saudara sekalian, sebagai praktisi Buddhis, kita harus mengasihi diri sendiri. Kita harus menyayangi pikiran kita. Dengan begitu, kita akan dapat menghormati semua makhluk hidup serta lingkungan hidup mereka semua. Hendaklah senantiasa bersungguh hati.                  

Leave A Comment