Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-406-Mengembangkan Pikiran Baik dalam Kesadaran Gudang

Saudara se-Dharma sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus belajar keyakinan bijaksana Kita harus memiliki kebijaksanaan. Keyakinan harus teguh. Terhadap diri sendiri haruslah ada keyakinan. terhadap orang lain, harus bisa dipercaya. Keyakinan ini sangatlah penting bagi manusia. Keyakinan adalah ibu dari segala pahala. Selama manusia memiliki keyakinan bijaksana, memiliki keyakinan yang teguh, maka banyak pahala yang akan lahir dari sini. Sesungguhnya, pahala yang muncul haruslah kita kembangkan dengan baik. Kita sering mendengar “kesadaran gudang”. Ini adalah kesadaran kedelapan kita. Kesadaran gudang menyimpan jejak dari segala yang telah kita lakukan.

Setelah kita melakukan sesuatu, semuanya akan tersimpan dalam kesadaran ini. Jika kita dapat selalu memiliki niat baik, membangkitkan pikiran positif, dan mengembangkan pikiran baik ini, maka ia akan tumbuh dari satu menjadi tak terhingga. Dengan membangkitkan niat baik, kita dapat bersumbangsih bagi masyarakat dengan berbagai cara yang tak terbatas. Baik pikiran bajik yang bijaksana maupun tindakan baik membantu orang, semuanya tersimpan di dalam kesadaran gudang. Bagaikan makhluk hidup yang harus mengandung untuk berkembang biak dan menghasilkan anak, begitu pula pikiran kita. Di dalam kesadaran gudang, pikiran baik juga harus dikembangkan. Ini yang disebut memelihara pikiran baik. Kita harus mengerahkan sebab dan kondisi untuk mengembangkan pikiran baik. Benih baik tentu akan menjalin banyak jodoh atau kondisi yang baik. Jika sebab dan kondisi  mengarah pada buah yang buruk, maka setelah memahami ajaran Buddha, kita juga harus menerima buah buruk ini dengan keyakinan. Kita harus yakin terhadap hukum karma. Kita menerima buah perbuatan kita. Kita harus sungguh-sungguh bertobat agar buah yang buruk ini dapat diubah menjadi jodoh yang baik dan jodoh yang baik ini dapat kembali mengembangkan benih yang baik.

Dengan demikian, di dunia ini tiada yang tak bisa diperbaiki. Bukan berarti segala dendam selamanya akan menjadi kebencian dan bencana. Kita juga bisa mengubah kebencian dan dendam menjadi benih baru. Dengan adanya benih dan kondisi baik, maka akan ada buah dan hasil yang baik. Ini berawal dari mengembangkan niat baik. Jadi, ladang batin kita harus dipenuhi ketulusan dan kebenaran. Kita harus berusaha untuk mengembangkan niat baik. Tentu, benih yang baik harus ditanam di ladang yang baik. Ladang batin terbaik adalah ketulusan dan kebenaran.

Saudara sekalian, mempelajari ajaran Buddha tidak boleh kurang ketulusan. Setiap kali melakukan sesuatu, kita harus memilih dengan kebijaksanaan. Kita harus memilih hal yang benar dan percaya pada diri sendiri. Saat harus melakukan sesuatu, kita melakukan dengan hati yang tulus demi semua makhluk di dunia, tiada niat yang lain. Kita harus menjalankan dengan satu hati dan satu tekad. Satu hati yang dimaksud adalah hati yang tulus. Kita melakukan dengan hati yang tertulus. Segala yang dilakukan bukan demi apa-apa, hanya demi semua makhluk. Jalan kita tidak menyimpang. Kita hanya menempuh satu jalan. Jalan ini adalah jalan yang harus kita tempuh. Sedikit pun kita tak boleh menyimpang. Jadi, kita harus memiliki pikiran yang tulus dan benar. Pikiran inilah yang harus ada di ladang batin kita. Dengan begitu, barulah benih bisa tumbuh.

Benih ini adalah keyakinan, kesungguhan, dan ketidakegoisan. Asalkan kita memiliki keyakinan yang benar, asalkan pikiran kita teguh dalam ketulusan dan kebenaran serta bebas dari ego, ini akan menjadi benih yang paling murni. Dengan demikian, segala yang tersimpan dalam kesadaran gudang kita tidak perlu kita khawatirkan. Lahir dalam enam alam kehidupan, Lahir dalam enam alam kehidupan, hendaknya juga hanya demi satu hal. Lihatlah Bodhisattva Ksitigarbha yang pergi ke neraka. Apakah dia berada di sana karena karma? Bukan. Beliau pergi ke sana karena ikrar. Beliau berikrar, “Jika neraka tidak kosong, Aku tak akan mencapai kebuddhaan.” Dengan kekuatan ikrar, Beliau pergi ke neraka.

Buddha Sakyamuni tidak meninggalkan Dunia Saha ini. Makhluk hidup di Dunia Saha ini berwatak keras. Namun, Beliau berikrar untuk membimbing makhluk Dunia Saha. Inilah ketulusan, kebenaran, keyakinan, dan kesungguhan. Pikiran baik yang mengandung cinta kasih tanpa pamrih ini berkembang di dalam kesadaran gudang. Jika kita semua bisa meneladani hal ini dan memiliki ladang batin yang baik, maka benih-benih baik yang tak terhingga ini akan menjadi ibu dari berbagai pahala. Kita akan terus membangkitkan pikiran baik, terus melakukan tindakan baik, serta terus menjalankan misi yang baik untuk membimbing semua makhluk. Jadi, keyakinan ini sangatlah penting. Kita harus mengembangkan ketulusan, kebenaran, keyakinan, dan kesungguhan. Setiap orang harus berlatih ke dalam diri. Di dalam teks tertulis, “Terlebih sejak masa tanpa awal hingga kini…” Bayangkan, sejak masa tanpa awal hingga saat ini, apakah yang tersimpan di dalam kesadaran gudang kita? Benih baik dan buruk bercampur. Mulai sekarang, kita harus membuang segala yang buruk dan mengembangkan yang baik.

Kita tidak tahu akan masa lalu, entah itu perbuatan buruk secara sengaja ataupun tidak sengaja; entah itu demi mencari nafkah, atau apa pun. Kita menumbuhkan tabiat sejak masa tanpa awal. Di enam alam kehidupan, ke mana pun kita membawa tabiat ini. Akibat adanya tabiat buruk ini, maka yang dilakukan adalah karma yang tidak baik. Ini terakumulasi sejak masa tanpa awal. Kini kita harus tahu bahwa sesungguhnya berapa banyak hal yang telah kita lakukan. Di dalam Syair Pertobatan ini dikatakan, “Adakalanya merusak janin atau telur, membuat racun dari binatang, melukai dan membunuh makhluk hidup, meratakan atau menggali tanah untuk ditanami menjadi kebun, memelihara ulat untuk diambil sutranya, sehingga memakan banyak korban.” Penggalan ini sangat sederhana dan mudah dipahami setelah dibaca. Di sini dibahas tentang aborsi. Mengenai aborsi, banyak kaum muda masa kini yang melahirkan anak sebelum menikah. Ada pula yang melakukan aborsi. Janin sudah memiliki kehidupan, tetapi malah diaborsi. Ini berarti mengakhiri nyawa.

Di dalam Sutra Ksitigarbha kita juga pernah membaca tentang kisah ibu Putri Brahmana yang gemar makan ikan kecil. yang gemar makan ikan kecil. yang gemar makan ikan kecil. Dia membeli ikan yang memiliki telur, lalu mengeluarkan telur-telur itu dengan membedah ikan itu hidup-hidup. Ini memakan banyak korban. Terlebih lagi, yang dia gemari adalah ikan-ikan kecil atau telur ikan yang belum menetas. Ada pula ikan-ikan yang baru lahir. Sekali telan, entah berapa banyak nyawa yang hilang. Berhubung ibunya ini gemar membunuh dan memakan makhluk hidup, Putri Brahmana tahu dia pasti terlahir di neraka. Ibunya juga tidak meyakini Tiga Permata. Putri Brahmana sangat meyakini hukum karma. Dia juga merupakan anak yang baik. Jadi, setelah ibunya meninggal dunia, dia segera memohon kepada Buddha untuk bisa mengetahui keberadaan ibunya.

Seorang Buddha di zaman itu memberi petunjuk agar dirinya menenangkan pikiran dan bermeditasi. dan bermeditasi. Putri Brahmana menuruti petunjuk itu. Saat pikirannya tenang dalam meditasi, dia seperti melihat sebuah lautan luas. dia seperti melihat sebuah lautan luas. Lautan itu memiliki gelombang yang menakutkan. Di tepinya banyak orang berdesakan. Ada yang kemudian terdorong ke tengah ombak dan tenggelam. Mereka hidup dan mati berulang-ulang. Dia juga melihat yaksa yang membawa garpu. Melihat orang yang mati, yaksa itu menusukkan garpunya hingga orang itu hidup kembali, lalu kembali didorong ke tengah laut. Mereka merasa sangat ketakutan. Lautan itu seakan tak bertepi. Ombaknya sangat besar. Orang yang mati tenggelam akan diangkat dan dibiarkan hidup kembali, lalu kembali ditenggelamkan. Ini sungguh menakutkan. Mendengar para terhukum meraung ketakutan, rasanya sungguh mengerikan. Pada saat itu, datanglah seorang raja setan. Melihat Putri Brahmana, dia langsung beranjali. Raja setan ini melihatnya sebagai Bodhisattva. Putri Brahmana segera bertanya kepada raja setan ini, “Di mana ibuku?” “Di mana ibuku?” “Tempat apakah ini?” “Tempat apakah ini?” Raja setan menjawab bahwa tempat itu adalah lapisan laut pertama Maha Cakravada. Apa yang disebut Maha Cakravada? Di sana terdapat neraka besar. Ada lapisan pertama, lapisan kedua, ketiga, hingga keempat. Hukuman yang diterima para makhluk di sana juga semakin berat lapis demi lapis. Putri Brahmana bertanya, “Kalau begitu, bagaimana aku bisa ada di sini?” “Apakah ibuku terlahir di neraka?” Raja setan bertanya, “Siapa nama ibumu?” “Apa pekerjaannya di alam manusia?” “Mengapa Anda bisa datang ke sini?” Putri Brahmana menceritakan segala perbuatan ibunya semasa hidup. Dia juga menceritakan permohonannya di hadapan Buddha. Atas petunjuk dari Buddha, setelah ibunya meninggal dunia, dia menjual harta keluarganya untuk berbuat kebajikan demi ibunya. Dia berdana dan menolong banyak orang. Dia menceritakan semuanya satu demi satu. Raja setan tersebut berpikir sejenak dan berkata, “Bodhisattva, tenang saja.” “Kalau begitu, ibumu telah terlahir di Surga Trayastrimsa berkat putrinya yang berbakti yang telah melakukan kebajikan untuknya serta memberi persembahan dengan tulus kepada Tiga Permata.” “Jadi, berkat pahala ini, ibumu telah terlahir di alam surga.” “Bahkan, makhluk-makhluk yang menerima hukuman bersamanya juga telah tertolong berkat kekuatan ini.” juga telah tertolong berkat kekuatan ini.” Putri Brahmana merasa tenang mendengarnya. Dia lalu terbangun dari meditasinya. Dia segera bersujud dan bersyukur di hadapan altar Buddha.

bersujud dan bersyukur di hadapan altar Buddha. Berhubung meyakini Tiga Permata, yaitu Buddha, Dharma, dan Sangha, maka dia memahami hukum karma. Dia tahu ibunya banyak melakukan karma buruk. Karena itu, setelah ibunya meninggal, Dia menjual harta demi ibunya dan memberi manfaat bagi banyak orang. Dia dapat merasa tenang. Ibunya sudah terlahir di alam surga. Bayangkan, karma dari melakukan aborsi sama dengan  membunuh makhluk hidup pada cerita tadi.  membunuh makhluk hidup pada cerita tadi. Akankah pelakunya terlahir di neraka, terlebih di empat lapis lautan Maha Cakravardi? Sungguh menakutkan. Makhluk di sana hidup dan mati berulang-ulang. Pikiran mereka diliputi ketakutan setiap saat. Tiada yang menolong meski mereka meraung. Bagaimana mereka melewati hari-hari? Begitulah kondisi di neraka. Begitu terjatuh ke neraka, sulit untuk terbebas. Tanpa adanya pahala kebajikan yang kuat, sulit terbebas dari neraka. Berikutnya dikatakan, Membuat racun dari binatang. Di dalam Sutra Bhaisajyaguru pernah dibahas tentang membuat racun dengan memelihara berbagai serangga beracun dengan memelihara berbagai serangga beracun dan membiarkan mereka saling menggigit atau memangsa.

Setelah tersisa satu ekor, serangga itulah yang menyimpan racun dari berbagai serangga yang lain. Serangga ini kemudian digunakan untuk membuat racun oleh manusia. Bisa kita bayangkan betapa beracunnya. Dengan cara itulah manusia membuat racun. Ini yang disebut membuat racun dengan binatang. Manusia memelihara banyak hewan beracun untuk membuat racun yang paling mematikan. Ini juga mencelakai makhluk hidup. Karma buruknya juga sangat besar.

Berikutnya adalah meratakan atau menggali tanah untuk ditanami menjadi kebun. Ada orang yang langsung bertanya, “Apa salahnya bercocok tanam?” Yang dimaksud di sini adalah Buddha sangat bijaksana. Cara bercocok tanam masa kini banyak menggunakan pestisida dan bahan-bahan kimia. Bayangkan, mengapa di masa kini banyak bermunculan penyakit-penyakit langka menjangkiti kaum muda? Ini semua berasal dari makanan. Seperti saat ini, banyak penyakit menular antarmanusia. Ini juga berasal dari makanan. Dengan adanya benih penyakit, ia akan terus berkembang dan tersebar hingga tak terhingga. Jadi, penyakit menular semakin banyak. Jadi, penyakit menular semakin banyak. Ada lagi yang lebih berbahaya daripada pestisida, yaitu obat terlarang. Ada orang yang secara khusus menanam tanaman untuk dijadikan opium. Obat terlarang ini bisa membuat manusia berubah bukan hanya dari segi fisik. berubah bukan hanya dari segi fisik. Lambat laun, pengaruh obat ini akan memengaruhi pikiran manusia dan terus membawa kerugian. Ini mencelakai tubuh dan batin manusia. Ada pula orang yang memelihara ulat sutra. Ini juga memakan korban lebih banyak. Manusia suka mengenakan kain sutra.

Benang sutra berasal dari ulat sutra. Bayangkan, berapa banyak nyawa yang hilang? Di zaman dahulu, kain bisa dibuat dari serat sisal atau bahan lain, tidak harus mengorbankan banyak makhluk hidup. Ulat sutra dipelihara, lalu ketika sudah menjadi kepompong, lalu ketika sudah menjadi kepompong, ia langsung dimasak, lalu diambil seratnya. Ini sangat melukai makhluk hidup. Inilah kegelapan batin makhluk hidup yang membuat manusia melakukan berbagai hal, seperti menjual narkoba, melakukan aborsi, membuat racun, mencelakai makhluk hidup. Ada orang yang melakukannya dengan sadar dan sengaja. Para penjual obat terlarang juga sangat berpengetahuan. Demi menghasilkan uang, mereka menggunakan kepandaian mereka mereka menggunakan kepandaian mereka untuk menjalankan bisnis obat terlarang. Semua ini dilakukan oleh orang berpendidikan. Ada pula orang yang melakukan aborsi. Ada pula orang yang sekali makan, menelan banyak makhluk hidup. Semua ini adalah pembunuhan yang disengaja. Ada pula orang yang demi mencari nafkah, menanam opium.

 

Ini terjadi di Myanmar, Afganistan, dan lain-lain. Opium ditanam di berbagai tempat. Orang-orang berdalih bahwa itu dilakukan demi mencari nafkah. Banyak sekali. Mereka tidak memahami akibat karma buruk ini. Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus sungguh-sungguh mengembangkan diri untuk meyakini hukum karma. Keyakinan diri harus teguh. Ini adalah ibu dari segala pahala. Di dalam kesadaran gudang kita, harus dikembangkan pikiran yang baik dengan ketulusan, kebenaran, keyakinan, dan kesungguhan sebagai tanah dan benih. Kita harus menjadi petani batin yang terbaik. Dengan demikian, barulah dunia bisa tenteram, barulah manusia dapat memiliki berkah. Jadi, harap semua selalu bersungguh hati.                     

Leave A Comment