Sanubari Teduh-407-Pahala dari Cinta Kasih Berkesadaran
Saudara se-Dharma sekalian, kita telah membahas bahwa Sutra Makna Tanpa Batas berasal dari “kediaman para Buddha”. Kita tak boleh meremehkan hal kecil. Di dalam Sutra kita selalu diajarkan untuk bersungguh hati. Baik di dalam tindakan maupun di dalam pikiran, kita harus bersungguh hati. Segala kebenaran berasal dari kediaman para Buddha. Kita harus menjaga hakikat sejati yang murni yang sama dengan Buddha. Hakikat sejati yang murni ini mengandung pahala tak terhingga. Jadi, di dalam bab Sepuluh Pahala Sutra Makna Tanpa Batas dikatakan, “Jasa pahala pertama sulit terbayangkan; segala hasil dalam pelatihan berawal dari keyakinan.” “Sutra ini mampu membuat para Bodhisattva yang belum bertekad, dapat membangun tekad mencapai pencerahan.” Kita harus mengembangkan pikiran kita di atas jalan ini. Pemandangan di jalan ini sangat kaya. Janganlah kita meremehkan hal kecil. Kita tidak boleh meremehkan hal-hal kecil
Sutra Makna Tanpa Batas adalah Sutra yang dijunjung insan Tzu Chi. Sutra ini sudah menjelaskan segala hal yang ada di dalam 12 bagian Tripitaka, terutama juga menjelaskan tentang makna pertobatan. Di dalamnya mengandung banyak kebenaran. Di dalamnya mengandung banyak kebenaran. Semuanya berawal dari pikiran. Pikiran dapat melahirkan berbagai prinsip yang tak terhingga. Di dalam setiap prinsip, kita harus bersungguh hati. Kita tak boleh meremehkan satu hal pun. Artinya, kita harus selalu bersungguh hati. Berikutnya dikatakan, “Adakalanya memukul nyamuk atau serangga, menangkap kutu, atau saat membakar sampah dan menggali saluran air mencelakai semua makhluk.
” Binatang-binatang ini sangat kecil. Dalam aktivitas kita sehari-hari, kita tidak menyadari kehadiran mereka. Semuanya adalah makhluk bernyawa. Makhluk hidup ini sangat kecil. Contohnya, di sini ada nyamuk hitam kecil. Orang-orang menyebutnya nyamuk kecil. Nyamuk itu sulit terlihat oleh mata, tetapi begitu ia menggigit, kita akan merasa entah apa yang menggigit. Orang yang tidak tahu jenis serangga ini tidak akan tahu bahwa itu adalah serangga. Bentuknya begitu kecil. Namun, meski sangat kecil, tetapi jika kita tidak sengaja memukulnya, itu sama saja. Kita tidak menyadari tindakan kita, reaksi kita, dan interaksi kita dengan lingkungan sekitar. dan interaksi kita dengan lingkungan sekitar. Makhluk hidup lain juga ingin bertahan hidup. Untuk bertahan hidup, mereka harus mengisap darah manusia. Jadi, kita pun bereaksi. Saat nyamuk menggigit kita, kita akan memukulnya. Apakah ini merupakan kesalahan? Perbuatan ini sangat ringan dan kerap tidak disadari. Penggalan ini meminta kita agar tidak meremehkan makhluk sekecil apa pun.
Kita tetap harus menghormati makhluk hidup. Kita harus selalu meningkatkan kewaspadaan dan mengembangkan cinta kasih. Rasa hormat dan cinta kasih harus senantiasa kita kembangkan. Terhadap makhluk kecil sekalipun, kita juga harus mengembangkan cinta kasih. Penggalan ini mengatakan bahwa di dalam keseharian kita sering kali diliputi kebodohan. Kita sering kali melakukan aktivitas tanpa kesadaran penuh. Ini yang disebut belenggu kebodohan. Kita terjerat oleh ketidaksadaran. Dalam hal apa pun, kita kerap bereaksi cepat tanpa sadar. Saat makhluk lain sedikit melukai kita, kita langsung membunuh mereka. Ini dilakukan tanpa sadar dan merupakan karma buruk membunuh.
Meski yang dibunuh tidaklah besar, tetapi akibatnya pasti akan tiba. Jika bukan pada kehidupan saat ini, maka mungkin akan terakumulasi sejak masa tanpa awal hingga berbagai kehidupan di masa depan. Jadi, kita sering berkata, “Siapakah yang tak pernah berbuat kesalahan?” Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Contohnya, memukul nyamuk. Manusia berani berkata, “Memangnya kamu tidak pernah?” Saya mungkin juga pernah. Tiba-tiba, entah apa yang terasa, kita langsung bereaksi dan mengusirnya. Mungkin saja nyamuk itu sudah mati. Reaksi kita sangat cepat tanpa disadari. Jadi, kita juga pernah melakukannya. Ini akan terus terakumulasi. Jadi, tadi saya sudah mengatakan bahwa melatih diri berarti mengembangkan kebiasaan. Singkat kata, kita semua pernah melakukan kesalahan baik disadari maupun tidak disadari. Kita mungkin membunuh makhluk hidup secara sadar. Makhluk hidup memiliki dunia masing-masing. Banyak dari mereka yang hidup di lubang. Jika kita tidak mengusik mereka, mereka juga tak akan mengganggu kita. Contohnya, dahulu anak-anak suka bermain dengan menyiram jangkrik. Ini dimulai oleh orang dewasa dan diteruskan dari generasi ke generasi. Di dalam gundukan tanah, biasa dikatakan ada jangkrik yang tinggal. Bagaimana agar jangkrik itu keluar? Mereka menyirami lubang di tanah itu hingga jangkrik benar-benar keluar. Anak-anak merasa ini menyenangkan. Mereka menganggap makhluk hidup sebagai mainan. Kebiasaan ini terus diturunkan. Inilah yang berlaku di zaman dahulu.
Anak zaman sekarang sangat beruntung. Mereka tidak perlu lagi main di tanah. Namun, mereka harus tetap mengembangkan rasa hormat terhadap kehidupan. Saat mengetahui di dalam lubang atau di dalam tanah ada binatang, janganlah kita merusaknya. Jika kita sengaja merusaknya, maka ini adalah pembunuhan yang disengaja. Tadi kita membahas saat digigit nyamuk atau digigit semut, atau digigit semut, manusia langsung bereaksi dan memukul. Selain itu, saat melihat kumpulan semut, manusia suka menyiramnya dengan air. Kadang kita berpikir bahwa semut-semut takut terhadap air sehingga kita menyiramnya. Kita sering melihat bencana banjir, saat bencana banjir datang, bukankah manusia sama dengan semut? Rumah-rumah manusia bagaikan sarang semut. Rumah-rumah manusia bagaikan sarang semut. Saat banjir datang, Saat banjir datang, Rumah-rumah manusia juga mudah hanyut bagai mainan. Saat banjir menerjang, rumah-rumah pun rusak. Kita melihat manusia berlarian saat banjir bandang datang. Kadang banyak orang tidak sempat lari. Ini sama seperti saat manusia ingin mengusir semut. Mereka menyiramkan seember air. Yang dirasakan oleh semut mungkin sama Yang dirasakan oleh semut mungkin sama seperti saat manusia dilanda banjir besar atau tsunami.
Jadi, di dalam keseharian, kita harus selalu menghormati makhluk hidup dan dunia mereka. Buddha mengatakan adanya Tiga Ribu Dunia. Apakah kita perlu membahas planet-planet lain selain Bumi? Tidak perlu. Setiap makhluk memiliki dunia masing-masing. Ada berapa jenis makhluk di Bumi ini? Tidak dapat dihitung. Jadi, terhadap dunia yang tak terhitung ini, kita harus menghormati dan menjaganya. Dengan demikian, barulah Bumi ini akan damai dan tenteram. Dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus mempelajari Jalan Bodhisattva. Kita harus meyakini bahwa semua makhluk memiliki dunianya masing-masing.
Berhubung kita ingin belajar menjadi Bodhisattva, maka kita harus memiliki cinta kasih berkesadaran. Apa pun bentuk makhluk hidup itu, semuanya ingin hidup dan takut mati. Jika ingin manusia hidup tenteram dan tidak terusik oleh makhluk lain, maka kita juga tak boleh mengusik mereka. Karena itu, kita sering mengatakan bahwa asalkan tempat tinggal kita rajin kita bersihkan, rajin kita bersihkan, rajin kita bersihkan, maka kecoak, semut, atau tikus tidak akan datang. Jika mereka tidak datang, maka kita tidak akan mencelakai mereka secara tidak sengaja. Kita juga tidak akan membasmi mereka secara sengaja. Jadi, kita harus berusaha menghindari tindakan sengaja yang mencelakai. Kita harus mengembangkan cinta kasih berkesadaran untuk mengasihi semua makhluk hidup. Kita ingin mengasihi semuanya, tetapi mereka terus membuat kekacauan di lingkungan tempat tinggal kita. Lalu bagaimana? Dapatkah kita tidak membasminya? Jangan sampai mereka muncul, baru kita ingin membasmi. Kita harus selalu menjaga kebersihan lingkungan kita. Dengan begitu, mereka tak akan datang. Lihatlah insan Tzu Chi. Mereka sering membantu kakek-nenek atau orang yang berketerbatasan fisik untuk membersihkan rumah. Saat mereka membersihkan rumah, kecoak, tikus, bahkan ular pun ada. Apa yang harus mereka lakukan? Saya sering melihat mereka hanya mengusirnya. Dengan cinta kasih, mereka membiarkan hewan-hewan itu berkesempatan untuk kabur dan kembali ke lingkungan masing-masing. dan kembali ke lingkungan masing-masing. Dengan begitu, kita melindungi kualitas hidup satu orang, bahkan satu keluarga. Ini didasari oleh cinta kasih dan kesadaran. Kita tak akan membunuh kecoak. Saat para relawan melakukan pembersihan, kita sering merekamnya. Mereka melakukannya dengan cinta kasih. Inilah cinta kasih berkesadaran. Inilah cinta kasih berkesadaran. Mereka mengasihi semua makhluk dan memberi kesempatan untuk hewan-hewan itu pergi. Terhadap manusia, mereka melindungi kehidupan. Terhadap makhluk lain, mereka membebaskan kehidupan.
Jadi, kita harus memiliki cinta kasih Bodhisattva. Ini juga merupakan pahala. Kita harus selalu mengembangkan pahala cinta kasih kita. Jadi, mengenai memukul serangga atau menangkap kutu, entah itu kecoak ataupun yang lainnya, kita tidak perlu mengusik makhluk lain dengan menyirami air di sarangnya. Mereka memang sudah tinggal di sana. Untuk apa kita mengusik atau membasmi mereka? Tidak perlu. meski mereka hanya makhluk kecil, tetapi jangan kita sengaja membunuh mereka atau membakar sarang mereka. Saat melihat semut begitu banyak, Saat melihat semut begitu banyak, atau melihat sarang semut, di rerumputan, ranting, atau kayu kering, kita lalu mencari cara untuk membubarkan mereka. Namun, kita takut mereka bersarang di tempat lain. lalu kita memilih untuk membakarnya. lalu kita memilih untuk membakarnya. Ini juga tidak baik.
Kita hanya perlu mengguncang-guncangkan sedikit dan memberi mereka waktu untuk kabur. Begitulah seharusnya. Singkat kata, kehidupan yang kecil juga tak boleh kita remehkan karena kita adalah Bodhisattva. Kita harus melindungi semua makhluk hidup. Karena itulah, kita harus terus mengembangkan cinta kasih kita. Berikutnya dikatakan, “Adakalanya memakan buah, mengonsumsi padi-padian, memakan sayuran sehingga membunuh makhluk hidup.” “Adakalanya membakar kayu bakar.” Ini bercerita tentang keseharian kita. Saat kita makan buah pun demikian. Kadang terdapat ulat pada buah. Lalu bagaimana? Bagaimana kalian mengusir ulat itu? Bagaimana kalian mengusir ulat itu? Ini bergantung pada kebijaksanaan kalian. Sebagai Bodhisattva, kalian harus menggunakan kebijaksanaan. Bagaimana caranya? Ada orang yang menemukan ulat saat memakan buah, lalu langsung membunuhnya. Begitu pula padi dan beras. Kadang terdapat kutu pada beras.
Lalu bagaimana? Kita lalu mencuci beras itu terus-menerus dengan air. Apa yang terjadi dengan kutu itu? Apa yang terjadi dengan kutu itu? Tentu ia akan mati. Bukankah ini berlebihan? Kita harus berusaha untuk selalu menjaga kesegaran makanan. Jangan menyimpan beras terlalu lama hingga dipenuhi kutu. Ini tidak baik bagi kesehatan kita dan tidak baik bagi makhluk hidup kecil. Bagaimana kita mengaturnya? Kita harus menjaga kesegarannya. Kalau sampai ada kutu, bagaimana? Kita harus memberinya waktu. Kita membuka wadah sebentar, lalu menggetarkannya lalu menggetarkannya agar makhluk hidup di dalamnya memiliki waktu untuk keluar dan kabur. memiliki waktu untuk keluar dan kabur. Jika tidak, kita tidak tahu apakah harus membuang beras itu atau bagaimana. Kita tidak tahu. Jadi, kita harus menggunakan cinta kasih dan kebijaksanaan untuk mengurus berbagai hal dalam keseharian. Ini tentu sulit untuk dihindari.
Namun, banyak juga orang yang membunuh apa pun. Melihat hewan apa pun, dia langsung membunuhnya, terlebih hewan-hewan kecil yang sering ada dalam keseharian kita. Saat di dalam sayur yang kita makan ada ulat sayur, ada ulat sayur, lalu bagaimana? Jadi, kita harus bersungguh hati. Kita hendaknya memberi waktu agar binatang itu pergi. Begitu pula saat membakar kayu bakar. Begitu pula saat membakar kayu bakar. Tadi kita juga sudah membahas bahwa kadang pada kayu bakar bisa terdapat sarang semut atau ada serangga tertentu. Sebelum membakarnya, kita harus menggerak-gerakkannya terlebih dahulu agar para serangga ini tahu bahwa kita ingin memasukkan kayu itu ke dalam tungku. Dengan begitu, mereka juga memiliki waktu untuk menyelamatkan diri. Saat melihat sarang serangga, janganlah kita melempar kayu itu ke dalam tungku begitu saja. Begitu pula saat melihat sarang semut. Jika kita melakukan itu, itu berarti kesengajaan. Jadi, tadi kita sudah membahas tentang mengembangkan pikiran berpahala. Pikiran ini harus dikembangkan dalam keseharian. Ia berasal dari hati Buddha. Selama di dalam hati kita ada Buddha, maka kita akan mengembangkan pahala. Pahala ini ada dalam berbagai hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Ini sungguh tak terbayangkan. Kita harus mengasihi semua makhluk hidup dan melindungi kehidupan. Jika kita dapat selalu menjaga kewaspadaan, bukankah pahala kita akan menjadi tak terbayangkan? Apakah kalian yakin? Jika ya, barulah kita dapat mengembangkannya.
Jadi, segala pahala dalam jalan pelatihan berawal dari keyakinan. Kita harus yakin. Kita sering mengatakan bahwa Sutra Makna Tanpa Batas adalah acuan mazhab Tzu Chi. Kita harus sungguh-sungguh merenungkan dan memahaminya agar kita dapat membangkitkan Bodhicitta. Jadi, Sutra ini juga sangat luar biasa. Jika ingin memahami lebih banyak, pelajarilah Syair Pertobatan Air Samadhi atau Pertobatan Kaisar Liang. Dari sana, kita akan dapat lebih memahami dunia makhluk hidup. Jika tidak waspada, kita akan mencelakai banyak makhluk hidup. Ini juga harus lebih kita pahami. Saudara sekalian, kita harus selalu bersungguh hati untuk menjaga pikiran kita.