Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-408-Peduli Terhadap Semua Makhluk

Saudara se-Dharma sekalian, dalam aktivitas sehari-hari, kita harus bersungguh hati. Kita harus peduli pada makhluk kecil sekalipun. Kita harus senantiasa mengembangkan hati yang lapang. Kita harus mawas diri dalam tindakan kita. Artinya, ini memberi tahu kita semua bahwa dalam hidup, kita tentu harus bekerja. Namun, dalam pekerjaan apa pun, kita harus sangat berhati-hati. Dalam beraktivitas, saat tangan bekerja, hati harus memperhatikan dengan saksama. Jika tidak, kelengahan sedikit saja mungkin membawa penyesalan. Jadi, dalam beraktivitas sehari-hari, kita harus sangat bersungguh hati. Kita harus peduli pada makhluk hidup kecil. Saya teringat kisah Zhuang Zi dan temannya yang berjalan di tepi sebuah sungai. Mereka melewati sebuah jembatan. Di sana mereka berhenti sejenak. Mereka melihat air sungai yang jernih dengan ikan di dalamnya. Ikan berenang dengan bebas, terkadang melompat dan masuk kembali ke dalam air. Ikan-ikan bagai bermain di dalam air. Zhuang Zi berdiri di sana dan berkata, “Sungguh gembira.” Temannya bertanya, “Bagaimana kamu tahu?” “Apa yang gembira?” Zhuang Zi menjawab, “Ikan sangat gembira.” Temannya itu membalas, “Kamu bukan ikan, bagaimana kamu tahu?” Zhuang Zi balik bertanya, “Kamu pun bukan saya, bagaimana kamu tahu bahwa saya tidak tahu ikan gembira?” Benar. Kondisi batin setiap orang berbeda-beda. Teman Zhuang Zi juga adalah manusia. Antarmanusia saling tidak mengetahui apakah pihak lain gembira atau tidak. Terlebih lagi,  apakah makhluk lain selain manusia gembira, sejujurnya kita juga tidak tahu.

Namun, kita bisa mengira-ngira dan mencoba berempati. Saat terjadi topan, kita sangat khawatir. Saat itu, ke mana burung-burung terbang? Apakah mereka aman? Saat topan berlalu, kita merasa tenang. Kita juga dapat mendengar suara burung. Dari sana kita tahu mereka sangat gembira. Jadi, kita harus berempati. Kita harus peduli. Meski makhluk hidup itu kecil, tetapi kita harus tetap bersungguh hati dan peduli terhadap mereka. dan peduli terhadap mereka. Kita juga sudah pernah membahas bahwa di dalam kehidupan, jika tidak hati-hati, kita juga dapat melakukan pembunuhan secara tidak sengaja. Jadi, dalam aktivitas apa pun, kita harus sangat memperhatikannya. Apa pun yang kita lakukan, berhubung kita tengah melatih diri, maka yang terpenting adalah mengembangkan hati yang lapang karena manusia adalah makhluk tercerdas.

Jadi, hanya manusia yang dapat mengembangkan kelapangan hati. Kita dapat memahami berbagai hal di dunia. Jadi, hati dan pikiran kita hendaknya dibuka lebih luas hendaknya dibuka lebih luas hingga seluas jagat raya. Terlebih lagi, terhadap semua makhluk, bagaimana boleh kita tidak memahami? Jadi, kita harus berempati. Kondisi hidup seperti apa yang kita harapkan, demikian pula yang harus kita pikirkan demi makhluk hidup lain yang kecil sekalipun. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati dan mawas diri. Kita harus memahami bahwa dunia makhluk hidup sangatlah luas. Lebih baik kita bersungguh hati dalam segala aktivitas kita. Dalam segala hal, kita harus mawas diri. Saat menyapu di pagi hari, jika melihat makhluk hidup kecil, kita harus berbelas kasih. Kita harus lembut sedikit agar tidak menakuti mereka. Jangan sampai kita mencelakai mereka. Inilah kesungguhan hati. Terhadap manusia, kita harus mawas diri. Terhadap semua makhluk, kita juga harus mawas diri. Ini harus ada dalam aktivitas kita.

Dalam jangkauan mata kita, dalam genggaman tangan kita, segala yang kita lakukan segala yang kita lakukan haruslah penuh sikap mawas diri. Jadi, saya sering berkata bahwa tubuh harus melakukan hal baik. Tubuh termasuk segala tindakan kita. Hati kita harus selalu berpikiran baik, yaitu pikiran yang penuh kesungguhan dan kewaspadaan. Mulut kita harus mengucapkan kata-kata baik. Ucapan baik dapat berpengaruh baik bagi pikiran orang lain dan  mengembangkan kebiasaan baik diri sendiri. Inilah pelatihan diri. Dalam segala aktivitas kecil dalam keseharian, kita harus bersungguh hati. Jadi, penggalan berikutnya menggambarkan saat Bhiksu Wu Da bertobat dan mencuci “luka wajah manusia” di kaki Gunung Jiulong. Beliau mengetahui karma yang dibawanya selama sepuluh kehidupan.

Di sana beliau memutuskan untuk mendirikan pondok dan menulis teks pertobatan. Selain menghormat pada Buddha dengan tulus setiap hari dan bertobat secara terbuka, beliau juga terus merenung dengan sungguh-sungguh. Buddha sangat menghormati kehidupan. Saat Ananda mengambil semangkuk air, Buddha berkata, “Ananda, air ini tak dapat diminum.” “Mengapa,” tanya Ananda. “Air ini begitu bersih, mengapa tidak boleh diminum?” Buddha menjawab, “Di dalam air ini ada 84.000 mikroorganisme.” Lihatlah, Buddha begitu bersungguh hati. Dengan mata-Nya, Beliau mampu melihat 84.000 organisme di dalam semangkuk air. Jadi, saat menulis teks pertobatan, Bhiksu Wu Da juga sangat bersungguh hati terhadap makhluk hidup kecil. Dalam kehidupan sehari-hari, zaman dahulu tidak ada lampu listrik, hanya ada lampu minyak. Saat menulis teks pertobatan, Bhiksu Wu Da melakukannya pada malam hari. Saat menulis, beliau melihat ada sejenis serangga yang akan mendekat saat melihat api. saat melihat api. Setiap kali serangga jenis itu mendekat, pasti ia akan terluka atau bahkan mati.

Jadi, di dalam teks pertobatan, Bhiksu Wu Da juga menulis, “Adakalanya menyalakan lilin hingga membakar serangga.” Berikutnya dikatakan, “Saat mengambil saus atau cuka, tidak digerak-gerakkan; adakalanya menyebabkan air bocor sehingga membunuh serangga.” “Demikianlah dalam empat tata krama, yakni berjalan, berdiam, duduk dan berbaring kerap mencelakai makhluk hidup kecil di tanah ataupun udara.” Bukankah ini berlaku dalam kehidupan kita? Lihatlah, selain melukai serangga yang mendekat saat ada api pada lampu minyak, ada pula hewan kecil lain yang sering ditemui di dapur. Di dapur, saat kita memasak, tentu akan menggunakan minyak, cuka, gula, garam, dan sebagainya. Saat menggunakan semua itu, kita juga harus sangat hati-hati. Saat mengambil botol, kita harus menggerak-gerakkannya. Kadang kita agak ceroboh. Mungkin saja tempat gula, botol cuka, atau botol kecap tidak dilap bersih. Semut atau serangga lain bisa datang karena adanya aroma dari sana. jadi, saat mengambil botol-botol itu atau saat akan menggunakan saus-saus tadi, kita mungkin menemukan serangga di dalamnya.

Tahukah kalian jika acar dibiarkan terlalu lama juga akan dipenuhi serangga? Kebersihan harus dijaga dengan baik. Bagian luar botol harus tetap bersih. Saat digunakan, periksalah apakah di dalamnya ada ulat atau serangga kecil, seperti nyamuk. seperti nyamuk. Semua ini harus kita perhatikan. Kita harus menggerak-gerakkannya sebentar agar makhluk hidup kecil ini segera pergi, baru kemudian kita gunakan. Jika tidak kita gerak-gerakkan terlebih dahulu, maka mungkin ada banyak binatang kecil yang mati akibat aktivitas kita. Saat kita ingin menyiram tanah dengan air, kita juga harus melihat sejenak apakah ada hewan kecil di tanah seperti semut dan sebagainya.

Janganlah kita saat melihat kumpulan semut atau banyak serangga seperti kecoak, malah sengaja menyiramkan air. Kita juga telah membahas berbagai aktivitas harian kita. Bahkan, saat akan berbaring dan tidur, kita harus terlebih dahulu merapikan tempat tidur kita. Jika tidak, mungkin saja ada kutu. Dahulu, saat lingkungan tidak begitu baik, nyamuk juga banyak. Di zaman pendudukan Jepang, sebelum Taiwan kembali ke tangan Tiongkok, entah akibat faktor kebersihan atau cuaca, entah akibat faktor kebersihan atau cuaca, banyak perempuan mengalami kutu rambut. Tubuh laki-laki juga dipenuhi kutu. Tubuh laki-laki juga dipenuhi kutu. Kutu juga sering ada pada pakaian ataupun selimut.

Jadi, Mahabhiksu Wu Da dalam teks ini juga memberi tahu kita bahwa dalam keseharian kita, baik pakaian, selimut, maupun yang lainnya harus senantiasa dijaga kebersihannya. Jangan biarkan kutu atau serangga dan makhluk kecil lainnya sampai datang, baru kemudian kita bersihkan. Jika demikian, akan melukai welas asih kita. Meski yang kita celakai adalah makhluk hidup kecil, tetapi yang utama, kita telah melukai welas asih kita. Jadi, dalam kehidupan sehari-hari, dalam pekerjaan dan aktivitas apa pun, kita harus sangat berhati-hati. Terlebih lagi, dalam empat tata krama. Empat tata krama kita sudah memahaminya, yaitu berjalan, berdiam, duduk, dan berbaring. Begitu pula dalam berucap dan bertindak; dalam menghadapi orang dan masalah. Sikap kita tak lepas dari empat tata krama. Kita pun kerap melukai atau membunuh makhluk hidup di udara atau pun di atas tanah. Semua ini ada dalam keseharian. Semua ini ada dalam keseharian. Jika kita kurang memperhatikan, maka saat berjalan di luar, maka saat berjalan di luar, mungkin  ada nyamuk menggigit kita, lebah menyengat kita, atau binatang lain menggigit kita. Hewan kecil di udara sangat banyak. Jika tidak berhati-hati, mungkin kita akan digigit. Tentu, digigit nyamuk tidaklah baik. Saat relawan Tzu Chi akan pergi ke daerah bencana, saya berpesan agar mereka menjaga diri. Selain memperhatikan makan dan minum, saya berpesan jangan sampai mereka terkena gigitan nyamuk. Bagaimana caranya? Apakah saat ada nyamuk menggigit, kita langsung menepuknya? Jika sudah digigit, meski kita menepuk nyamuk itu, bekas gigitan tetap ada. Jika ada kuman penyakit yang ditularkan lewat nyamuk itu, maka setelah digigit kita tetap tertular. Apa gunanya menepuknya? Kita harus melakukan antisipasi. Jangan sampai kita mencelakai diri kita. Tentu, kita juga tidak mencelakai makhluk lain. Tentu, kita juga tidak mencelakai makhluk lain. Jadi, kita harus waspada dan mengantisipasi makhluk hidup kecil. Pertama, lingkungan kita harus dijaga kebersihannya. Semakin bersih, serangga semakin sedikit. Kedua, diri kita sendiri juga harus bersih. Jika tubuh kita bersih, maka serangga tak akan mendekat.

Pada tubuh kita, untuk mencegah datangnya serangga, di masa kini juga ada cara tertentu. Kita bisa melakukan antisipasi dengan mengenakan lengan panjang. Para anggota Sangha selalu mengenakan jubah tertutup. Yang terbuka hanyalah bagian kepala dan wajah. Kesempatan bagi nyamuk untuk untuk menggigit pun lebih sedikit. Janganlah mengenakan rok mini atau pakaian yang terbuka pada bagian punggung. Dengan begitu, nyamuk juga lebih tidak berkesempatan untuk menggigit. Singkat kata, diri sendiri harus melakukan antisipasi. Jadi, di zaman dahulu, para praktisi yang tinggal di gunung-gunung, saat melatih diri, juga harus sangat berhati-hati. Contohnya, saat mengambil air atau mengambil kayu bakar, mereka tetap harus hati-hati. Yang pertama harus diperhatikan adalah diri sendiri jangan sampai merusak sarang semut atau sarang serangga lain. Diri sendiri juga harus hati-hati saat berjalan. Mereka harus memperhatikan setiap langkah. Saat ingin memungut ranting pohon, mereka juga harus berhati-hati dan memperhatikan apakah ada semut di sana. Mereka harus menggerak-gerakkannya terlebih dahulu. Saat melihat dahan kering dan ingin menebangnya, mereka harus memeriksa adakah sarang lebah atau benda lain di sana. Mereka harus selalu berhati-hati. Saat akan mengambil air, mereka akan menggunakan sehelai kain untuk menyaringnya sebelum dikonsumsi. Bukankah Buddha juga menetapkan aturan seperti ini? Saat mengikuti penahbisan,  guru sila akan memberi kita sebuah mangkuk, sikat untuk membersihkan mangkuk, dan sehelai kain putih.

Inilah yang tadi kita bahas. Buddha melihat pada semangkuk air terdapat 84.000 mikroorganisme. Lalu bagaimana? Buddha mengajari Ananda untuk menyaring dengan kain putih. Setelah digunakan untuk menyaring, kain itu harus dicuci di sumber air. Artinya, ini memberi tahu kita semua bahwa meski kita tidak bisa melihat mikroorganisme, tetapi setelah kita menyaringnya, mikroorganisme yang tersaring harus dikembalikan kembali ke air karena mereka pada dasarnya memang hidup di air. Meski kita tak dapat melihatnya, tetapi pikiran kita harus sangat teliti dan bersungguh-sungguh. Jadi, air harus disaring untuk  mencegah pembunuhan mikroorganisme. Inilah cara dalam menggunakan air. Kita harus menyaringnya terlebih dahulu. Inilah yang dilakukan para petapa di masa lalu. Saya rasa Mahabhiksu Wu Da juga menggunakan cara ini untuk mewaspadai pikirannya. Saudara sekalian, dengan kebijaksanaan-Nya, Buddha dapat melihat berbagai kehidupan di dalam air. Kita sebagai makhluk awam, melihatnya hanya sebagai air jernih. Namun, di mata seorang Buddha, terlihat bahwa di dalam air terdapat banyak mikroorganisme yang tak terlihat secara kasatmata. Buddha dapat melihatnya.

 

Jadi, Mahabhiksu Wu Da menenangkan pikirannya untuk menulis Syair Pertobatan Air Samadhi. Beliau sangat bersungguh hati dalam kehidupan sehari-hari. Kita makhluk awam memiliki pengetahuan yang dangkal. Karena itu, banyak hal yang tak kita sadari. Jadi, mulai hari ini kita harus bertobat atas semua kesalahan secara terbuka. Jadi, kita semua harus senantiasa waspada dalam segala perbuatan. Setiap hari, kita sulit terhindar dari kesalahan. Jadi, setiap hari pula kita harus bertobat. Entah adakah kita melakukan kesalahan, adakah pikiran kita bergejolak, kita tetap harus selalu bertobat. Kita harus bersungguh hati dan mawas diri dalam segala aktivitas. Jadi, harap semua lebih bersungguh hati.                          

Leave A Comment