Sanubari Teduh

Sanubari Teduh-409-Membina Berkah dan Kebijaksanaan dengan Welas Asih

Saudara se-Dharma sekalian, kita harus selalu rendah hati, janganlah bersikap sombong dan menindas yang lemah Di dalam bagian pahala pertama Sutra Makna Tanpa Batas juga dikatakan, “Membangkitkan cinta kasih bagi yang tak memiliki cinta kasih; membangkitkan welas asih bagi yang gemar membunuh; membangkitkan rasa sukacita bagi yang dengki; membangkitkan keseimbangan batin bagi yang penuh kemelekatan.” Penggalan ini adalah ajaran Buddha kepada kita. Manusia mudah untuk lupa atas apa yang telah dipelajari dan didengar. yang telah dipelajari dan didengar. Meski mengaku mempelajari ajaran Buddha dan serius mendengarkan Sutra, tetapi manusia sangat mudah lupa. Jadi, kita harus selalu mengingatkan diri dan harus selalu berintrospeksi. Kita harus mengingatkan diri agar tidak sombong. Kita tidak boleh menindas yang lemah.

Inilah yang insan Tzu Chi sering katakan, yaitu kita harus mengecilkan ego diri sendiri dan harus menghormati orang lain. Jadi, jika kita dapat mengecilkan ego, tidak sombong atau angkuh, maka kita akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk menerima ajaran dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat mengembangkan cinta kasih. Ada orang yang yang sejak lama tidak tahu apa yang dimaksud cinta kasih. Di dalam Sutra Makna Tanpa Batas, dari bab Sifat Luhur hingga Pembabaran Dharma, kita terus dibimbing. Kita seharusnya sudah tahu cara mengubah bencana menjadi berkah; mengubah kebodohan menjadi kebijaksanaan; bagaimana mengembangkan berkah dan kebijaksanaan. Orang yang tak memiliki cinta dan welas asih, bagaimana mungkin menciptakan berkah? Jadi, dikatakan, “Membangkitkan cinta kasih bagi yang tidak memiliki cinta kasih.” Kita harus menyerapnya ke dalam hati. Mulanya, kita tak memiliki sedikit pun cinta kasih terhadap semua makhluk.

Setelah mempelajari ajaran Buddha, perlahan kita mulai menyerap Dharma ke dalam hati. Dengan begitu, di dalam hati kita cinta kasih sudah mulai tertanam. Saat melihat kondisi luar, reaksi kita yang muncul adalah cinta kasih. Cinta kasih agung adalah harapan Cinta kasih agung adalah harapan agar segala kondisi penuh keharmonisan dan semua makhluk hidup berbahagia. Inilah cinta kasih yang telah tertanam di lubuk hati kita. Jadi, menghadapi kondisi luar, kita selalu memiliki harapan dan ingin bersumbangsih. “Membangkitkan welas asih bagi yang gemar membunuh.” Berhubung kita berharap semua makhluk hidup bahagia dan masyarakat harmonis, tentu niat untuk membunuh dengan sendirinya akan teredam, bahkan perlahan lenyap. Kita dapat mengembangkan welas asih. Jika kita dapat membuang kebiasaan buruk suka membunuh, maka welas asih kita akan tumbuh.

Welas asih atau empati yang turut merasakan luka dan penderitaan orang lain kita berikan kepada semua makhluk. Semua makhluk adalah satu kesatuan dengan diri kita. Bagaimana kita tega melukai mereka? Dengan demikian, batin kita mengembangkan welas asih  dan tidak tega mencelakai makhluk hidup. Orang yang memiliki rasa iri hati yang besar hendaknya membangkitkan rasa sukacita. Orang yang iri hati, saat melihat orang lain  berhasil dan terwujud keinginannya, akan merasa risau. “Ketenaran dan keuntungan yang dia capai, mengapa bukan saya yang memilikinya?” “Segala harapan yang terwujud, mengapa bukan milik saya?” Rasa dengki pun timbul dalam batinnya. Dia iri terhadap kemampuan dan kepandaian orang lain. Mendengar orang lain dipuji, dia merasa, “Mana mungkin sehebat itu?” Orang yang dipuji memang baik dan berpengendalian diri baik. Dia sangat lapang dada. Orang-orang memujinya. Lalu, timbul rasa iri dalam batin kita. Kita seharusnya turut berbahagia. Pencapaian orang lain adalah pencapaian kita. Orang lain memiliki respons cepat dan sangat cekatan dalam bekerja. Segala yang dikerjakan selesai dengan baik. Kita harus membangkitkan rasa hormat. Bagaimana boleh kita merasa iri? Sikap iri hati terhadap kemampuan orang ini sungguh membawa penderitaan. Kita harus mengembangkan rasa turut berbahagia. Kita harus menganggap keberhasilan orang sebagai keberhasilan Bersama.

Orang lain sangat memiliki kemampuan, maka kita harus membangkitkan rasa hormat dan membangkitkan rasa sukacita. Inilah sikap turut berbahagia. “Membangkitkan keseimbangan batin bagi yang penuh kemelekatan.” Jika terjebak dalam nafsu dan kemelekatan, maka karakter sebagai manusia akan mengalami kejatuhan. Tidak mudah menjadi manusia yang berkarakter baik dan menjadi teladan. Jika kita terjebak dalam nafsu keinginan, nafsu antara pria dan perempuan, ketenaran, kedudukan, dan sebagainya, maka karakter apa lagi yang dipertahankan? Jadi, dalam melatih diri, kita harus menjaga kemurnian batin. Pikiran kita harus tulus dan lurus.

Dengan demikian, segala nafsu keinginan terhadap kondisi luar akan dapat dilenyapkan. Kita dapat mendorong pencapaian orang lain dan menjaga orang lain. Saat orang lain berhasil, kita turut bergembira. Jika kita dapat menjalankan cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin, bukankah ini yang disebut empat pikiran tanpa batas? Dengan demikian, Jalan Bodhisattva akan terasa lapang. Dengan begitu, segala hal akan dapat diatasi, tiada yang merintangi kita. Berikutnya dikatakan, “Selain itu, sejak masa tanpa awal hingga kini adakalanya dengan cambuk, tongkat, rantai, atau alat untuk menekan, menarik, menghempas, memukul, serta  menghancurkan tangan dan kaki makhluk lain.” Penggalan ini menjelaskan kepada kita bahwa manusia sangat sombong dan angkuh. Entah sejak kapan, dikatakan sejak masa tanpa awal, sejak kita dilahirkan, mungkin sejak kehidupan lampau yang tak terhitung banyaknya, kesombongan dan tabiat buruk sudah tertanam di dalam kesadaran kedelapan kita. Dari kehidupan lampau, kita membawanya ke kehidupan sekarang. Karena itu, dikatakan sejak masa tanpa awal hingga saat ini. Ini karena belenggu kesombongan kita Ini karena belenggu kesombongan kita membuat kita menjadi angkuh saat menghadapi orang dan masalah dalam kehidupan sehari-hari. dalam kehidupan sehari-hari. Ini membuat kita membuat kesalahan. Kesombongan termasuk akar kejahatan. Ini sudah ada sejak kita lahir. Semua ini bermula dari kesombongan.

Jadi, kita harus selalu memperhatikan ini. “Dengan cambuk, tongkat, rantai.” Bayangkan, kadang terhadap hewan, ada orang yang begitu melihat saja merasa angkuh dan sewenang-wenang. Melihat hewan mendekat, misalnya anjing atau yang lainnya, mereka langsung memukul dengan tongkat atau mengikat dengan tali atau rantai. Ini bermula dari kesombongan. Mereka merasa manusia bebas mengendalikan segala hewan. Ini sungguh tidak benar. Perbuatan dengan cambuk, tongkat, atau rantai ini menunjukkan bahwa manusia  sungguh angkuh dan sombong. Dengan begitu, mereka menindas yang lemah. Inilah kesombongan. Mereka menggunakan alat untuk menekan atau menarik. Lihatlah bagaimana manusia menghukum hewan.

Ada orang yang berlaku kejam terhadap binatang, bahkan terhadap sesama manusia. Kita sering mendengar manusia diculik atau disandera. Disandera di tempat seperti apa? Ini bagaikan menghukum. Si sandera dipaksa menandatangani cek atau menyebutkan kode sandi rekening bank. Kadang kita melihat siaran berita. Melihatnya, kita merasa ngeri. Kita merasa bagaimana mungkin manusia bertindak seperti itu. Mereka sangat kejam. Kekejaman ini juga berawal dari kesombongan. Jadi, mereka menggunakan berbagai alat untuk memukul atau menghempas. Dengan alat-alat tertentu, si sandera dicengkeram dan dihempaskan. Selain itu, baik memukul dengan tangan maupun menendang dengan kaki, semua adalah tindakan kejam. Manusia memberikan beragam hukuman kepada sesama ataupun makhluk lain. Bukan hanya tidak memiliki belas kasih, mereka juga gemar membunuh. Manusia dengan mudahnya membunuh atau menindas makhluk lain. Jadi, kita harus mengembangkan cinta dan welas asih. Untuk itu, kita harus terlebih dahulu menaklukkan kesombongan. Dengan begitu, baru cinta kasih , welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin tumbuh. Jadi, kita harus memperhatikan berbagai hal di dalam kehidupan sehari-hari. Berikutnya dikatakan, Penggalan ini juga sangat gamblang.

Demikian juga, mengikat membuat orang tidak bebas. Selain itu, manusia juga suka mengurung hewan dalam kandanga. Ini bagaikan narapidana yang berbuat salah dijebloskan ke dalam penjara. Hidupnya terbatas dalam lingkup kecil. Dia dikelilingi oleh jeruji besi. Segala aktivitas seperti makan, tidur, dan lainnya dilakukan di tempat itu. Mereka sungguh kehilangan kebebasan. Jika manusia merasa kehilangan kebebasan, demikian pula dengan hewan saat dikurung dalam kandang, diikat dengan alat lain, bahkan tidak diberi minum bahkan tidak diberi minum ataupun makan. Pasokan air dan pakan dihentikan. Dengan berbagai cara yang jahat, manusia membuat semua makhluk menderita. Meski tidak memukuli mereka, tetapi manusia membatasi kebebasan mereka.

Meski Anda tidak memukulinya, tetapi jika ia tidak diberi makan dan minum, berarti Anda tidak peduli ia hidup atau mati. Ini juga merupakan kejahatan. Dengan berbagai cara, manusia membuat semua makhluk menderita. Semua ini adalah tindakan yang jahat. Tindakan yang jahat seperti ini, kini sejak hari ini, dengan hati yang paling tulus di hadapan Buddha, Dharma, dan Sangha, kita bertobat atas semuanya. Berapa banyak kejahatan kita di masa lalu? Saat menghadapi banyak rintangan kini, kita sering berkeluh kesah. Kepada siapa kita berkeluh kesah? Jika ingin mengeluh, mengeluhlah kepada diri sendiri. Entah berapa banyak kejahatan yang kita lakukan di masa lalu dan tidak kita sadari hingga kini. Baik kejahatan besar maupun kecil, semua pernah kita lakukan. Namun, kita tidak menyadarinya. Kita merasa kita boleh melakukan apa pun asalkan kita suka. “Saya tak akan membiarkan orang lain mengambil keuntungan dari saya.” “Saya harus se lalu di atas orang lain.” Sikap seperti ini tidak kita sadari. Orang lain mengeluh kepada kita. Kita menganggap hal ini adalah kesalahan orang lain, bukan kesalahan kita. “Saya melakukan hal sesuai prinsip, mengapa semua orang bilang saya salah?” Meski kita menjalankan hal sesuai prinsip, tetapi kita tidak menjaga keharmonisan. Kita tidak dapat berintrspeksi. Kita hendaknya berusaha agar cara kita dapat menyelesaikan masalah sesuai prinsip dengan tetap menjaga keharmonisan.

Kita tidak mempertimbangkan hal ini dan tidak berintrospeksi. Dengan demikian, kita mudah melakukan kesalahan dan bahkan terus merasa tidak bersalah serta menganggap orang lain yang salah. Ini tidaklah benar. Saya ceritakan sebuah kisah agar semua paham. Di era dinasti Ming ada seseorang bernama Liangchen. Orang ini amat pandai, tetapi miskin. Dia sangat berpengetahuan, tetapi keluarga sangat kekurangan. Dahulu ada sistem ujian negara yang menguji kepandaian dan pengetahuan orang. dan pengetahuan orang. Saat ujian negara tiba, orang-orang dapat berpartisipasi. Pengetahuan Liang Chen sangat baik, tetapi setelah beberapa kali ikut ujian, dia tidak pernah berhasil. Dia merasa tulisan atau karyanya pasti lulus, tetapi dia selalu gagal.

Dia memiliki sembilan orang anak, tujuh di antaranya meninggal di usia muda. Ada pula yang meninggal begitu dilahirkan. Ada pula yang meninggal saat masih kecil. Jadi, tujuh anaknya meninggal di usia muda, sedangkan seorang anaknya menghilang. Tiada yang tahu ke mana perginya. Jadi, yang tersisa hanyalah seorang putri. Putrinya ini sangat tertutup. Dia terus menutup diri dan tidak mau keluar rumah. Jadi, Liang Chen yang pandai ini, gagal dalam ujian berkali-kali. Anggota keluarganya pun meninggal satu demi satu. Dia merasa hal ini tidak adil. Hatinya penuh keluh kesah dan kegalauan. Berhubung pandai menulis, setiap tahun dia menggunakan kertas kuning untuk menulis bagi Dewa Dapur.

Di zaman dahulu Dewa Dapur banyak dipuja. Jadi, dia menuangkan semua kebencian dan kekesalannya. Dengan mengguanakan kertas kuning, dia menulis surat kepada Dewa Dapur tentang nasib dan perjalanan hidupnya. Dia bertanya mengapa dirinya menderita, mengapa dirinya yang pandai tidak kunjung lulus ujian. Dia terus mengeluh bahwa hidup tidak adil. Setelah beberapa tahun, suatu hari dia bermimpi bertemu Dewa Dapur dan berbicara dengannya. dan berbicara dengannya.

Liang Chen tahu bahwa itu adalah Dewa Dapur. Dia lalu mulai menumpahkan kekesalannya. “Saya belajar dengan keras sejak kecil.” “Sejak kecil saya belajar dengan rajin.” “Kini saya mengetahui semua hal.” “Karya tulis saya juga sangat baik.” “Saya dan teman saya juga membuka sanggar belajar.” “Di sana saya juga mengajar secara sukarela.” “Saya juga membantu orang menulis surat.” “Mengapa nasib saya begitu buruk “Mengapa nasib saya begitu buruk dan hidup saya penuh kesulitan?” Dewa Dapur mulai memberitahunya. Beliau berkata, “Ini karena pikiran burukmu.” “Meski di permukaan kamu terlihat sangat berpendidikan dan bertata krama; meski kamu terlihat telah banyak belajar dan berlaku sopan terhadap orang lain, dan berlaku sopan terhadap orang lain, tetapi pikiranmu penuh kecurigaan dan rasa iri.” “Kamu banyak mengeluh atas berbagai hal.” “Kamu membenci banyak hal di dunia.” “Terlebih, kamu juga gemar makan daging dan telah memakan banyak makhluk hidup.” “Kamu juga tidak menghargai hewan kecil dan gemar pergi memancing.” “Ini menciptakan banyak karma buruk.” Untuk mengubah nasib, ada satu cara. Gunakanlah kepandaianmu untuk membuat karya tulis yang baik. untuk membuat karya tulis yang baik. Tulis juga perjalanan hidupmu dengan jujur. Tulis juga perjalanan hidupmu dengan jujur.

 

Dengan begitu, kamu akan dapat mengeluarkan kekesalan dan pikiran burukmu. Setelah mendengarnya, Liang Chen terjaga. Dia mulai berintrospeksi. “Sungguh, pikiran saya setiap hari tidak ada satu pun yang baik.” Di permukaan dia terlihat berpendidikan, mengerti prinsip kebenaran, dan penuh tata krama. Namun, dia sering mencelakai orang lain secara diam-diam karena rasa iri. Dia merasa iri terhadap kemampuan orang. Akibatnya, karya yang ditulisnya selalu tidak bagus. Jadi, dia akhirnya mulai berubah dan bervegetaris. Saat pikiran buruk hendak muncul, dia segera bertobat di hadapan Buddha. Setelah beberapa tahun, di usianya yang senja, berkat tulisannya saat ujian negara, dia menjadi lulusan terbaik. Namun, selama beberapa tahun itu, dia berjuang meluruskan pikirannya. Meski menjadi lulusan terbaik, dia merasa reputasi dan keuntungan tidak berarti apa-apa. Usianya juga sudah lanjut. “Asalkan kepandaian saya diakui orang lain, itu sudah cukup.” Jadi, dia melepaskan jabatan dan kembali ke kampung halaman untuk mendampingi istri dan putrinya. Kemudian, anaknya juga melahirkan tujuh orang cucu yang sangat sehat. Dia juga mendampingi ibu angkatnya. Sejak kecil dia kehilangan orang tua. Orang lainlah yang membesarkannya. Dia mendampingi ibu angkatnya hingga tua. Jadi, dari kisah ini kita memahami bahwa terlihat pandai di luar saja tidaklah berguna. Di dalam batin, kita harus mengembangkan cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin. Dengan begitu, kita tidak akan memiliki kesombongan. Ini berarti kita dapat menjaga pikiran kita. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati.                          

Leave A Comment