Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 056 – Tujuh Faktor Pencerahan Bagian 2

Saudara se-Dharma sekalian, dalam berlatih ajaran Buddha, pernahkah kita mencapai ketenangan dan kedamaian batin? Yang terpenting dalam berlatih ajaran Buddha adalah berlatih mencapai kedamaian batin. Dalam hidup, kita memiliki banyak noda batin yang membebani kita. Cinta, hubungan kasih, semua adalah noda batin. Keinginan material, ketenaran,//keuntungan, kedudukan, semuanya adalah noda batin. Jika manusia tidak mampu melepas, noda batin akan semakin bertambah. Bagaimana cara melepas? Buddha menggunakan berbagai metode terampil untuk membimbing kita mulai dari yang sederhana sampai pada yang dalam agar ajaran ini dapat terus kita gunakan. Metode manakah yang sesuai dengan sifat dan kemampuan kita serta sesuai dengan kondisi keseharian kita? Kita harus memilihnya dengan sungguh-sungguh. Dari Tujuh Faktor Pencerahan, yang pertama adalah “penilikan ajaran”. Kita memilih ajaran yang dapat diaplikasikan//dalam keseharian dan memutuskan jalan mana yang ingin ditempuh. Jadi, yang pertama dari Tujuh Faktor Pencerahan adalah “penilikan ajaran”.

Apabila arah jalan yang kita pilih benar, kita dapat menyadari cara bijaksana untuk menyayangi orang lain. Sebelumnya, saya berkali-kali membahas tentang ketidakkekalan. Terdapat banyak contoh tentang ketidakkekalan// dan perubahan. Ini merupakan hukum alam. Apabila kita menyadari bahwa hal ini sangatlah alami, maka betapa pun dalamnya perasaan kita, kita tahu bahwa suatu hari perpisahan pasti terjadi. Bahkan harta, ketenaran, kekayaan, dan status juga tidak kekal. Jadi, mengapa berselisih demi semua ini? Apabila kita dapat mengerti hal ini, kita akan berada di jalan benar dan tidak menyimpang. Karena itu, kita harus berusaha melatih batin agar ketika bersentuhan dengan kondisi luar, batin kita tidak terbelenggu oleh nafsu dan kemelekatan. Karena mustahil semua keinginan kita terpenuhi, lebih baik lenyapkan saja noda batin ini. Beginilah cara kita mengatasi berbagai noda batin dalam hidup ini. Kita hendaknya memilih pencerahan, bukan kegelapan batin. Jadi, ajaran yang kita pilih harus benar. Inilah yang disebut “penilikan ajaran”. Berikutnya, “semangat”.

Kita tidak boleh diam di tempat. Beruntung telah bertemu ajaran Buddha dan sudah memilih jalan yang benar, maka kita harus terus maju. Kita harus hidup sesuai Dharma. Inilah yang disebut “semangat”. Waktu terus berjalan, dan tubuh kita terus bermetabolisme. Sebenarnya, tubuh kita terus mengalami perubahan setiap detiknya. Tubuh bertambah tua dan rapuh setiap hari. Karena itu, terjadilah fase kelahiran, penuaan, penyakit, dan kematian. Penuaan terus terjadi seiring waktu. Oleh karena itu, saat satu hari berlalu, usia kita pun semakin berkurang. “Bagaikan ikan kekurangan air, apakah kegembiraan yang didapat?” Kita harus memanfaatkan waktu dengan baik, bagaikan memiliki rambut dan alis yang tengah terbakar, kita harus cepat memadamkannya. Dalam menyelamatkan jiwa kebijaksanaan kita, kita harus memiliki pola pikir yang sama. Ketika noda batin timbul, kita harus segera memadamkannya. Jika tidak tahu cara memadamkan noda batin, maka sebanyak apa pun Dharma yang kita dengar, berarti belum meresap ke dalam hati, dan ini sama dengan tidak mengenal Dharma.

Jika demikian, Dharma tidak ada dalam hati kita, dan segala perbuatan kita hanya merupakan reaksi terhadap kondisi luar. Bukankah ini adalah kehidupan yang sia-sia? Ini disebabkan oleh kemalasan. Bukan hanya itu, sesungguhnya, setiap pikiran yang timbul menciptakan karma. Jika bukan karma positif, berarti negatif. Jika Anda tidak bersemangat, melainkan malas, maka Anda akan mengalami kemunduran. Kita hanya memiliki dua pilihan ini. Jadi, jika kita mengetahui, memilih, dan berlatih di jalan benar, Keberanian untuk terus maju berjalan di jalan Dharma inilah yang disebut “semangat”. Selanjutnya adalah faktor “sukacita”, yakni bersukacita dalam segala aktivitas. Terkadang, kita mungkin merasa tidak sabar dengan masalah yang menumpuk. Mungkin fisik sudah lelah, namun pekerjaan tak kunjung selesai. Lelah, kita merasa jengkel dengan semuanya. Lihatlah kisah para relawan daur ulang, banyak relawan lanjut usia yang mengalami hidup sulit puluhan tahun. Kesehatan mereka pun adakalanya tidak baik, ada pula yang mengalami kesulitan ekonomi, namun tetap melatih diri dengan sukacita. Ada seorang relawan lanjut usia yang mendedikasikan diri mendaur ulang. Meski tubuhnya sudah bungkuk, namun ia tetap penuh sukacita. Mengapa ia masih begitu penuh sukacita? Ia berkata, “Saya sangat bersyukur dapat melakukan daur ulang setiap hari.” “Bila tidak melakukan daur ulang, entah apa yang harus saya lakukan.” Ketika ditanya, // “Sudah berapa lama Nenek melakukannya?” “Sudah bertahun-tahun,” jawabnya. “Mengapa Anda begitu gembira?” “Master bilang ini bisa menyelamatkan bumi.” “Seperti kata Master,//mengumpulkan barang daur ulang adalah wujud menghargai berkah, juga dapat mengubah sampah menjadi emas, dan emas menjadi aliran jernih yang dapat menyelamatkan hati manusia.” “Dana yang didapat dapat digunakan untuk menolong orang.” Dengarlah.

Kita bertanya, “Bagaimana dengan suami Anda?” “Untungnya, beliau sudah tiada.” “Sudah beberapa tahun lamanya.” “Saya menggunakan waktu enam tahun untuk menjaganya sekuat tenaga.” “Saya juga sangat bahagia dapat merawatnya selama enam tahun itu.” “Apa yang terjadi pada Kakek?” “Ia menderita Alzheimer.” “Ia tak bisa merawat dirinya sendiri, pada akhirnya, tak dapat melakukan apa-apa.” “Saya terus mendampinginya selama 6 tahun.” “Kadang ia juga memukul saya.” Ketika ditanya alasannya, nenek ini berkata,//“Dokter menganjurkan terapi fisik.” “Kadang saya mencoba membantunya berdiri, tetapi ia menolak.” “Saya pun menariknya lebih kuat agar ia berdiri tegak dengan kedua tangan bertumpu di dinding.” “Ia pun marah dan memukul saya.” Ia bercerita sambil tertawa. Selama enam tahun itu, ia melewati hari-hari yang sulit. Selama itu, ia pun harus mencari nafkah sekaligus merawat suaminya.

Ia merawat suaminya bagai merawat anak. Ia sendiri bagaikan seorang ibu yang baik yang menjaga anaknya yang masih kecil. Meski dipukul oleh suaminya, ia tidak pernah mengeluh atau dendam. Lihatlah, bukankah ini cinta kasih dan welas asih agung? Ia memiliki hati seorang ibu. Setelah enam tahun, suaminya meninggal. Ia pun sangat pengertian dan berpikir, “Ketika karma kehidupan ini berakhir,//seseorang pasti harus pergi.” “Suami saya terbebas dari penderitaannya.” “Master mengatakan bahwa setelah meninggal, ia akan terlahir kembali dengan tubuh anak kecil.” “Anak-anak sangat menggemaskan.” Lihat betapa bijaksananya Bodhisattva tua ini. Ia amat penuh welas asih dan kebijaksanaan. Setelah suaminya meninggal, ia mulai bergabung dalam kegiatan daur ulang, dan amat penuh sukacita. Ia berangkat pagi-pagi, tangannya menunjuk empat buah gedung tinggi di depannya, “Lihatlah gedung-gedung berlantai 20 itu.” “Mulanya saya mengumpulkan barang daur ulang dari empat gedung ini.” “Masing-masing berlantai 20, dan saya menyusuri lantai demi lantai dua kali dalam sehari.” Ia bercerita dengan damai tanpa beban. Mendengarnya saja, saya merasa kagum.

Ia mengatakan bahwa ia sangat bersyukur. Ia bercerita, “Warga yang tinggal di sana telah melihat saya naik-turun beberapa tahun, dan kini meminta agar saya tidak perlu lagi naik-turun tangga, mereka akan mengumpulkannya di lantai 2.” “Saya sungguh beruntung, hanya perlu naik ke lantai 2.” “Ruangan itu penuh dengan kertas dan kardus yang telah mereka rapikan.” “Kini saya tinggal mengambilnya saja.” Lihatlah, ia amat penuh sukacita. Sebagai lansia yang sudah banyak menderita, jika ia tidak pengertian dan berpikir positif, maka ia akan amat tersiksa. Dari kondisi fisiknya sekarang, terlihat bahwa ia tak leluasa bergerak, namun ia tetap bekerja dengan senang hati. Bersumbangsih dengan sukarela dan sukacita adalah prinsip hidupnya saat ini. Ia kerap mengungkapkan rasa syukur karena setiap hari dapat bekerja dengan gembira. Pengelola gedung bahkan berkata, “Ia mengerjakannya bukan demi uang, dan ia datang dua kali sehari.” “Benar-benar mengagumkan.” Lihatlah, ia melakukan praktik nyata. Setelah mendengarkan ajaran saya, ia memahami dengan jelas kebenaran di balik jalinan perasaan dan jalinan jodoh di antara manusia.

Dengan memahami ini semua, ia ikhlas menerima kondisi yang ia hadapi dan bersedia memenuhi tanggung jawabnya. Setelah tanggung jawabnya selesai, ia pun maju selangkah dengan menjalankan misi. Kehidupan keluarganya sudah sangat sulit. Kini, sebagai relawan daur ulang, ia juga bekerja keras, namun ia merasa gembira. Lihatlah, dalam keseharian kita, bila kita merasa jengkel, banyak kekhawatiran dan banyak pekerjaan, ada satu hal yang dapat kita lakukan. Jika kalian melihat para relawan daur ulang, sesungguhnya, mereka dapat dijadikan bahan refleksi. Jadi, kita harus melatih faktor “sukacita”. 「輕安菩提」 Berikutnya adalah “kedamaian batin”. Ada lagi seorang relawan daur ulang yang kisahnya pernah diangkat oleh Da Ai TV. Ia pun menjalani hidup dengan ikhlas. Meski sedang sakit dan memakai kantong urine, ia tetap harus merawat suaminya yang juga sakit sekaligus menjadi relawan kebersihan. Lihat, ia menjalani hidup dengan penuh semangat, tekadnya melatih diri amat teguh. Sikap seperti ini harus kita pelajari. Jika tidak mempelajarinya, maka hidup akan menjadi sia-sia. Berikutnya adalah faktor “perhatian”. Pikiran amatlah penting. Saudara sekalian, setiap pikiran kita harus selaras dengan Dharma. Jadi, kita harus selalu memusatkan pikiran kita agar tidak menyimpang sedikit pun.

Untuk itu, kita harus senantiasa menjaga pikiran dengan baik dan mengarahkannya pada kebenaran. Kondisi apa pun yang kita hadapi, ucapan apa pun yang kita dengar, atau raut wajah bagaimana pun yang kita lihat, kita harus selalu menjaga pikiran kita dan memusatkannya pada kebenaran. Pikiran kita harus sesuai dengan Dharma. Dengan demikian, barulah kita dapat mencapai konsentrasi benar, barulah pikiran kita dapat teguh dan kebijaksanaan dapat tumbuh. Jika kita memiliki pikiran benar, kebijaksanaan akan tumbuh, dan kita tidak akan kehilangan arah. Jika tekad kita melatih diri tetap teguh, maka kebijaksanaan akan terus tumbuh. Berikutnya adalah faktor “konsentrasi”, yakni menstabilkan pikiran hingga tetap terfokus dan tidak membiarkannya kacau. Inilah faktor “konsentrasi”.

 Jika niat kita selaras dengan Dharma, maka pikiran kita akan stabil. Faktor selanjutnya adalah “pelepasan”. Melepas artinya meninggalkan pandangan salah. Saudara sekalian, dunia tidaklah kekal. Karena dunia tidak kekal, maka apakah yang sejati dan nyata? Apakah yang kekal abadi? Lihatlah, waktu terus berlalu, siang dan malam terus berganti. Malam menggantikan siang, siang menggantikan malam. Ini adalah proses yang terus berlanjut. Proses ini menunjukkan ketidakkekalan. Hari kemarin berbeda dengan hari ini. Momen di pagi hari tadi berbeda dengan saat ini. Jadi, tanpa kita sadari, proses ketidakkekalan terus berlangsung. Tiada yang kekal dari waktu ke waktu. Waktu juga tidak berhenti bergerak. Lalu, apakah pikiran kita kekal? Tidak. Dalam Empat Landasan Perenungan dikatakan bahwa pikiran tidaklah kekal. Pikiran kita terus berubah sesuai fase muncul, berlangsung, berubah, dan lenyap. Bukankah fenomena ini adalah tanpa inti? Namun, justru fenomena ilusif inilah yang membelenggu batin manusia hingga melekat pada perasaan dan objek yang dicintai sehingga menderita.

Sedangkan sesungguhnya, kehidupan ini terus berproses dan berlalu. Tubuh fisik manusia pun terus menua. Seiring waktu berlalu, usia semakin berkurang. Kita membaca ajaran-ajaran ini setiap hari, namun kewaspadaan kita belum juga timbul. Ini karena kita melihat ilusi sebagai kenyataan. Manusia menganggap ilusi sebagai kenyataan. Akibatnya, manusia terus mengejar cinta asmara, reputasi, keuntungan, dan nafsu. Amat menderita. Ini karena manusia tidak dapat membedakan yang nyata dan palsu. Jika segala hal pada dasarnya tanpa inti, mengapa kita tak dapat melepaskannya? Kita harus melepas seiring waktu berjalan. Karena waktu telah berlalu, untuk apa kita terus merisaukannya? Karena kehidupan memang terus berubah, untuk apa kita melekat pada sesuatu yang akhirnya mempertebal noda batin? Jadi, melepas berarti melepaskan noda batin yang timbul. Apabila kita mampu melakukannya, jiwa kebijaksanaan kita akan terus tumbuh.

Usia tubuh fisik kita akan berkurang hari demi hari, namun jika kita mampu melepas— melepas noda batin dan kemelekatan, maka meski waktu terus berlalu dan usia terus berkurang, Coba perhatikan, dalam ajaran Buddha, teratai sering digunakan dalam perumpamaan. Teratai adalah salah satu simbol Buddhisme. Buddha selalu digambarkan duduk di atas bunga teratai. Sesungguhnya, apa artinya? Kita tahu teratai tumbuh di lumpur. Dunia ini pun dipenuhi kekeruhan bagai kolam teratai yang berlumpur. Kumtum demi kuntum bunga teratai malah tumbuh di kolam yang keruh itu. Berbagai kotoran di kolam itu bagaikan pupuk organik. Tahukah kita bagaimana pupuk organik dibuat? Setelah sampah-sampah terkumpul, ia dibiarkan membusuk dan terurai. Setelah terurai, sampah ini akan kaya nutrisi. Bukankah dunia ini seharusnya demikian? Inilah mengapa kebuddhaan hanya dapat dicapai di alam manusia ini. Di sini ada penderitaan, ada sukacita, ada kekeruhan, ada kesucian. Derita adalah bagian dari proses kehidupan. Sukacita timbul saat kita bertemu Dharma. Terlahir sebagai manusia, kita hendaknya memanfaatkan tubuh ini// sebagai sarana melatih diri. Kita harus bersyukur dapat bertemu dengan ajaran Buddha. Karena itu, kita harus membangkitkan sukacita.

Dengan mendengarkan ajaran Buddha, kita dapat merasakan kebahagiaan dalam Dharma. Semua ini harus kita syukuri. Dunia ini memang penuh kekeruhan, namun juga mengandung kesucian. Jika kita dapat mempraktikkan ajaran Buddha dan melenyapkan noda batin, kita akan memperoleh kesucian. Jadi, segala kondisi yang kita hadapi dapat kita anggap sebagai pupuk. Seberat apa pun penderitaan yang dihadapi, setelah mendengar ajaran Buddha, kita hendaknya menyadari bahwa kita tidak punya hak milik atas hidup ini, melainkan hanya memiliki hak guna. Tak peduli berapa kekayaan yang Anda miliki atau seberapa nikmat kehidupan Anda, kita harus melihat kenyataan ini dengan jelas. Seorang dokter pernah bercerita pada saya, “Dahulu saya sangat penuh kerisauan.” “Saat saya pindah ke Amerika Serikat, saya tahu ayah saya sudah kecanduan bermain lotre.” “Saya pun mengajaknya ikut pindah.” “Namun, ternyata ia masih bisa main lotre dengan sambungan langsung jarak jauh.” “Kondisi hatinya bergejolak mengikuti lotre dan harga saham.” Dokter ini sangat risau. Ia berharap ayahnya lebih bahagia di AS, namun ternyata tidak bisa, karena ia tetap bermain lotre. Akhirnya, ia memutuskan untuk pulang ke Taiwan bersama ayahnya.

Ketika ayahnya jatuh sakit, ia dirawat di RS Tzu Chi dan banyak orang memerhatikannya serta membimbingnya dengan bijaksana. Akhirnya, ayahnya menemukan sukacita, meninggalkan kebiasaan buruknya, dan melenyapkan kemelekatannya. Beliau melepaskan semuanya dan akhirnya dapat meninggal dengan damai. Ini karena ia mampu melenyapkan noda batinnya dan memahami ketidakkekalan hidup. Jadi, dokter ini berkata kepada saya, “Saya sangat bersyukur.” “Jika saya tidak pulang ke Taiwan, mungkin ayah saya akan terus terbelenggu noda batin hingga akhir hayat.” Jadi, saya mengatakan bahwa di sini, karena kita tengah melatih diri, maka ubahlah kerisauan dan kesulitan menjadi pupuk dan jangan lagi ternoda olehnya. Dengan menjalani hidup seperti ini, barulah kita dapat//mencapai pembebasan dengan Dharma. Jadi, “pelepasan” berarti melepaskan segala noda batin yang timbul. Kita harus meninggalkan segala kerisauan dan noda dalam pikiran kita. Untuk itu, bersungguh-sungguhlah selalu.

Leave A Comment

rp888

rp888

https://cestoballargentino.com/

https://futurerockstarsofamerica.com/

https://christopheranton.net/

https://stuartspitzer.com/

https://yougaku-data.com/

rp888

rp8888

FORWIN8

rp888

rp888

forwin8