Sanubari Teduh – 057 – Jalan Mulia Beruas Delapan Bagian 1
Saudara se-Dharma sekalian, hari-hari terus berlalu, dan setiap hari kita berharap batin kita dapat terus tenang dan teguh. Namun, lebih mudah bicara daripada melakukan. Jika kita ingin pikiran kita senantiasa tenang dan teguh, kita tentu harus melatihnya. Karena itu, Buddha ingin kita berlatih selangkah demi selangkah. Segala yang belum kita pahami, haruslah kita pelajari. Dari teori-teori yang kita bahas, kita dapat memahami kebenaran. Jadi, Buddha telah mengelompokkan ajaran-ajaran-Nya. Ada Empat Pikiran Tanpa Batas, Enam Paramita, kita telah membahas semuanya. Lima Akar, Lima Kekuatan, dan Tujuh Faktor Pencerahan juga telah saya jelaskan. Tujuh Faktor Pencerahan disebut juga Sapta-bodhyanga. Saudara sekalian, Tujuh Faktor Pencerahan ini sangat penting, membimbing kita tentang cara menenangkan batin, mengarahkan pikiran ke arah yang benar, mengembangkan semangat dan tidak malas, serta senantiasa bersukacita dan damai. Pembabaran teori ini membawa kita pada pemahaman akan kebenaran.
Kita harus sangat bersungguh-sungguh. Berikutnya adalah “Jalan Mulia Beruas Delapan”. Jalan Mulia Beruas Delapan dimulai dari “pandangan benar”. Mengenai pandangan benar, semua sudah tahu. Dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus memiliki pandangan benar. Jika pemahaman kita menyimpang, Jika pandangan dan pemahaman kita menyimpang, meski hanya menyimpang sedikit, maka akan berdampak pada ketersesatan. Ketika pikiran kita menyimpang dan arah kita salah sedikit saja, kita akan terjebak pada pandangan salah. Jadi, pandangan benar sangatlah penting. Memiliki pandangan dan pemahaman benar adalah sesuatu yang harus dipraktikkan oleh para praktisi Buddhis. Kita harus sungguh-sungguh menjaga pandangan dan pemahaman kita. Yang kedua adalah “pikiran benar”. Kita harus benar-benar bersungguh hati. Saat bertemu orang dan masalah dalam keseharian atau menghadapi kondisi lingkungan, dll, kita harus berpikir dengan sangat hati-hati terhadap manusia, hal, dan materi ini. Jika kita dapat sungguh-sungguh merenung, bahkan suara burung dan serangga pun dapat kita dengar dengan jelas sehingga kita dapat merasakan dunia mereka.
Karena itu, sering dikatakan bahwa segala sesuatu di sekitar kita, baik rumput maupun kayu, semuanya mengandung Dharma yang murni. Jika pikiran menyimpang sedikit saja, kita akan mudah berpikiran salah dan memandang sesuatu dengan keliru. cara pikir kita harus benar. Karena itu, disebut “pikiran benar”. Cara pikir kita harus benar, dan ini berawal dari cara pandang. Banyak hal yang kita inginkan di dunia ini tidak dapat digapai, dan ini membawa penderitaan. Namun, manusia malah mengejar lebih banyak. Ini membawa penderitaan yang tak terkira. Kita harus tahu bahwa Buddha telah sering mengatakan bahwa tubuh fisik tidaklah bersih. Meskipun demikian, kita terus berseteru dengan orang lain hanya demi tubuh yang kotor ini. Manusia berseteru hanya demi kenikmatan. Betapa banyak penderitaan di dunia ini diakibatkan oleh perselisihan antarmanusia yang terus mengejar kenikmatan fisik. Jika mampu berintrospeksi, kita akan menyadari betapa kotornya tubuh ini.
Hanya demi kenikmatan fisik, pikiran kita menyimpang sehingga kita semakin terjerumus untuk mengejar lebih banyak. Ketika keinginan tidak terpenuhi, timbullah kerisauan dan noda batin. Oleh karena itu, kita hendaknya sungguh-sungguh merenungkan apa pun di dunia ini, baik sebatang rumput, sepotong kayu, sebutir pasir, maupun tingkah laku hewan. Dari sana kita dapat secara jelas memahami kebenaran di dalamnya. Terlebih lagi tubuh manusia. Jadi, kita harus sungguh-sungguh merenungkan kondisi fisik dan batin kita. Ini membutuhkan pikiran benar. Jika kita dapat selalu menggunakan pikiran yang tenang untuk mengamati hubungan segala sesuatu dengan kita; jika kita dapat melakukan ini dengan sepenuh hati dan dengan batin yang hening, maka dengan sendirinya kita akan mencapai kondisi batin yang hening dan jernih. Saya sering berkata bahwa kondisi dunia yang hening dan jernih sesungguhnya tidak berada jauh dari kita. Semua itu ada dalam batin kita.
Ketika batin menghadapi kondisi luar, dan kita memiliki pikiran benar, maka saat itu juga batin kita akan berada di dunia yang hening dan jernih. Selama kita memiliki pemahaman yang benar, dengan sendirinya kita akan memiliki tekad yang luas dan luhur, dan tekad ini akan tetap teguh, teguh tak tergoyahkan dalam masa tak terhingga. Semua ini tergantung pada pikiran. Jika pikiran kita lurus dan benar, apa pun yang kita lakukan akan benar. Jika pikiran kita salah dan menyimpang, apa pun yang kita lakukan juga akan salah. Kesalahan inilah yang disebut “sesat”. “Benar” adalah ketika pikiran kita benar. Melakukan yang seharusnya disebut “benar”, sedangkan yang tidak benar disebut “salah”. Jadi, untuk melakukan hal yang benar, harus dimulai dari pikiran yang benar. Perbuatan yang salah dan menyimpang adalah akibat dari pikiran yang tidak benar, sehingga kita menyimpang, salah, dan tersesat. Jadi, kita harus selalu bersungguh-sungguh dalam menjaga pikiran benar. Jika kita memiliki cara pandang dan cara pikir yang benar, kita akan memiliki “ucapan benar”. Ucapan benar sangatlah penting.
Melalui ucapan, kita dapat membawa berkah bagi orang banyak, melenyapkan kerisauan orang-orang, serta membimbing batin mereka. Semua ini dapat dilakukan hanya dengan ucapan. Dengan memiliki ucapan benar, kita akan membawa manfaat bagi banyak orang, karena pendidikan tidak hanya ada di sekolah. Di sekolah, guru-guru mendidik dengan menuangkan pemikiran mereka ke dalam ucapan. Murid-murid menerimanya dan menyerapnya ke dalam pemikiran mereka. Jadi, guru juga harus memiliki ucapan benar. Selain di sekolah, di tengah masyarakat dan dalam interaksi antarsesama pun setiap orang harus memiliki ucapan benar. Segala ucapan haruslah bermanfaat bagi orang lain. Ucapan yang melukai orang tidak boleh keluar. Ucapan yang melukai orang adalah ucapan yang salah. Selain tak mengeluarkan ucapan//yang melukai orang, juga harus memberi manfaat bagi orang banyak. Inilah “ucapan benar”. Kadang ketika melihat seseorang yang sakit, kita akan merasa iba terhadap mereka dan berkata, “Jangan dikemoterapi, jangan dioperasi,” dan sebagainya.
Nasihat seperti ini malah dapat menunda pengobatannya. Atau, kita akan menyarankan mereka untuk mencari pengobatan alternatif dan makan obat ini atau itu. Ini juga dapat dengan mudah membahayakan nyawa orang. Sama halnya dengan keyakinan agama. Kadang kita melihat beberapa keluarga menghadapi kondisi yang tak diinginkan, memiliki anggota yang sakit, atau mengalami masalah hubungan. Kepercayaan masyarakat tradisional mungkin menganggap,“Suamimu memiliki nasib yang mudah selingkuh.” “Kamu dapat melakukan kias dengan membawanya bersembahyang.” Dan mereka akan menghabiskan banyak uang untuk membeli berbagai macam jimat. Dengan begitu, batin mereka akan terbawa ke jalan yang menyimpang. Jika kita tahu ada keluarga yang memiliki masalah hubungan, kita hendaknya menggunakan kebijaksanaan untuk membimbing mereka. Dalam Buddhisme, bimbingan bagi seorang istri di antaranya terdapat dalam Sujata Sutra. Sujata Sutra berisi ajaran Buddha bagi menantu Anathapindada. Ini dapat dijadikan panduan untuk menjadi wanita yang berbudi.
Seorang istri dan ibu yang baik pasti menjaga keharmonisan dengan suami. Dalam hubungan dengan pasangan, cara kita bersikap kepadanya juga akan memengaruhi perilakunya pada kita. Jadi, ucapan benar dalam menyampaikan pemikiran amatlah penting. Jika kita hanya mengatakan yang tidak-tidak Jika kita hanya mengatakan yang bukan-bukan seperti, “Kamu mungkin sedang bernasib buruk, pergilah bersembahyang atau lakukanlah ritual ini,” ini adalah pikiran dan ucapan salah. Kita harus memiliki ketulusan untuk membimbingnya dengan bijaksana. Pendidikan di sekolah maupun dalam keluarga sangat membutuhkan ucapan benar, terlebih lagi pendidikan dalam masyarakat. Oleh sebab itu, saya sering mengatakan Oleh sebab itu, saya sering mengingatkan agar semua orang bertutur kata baik, berbuat baik, dan berpikiran baik. Jika kita berpikiran baik, maka setiap ucapan kita akan benar.
Intinya, ucapan benar juga sangat penting. Terutama bagi praktisi Buddhis, ini amat penting. Sebagai seorang Buddhis, karena telah mendapat banyak ajaran, maka ketika Anda berbicara salah sedikit saja, orang lain mungkin percaya bahwa itu benar. Mereka berpikir,//“Karena seorang Buddhis berkata begitu, maka maka jika saya mengikutinya, seharusnya tidak akan salah.” Jika demikian, kadang meski hanya salah sedikit saja, namun karena Anda adalah umat Buddha, maka ucapan Anda yang sedikit salah ini dapat mengakibatkan orang jauh tersesat. Karena itu, saat berbicara, kita harus sangat berhati-hati. Berikutnya adalah “perbuatan benar”. Perbuatan benar berarti tindakan yang patut. Seperti yang sering dikatakan, tindakan sekecil apa pun menciptakan karma. Segala perilaku kita, segala tindakan kita, dan segala perbuatan kita, tiada yang tidak menciptakan karma. Jadi, dalam kehidupan sehari-hari, kita harus sangat hati-hati dalam setiap tindakan. Lihatlah Tzu Chi Indonesia, kita sering memuji pencapaian mereka. Di sana, di sebuah kota besar yang juga merupakan ibu kota, yakni Jakarta, meski terdapat banyak miliarder, namun banyak juga warga kurang mampu yang tinggal di tempat yang tidak layak.
Bahkan rumah mereka tidak berdinding. Tingkat kesenjangan sosial di sana amat tinggi. Karena besarnya jurang pemisah ini, sebagian orang dari golongan mampu sangat sombong dan gemar mencari kenikmatan. Mereka tak pernah peduli perasaan warga kurang mampu. Dalam kondisi masyarakat seperti ini, banyak orang mampu yang kehilangan arah, ada pula orang mampu yang rela bersumbangsih, namun tidak tahu caranya. Jalinan jodoh pun akhirnya matang. Di Jakarta ini sesungguhnya banyak orang mampu yang penuh cinta kasih, hanya saja jodoh untuk menginspirasi mereka belum matang. Sejak terinspirasi setelah jodoh matang, para pengusaha ini menyediakan waktu dan tenaga mereka untuk menjalankan misi Tzu Chi. Kini cahaya harapan terpancar di Jakarta. Dahulu, Kali Angke dipenuhi tumpukan sampah. Dahulu, di Kali Angke ini, yang terlihat hanyalah sampah.
Terdapat banyak bangunan ilegal dan permukiman kumuh di atas kali tersebut. Banyak warga bahkan tidak dapat membangun rumah di atas tanah. Mereka membangun rumah di atas kali karena tidak memiliki tanah. Bangunan ilegal didirikan di atas kali. Dapat kita bayangkan, bangunan ilegal di sana tidak dibatasi oleh dinding yang kokoh. Rumah mereka bahkan tak memiliki dinding luar. Mereka tidak memiliki apa-apa. Dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana mereka memperoleh air? Jika kita di sini sangat mudah memperoleh air leding, mereka di sana bahkan tiada hak atas air leding karena mereka tinggal secara ilegal di atas kali. Kita sering mengatakan bahwa//air minum harus bersih. Kualitas air harus baik. Manusia tidak dapat hidup tanpa air. Semua orang mengetahui hal ini. Namun, para warga kurang mampu ini tinggal di atas Kali Angke. Jika kalian melihat air kali tersebut, seluruh permukaannya dipenuhi sampah. Dari mana warga memperoleh air? Dari kali yang penuh sampah, yang airnya sudah tercemar. Itulah sumber air minum mereka, sekaligus air untuk mencuci serta untuk kebutuhan lainnya. Para warga kurang mampu ini telah hidup di sana selama puluhan tahun.
Selain dipenuhi sampah dan airnya telah tercemar, aroma yang tercium setiap hari di sana sangat tak sedap dan tak tertahankan. Sekelompok ibu rumah tangga mampu dari Taiwan mendengar kondisi Kali Angke yang parah ini. Sekelompok insan Tzu Chi ini meninjau ke sana dan bertekad mengajak para warga mampu untuk turut melihat keadaan di sana. Namun, sebelum mereka sampai di sana, bau tak sedap sudah sangat menusuk. Mereka ragu apakah dapat terus mendekat. Meski kali itu belum terlihat, aromanya sudah sangat menusuk hidung. Mereka ingin menutupi hidung//dengan saputangan, Mereka ingin menutupi hidung dengan saputangan, namun ingat pesan saya tentang menghormati.
Warga setempat telah tinggal di sana dan bertahan selama puluhan tahun, bagaimana boleh kita yang baru datang langsung menutup hidung? Saat kembali, mereka melapor pada saya, “Master, baunya benar-benar tidak sedap, namun kami tidak berani menutup hidung.” “Kondisi warga di sana sungguh memprihatinkan.” Benar, sangat memprihatinkan. Saya pun bertanya, “Bagaimana kesan dan perasaaan kalian?” Mereka berkata, “Kami sungguh bersyukur.” “Sebelum melihat kondisi kehidupan mereka, kami tidak sadar betapa beruntungnya kami.” “Kami sangat bersyukur.” Dengan memiliki rasa syukur, mereka mulai mengerahkan tenaga. Para pengusaha di Indonesia ini memiliki jalinan jodoh yang telah matang untuk melihat kondisi Kali Angke. Dahulu, mereka ingin berkontribusi, hanya saja jalinan jodoh belum matang. Ketika jalinan jodoh itu matang, mereka bertemu dengan Tzu Chi. Ini adalah sebuah jalinan jodoh yang baik. Begitu benih kasih tertanam dalam hati mereka, mereka menjadi sangat bersemangat menghimpun kekuatan cinta kasih dengan memanfaatkan sumber daya yang mereka miliki, karena mereka adalah pengusaha yang memiliki bisnis yang sangat besar.
Karyawan mereka masing-masing mencapai ratusan ribu orang. masing-masing mencapai ratusan ribu orang, minimal berjumlah di atas belasan ribu. Dahulu, mereka hanya memfokuskan diri pada usaha mereka. Kini, setelah pikiran mereka terbuka dan cinta kasih mereka terbangkitkan, lihatlah, betapa besar kekuatannya. Kekuatan cinta kasih ini dapat membantu merelokasi warga Kali Angke dan membersihkan tumpukan sampah di sana hingga kali itu menjadi lebih bersih. Lihatlah betapa besar kekuatan mereka. Para warga kurang mampu dari Kali Angke untuk sementara direlokasi ke tempat tinggal yang disewa untuk mereka sebelum akhirnya pindah ke Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi. Saya berterima kasih kepada pemerintah setempat yang begitu giat bekerja sama dengan kita. Dengan kewenangan dari pemerintah dan sumber daya yang dimiliki para pengusaha, para warga berhasil direlokasi. Kontribusi banyak pihak amat dibutuhkan untuk menenteramkan hati dan kehidupan warga. Ada lebih dari 1.000 keluarga yang direlokasi. Demi membuat hati para warga merasa tenteram, insan Tzu Chi memberikan cinta kasih dengan penuh keyakinan dalam menghibur mereka.
Insan Tzu Chi Indonesia telah lama membantu warga kurang mampu di sana dan telah mendapatkan kepercayaan masyarakat. Insan Tzu Chi bersumbangsih secara nyata dengan bahasa tubuh yang penuh ketulusan sehingga memperoleh kepercayaan masyarakat. Ditambah dengan dukungan pemerintah, saat warga mendengar Tzu Chi akan membantu, kepercayaan diri mereka pun mulai bangkit. Mereka yakin bahwa jika Tzu Chi bergerak, mereka akan memperoleh bantuan dan perhatian. Karena itu, mereka merasa tenang dan bersedia pindah ke tempat tinggal sewaan sementara yang disubsidi oleh pemerintah. Setelah mereka pindah, Kali Angke mulai dibersihkan dan sampah-sampah mulai dikeruk. Tzu Chi pun membangun Perumahan Cinta Kasih. Kini perumahan tersebut telah berdiri dan kita dapat melihatnya bagaikan karya seni dari alam. Saat Relawan Yao berkunjung ke sana, ia mengambil beberapa gambar//dan memperlihatkannya pada saya. Saat melihat tampilannya di layar proyektor, saya sungguh merasa kagum. Jalan dan lorong di antara bangunan-bangunannya sungguh lapang dan luas. Di ujung jalan terdapat bangunan rumah susun yang sangat indah.
Di ujung lorong antara 2 baris rusun, terdapat barisan rumah susun yang lain. Kemudian saya berkomentar bahwa ini terlihat seperti Kota Beijing, bagaikan kota kuno Beijing dengan barisan bangunan istana. Melihatnya, sungguh membawa kebahagiaan. Rumah susun bagi 1.100 kepala keluarga ini sungguh mengagumkan. Dalam kompleks perumahan itu terdapat sekolah dasar, sekolah menengah, dan poliklinik. Poliklinik ini pun bagai sebuah RS besar. Kini kompleks rumah susun itu telah menjadi suatu komunitas//yang mengagumkan. Inilah perbuatan benar. Mereka memiliki kekuatan untuk melakukan perbuatan yang dapat membantu banyak orang dan membuat negara mereka memiliki lingkungan yang bersih. perbuatan benar berkaitan dengan tindakan kita. Jika tindakan kita benar, kita akan dapat membantu banyak orang.
Bukan saja membantu orang, bahkan membantu seluruh masyarakat dan negara. Karena itu, tindakan kita sangatlah penting. kita tahu bahwa segala tindakan adalah karma. Baik atau buruk, semua tergantung diri sendiri. Karena itu, setiap orang dari kita hendaknya tidak mengabaikan perbuatan baik sekecil apa pun. Himpunan perbuatan baik yang kecil juga dapat menjadi kekuatan yang besar. Karena itu, bersungguh-sungguhlah selalu.