Sanubari Teduh – 068 – Membalas Budi Luhur Buddha
Saudara se-Dharma sekalian, saat kita sedang duduk bermeditasi, adakah masing-masing melakukan introspeksi? Kita harus sering mengintrospeksi diri untuk merenungkan akibat dari perbuatan kita. Kita harus terus mengamati apakah niat yang baru timbul dalam pikiran kita merupakan niat yang jernih ataukah tidak, dan apakah perbuatan kita di masa lalu berguna bagi orang lain atau// hanya mementingkan diri sendiri. Kita harus terus-menerus melakukan refleksi agar lebih bermawas diri di masa depan. Merenungkan yang telah berlalu membuat kita dapat lebih bermawas diri di masa depan. Kita yang hendak membalas budi Tathagata, dalam kehidupan ini haruslah melatih diri dengan berani dan bersemangat, bekerja keras dan tahan derita, mengorbankan segenap jiwa raga demi menegakkan Tiga Permata, menyebarkan ajaran Mahayana, dan membimbing semua makhluk secara luas agar bersama-sama memasuki kesadaran agung. Sebelumnya kita telah membahas bahwa kita harus membalas budi luhur Buddha. Buddha terus-menerus datang ke dunia demi semua makhluk yang penuh penderitaan.
Karena itu, Buddha hadir di dunia dengan tujuan membimbing semua makhluk untuk berintrospeksi, mengubah kesalahan masa lalu, dan memulai lembaran baru dalam hidup. Hakikat kebuddhaan bersifat murni. Jadi, selama kita bisa mengikis noda batin masa lampau, kita dapat memulai kehidupan yang baru. Karena itu, kita harus senantiasa ingat untuk membalas budi luhur Buddha dan menghargai jiwa kebijaksanaan kita. Jadi dikatakan, “Dalam kehidupan ini haruslah melatih diri dengan giat dan bersemangat, bekerja keras, mengorbankan jiwa raga.” Mengenal ajaran Buddha dalam kehidupan ini dan berkesempatan untuk bergabung di ladang pelatihan ini, kita harus lebih menguatkan tekad untuk melatih diri dengan bersemangat, tak gentar akan penderitaan dan kesulitan, serta rela mengorbankan jiwa raga. Jika dapat memanfaatkan hidup ini untuk menumbuhkan jiwa kebijaksanaan, bukankah hal demikian sangat baik? Kita sering kali berkata,// “Jangan biarkan sedetik pun berlalu sia-sia.” Dengan bersemangat dalam kehidupan ini, kita akan terus bertumbuh.
Demikianlah, jiwa kebijaksanaan kita bertumbuh seiring berjalannya waktu sepanjang kehidupan kita. Sesungguhnya, waktu kehidupan ini terus berkurang seiring berjalannya waktu. Dengan kenyataan yang demikian, bagaimana mungkin kita tidak bergegas untuk menumbuhkan jiwa kebijaksanaan kita? Karena itu, kita harus berikrar sepenuh hati. Terlebih lagi, kita harus “menegakkan Tiga Permata di dunia dan menyebarkan ajaran Mahayana”. Baik para biarawan maupun umat awam, semua murid Buddha harus memiliki ikrar ini. “Menegakkan Tiga Permata di dunia dan menyebarkan ajaran Mahayana.” Setiap orang mengetahui bahwa guru saya memberi saya amanat untuk bekerja “demi ajaran Buddha dan semua makhluk”. Bukankah ini pun upaya// menegakkan Tiga Permata di dunia? Kita berupaya agar ajaran Buddha dikenal luas hingga menjadi kendaraan besar yang mencerahkan diri sendiri dan orang lain. Upaya ini pun dapat menumbuhkan// jiwa kebijaksanaan kita sekaligus membawa manfaat bagi semua makhluk yang menderita.
Lihatlah misi amal kita di seluruh dunia. Di negara mana pun yang ada penderitaan, relawan Tzu Chi setempat akan segera mengulurkan tangan. Mereka menyebut diri sebagai Yayasan Buddha Tzu Chi. Dalam sumbangsih pemberian bantuan ini, mereka tidak mengharapkan pamrih apa pun. Bila ada orang yang menanyakan nama mereka, mereka menjawab, “Nama kami adalah Tzu Chi.” “Tzu Chi adalah organisasi Buddhis.” “Karena Buddha mengajarkan semangat ini, maka kami melakukannya.” “Jadi, nama kami semua adalah Tzu Chi.” Karena itu, begitu mendengar nama Tzu Chi, semua tahu bahwa ini adalah organisasi Buddhis. Inilah upaya menyebarluaskan ajaran Mahayana, Mahayana— tidak membedakan negara, ras, ataupun agama. Hati Buddha mampu merangkul alam semesta, tidak membedakan agama, tidak membedakan negara, terlebih tidak membedakan ras. Inilah yang dimaksud dengan “membimbing semua makhluk secara luas”.
Harapan kita hanyalah agar dapat menenteramkan fisik dan batin mereka. Menenteramkan fisik berarti membantu kebutuhan materi mereka, juga meringankan penderitaan mereka. Saat batin mereka kehilangan arah, kita mendampingi dan menuntun mereka. Inilah “membimbing semua makhluk secara luas agar bersama-sama mencapai kesadaran agung”, agar setiap orang memahami welas asih Buddha dan ajaran Beliau tentang bersumbangsih demi menghapus penderitaan semua makhluk. “menyebarkan ajaran Mahayana, membimbing semua makhluk secara luas, agar mencapai kesadaran agung”. Selanjutnya, Yang ketujuh adalah mengamati kosongnya hakikat kejahatan. Kejahatan tak memiliki hakikat sejati dan tidak memiliki wujud hakiki, timbul karena sebab dan kondisi, terwujud akibat pandangan salah. “Yang ketujuh adalah mengamati kosongnya hakikat kejahatan.” “Kejahatan tak memiliki hakikat sejati terwujud akibat pandangan salah.” Pertama-tama kita harus memahami kalimat ini, kemudian merenungkan maknanya//dengan saksama. Sering dikatakan, jagalah hati dan pikiran agar tetap terfokus. Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus mengamati kondisi luar dengan saksama, namun tetap harus menjaga hati dan pikiran agar tidak terlarut olehnya.
Melainkan kita harus merefleksi ke dalam diri tentang di manakah sumber perbuatan buruk kita. Kita harus merenungkan sebagaimana yang sering kita katakan bahwa semua makhluk memiliki hakikat kebuddhaan yang sama dengan Buddha. Bila benar demikian, mana mungkin ada kejahatan yang hakiki? Manusia pada hakikatnya adalah bajik, semua orang memiliki sifat hakiki yang suci, memiliki hakikat yang sama dengan Buddha. Namun, mengapa ada banyak orang yang melakukan perbuatan salah? Penyebabnya adalah tabiat buruk. Kita semua memiliki tabiat buruk bawaan. Pada awalnya, lahan batin kita bagaikan sebidang tanah kosong, namun karena kita sering bersentuhan dengan kondisi luar, maka sifat hakiki kita yang tidak terjaga baik perlahan-lahan ditumbuhi tabiat buruk. Jadi, kejahatan tak memiliki hakikat sejati. dan tidak memiliki wujud hakiki.” Karena kejahatan tidak memiliki hakikat, dapatkah kita menemukan wujudnya dalam batin? Tidak. Semua fenomena ini muncul sebagai akibat dari sebab dan kondisi. Ini berlaku bagi yang baik ataupun buruk.
Apakah Anda bertindak baik atau buruk, semua tergantung pada jalinan jodoh. Karena itulah dikatakan//tidak memiliki wujud hakiki, melainkan “timbul karena sebab dan kondisi”. Sebab dan kondisi menyebabkan// timbulnya berbagai karma buruk. Semua adalah akibat pandangan salah. Sebelumnya kita telah membahas// berbagai pemahaman keliru, baik oleh makhluk awam yang melekat pada keberadaan, kesucian, keakuan, dan kebahagiaan semu. Keempat hal ini sering kita katakan sebagai “kosong”, namun diyakini makhluk awam sebagai “ada”. Buddha terus mengajarkan ketidakkekalan, namun makhluk awam melekat pada keberadaan. Hal ini telah kita bahas sebelumnya. Sementara bagi kedua kereta, yaitu// Sravaka dan Pratyekabuddha, mereka melekati pandangan kekosongan. Benarkah bahwa segala sesuatu adalah kosong? Sesungguhnya, kita harus berada di Jalan Tengah. Jika kita melekat pada kekosongan dan menganggap semuanya adalah tiada, kita pun akan berpikir bahwa tiada hukum karma.
Sedikit pergeseran pandangan ini membawa penyimpangan yang sangat besar. Di Jalan Bodhisattva, kita harus mengikuti Jalan Tengah. harus mengikuti Jalan Tengah. Dalam Sutra Teratai dikatakan bahwa “Demikianlah sebabnya, demikianlah kondisinya, demikianlah buahnya, demikianlah akibatnya, demikianlah sempurna keseluruhannya.” (Sutra Bunga Teratai bab 2—Metode Terampil) sebagaimana benihnya,//demikianlah kondisi, buah, dan akibatnya. Kita harus sungguh-sungguh memahami hal ini. Sebagaimana benih yang ditabur,// demikianlah buah yang akan dituai. Demikian pula, kejahatan timbul karena adanya sebab dan kondisi sehingga secara alami membawa akibat. Hal yang berlaku bagi karma buruk ini juga berlaku bagi karma baik. Sebab dan kondisi yang baik juga membawa buah dan akibat yang baik. Karena itu, kita harus sungguh-sungguh meyakini hukum karma.
Karena muncul akibat adanya sebab dan kondisi, demikian pula mereka dapat lenyap ketika sebab dan kondisinya padam. Karena kejahatan timbul dari sebab dan kondisi, maka ketika bergaul dengan teman yang buruk, manusia melakukan perbuatan salah. Dan karena kejahatan lenyap jika sebab dan kondisi padam, maka kini kita membersihkan batin dan bertobat. “Karena muncul akibat adanya sebab dan kondisi, ketika sebab dan kondisinya padam.” Segalanya muncul dari sebab dan kondisi. Ketika ada kesempatan berbuat baik, kita harus sungguh-sungguh memanfaatkannya. Jika kehilangan kesempatan atau jodoh ini, maka kita pun tidak akan dapat berbuat baik karena kondisinya telah berlalu. Jika kita menggenggam kesempatan saat ini untuk melakukan perbuatan baik, yang artinya kita memanfaatkan sebab dan kondisi untuk berbuat baik, maka di kemudian hari kita akan//menerima buah yang baik. Prinsip yang sama berlaku bagi perbuatan jahat. Saat sebab dan kondisi buruk bertemu, meski kita menjalani pelatihan diri, namun jika pernah menanam benih karma buruk, maka ketika suatu kondisi yang mendukung bertemu dengan benih karma buruk ini, kita mungkin akan kembali membuat kesalahan, dan setelah itu kita pasti akan menerima akibatnya.
Namun, bila dalam melatih diri, kita senantiasa mengembangkan kesadaran, maka meski kita memiliki benih dari masa lalu, dengan kesadaran yang dilatih, kita dapat menghindarkan kondisi pendukung, sehingga meski ada benih, ia tak akan berbuah tanpa kondisi pendukung. Genggamlah jalinan jodoh baik untuk berjalan di Jalan Tengah, tingkatkan kewaspadaan untuk menjauhi jalinan jodoh buruk. Jika benih karma buruk tidak bertemu kondisi atau jalinan jodoh buruk, ia tidak akan terwujud. Intinya, jika kita dapat selalu melatih diri dan menjaga kesadaran, ini bagaikan sebidang tanah yang mengandung bibit rumput liar di dalamnya, namun kita dapat segera mencabutnya sehingga bibit-bibit ini tidak bertemu tanah, air, dan sinar matahari sehingga tidak tumbuh menjadi rumput liar.
Jadi, meski terdapat bibit, selama kita dapat menghindarkannya dari kondisi pendukung, secara alami setelah waktunya berlalu,// benih ini tidak akan berguna lagi. Seperti halnya bila kita menanam benih, jika musim tanam telah lewat, bibit itu akan menjadi tidak berguna. Jadi, kita harus memahami sebab dan kondisi. Saat sebab dan kondisi yang baik bertemu, kita harus menggenggamnya. Saat sebab dan kondisi buruk muncul, kita harus selalu waspada dan tidak membiarkan sebab dan kondisi yang buruk ini bergabung. Dengan begitu, buah karma tak akan terwujud. Jadi, semua tergantung sebab dan kondisi. Benih karma buruk tidak akan berbuah bila kondisi pendukungnya telah berlalu. “Karena kejahatan timbul dari sebab dan kondisi, manusia melakukan perbuatan salah.” Ini akibat bergaul dengan teman yang tidak baik. Makhluk awam mudah terombang-ambing, memiliki sifat baik sekaligus buruk. Sebagai makhluk awam, di masa lalu kita menanam jodoh yang baik, namun juga menanam jodoh yang buruk. Dengan adanya jalinan jodoh yang baik, di alam manusia ini, banyak yang menjadi teman bermanfaat bagi kita. Seperti para relawan Tzu Chi.
Mereka semua bertekad untuk membantu dan menuntun orang lain. Saat bertemu orang yang berpandangan salah, kita berusaha dengan ucapan yang baik memberikan ajaran benar agar mereka berubah dan kembali ke jalan yang benar. Ini merupakan kondisi atau jalinan jodoh baik. Kondisi yang baik juga harus// bertemu benih yang baik. Jika Anda ingin membimbing seseorang, harus ada jalinan jodoh baik agar orang itu dapat menerima Anda. Di sisi lain, juga ada jalinan jodoh buruk. Ada banyak orang yang menggunakan segala cara untuk memengaruhi orang lain berbuat jahat. Contohnya, pengedar narkoba. Demi menjual narkoba dan mendapat keuntungan, mereka berusaha agar orang memakai narkoba. Kita sering mendengar tentang betapa banyak orang yang menjadi pengedar dan penjual narkoba. Mengapa mereka mau melakukan ini? Menjual narkoba adalah pekerjaan berbahaya karena merupakan tindak kriminal yang serius dan hukumannya sangat berat.
Meski mengetahui risikonya yang sangat berat, mereka sudah terlanjur menjadi pecandu, dan saat ketagihan, mereka tak dapat mengendalikan diri. Tetapi, perlu banyak uang untuk membeli narkoba. Karena telah menjadi pecandu narkoba, pikiran mereka sulit dikendalikan dan tubuh mereka pun semakin lemah sehingga tidak mampu bekerja. Jalan satu-satunya adalah mengedarkan narkoba. Dengam menjadi pengedar narkoba, kerja menjadi ringan dengan laba yang besar. Untuk itu, mereka membutuhkan pelanggan dan berusaha agar orang mengonsumsi narkoba. Banyak orang yang penasaran bagaimana rasanya mengonsumsi narkoba sehingga ingin mencobanya sekali. Namun, sekali mencoba, sulit untuk berhenti. Dari sana, lingkaran keburukan terus berputar. Inilah jalinan jodoh yang buruk. Umumnya, kita tidak mengerti tentang narkoba, dan kalaupun tahu, kita sadar bahwa itu adalah tidak baik. Namun, bila kita bertemu dengan seorang pengedar atau pecandu narkoba, ia akan berupaya dengan berbagai cara untuk mengajak kita ikut mengonsumsinya. Inilah teman yang tidak baik. Jika bergaul dengan mereka, kita mungkin ikut berjudi, mabuk-mabukan, atau melakukan berbagai tabiat buruk lain seperti pergi ke tempat hiburan malam.
Banyak orang terbuai oleh semua hal ini. Mereka pun sama dengan para pecandu itu. Dalam masyarakat, banyak orang yang pikirannya tidak teguh, dan saat bergaul dengan teman yang suka minum, berjudi, ataupun pergi ke tempat hiburan malam, mereka pun dengan mudah terseret ke dalamnya. Ini adalah teman-teman buruk yang tidak membawa manfaat bagi kita. Teman-teman yang tidak baik ini dapat mendatangkan bahaya besar bagi kita. Karena kita tidak senantiasa waspada, maka begitu kita lengah, kita pun akan ikut terpengaruh hingga melakukan banyak perbuatan salah. Perbuatan buruk yang dilakukan sangat banyak dan tak berujung. Satu langkah keliru, maka seluruh perjalanan akan salah arah. Sekali melakukan kesalahan, kita akan terseret pada kesalahan lebih dalam hingga tak berdaya untuk lepas darinya. Demikianlah perbuatan buruk tercipta.
Kita sungguh menjadi tak berdaya dan tak dapat mengakhirinya. (Ada teks) Dengan senantiasa bermawas diri, barulah dapat menghindari jodoh buruk. Sebaliknya, jika sekali salah melangkah, maka akan terjerumus dan sulit untuk melepaskan diri. Banyak orang menyadari kesalahannya, namun merasa putus asa karena berpikir, “Saya tak bisa lagi berpaling.” Orang-orang seperti ini tahu dirinya salah, namun tak dapat mengubah dirinya. Mereka telah kehilangan tekad sehingga batinnya tak dapat bangkit kembali. Terlebih lagi, tubuh jasmani mereka telah kecanduan berat dan kehilangan kendali diri. Tetapi, ini tak terbatas pada kecanduan narkoba saja, melainkan termasuk juga pergi ke klub malam atau tempat hiburan malam. Bila telah kecanduan mengunjungi tempat-tempat ini atau pergi berjudi, siang jadi malam, malam jadi siang, akan sangat sulit bagi orang untuk berubah.
Namun, tiada hal yang sulit di dunia bila kita sungguh-sungguh bertekad. Jika memiliki tekad yang teguh, kita pasti mampu berubah. Sebagaimana yang telah Buddha katakan, kejahatan tidak memiliki hakikat sejati. Ini berarti orang yang berbuat buruk tidak selamanya menjadi buruk. Asalkan bertekad untuk berubah, keburukan itu dapat terhapuskan. Maka, dalam Syair Pertobatan dikatakan, “Dan karena kejahatan lenyap maka kini kita membersihkan batin dan bertobat.” Jika kita dapat segera menyadari kesalahan, maka meski kini sangat sulit untuk berubah, kita harus tetap bertekad untuk segera membersihkan hati dan pikiran serta memulai lembaran baru. Di dalam Tzu Chi juga ada banyak orang yang pernah melakukan segala jenis kejahatan di masa lampau, namun mereka telah memperbaiki diri dan menjadi seorang manusia baru. Saat insan Tzu Chi pergi ke penjara untuk memberi pendampingan dan perhatian, beberapa tahanan juga terinspirasi dan bersedia membuka lembaran baru.
Setelah masa hukuman selesai, mereka bergabung dalam yayasan ini dan melibatkan diri sebagai relawan. Mereka didampingi oleh sejumlah relawan. Mereka juga belajar menyayangi diri sendiri, terus berusaha menghapus tabiat buruk, dan senantiasa bertobat. Mereka berbagi tentang kesalahan masa lalu pada banyak orang. Ini sesungguhnya cara bertobat yang terbaik. Jika hendak bertobat, kita harus mengakui kesalahan secara terbuka. Jika berkata hendak membersihkan hati namun sering menutupi kesalahan, berarti kita tidak sungguh-sungguh bertobat. Jika kita dapat menyadari kesalahan kita dan sadar inilah saatnya memulai hidup baru, maka kita akan senantiasa mengingatkan diri sendiri. Jika dapat menyadari kesalahan, segera mengakuinya secara terbuka, serta bertekad untuk menyucikan batin, maka saat itulah lembaran baru dimulai dalam kehidupan. Saudara sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, kita harus memahami hukum karma. Kejahatan tidak memiliki hakikat sejati, melainkan muncul karena sebab dan kondisi. Setelah mengetahui kenyataan ini, agar jalinan jodoh buruk berada jauh dari kita sehingga benih karma buruk kita tidak menemukan kondisi untuk berbuah. Karena itu, dalam melatih diri, kita harus senantiasa mawas diri agar dapat menyadari pentingnya membangkitkan hati yang bertobat. Setiap orang berpotensi untuk berbuat salah. Karena itu, kita harus senantiasa bertobat. Intinya, Senantiasalah waspada dan berintrospeksi. Harap semuanya lebih bersungguh-sungguh.