Sanubari Teduh – 202 – Delapan Penderitaan Bagian 3
Saudara Se-Dharma sekalian, waktu kita sangatlah singkat. Waktu dalam satu hari berlalu dengan sangat cepat. Sungguh, jika dipikir-pikir, kehidupan manusia adalah demikian singkat. Karena itu, kita harus menggenggam waktu dengan baik
Janganlah kita menyia-nyiakan waktu. Dari sejak lahir hingga mati, Dari sejak lahir hingga mati, kehidupan kita memiliki Delapan Penderitaan. Sebelumnya kita sudah mengulas derita lahir, tua, dan sakit. Kini kita akan mengulas tentang derita kematian. Apakah mati begitu menderita? Apakah mati begitu menderita? Saat kita terjerat oleh karma buruk, maka sungguh menderita. Saat empat unsur tubuh kita terurai, saat organ tubuh kita rusak, saat kesadaran kita akan berpisah dengan tubuh kita, saya yakin pastilah sangat menderita. Di dalam Sutra ada sebuah perumpamaan bahwa derita kematian bagaikan sapi yang dikuliti hidup-hidup. Sungguh penderitaan yang tak terkira. Namun, penderitaan itu juga tidak pasti
Adakalanya, dalam kehidupan ini, kita bisa mengalami fase tua. Namun, ada pula orang yang tidak mengalami fase tua. Bagaimana pun, karena telah terlahir sebagai manusia dan berkesempatan untuk mendengar Dharma, kita harus memanfaatkannya sebaik mungkin. Mengetahui bahwa sulit untuk terlahir sebagai manusia dan sulit untuk mendengar ajaran Buddha, maka kita harus lebih menggenggam jodoh ini. Apakah hanya mendengar saja sudah cukup? Tidak. Setelah mendengarnya, kita harus mewujudkannya lewat tindakan. Apakah dengan bermeditasi, melafalkan nama Buddha, melakukan puja, dan membaca Sutra bisa disebut tindakan nyata? Tidak cukup. Melafalkan nama Buddha hanya bertujuan untuk menenangkan hati kita, membangkitkan keyakinan, dan agar kita memiliki Buddha di dalam hati. Agar selalu ingat pada Buddha, kita selalu melafalkan nama Buddha. Karena itu, saya sering berkata kita harus menjadikan hati Buddha sebagai hati sendiri. Janganlah kita hanya berkata, “Saya meyakini Buddha
” “Ada. saya sudah melafalkan nama Buddha.” Hanya melafalkan lewat mulut saja tiada gunanya. Setiap niat kita harus tak terlepas dari Buddha. Ini yang disebut melafalkan nama Buddha dengan hati. Setelah melafalkan nama Buddha dengan hati, mereka berkata, “Hati Buddha adalah hati penuh cinta kasih dan welas asih.” “Ya, hati saya sudah penuh cinta kasih karena saya sudah mendengar Sutra tentang cinta kasih tanpa mementingkan jalinan jodoh dan perasaan senasib dan sepenanggungan.” “Saya sudah tahu.” Setelah mengetahuinya, apakah kalian mewujudkannya lewat tindakan? Kehidupan manusia penuh dengan penderitaan. Apakah kalian sudah terjun ke tengah umat yang menderita untuk memberikan bantuan? Kita sungguh harus bekerja demi kebahagiaan semua makhluk serta membimbing mereka untuk menapaki jalan yang lurus dan lapang ini agar setiap orang bisa mendengar ajaran Buddha, bisa mempraktikkannya di Jalan Bodhisattva, dan memiliki Buddha di dalam hati. Kita harus membimbing mereka untuk tidak perhitungan terhadap setiap orang dan hal, serta berkontribusi demi orang banyak
Setelah membentangkan Jalan Bodhisattva ini, apakah kalian juga menapakinya bersama orang lain? Di dunia yang penuh penderitaan ini, kita harus membuka hati setiap orang agar tidak perhitungan, tidak terbelenggu kegelapan batin, dan tidak dipenuhi noda batin. Ini yang disebut kebahagiaan. Selain itu, saat ada tempat yang penuh penderitaan dan membutuhkan bantuan darurat, apakah kita bisa segera bergerak untuk melenyapkan penderitaan di sana? Apakah kita sudah mewujudkan perasaan senasib dan sepenanggungan? Jika kita tidak bergerak secara langsung, maka siapa yang akan melenyapkan penderitaan mereka? Kita mungkin berkata, “Ya, Buddha mengajarkan kepada kita tentang welas asih.” “Terhadap penderitaan mereka, saya turut berempati.” “Buddha mengajarkan kepada kita tentang welas asih.” Jika kita hanya berucap demikian, apakah orang-orang yang menderita dan orang-orang yang berada dalam bahaya bisa memperoleh bantuan? Berbicara saja sama sekali tidak membantu. Jika hanya mendengar, mengetahui, dan berbicara tanpa melakukan apa pun, maka semua itu tidaklah berguna
Meski sudah membangkitkan niat baik, Meski sudah membangkitkan niat baik, tetapi tanpa praktik nyata, kita tetap tidak bisa sampai tujuan. Ini karena pemahaman kita terhadap prinsip kebenaran belum mendalam. Jika tidak menyerap Dharma ke dalam hati, maka saat terserang penyakit, kita akan merasa risau dan takut. Selain merasakan penderitaan fisik akibat penyakit, batin kita juga merasakan ketakutan. Selain merasakan kesakitan dan penderitaan fisik, batin kita juga merasakan ketakutan atau perasaan tidak rela. Bayangkanlah pergumulan batin di antara hidup dan mati. Bagaimana mungkin tidak menderita? Sangat menderita. Saat tubuh dan batin akan berpisah, itu sangatlah menderita
Jika bisa melihat dengan jelas, kita akan memahami bahwa kelahiran dan kematian merupakan hukum alam. Ia tak membedakan usia, tak membedakan kaya atau miskin. Kelahiran dan kematian adalah hukum alam, kita harus mengetahui dan memahaminya. Segala sesuatu bergantung pada jalinan jodoh. Saat jalinan jodoh berakhir, maka harus berpisah. Saat jalinan jodoh berakhir, maka kita tak akan bisa menghentikannya. Jika jalinan jodoh belum berakhir, meski sangat tersiksa dan menderita karena penyakit yang sangat parah, karena penyakit yang sangat parah, orang tetap bisa pulih kembali. Kita hendaknya bisa membuka hati. Yang harus kembali, pasti akan kembali lagi. Dengan bisa merelakan dan melepas, maka batin kita tidak akan begitu tersiksa
Bertahun-tahun yang lalu, Relawan Lin dan istrinya sangat mendedikasikan diri. Setiap hari, mereka keluar untuk merekrut donatur. Suatu hari, saat sedang mengemudi, Relawan Lin merasa sangat pengap hingga akhirnya kesulitan bernapas. Saat dilarikan ke rumah sakit, dia sudah tidak sadarkan diri. Setelah diberi pertolongan pertama, dokter mendiagnosis kondisinya sangat kritis. Namun, ruang perawatan intensif di RS itu sudah penuh. Karena itu, dokter berkata kepada istrinya untuk memindahkannya ke RS Univesitas Nasional Taiwan. Demikianlah Relawan Lin dirujuk ke RS Univesitas Nasional Taiwan. Pada saat itu, kebetulan saya sedang melakukan perjalanan
Setelah beberapa hari berlalu, dia masih belum sadarkan diri dan kondisinya masih kritis. Saat melakukan perjalanan ke Taipei, Saat melakukan perjalanan ke Taipei, saya menjenguknya di RS Univesitas Nasional Taiwan. Anak dan istrinya menunggu di luar dengan sangat khawatir. Mengetahui saya akan menjenguk, mereka menunggu saya di sana. Mereka berkata kepada saya, “Master, sepertinya kondisinya sangat tidak baik.” “Dokter terus mengatakan kondisinya sangat kritis.” “Dia masih belum siuman.” Saya lalu masuk ke dalam ruangan. Dokter mendampingi saya masuk ke dalam
Saat berada di sisi ranjangnya, saya berkata kepada dokter, “Bagaimana kondisinya sekarang?” Sang dokter berkata tidak begitu baik. Saya pun berbisik di samping telinganya, “Relawan Lin, saya datang melihatmu.” “Relawan Lin, saya datang melihatmu.” “Saya yakin kamu sekarang sangat damai.” “Namun, kamu harus ingat, masih ada banyak hal yang ingin saya lakukan.” “Tidak boleh kurang kamu seorang.” “Kamu harus cepat kembali.” “Kamu harus tenang.” “Baik pergi maupun datang, kembalilah secepat mungkin.” Inilah yang saya katakan padanya
Pada saat itu, saya menepuk pundaknya, lalu matanya tiba-tiba terbuka. Sang dokter berkata, “Anda sudah siuman?” Dokter itu juga membungkukkan badan untuk bertanya padanya, “Bapak Lin, Anda sudah siuman?” Saya kembali berkata, “Relawan Lin, kamu mendengar suara saya memanggilmu?” kamu mendengar suara saya memanggilmu?” Dia pun mengedipkan matanya dan menganggukkan kepalanya. Saya berkata, “Kamu sudah siuman.” “Baguslah jika kamu sudah siuman.” “Saya sudah bisa merasa tenang.” Lalu saya pun pergi. Sebelum meninggalkan Taipei, saya kembali mengunjunginya. Dia sudah dipindahkan ke kamar pasien biasa. Saya berkata padanya, “Kamu mau menakuti orang?” Saya berkata dengan ringan padanya. Dia segera duduk dan berkata kepada saya, “Saya ingin berterima kasih pada Master
” “Master yang memanggil saya kembali.” Saya berkata, “Kamu mendengar saya memanggilmu?” Saya berkata, “Kamu mendengar saya memanggilmu?” Dia menjawab, “Dengar.” Lalu, dia kembali melanjutkan, “Master, saya harus berbagi kondisi yang saya temui dengan Master.” Saya berkata, “Apa kondisi yang kamu temui?” Dia berkata, “Saya mendengar alunan musik yang sangat merdu.” “Saya mendengar alunan musik yang sangat merdu.” “Keindahannya tak bisa saya ungkapkan.” “Alunan musik itu sangat merdu.” “Saya terus berjalan mengikuti alunan musik itu
” “Saya merasa bagai melayang-layang mengikuti suara itu.” “Saya melihat orang tua saya, kerabat saya yang lebih tua, bibi saya, paman saya, dan sekelompok besar orang terus melambaikan tangan kepada saya.” “Saya pun terus berjalan menuju mereka.” “Setelah tiba di sana, orang tua saya berkata, ‘Kamu sudah bisa bersama kami sekarang.'” Namun, dia tiba-tiba mendengar saya memanggilnya, “Relawan Lin, kamu cepatlah kembali.” Saat itu, dia berpikir, “Ya, masih banyak hal Tzu Chi yang belum saya lakukan.” “Master masih membutuhkan saya.” Saat timbul niat ini, dia berkata bahwa dia langsung membuka mata dan melihat saya. Inilah kondisi yang dia ceritakan pada saya. Inilah kondisi yang dia ceritakan pada saya. Dia bagai melayang-layang mengikuti alunan musik. Namun, kondisi itu berbahaya. Namun, kondisi itu berbahaya
Di dalam Syair Pertobatan Kaisar Liang juga diungkit bahwa saat kesadaran akan terlepas dari tubuh, kekuatan karma akan muncul saat pergumulan hidup dan mati. Adakalanya, kondisi yang muncul Adakalanya, kondisi yang muncul adalah kondisi yang sangat indah dan sesuatu yang kita sukai. Adakalanya, ia akan menampakkan kondisi yang kita sukai untuk memikat kita ke sana. Adakalanya, ia akan menampakkan orang yang paling kita kasihi. Setelah melihat mereka, kita akan sangat mudah terpikat ke sana. Relawan Lin berkata bahwa dia mendengar alunan musik yang merdu karena dalam hidupnya dia adalah orang yang sangat berpendidikan. Jadi, saya yakin dia sangat menyukai musik. Jadi, saya yakin dia sangat menyukai musik. Selain itu, dia sangat berbakti dan sangat punya rasa kekeluargaan. Berhubung dia adalah orang yang punya rasa kekeluargaan dan berbakti, maka kondisi yang muncul di hadapanya adalah keluarga dan orang tuanya. Untungnya, dia memiliki sebersit niat baik dan masih memiliki jalinan jodoh sehingga dia bisa kembali begitu saya panggil
Kesadaran adalah sesuatu yang tak berwujud. Ia sangatlah ringan. Orang yang biasanya tidak berbuat baik atau menciptakan berkah, mungkin tidak bisa demikian. Lihatlah, ada orang yang sebelum meninggal sangat penuh pergumulan. Mereka seperti sangat menderita. Mereka terlihat berkeringat dan penuh pergumulan. Saat ditanya apa yang terjadi, dia tidak bisa menjawab karena dia melihat kondisi yang sangat tidak baik. Dia seperti tengah ditarik ke sana kemari. Dia enggan pergi, tetapi ditarik secara paksa. Lihatlah di dalam Sutra Ksitigarbha, ada kisah Putri Jyotinetra atau Putri Brahmana yang pergi ke alam neraka untuk menolong ibunya
Manifestasi alam neraka muncul karena tali hubungan penuh rasa benci di alam manusia. Saat akan jatuh ke alam rendah, kesadaran manusia bagai ditarik setan kelaparan atau yaksa. Kondisi tarik-menarik itu sangat menderita. Karena itu, saat bergumul di antara hidup dan mati, ada orang yang sangat ketakutan dan kebingungan. Ini sangat menderita. Penderitaan fisik sangat berat. Di mana letak penderitaannya? Sesungguhnya, bermula dari penderitaan batin. Karena takut mati dan tidak rela melepas, maka kesadaran kita yang berhubungan erat dengan berbagai saraf memengaruhi organ tubuh kita sehingga tubuh kita merasa menderita. Selain menderita akibat tidak rela melepas dan ketakutan, mereka juga melihat kondisi luar yang sangat menakutkan
Penderitaan ini tak terkira. Jadi, derita kematian ada pada saat antara hidup dan mati. Kita sering melihat anggota komite Tzu Chi yang meninggal dunia dengan tersenyum. Mereka pergi dengan hati yang damai. Jadi, kelahiran dan kematian adalah bagian dari hukum alam. Saat mencapai usia tua atau jalinan jodoh berakhir, jika bisa menerimanya dengan terbuka, maka kita akan tetap bahagia dan tenang. Jika kita senantiasa menapaki Jalan Bodhisattva, jika kita tidak menjalin hubungan penuh benci dan dendam dengan orang lain, maka belenggu karma akan terbuka. Secara alami, kita akan percaya bahwa kita akan datang kembali untuk melanjutkan tekad. Siklus kehidupan Bodhisattva bagai lingkaran, sama seperti lapangan olahraga estafet. Jadi, kita akan kembali terlahir ke alam manusia
Di alam manusia, kita bisa melihat kondisi lima alam lainnya. Lima alam ini meliputi alam surga, manusia, neraka, setan kelaparan, dan binatang. Lima alam ini bisa ditemukan di alam manusia. Lima alam ini bisa ditemukan di alam manusia. Mengenai alam surga, di alam manusia, kita juga bisa melihatnya. Alam tempat kita tinggal ini adalah alam manusia. Mengenai alam setan kelaparan, di dunia ini ada banyak orang yang hidup kelaparan. Ada pasien di rumah sakit yang sangat kelaparan, tetapi tidak boleh makan. Inilah setan kelaparan di alam manusia. Di alam manusia, ada orang merasakan banyak siksaan fisik dan batin bagaikan di alam neraka
Kita sering melihat banyak orang yang terlahir di tempat yang tidak bersih. Kondisi hidup yang kejam ataupun berbagai bencana yang terjadi, bukankah itu semua bagai neraka di alam manusia? Di alam manusia terdapat banyak binatang. Lima alam bisa ditemukan di alam manusia. Karena itu, dalam kehidupan ini, cara kita berperilaku dan melatih diri sangatlah penting. Jadi, jika hati kita tenang, kepribadian kita baik, dan tekad kita untuk menjadi Bodhisattva sangat dalam, maka kita akan terlahir kembali di alam manusia. Jadi, kita tidak perlu risau. Kita tidak perlu khawatir. Yang paling harus dikhawatirkan adalah bagaimana perilaku dan sikap kita dalam keseharian. Inilah yang terpenting
Jadi, kita harus menghadapi kelahiran dan kematian dengan damai. Dengan begitu, tiada lagi penderitaan dan rasa sakit. Singkat kata, waktu kita dalam satu hari tidak terlalu panjang. Janganlah kita perhitungan dengan orang lain. Kita harus memanfaatkan waktu dengan baik. Kita harus mengingat Buddha di dalam hati. Kita harus memandang dan menghormati setiap orang bagaikan Buddha. Sikap bersyukur, menghormati, dan mengasihi harus ada dalam kehidupan sehari-hari kita. Dengan demikian, pada akhirnya, hati kita akan merasa tenang dan damai. Dengan hati yang tenang dan damai, Dengan hati yang tenang dan damai, maka kita tidak akan terjerat derita. Saudara sekalian, dalam melatih diri, tidak ada kiat khusus. Yang terpenting adalah kita harus lebih bersungguh hati.