Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – Eps 201 – Delapan Penderitaan Bagian 2

Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari kita berada di satu tempat yang sama untuk melatih diri bersama. Saya berceramah, kalian mendengarkan. Benarkah kalian sungguh-sungguh menyerap perkataan saya ke dalam hati? Kita sering berkata tentang ketidakkekalan. Suara yang masuk ke dalam hati juga tidak kekal. Bagaimana agar Dharma dapat selalu ada di dalam hati? Tentu saja, kita harus menyerapnya ke dalam hati dan sungguh-sungguh memahaminya. Dengan menyerap Dharma ke dalam hati, barulah hati kita bisa sangat jernih dan murni. Kita harus mendalami semua ajaran Buddha. Kita harus mendalami semua ajaran Buddha

 Dengan memiliki semangat ini, baru kita bisa memperoleh manfaatnya. Setelah menyerap Dharma ke dalam hati, baru kita bisa mewujudkannya lewat tindakan nyata. Setelah dipraktikkan lewat tindakan, barulah Dharma itu bisa kita pahami secara mendalam dan menjadi bagian dari diri kita. Jika tidak, meski sudah banyak mendengar,  semuanya akan berlalu begitu saja. Jadi, saya harap setiap orang memiliki semangat untuk mendalami Dharma. Selain mendalaminya, kita juga harus melakukan tindakan nyata untuk merasakannya secara langsung sehingga Dharma bisa meresap ke dalam hati kita. Belakangan ini kita sering mengulas tentang pikiran. Mengenai pikiran, pikiran yang keliru juga bermula dari sebersit niat. Pikiran yang keliru atau pikiran yang tercemar, sama-sama bersumber dari sebersit niat

 Ini karena setiap orang dan segala hal yang kita temui telah mencemari pikiran kita. Mengenai penderitaan, penderitaan terdiri atas delapan jenis. Empat jenis penderitaan yang pertama adalah lahir, tua, sakit, dan mati. Kita semua sudah mengetahui tentang ini. Semua itu adalah bagian dari hukum alam. Kita lahir dengan membawa benih karma dari kehidupan lampau. Dengan adanya jalinan jodoh dengan orang tua, maka dari perpaduan sperma dan telur orang tua, kita terlahir ke dunia

 Penderitaan bermula dari sejak kita lahir. Karena itu, saat baru terlahir ke dunia, suara pertama yang dikeluarkan adalah tangisan. Ini menandakan penderitaan. Setelah terlahir ke dunia, kondisi tubuh kita juga mengalami perubahan hingga perlahan-lahan kita tumbuh dewasa. Selama proses pertumbuhan, sesungguhnya batin dan fisik kita saling memengaruhi. Ini yang disebut kekuatan karma

 Inilah tubuh karma kita. Bagi orang yang melatih diri pada kehidupan lampau, mereka akan membawa tabiat baik hingga ke kehidupan ini. Lihatlah, ada orang yang bertemperamen baik. Orang selalu berkata, “Dia memiliki pelatihan diri yang baik.” Ya. Ini karena dia membawa tabiat baik dari kehidupan lampau. Mereka senantiasa bersyukur terhadap setiap orang dan hal. Benih rasa syukur yang tersimpan  dalam kesadaran kedelapan ini mereka bawa dari kehidupan lampau

 Karena itu, pada kehidupan ini, mereka sangat bersyukur pada orang tua mereka. Tentu saja, mereka juga memiliki jalinan jodoh yang baik dengan orang tua. Meski kondisi keluarga mereka tidak ideal, tetapi dalam kesadaran mereka tidak ada rasa dendam dan tidak ada rasa benci, yang ada hanya rasa bersyukur. Batin dan tubuh mereka tumbuh secara bersamaan. Batin dan tubuh mereka tumbuh secara bersamaan. Sementara itu, kesejahteraan hidup mereka bergantung pada apakah mereka memiliki berkah atau tidak. Jika tidak memiliki berkah, maka mereka akan tumbuh besar, mengalami penuaan, sakit, dan mati dalam kondisi yang serba kekurangan

 Ini karena pada kehidupan lalu, mereka hanya melatih kesabaran dan rasa syukur. Mereka bebas dari kerisauan dan tidak memiliki sifat membeda-bedakan. Akan tetapi, mereka tidak membina berkah sehingga tidak bertemu jalinan jodoh baik untuk memperbaiki kondisi hidup mereka. Contohnya kasus yang kita temui di Tiongkok. Pada saat penyaluran bantuan bencana ataupun penyaluran bantuan musim dingin di wilayah pegunungan maupun pedesaan, kita sering melihat rumah di sana ditempati oleh beberapa generasi secara bersamaan. Di sana ada sang kakek, nenek, ayah, ibu, dan generasi yang lebih muda. Meski jumlah generasi yang lebih muda belum diketahui secara pasti, tetapi generasi paruh baya ke atas sudah hidup dalam kondisi kekurangan seumur hidup mereka

 Saat mengetahui kondisi ini, kita sangat ingin meningkatkan kualitas hidup generasi yang lebih muda tersebut. Ini adalah jalinan jodoh. Tanpa adanya jalinan jodoh, kita tak bisa bertemu dengan mereka. Karena memiliki berkah dan jalinan jodoh baik, mereka bisa bertemu dengan sekelompok orang baik yang bersedia membantu mereka merenovasi rumah atau merelokasi mereka ke Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi.

 Selain itu, anak-anak juga diberi kesempatan untuk bersekolah demi bisa mengubah kondisi hidup. Ini semua bergantung pada apakah pada kehidupan lampau mereka membina berkah dan menjalin jodoh baik atau tidak. Karena memiliki berkah dan jalinan jodoh baik, mereka baru berkesempatan untuk bertemu sang penyelamat. Jadi, segala hal yang kita temui dalam kehidupan ini berhubungan erat dengan perbuatan kita pada kehidupan lampau.

 Jadi, hukum sebab akibat bekerja dari kehidupan ke kehidupan. Artinya, kita mempelajari ajaran Buddha Artinya, kita mempelajari ajaran Buddha bukan hanya untuk kehidupan ini. Kita juga harus memahami bahwa buah karma yang kita terima pada kehidupan ini adalah hasil dari benih yang kita tanam pada kehidupan lampau. Jika ingin mengetahui benih karma pada kehidupan mendatang, maka lihatlah perbuatan kita di kehidupan ini.

Jadi, baik pada kehidupan lalu, kehidupan ini, maupun kehidupan mendatang, kita terus bertamu ke dunia ini. Kita bagaikan tamu di dunia. Setelah puluhan tahun tinggal di dunia, kita pergi dan datang kembali. Tahukah kita selama masa ini, hal apa saja yang sudah kita alami? Dengan siapa saja kita bertemu? Saat menghadapi setiap orang dan masalah, Saat menghadapi setiap orang dan masalah, pernahkah kita berpikiran keliru? Saat menghadapi suatu hal, apakah pikiran kita tercemar? Pada saat berinteraksi dengan orang, apakah kita menanam benih yang tidak murni? Atau pada suatu tempat di dunia, adakah kita menciptakan berkah dan menjalin jodoh baik? Kehidupan kita pada masa lalu, masa kini, dan kelak, semuanya berkaitan erat.

Jadi, semasa hidup di antara kelahiran dan kematian, kita harus sangat berhati-hati. Setiap orang mengalami fase lahir, tua, sakit, dan mati. Sesungguhnya, tidak semua orang bisa melewati fase tua. Meski mengalami fase tua sangat menderita, tetapi jatuh sakit lebih menderita daripada tua.

Ada orang yang meski sudah berusia lanjut, tetap sangat bahagia. Contohnya, di Rumah Sakit Tzu Chi ada seorang nenek yang berusia 105 tahun. Kabarnya sebelum terjatuh, dia memiliki tubuh yang sangat sehat. Namun, akibat kurang berhati-hati, dia terjatuh hingga mengalami patah tulang.

Karena itu, dia segera dilarikan ke RS Tzu Chi. Setelah menerima pengobatan dari dokter yang terampil, akhirnya sang nenek sembuh. Nenek itu sangat gembira. Dia bahkan berkata, “Jika tidak bertemu dengan Master, saya tidak mau keluar rumah sakit.”

Mendengar bahwa dia ingin bertemu dengan saya, saya segera pergi menemuinya pada keesokan harinya. Sang nenek memiliki mata yang jeli dan pendengaran yang tajam. Saat mendengar orang berkata bahwa saya sudah tiba di rumah sakit, dia segera melihat ke arah pintu. Ketika melihat saya, dia tersenyum dengan ceria sambil berkata, “Master, saya sangat gembira Master datang melihat saya.”

Dia memengang tangan saya dengan gembira. “Master, apakah Master akan menjauhi saya?” “Saya ingin berguru kepada Master.” Saya sangat gembira menerima seorang murid berusia 105 tahun. Dia merasa gembira, begitu pula dengan saya. Setelah saya bertemu dengannya dan menerimanya sebagai murid, dia pun keluar rumah sakit pada keesokan harinya. Dia sudah kembali sehat.

Dia memiliki daya lihat yang jeli dan daya dengar yang tajam. Meski sudah berusia 105 tahun, pikirannya masih tajam. Batinnya sangat cemerlang. Lihatlah, penuaan belum tentu membawa derita. Saat menderita penyakit adalah yang paling menderita. Derita penyakit ini ada dua jenis. Pertama adalah penyakit fisik, kedua adalah penyakit batin. Manusia memakan berbagai jenis makanan

 Siapa yang tidak bisa jatuh sakit? Penyakit menyerang sebagian besar orang tanpa memandang usia. Ada orang yang sudah menderita penyakit sejak kecil. Lihatlah di rumah sakit, banyak terdapat pasien anak-anak. Mereka menderita berbagai jenis penyakit. Jadi, penyakit datang tanpa memandang usia. Namun, ia tak terlepas dari ketidakselarasan empat unsur. Inilah penyakit fisik. Mengenai ketidakselarasan empat unsur, apa yang disebut dengan empat unsur? Tanah, air, api, dan angin. Saat unsur tanah dalam tubuh tidak selaras, Saat unsur tanah dalam tubuh tidak selaras, ada orang yang berkata, “Tubuh saya terasa sangat berat.” “Entah mengapa hari ini tubuh saya terasa sangat berat.”

Ini menunjukkan ketidakselarasan unsur tanah. Saat unsur air tidak selaras, orang akan berkata, “Entah mengapa saya terus bertambah gemuk.” “Seluruh badan saya seperti membengkak.” Inilah ketidakselarasan unsur air. Lihatlah, ada orang yang menderita gagal ginjal atau mengalami gangguan pencernaan. Saat unsur air tidak selaras, tubuh seseorang akan menjadi gemuk dan terus membengkak. Saat unsur api tidak selaras, seluruh tubuh terasa panas bagai terbakar api. Ini juga sangat menderita

Saat unsur angin tidak selaras, napas seseorang menjadi tidak lancar. Adakalanya, mereka sulit untuk bernapas. Semua ini disebut ketidakselarasan empat unsur. Ketidakselarasan empat unsur membuat kita sangat tidak nyaman.

Di dalam Sutra tertulis bahwa penyakit fisik manusia berjumlah 404 jenis. Namun, menurut ilmu kedokteran, jenis penyakit manusia sudah lebih dari itu. Kini terus ditemukan berbagai kasus penyakit langka. Kalian sangat memiliki berkah karena setiap hari bisa menjadi relawan di rumah sakit untuk mendampingi dan menghibur para pasien. Dokter mengobati tubuh pasien dan menyembuhkan penyakit mereka, sedangkan para relawan membimbing batin mereka agar mereka bisa merasa gembira

 agar mereka bisa merasa gembira. Ini bisa membantu mereka agar sembuh lebih cepat. Jika batin juga sakit, adakalanya dokter juga tak berdaya. Lihatlah, kini ada banyak orang yang menderita depresi, gangguan bipolar, atau skizofrenia. Ini semua adalah penyakit batin. Penyakit batin pada orang zaman sekarang bagaikan sebuah bom yang bisa meledak kapan saja. Ini sangat mengkhawatirkan

 Sesungguhnya, apa yang membuat mereka tidak gembira? Tidak ada masalah. Namun, mereka terus merasa tidak gembira. Mereka bahkan berpikir untuk mengakhiri hidup serta melakukan banyak hal impulsif yang bisa merugikan orang lain. Ini adalah penyakit batin. Ada pula orang yang menderita penyakit batin dan fisik. Penyakit fisik dan batin membawa penderitaan yang tak terkira. Karena itu, kita membutuhkan dokter terampil dan sekelompok relawan yang memiliki kebijaksanaan untuk mengobati penyakit fisik dan batin ini

 Karena itu, saya selalu berterima kasih kepada mereka. Jadi, penyakit belum tentu hanya menyerang orang tua. Ia datang tanpa membedakan usia. Baik penyakit batin maupun penyakit fisik, kini banyak diderita orang dari berbagai usia. Tadi saya berkata bahwa batin kita berlanjut dari kehidupan lampau ke kehidupan ini. Karena itu, noda batin menjadi mudah bangkit akibat tabiat kita di masa lalu. Ada orang yang berkata, “Karena ingin mengakhiri segalanya, maka dia bunuh diri.” Saya sering berkata bahwa karma bunuh diri lebih berat dari karma membunuh

 Bunuh diri termasuk tindakan pembunuhan Bunuh diri termasuk tindakan pembunuhan karena kita sendiri juga adalah manusia. Selain menghancurkan tubuh kita sendiri, kita juga tidak berbakti kepada orang tua. kita juga tidak berbakti kepada orang tua. Pikiran yang timbul dapat melukai diri kita sendiri. Pikiran yang timbul dapat melukai diri kita sendiri. Yang paling menakutkan adalah depresi. Orang seperti ini tidak mengenal puas

 Mereka terus berkeluh kesah hingga akhirnya tidak memiliki sikap penuh pengertian. Penyakit batin bisa mengikuti mereka hingga kehidupan mendatang. Meski sudah bunuh diri, tetapi kekuatan karma, noda batin, depresi, gangguan bipolar, atau skizofrenia akan terus mengikuti mereka hingga kehidupan mendatang. Dengan membawa benih di dalam kesadaran kedelapan, tak peduli di mana kita dilahirkan, baik di dalam keluarga berada, memiliki sepasang orang tua yang berpengetahuan tinggi, maupun di dalam kondisi serba minim, depresi ini akan terus mengikuti. Benih ketidakbahagiaan ini akan terus mengikuti kita tak peduli di alam mana kita dilahirkan. Karena itu, ada orang berkata, “Takdir menempel pada tulang, kita tak bisa mengikisnya dengan pisau “

Artinya, benih karma yang kita tanam pasti akan mengikuti kita. Ini sama seperti seseorang dengan bayangannya. Ini sama seperti seseorang dengan bayangannya. Kita tak bisa menghentikan bayangan untuk tidak mengikuti kita. Jika kita berlari cepat, bayangan kita juga akan mengikuti dengan cepat

 Jadi, karma bagaikan bayangan yang terus mengikuti kita. Jika kita bunuh diri, maka pada kehidupan mendatang, kita akan semakin menderita. Karma buruk yang berlipat ganda membawa derita yang tak terkira. Di dunia ini terdapat banyak orang yang penuh kebijaksanaan dan cinta kasih. Jika bisa bertemu dengan mereka, maka mereka adalah penyelamat bagi kita

 Kita hendaknya menerima bantuan mereka atau segera membantu mereka. Bisa bertemu adalah jodoh. Jika bertemu dengan orang yang tidak bisa membuka hati, Jika bertemu dengan orang yang tidak bisa membuka hati, maka kita harus mengembangkan kebijaksanaan dan menggunakan obat batin untuk membimbing mereka membuka hati. Jika demikian, maka kita adalah penyelamat bagi mereka. Jika hati kita yang tidak bisa dibuka, saat bertemu dengan orang berjodoh yang bersedia memberikan nasihat dan menunjukkan jalan keluar kepada kita, dan menunjukkan jalan keluar kepada kita, kita harus segera memanfaatkan kesempatan itu

 Setelah bisa memahaminya, Setelah bisa memahaminya, maka hati kita akan terbuka. Jika bisa menerima obat sesuai penyakit, maka kita akan bisa tertolong. Dengan berpikiran terbuka, kita bisa mengubah pola pikir. Ini disebut mengubah penderitaan menjadi sukacita. Kita akan bisa bersumbangsih dengan penuh sukacita

 Lihatlah, banyak relawan Tzu Chi yang menjadi penyelamat satu sama lain. Di antara mereka, ada yang pernah menderita depresi dan berkeinginan untuk bunuh diri. Namun, setelah bertemu penyelamat, mereka terselamatkan. Setelah mengubah pola pikir, mereka mendedikasikan diri untuk melakukan daur ulang, menjalankan misi amal, dan lain-lain. Mereka juga menggunakan pengalaman pribadi untuk membuka hati orang lain. Mereka berbagi kisah sendiri

 Banyak sekali orang seperti ini. Jika tidak mengubah pola pikir, maka kekuatan karma akan terus membelenggu. Jika dahulu kita pernah menjalin jodoh dengan seseorang, maka dialah yang bisa membuka hati kita. Karena itu, kita harus tahu untuk menghargai jalinan jodoh dan menjalin jodoh baik dengan orang. Kita harus senantiasa menjaga pikiran agar tidak tersesat dan hati kita agar tidak tercemar. Jika kita berpikiran keliru, maka saat ada orang yang meluruskan kita, kita harus segera berdiri dengan tegak dan kembali melangkah maju

 Jika demikian, kita bisa kembali ke jalan yang benar. Begitu pula saat pikiran kita tercemar dan ternoda. Jika ada kata-kata orang yang bermanfaat bagi kita, kita harus segera berterima kasih padanya dan segera melenyapkan kekotoran batin. Dengan demikian, tabiat buruk dari kehidupan lampau bisa kita lenyapkan pada kehidupan ini. Setelah melenyapkannya pada kehidupan ini, kehidupan kita mendatang akan lebih bahagia, tenang, dan damai

 Kita bersyukur terhadap setiap hal dan semua orang. Kita bisa membawa temperamen yang baik ini hingga ke kehidupan mendatang. Orang yang melihat juga akan berkata bahwa kita memiliki kepribadian yang baik. Benar. Kepribadian yang baik terbentuk dari pelatihan diri dari kehidupan ke kehidupan. Pada kehidupan ini, kita harus lebih membina diri dan mengembangkan kebijaksanaan

 Semoga dengan pelatihan diri di kehidupan ini, kita bisa menumbuhan kebijaksanaan sehingga pada kehidupan mendatang, kita bisa menjadi penyelamat bagi orang-orang. Inilah yang disebut melatih diri. Saudara sekalian, pelatihan diri bergantung pada sebersit niat. Dharma haruslah meresap ke dalam hati kita. Setelah Dharma meresap ke dalam hati, kita harus mempraktikkannya lewat tindakan

 Kita harus gigih dan bersemangat untuk mendalami Dharma. Setelah menyerap Dharma ke dalam hati, kita harus mempraktikkannya. Dengan demikian, barulah benih bisa tertanam di dalam hati kita. Karena itu, melatih diri berarti menggarap ladang berkah sendiri. Saya harap setiap orang bisa selalu bersungguh hati.

Leave A Comment